Startup Sarap

Saya hampir terjengkang dan ingin kayang saat baca berita non-komedi-tapi-menggelikan soal startup di Cina yang namanya Sharing E Umbrella. Mereka salah satu dari sekian banyak startup yang mengambil bagian dari sharing economy, seperti Uber dan Airbnb. Bedanya, yang dibagikan bukan rumah atau mobil, tapi payung. Ya, startup ini membagikan payung. Payung as a services. Payung sharing. Payung.

Dan bukan hanya beritanya saja yang menggelikan, dimana mereka kehilangan 300.000 payungnya karena dipinjam dan tidak kembali lagi, tapi startup, yang MENYEWAKAN PAYUNG ini, bisa mendapatkan pendanaan sekitar USD 1.47 juta, atau hampir 20 milliar rupiah. 20 milliar rupiah! Sekali lagi biar dramatis. 20 milliar rupiah!!

Sarap. Ide startup yang bisnis modelnya tidak lebih kreatif dari ojek payung di terminal bis yang sudah ada puluhan tahun lalu ini bisa-bisanya dapat pendanaan sebanyak itu. Gimana mereka pitch-nya coba? “Pak, hujan pasti akan datang, dan kami startup yang sejalan dengan pribahasa: sewalah payung sebelum hujan.“. Atau pas mereka ada di bagian market size, mereka bilang, “alam kita pasti hujan, dan semua orang pasti kebasahan; kami memberikan solusi untuk semua umat manusia yang bisa basah. Pasar kami tidak terbatas!“. Semua orang juga pakai celana dalam, tapi masa perlu kita bikin underwear as a service? Sarap.

Kaya Modal, Miskin Ide

Inilah alasan kenapa saya sangat sebal saat dunia startup, entrepreneurship di bidang teknologi, menjadi trend. Karena saat jadi trend, maka startup dipenuhi oleh orang-orang yang hanya berusaha menjadi keren, atau para pragmatis yang suka berdandan necis dan bermulut manis. Saat berada di ekosistem startup punya peluang lebih besar untuk jadi sorotan dibanding daftar menjadi aktris sinetron Indosiar atau kontes dangdut TPI, maka di waktu yang sama para konformis yang oportunis akan berbaris mengantre gilirannya di bawah ketenaran dan kekayaan.

Di titik itu, ekosistem startup teknologi kita akan kehilangan jiwanya sebagaimana mestinya. Teknologi yang seharusnya diciptakan untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia, ujung-ujungnya hanya difungsikan sebagai umpan untuk memancing uang atau popularitas. Dan produk yang diciptakan akhirnya bukan menjadi solusi, melainkan hanya jadi kosmetik yang menghias bingkai realitas kita, yang penuh dengan masalah-masalah dasar yang berpotensi untuk membusuk jadi bangkai. Saat dunia startup teknologi diisi oleh orang-orang yang mendewakan tren dan tendensi, maka di saat yang sama kita akan kehilangan semangat perlawanan terhadap status quo dan pembaharuan yang seharusnya dimiliki oleh sebuah ide inovasi.

Tentunya, ini juga dibantu oleh wajah kapitalisme kita yang berpihak pada potensi semu untuk mendapatkan pendapatan instan yang hanya masuk akal jika ditempatkan pada ide yang berkiblat ke kecondongan populis, seberapapun remehnya itu. Jika Uber dan Airbnb bisa menjadi unicorn dalam waktu pesat, mereka akan siap menghamburkan uang dengan tidak masuk akal ke ide-ide sejenis yang teramat dangkal. Kombinasi dari kedua hal ini akhirnya mendorong potret ekosistem kita yang kaya akan modal, tapi miskin atas ide.

Kesenjangan Teknologi

Ironisnya, selaras dengan banyaknya uang dihamburkan untuk ide-ide yang sama sekali tidak signifikan, kita juga banyak melihat perusahaan yang mencoba menyelesaikan permasalahan fundamental di masyarakat kita justru menghadapi kesulitan soal pendanaan. Saya bertemu dengan beberapa startup yang punya tujuan mulia dan model bisnis yang baru, ditolak oleh modal ventura teknologi hanya karena mereka mengincar pasar petani. Kenapa ini jadi masalah, saat petani merepresentasikan pasar yang besar, dengan lebih dari seperempat dari penduduk Indonesia? Jawaban mereka sangat picik; jual ke petani sulit, pertumbuhannya akan lambat, dan petani tidak punya daya beli.

Sudut pandang inilah yang ujungnya juga menimbulkan kesenjangan masyarakat. Saat teknologi yang ada sekarang sudah cukup eksklusif yang akhirnya hanya memberikan nilai pada masyarakat perkotaan, ide-ide baru yang bisa menjembatani ini justru dihajar oleh skeptisisme kita terhadapnya. Saat petani, nelayan, para pekerja kasar, tidak punya cukup uang untuk lebih produktif dengan memiliki komputer, ponsel cerdas, atau akses internet; teknologi yang terupaya untuk tersedia bagi mereka pun ditolak karena alasan yang membuat kita tersedak.

Dari perspektif inilah akhirnya kembali menjadi jurang yang menimbulkan kesenjangan dengan nyata. Masyarakat bawah tetap di bawah, karena teknologi, yang mungkin menjadi salah satu tangga untuk membuat mereka lebih naik strata, juga tidak bisa tersedia. Ide-ide yang bisa membantu mereka juga terkekang oleh keterbatas dukungan dari ekosistem untuk bisa jauh berkembang. Karena itu, para calon “inovator” baru pun tidak melihat ini sebagai peluang. Akhirnya, startup kita dipenuhi ide-ide yang menawarkan privilege dalam bentuk yang lain kepada masyarakat yang mampu membeli. Masyarakat kota kita semakin nyaman dengan tersedianya aplikasi untuk mereka memesan nasi goreng, memanggil taksi, berkomunikasi, mencatat ide, belajar, dan mencari pacar. Sementara petani ikan di desa memberi makan dengan menggunakan tangan, tidak berubah sejak dari tahun 60an (sampai hadirnya eFishery…lah, ngiklan). Teknologi kita berkontribusi dalam memperlebar kesenjangan.

Disrupsi yang Sebenarnya

Hal ini sudah nampak di Amerika, sudah terjadi di Cina dengan cerita Share E Umbrella tadi dan beberapa hal lainnya, dan sudah ada indikasinya di India. Mari kita jaga ekosistem startup teknologi Indonesia agar tidak mengarah kesana. Bagaimana caranya?

Pertama, para (calon) pendiri perusahaan teknologi di Indonesia harus bisa melihat peluang yang benar-benar menyelesaikan isu dasar yang terjadi di masyarakat secara luas. Dan Indonesia tidak pernah kekurangan masalah ini. Sebagai inventor, justru inilah peluang besar yang sebenarnya ada. Kita bisa membangun produk dan teknologi yang menyelesaikan permasalahan di pendidikan, kesehatan, pemerintahan, pertanian, dan banyak sektor lainnya yang tidak produktif dan belum efisien. Produktivitas dan efisiensi yang bisa kita berikan tentunya memiliki nilai tawar yang lebih tinggi dibanding hanya membuat satu aplikasi supaya orang-orang bisa lebih sering selfie.

Lalu, kita juga perlu memiliki persistensi karena lebih tingginya tembok untuk mengadopsi teknologi di pasar-pasar yang memiliki lebih rendah daya beli. Tapi, justru ini keunggulan kompetitif kita ketika bisa melompati hal ini. Keunggulan kompetitif ini juga yang bisa memberikan kekuatan jangka panjang untuk membangun bisnis yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan.

Kedua, sistem pendukung juga perlu lebih terbuka terhadap ide radikal yang menyelesaikan persoalan yang substansial. Para penyedia modal dan pemerintah perlu siap menyediakan lebih banyak sumber daya agar perusahaan-perusahaan ini bisa lebih berjaya. Ide yang menawarkan solusi ini memiliki porsi pasar yang kuat dan spesifik dengan kompetisi yang lebih terbatas, sehingga mampu menyediakan ruang yang lebih leluasa untuk para pendirinya bereksperimen terhadap model bisnis yang kemudian menghasilkan volume transaksi dan potensi pasar yang lebih luas. Dengan kata lain, dalam perspektif yang lebih long-term, tingkat return-nya bisa lebih potensial dibanding bisnis lain yang tingkat kecepatan adopsinya lebih tinggi, tapi atap batas pasarnya lebih rendah.

Dan yang terakhir, media, talenta, serta publik pada umumnya juga perlu memberikan sokongan dengan bergabung dalam menggunakan, menjadi bagian, atau menyebarluaskan produk atau servis yang memiliki nilai tambah bagi kalangan yang lebih membutuhkan. Hanya dengan ini solusi tersebut bisa benar-benar terintegrasi ke dalam masyarakat; saat komponen masyarakat awam juga terlibat.

Dengan termultiplikasinya ide ini yang kita menjadi bagian di dalamnya, maka kualitas solusi, teknologi, serta pendiri dari perusahaan-perusahaan sejenis ini pun mampu naik beberapa tingkat. Hingga di satu titik, kita bisa benar-benar mewujudkan disrupsi yang sebenarnya; yang menyelesaikan masalah manusia dan memajukan kehidupan kita secara merata.

Anti-metamorfosa

Karena hari libur, saya juga ingin libur menulis hal yang berat-berat.

Tulisan saya beberapa hari yang lalu ternyata cukup banyak disebar. Di antara orang-orang yang menyebar adalah teman saya yang dulunya sama-sama aktif saling komentar di blog; yang bahkan dulu hanya berinteraksi melalui media ini. Dia bilang kalau ‘rasa’ di tulisan saya masih sama dengan tulisan galau di jaman dulu, yang salah satunya berjudul Pematang Nelangsa. Ini adalah sekuel patah hati dari puisi jatuh cinta sebelumnya, Hujan, Senja, dan Pematang. Walaupun rasanya masih sama, teman saya itu bilang kalau tulisan saya yang sekarang pemikirannya lebih besar dibanding masa kinyis dulu.

Dari komentar dia, saya jadi penasaran untuk membuka tulisan-tulisan yang lama di blog sebelumnya. Dan ternyata, benar, bacanya bikin saya geli sendiri. Yang lebih menggelikan dari itu, saya jadi ingat kalau dulu punya blog yang paling pertama dibuat waktu pertama masuk kuliah. Nama blognya: sigibranyangkeren.blogspot.co.id. Si. Gibran. Yang. Keren. Mengingat kalau saya pernah membuat nama blog sedemikian ajaib bikin saya migrain sebelah kanan. Saat baca isinya, jadi tambah migrain sebelah kiri, belakang, dan depan.

Kesimpulan dari itu tentunya jelas, saya berkembang ke arah yang lebih baik. 10 tahun dari tulisan blog pertama, saya bisa sedikit berbangga kalau setidaknya sekarang tulisan saya tidak menggunakan ‘gw’ sebagai kata ganti pertama, dan akhirnya saya tahu gimana caranya memotong alinea. Itu membuat hati saya riang dengan mengetahui betapa berbedanya saya yang dulu dan sekarang.

Iri Dengan Diri

Akan tetapi, di sisi lain, tulisan-tulisan lama saya juga sedikit banyak merekam citra, karakter, dan jiwa saya di masa itu. Yang terkadang bikin saya iri. Di tulisan Serobot Gedekmisalnya. Saya bisa tetap menuangkan satu kisah menyenangkan dari pengalaman yang sangat kecil yang dijalani di hari itu. Jika diri saya yang sekarang menjalani momen yang sama, mungkin rasanya hambar. Dan saya jadi iri tentang betapa sulitnya kini saya bisa seketika bergembira oleh hal-hal yang sederhana. Saya pun jadi sebal betapa mudahnya sekarang saya menganggap mayoritas hal sebagai sesuatu yang banal.

Atau, rasa yang tersaji di beberapa puisi, seperti Kau, Alamiah. Kalau melihat saya yang sekarang, saya jadi bingung kok bisa-bisanya dulu bikin puisi yang singkat tapi bermakna macam ini. Sekarang, saya jadi iri karena tidak sempat memberi ruang cukup pada emosi hati untuk menuangkannya dalam kata-kata. Kelihatannya, saya sudah sangat jarang mengungkapkan rasa, bahkan ke orang-orang yang terdekat dan bertatap setiap harinya. Saya jadi kesal betapa kini saya menganggap rasa sebagai sesuatu yang elusif dan eksklusif.

Inversi Metamorfosis

Karena gamang di dua respon diri saya terhadap masa lalu, saya jadi mendapatkan satu kesimpulan; manusia ini makhluk yang perubahannya tidak bisa secara penuh dipilah. Kita tidak sama dengan hewan maupun tumbuhan yang proses evolusinya hanya mempertahankan hal-hal yang terbaik agar mereka bisa bertahan. Dalam dimensi waktu yang berjalan linear, kita melangkah menempuh alurnya, memungut mozaik baru yang melengkapi diri kita, tapi juga menanggalkan kepingan lain yang menghilangkannya. Bisa jadi, di satu titik, kita berubah menjadi satu bentuk yang sepenuhnya baru, tetapi tidak sepenuhnya baik.

Yang jadi pertanyaan adalah, mana yang lebih banyak? Apakah kita lebih banyak berubah menjadi baik dibanding yang buruk? Dan jika iya, apakah kebaikan yang ada di diri kita sekarang memang setanding dengan kebaikan yang hilang dan hanya ada di diri kita yang dulu? Pertanyaan ini yang sangat sulit dijawab. Karena, tidak seperti serangga yang perubahannya meninggalkan sisa dengan wujud yang kontras, perubahan dalam diri manusia tidak meninggalkan jejak yang begitu jelas.

Ketidakjelasan sejarah perubahan diri ini yang agak mengkhawatirkan. Bagaimana jika di akhir hayat kita baru sadar bahwa perubahan kita sepanjang hidup justru mengakumulasi semua kesalahan yang akhirnya mencelakakan? Padahal, di saat itu, tidak ada lagi waktu yang tersedia untuk bisa mengganti diri kita. Dan tentunya, mustahil bagi manusia untuk bertumbuh mundur ke awal fasa; ber-anti-metamorfosa.

Tidak Lagi Rela Berkorban

Beberapa pekan lalu, saya diskusi dengan managing partner salah satu venture capital. Saat saya cerita soal visi besar bisnis saya, dia merespon: “Are you willing to give what it really takes to achieve that?“. Saya jawab sederhana: ya, saya siap lakukan apapun. Lalu, dia merespon balik, “Serius? Apapun? Even if I want to bring people to Mars, I’m not ready to work like Elon Musk. I don’t want to spend my life the way he does“.

Mirip dengan cerita itu dalam konteks yang lebih metafisik, beberapa hari setelahnya saya ngobrol santai dengan ayah mertua. Dia cerita kalau rekan bisnisnya tajir banget 24 turunan. Mertua saya ini punya satu teori kalau apa yang kita dapatkan, setara dengan apa yang kita korbankan. Hanya saja, berbeda dengan orang pada umumnya yang mengartikan ini secara kasat mata saja, dia berpendapat kalau pengorbanan ini bisa dalam proses yang tidak berkaitan secara langsung. Di contoh rekan bisnisnya tadi, orang ini di satu waktu dalam hidup kehilangan anak lelaki kesayangannya. Bayanginnya aja saya merasa perih dari ubun-ubun sampai jempol kaki. Nah, menurut ayah mertua, musibah itu adalah satu harga yang harus dibayar yang setara dengan nilai kelebihan yang ia terima.

Setuju atau nggak dengan itu, saya serahkan ke pendapat masing-masing. Tapi komentar setelahnya yang justru menarik: “Kalau saya mah dikasih harta sebanyak apa, nggak akan mau kalau harus ngerasain perih kehilangan anak sendiri“.

Menyambungkan dua cerita ini bikin saya berpikir dalam. Kebanyakan dari kita punya cita-cita. Dan kadang kita merasa bahwa hal itu yang akan menjadi karya (atau amalan) terbesar kita di dunia. Kalau kita mengejar sesuatu yang besar dalam hidup, yang menurut kita sebegitu berarti, sejauh apakah kita siap berkorban?

Pengorbanan Bersesal

Founder Alibaba yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia sempat mengeluarkan pernyataan yang bikin kaget saat ditanya apa kesalahan terbesar dia:

My biggest mistake was I made Alibaba. I never thought that this thing would change my life. I was just trying to do a small business and grow that big, take that much responsibility and got so much trouble. Everyday is like as busy as a president, and I don’t have any power! And then I don’t have my life

Ini juga selaras dengan jawabannya saat ditanya apa penyesalannya; “…I regret that I work so hard and spend so little time with my family. And if I have another life, I would never do things like this.

Tentunya sulit untuk berempati dengan Jack Ma saat nilai kekayaannya bisa bikin rumah tiga lantai dari emas yang dibalur whip cream hanya supaya dia bisa salto di depan pintunya; saking kayanya. Tapi, justru poin itu yang menarik. Dengan harta sebanyak itu dan pencapaian signifikan dalam membangun bisnis dari nol sampai bernilai hampir lima ribu triliun rupiah, serta dampak yang dihasilkan ke ratusan juta orang di dunia, dia malah menyesal karena ia mendapatkannya dengan mengorbankan hidup dan waktunya bersama keluarga. Pengorbanan itu begitu tidak layak hingga dia tidak akan rela untuk melakukan ini di kehidupan yang lain, jika memang mungkin.

Sadar atau tidak, setiap dari kita melakukan pengorbanan dalam wujud tindakan yang merupakan suatu pilihan. Pengorbanan ini memang bisa menyisakan sesal, karena terjadi dalam bentuk yang tidak bisa sepenuhnya kita inspeksi, hingga kemudian mencapai batas dimana akibatnya tidak bisa kita putar kembali. Kenapa? Karena waktu, yang merupakan sumber daya yang terbatas, kita jalani dalam arus satu arah. Setiap detiknya, kita tidak bisa memiliki dimensi fisik lebih dari satu; yang ujungnya memaksa kita untuk memberikan alokasi diri kepada hal-hal yang saat itu kita pilih. Tindakan yang kita seleksi ini, secara langsung berarti memutuskan kita untuk tidak melakukan, berada, atau menjadi hal yang lain di luar itu. Saat saya memilih untuk di depan laptop sekarang, saat yang sama juga saya memilih untuk tidak mengecup kening anak saya, tidak membeli eskrim Aice di warung, tidak menjadi presiden Amerika, dan tidak kayang di tengah jalan Dago.

Hal ini terasa begitu sepele karena mengalir dalam proses alamiah kita sebagai manusia. Saat ada seorang suami mengejar karir demi memenuhi mimpi, dia melakukannya tanpa menyadari bahwa malam-malam yang terlewat untuk lembur itu juga malam-malam yang sama dimana anaknya bertumbuh dari balita menuju dewasa. Pengorbanan intrinsik ini tidak akan terasa, sampai satu titik ia menoleh ke belakang lalu menyaksikan bahwa ia telah kehilangan apa-apa yang seharusnya bisa ia dapatkan. Di sana lah, pengorbanan mendatangkan sesal.

Berkorban Tanpa Terlambat

Kepicikan, dan terkadang kebutaan, kita dalam menakar satu hal secara berlebihan hingga mengalihkan kita untuk memandang sesuatu dengan sebagaimana mestinya merupakan akar dari masalah ini.

Akhir tahun 2015, saat eFishery baru dapat pendanaan, saya ada di euforia bahwa tidak ada hal yang lebih penting melebihi ini di dunia. Akhirnya saya punya kendaraan untuk mencapai mimpi saya; dan yang lebih penting, saya punya kesempatan untuk memiliki kendaraan ini. Sebegitu euforianya hingga merasa kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kali.

Hampir bersamaan dengan itu, ayah saya sakit dan harus bolak-balik dirawat di rumah sakit. Diagnosa dari dokter berganti mulai dari jantung, paru-paru, syaraf, hingga sekadar sakit tulang kaki yang, entah kenapa, menuntun saya untuk memandang remeh saking tidak jelasnya. Di satu waktu, ayah saya secara khusus meminta saya untuk datang ke rumah sakit untuk saling bercerita. Sompretnya, saya merasa terlalu sibuk ngurus ini dan itu di kantor, jadi nggak bisa. Sampai di satu waktu, saya harus pergi ke Amerika untuk suatu program dan pamit, tapi ayah saya sedang hilang kesadaran. Saya tidak sempet bersua dengan beliau.

Satu pekan di Amerika, saya diminta dokter untuk pulang. Perasaan hati sudah tidak terkendali. Saya terpaksa berhenti di tengah program yang harusnya masih ada satu minggu lagi. Sampai di rumah sakit di Jakarta, dokter mendiagonis kalau ternyata sakit ayah saya sejak kemarin adalah kanker, dan sekarang sudah stadium akhir. Dokter bilang, usianya tidak akan lama lagi. Sialnya, prediksinya tepat. Tiga hari kemudian, ayah saya meninggal dunia.

Pedih, hancur, lebur, itu pasti. Tapi, tidak ada yang mengalahkan satu rasa yang mendominasi: sesal. Saya begitu menyesal karena saya tidak sempat memenuhi permintaan ayah saya untuk bertemu di akhir waktunya. Saya begitu menyesal karena sosok yang mengorbankan sepanjang hidupnya untuk pendidikan saya, yang hal itu bisa menjadikan saya seperti sekarang, tidak bisa terbalas dengan sedikit saja anak sulungnya berkorban waktu untuk sekadar hadir di masanya yang terakhir. Saya begitu menyesal karena hal ini sudah terlanjur lewat; dan semua sudah terlambat.

Saya terlambat untuk sadar, bahwa saya mengorbankan momen yang teramat penting untuk hal-hal lain yang sama sekali tidak sebanding. Saat merefleksi ulang, keputusan untuk mengurusi bisnis di saat-saat kritis, adalah hal yang luar biasa bodoh. Jika toh saya harus ada di sana berbulan-bulan, saya tetap bisa kerja. Sekalipun saya tidak bisa, ada tim lain di perusahaan yang tetap bisa menyelesaikan pekerjaan. Sekalipun bisnisnya yang selesai, saya bisa membuat bisnis baru sebagai kelanjutan. Semua kekacauan di aspek ini, masih bisa diperbaiki. Tapi, saat waktu bersama ayah saya sudah tidak lagi ada, dari mana saya bisa cari gantinya?

Kepicikan, dan terkadang kebutaan, kita dalam menakar makna dari dua pilihan, berujung pada sesal karena kita terlambat sadar; telah mengorbankan hal yang terlalu berarti untuk tidak lagi kita miliki.

Tidak Lagi Rela Berkorban

Sejak saat itu, saya mengubah banyak pandangan tentang hidup. Saya jadi sadar bahwa kita sebagai manusia begitu lemah terbawa arus waktu dan bias terhadap apa yang paling bermakna bagi diri kita. Dan dari kelemahan itu kita terlena perlahan-lahan telah mengorbankan hal paling berharga yang pernah kita punya.

Sekarang, jika ada siapapun yang menanyakan saya tentang sejauh apa saya siap berusaha untuk mencapai mimpi besar saya dalam hidup, saya tetap akan menjawab sederhana: saya siap melakukan apapun agar itu bisa terwujud. Tapi, untungnya, saya sempat diberi pencerahan untuk bisa memilih dengan pasti hal-hal apa yang nantinya tidak akan lagi rela untuk saya korbankan.

Siapa Suruh Anda Miskin

Saya lahir hanya beberapa meter dari rumah kumuh bantaran kali dan pasar becek. Sedekat itu saya dengan kemiskinan. Teman SD saya tinggal di gubuk pinggir kali. Teman main rumah saya anak tukang pulung. Mengingat itu, tentunya congkak sekali rasanya kalau saya tidak menganggap diri saya sebagai orang yang beruntung.

Bisa dibilang, mungkin mayoritas dari 20 tahun awal hidup saya juga hanya sejengkal di atas garis kemiskinan. Berkat perjuangan kedua orang tua saya dalam menyediakan pendidikan dan atas izin Allah, saya bisa menembus strata sosial beberapa tingkat. Biarpun demikian, saya berupaya tetap terkoneksi, dari satu cara maupun lainnya, dengan isu kemiskinan. Mungkin saja soal idealisme. Atau mungkin soal egoisme, karena kemiskinan banyak membentuk ego: kesayaan. Sedekat itu saya dengan kemiskinan.

Makanya, saya sebal sekali kalau ada kawula kelas menengah ngehek komentar di Facebook dengan menyindir si miskin, bahwa mereka miskin karena nggak berusaha dan/atau karena bodoh. Kutukupret. Kemiskinan yang mereka tahu mungkin cuma dari artikel Hipwee yang berjudul “Jack Ma: ‘Kalau Masih Miskin Sampai Umur 35, Itu Salahmu Sendiri!’“. Atau dari jendela kaca Uber ber-AC saat mereka melintasi pengemis di lampu merah.

Bagi para kaum metropolis ini, kemiskinan seperti polusi yang mengganggu mata dan perlu dialienasi; sebagaimana mereka bangga menggusur rumah bantaran kali supaya bisa dipakai selfie atau lari pagi.

Bagi mereka yang tontonannya The Golden Way Mario Teguh atau kitab pedomannya adalah motivator coach yang covernya selalu berjas, dengan senyum terlalu lebar, dan gaya jempol, kemiskinan ini seperti 1+1=2. Asal ada keinginan, ada perjuangan, maka Anda bisa kaya. Anda PASTI kaya. PERCAYALAH!

Miskin Karena Miskin

Semakin kesini, saya banyak berinteraksi dengan orang-orang kaya; yang bahkan dari keluarga terkaya di Indonesia. Dari interaksi itu, saya makin sadar bahwa kesenjangan itu nyata. Dan kesenjangan inilah yang membawa kesenjangan yang lain, yang hingga sekarang ada di titik di mana 4 orang terkaya di Indonesia memiliki harta lebih banyak dari 100 juta masyarakat termiskinnya.

Saya ketemu dengan anak konglomerat yang sejak kecil udah jadi anak konglomerat. Dari kecil, dia bisa dapet pendidikan dimana aksesnya terhadap buku dan ilmu semudah ngupil yang udah nyangkut di tepi lubang hidung. Nutrisi makanannya top notch. Kuliah di Ivy League tanpa perlu pusing biaya. Bapaknya donatur di sana. Temenannya sama anak-anak konglomerat dari negara lain yang liburannya naik jet pribadi keliling kastil di Eropa. Saat lulus, dia bisa kerja langsung di top level perusahaan keluarganya yang multi-national. Mau bikin bisnis, koneksi temen-temennya di kampus atau temen bapaknya udah bisa dapet funding jutaan dollar sambil merem. Sampai sekarang, dia tetap kaya. Jadi, apakah orang ini bisa kaya karena perjuangan tanpa lelahnya dalam hidup?

Bandingin sama temen SD saya yang nggak sengaja ketemu beberapa tahun lalu di terminal bis Pulogadung. Keluarganya miskin, rumah pinggir kali. Dulu sering banget cerita makan cuma garam dan nasi. Anaknya pinter, masuk ke sekolah favorit di SMP. Sayangnya, rumahnya kebakaran, menghabisi semua harta yang keluarganya punya. Dia nggak bisa sekolah lagi. Di usia SMP, dia jadi tukang pulung. Lalu, naik pangkat jadi tukang semir sepatu. Terus, naik lagi jadi pedagang asongan. Saat ketemu, dia jadi kenek metro mini. Seumur-umur saya hidup, dia salah satu wanita (ya, doi cewek) paling pinter yang pernah saya kenal. Sampai sekarang tetap miskin. Jadi, apakah dia miskin karena nggak berusaha dan bodoh?

Ya, dua kasus di atas memang anekdotal dan siapapun bisa kasih cerita lain yang bertentangan. Tapi, mari objektif: kemiskinan ini kompleks. Dan penyimpulan kita bahwa kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan dan kebodohan adalah bentuk nyata dari kemalasan kita untuk berpikir atau kebodohan kita dalam melihat realita. Orang miskin yang memiliki keterbatas akses terhadap pendidikan, gizi, relasi, serta sumber daya, tentunya tidak semudah itu bisa mengubah nasibnya untuk lebih pintar dan berdaya, seberapapun payah ia berupaya.

Kemiskinan bukan hanya pola yang salah tentang mengelola uang. Dalam mayoritas kasus, mereka bahkan tidak punya cukup uang untuk dikelola. Kemiskinan jelas-jelas tidak sesederhana kemalasan untuk berikhtiar. Dalam banyak hal, mereka lebih keras bekerja dibanding mayoritas kita. Hambatannya bukan hanya hal-hal material, tapi semua kesulitan material ini mengendap menjadi hambatan immaterial dalam diri mereka yang menyaksikan bahwa hidup menentang mereka untuk bisa maju; bahwa peruntungan memaksa mereka untuk tetap jadi miskin.

Kemiskinan adalah akumulasi dari kemiskinan sebelumnya, yang terakumulasi dari kemiskinan lainnya. Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan kesenjangan keempat tertinggi di dunia, kemiskinan semakin diperparah karena sulitnya mobilitas vertikal. Saat pendidikan yang berkualitas mahal dan yang miskin hanya kebagian sekolah bobrok dengan dana BOS yang dikorupsi; saat makanan bergizi mahal dan yang miskin hanya kebagian raskin yang sudah tengik, saat lapangan pekerjaan layak sulit dan yang miskin hanya bisa mengais nafkah dari kerja kasar, bagaimana bisa si miskin naik strata? Kemiskinan adalah hasil dari struktur yang berpihak pada kesenjangan.

Kamu sih, Miskin

Kemiskinan memang kompleks. Sekompleks keresahan tulisan ini yang tidak bisa terwujud nyata dalam dampak apapun yang signifikan di keseharian penulisnya. Mungkin saja, di satu titik nanti di masa depan, hidup saya tidak lagi dekat dengan kemiskinan. Mungkin saja, suatu saat nanti, anak saya bisa dengan mudahnya sekolah di Ivy League lalu liburan keliling kastil di Eropa. Mungkin saja, takdir mempercayakan saya untuk memiliki banyak harta. Tapi, saya berdoa supaya ketika memang titik itu sampai waktunya, saya bisa tetap punya ego yang cukup naif untuk meruntuhkan struktur yang membuat siklus kemiskinan ini ada. Atau, setidaknya saya bisa tetap diberi kekuatan untuk menggetok sekeras-kerasnya kutukupret yang menyalahkan si miskin yang tetap jadi miskin.

Hoax Cacing Cawu

Kasian jadi Mark Zuckerberg. Saya baca beberapa artikel di Techcrunch dan BuzzFeed soal tuntutan orang ke Facebook supaya bisa bikin algoritma mencegah penyebaran berita hoax, dan akhirnya jadi kambing hitam atas terpilihnya Trump. Lah? Yang bikin, baca, nyebar, dan terpengaruh, adalah orang-orang yang ngasal, kenapa FB yang salah?

Kalo saya jadi Mark, pasti udah menggerutu, “maneh nu nyieun jeung nyebar hoax, naha aing nu disalahkeun, kehed?!“. Untung si Mark nggak ngomong gitu, karena nggak bisa bahasa Sunda. Kalaupun bisa, mungkin dia pakai umpatan yang lebih halus dibanding ‘kehed‘. Mungkin seperti ‘cacing cawu‘.

Sebenernya nggak perlu algoritma buatan Facebook, cukup pakai algoritma tingkat tinggi yang sejak dulu ada, yaitu otak. Atau bahasa sundanya, uteuk. Nah, saat baca berita, coba diserap pakai otak, dan difungsikan sebagaimana mestinya: sebagai alat pencari kebenaran. Jangan kalah dengan jempol yang jelas-jelas ukurannya lebih kecil, dan biasanya dikendalikan nafsu buta membela kepentingan politik dan golongan.

Nggak butuh deh kita AI segala. Pakai aja otak, dan pastiin beneran dipakai, biar nggak cuma jadi pengisi rongga kepala. Karena kalau nggak dipakai, ini hanya akan jadi otak-otakan, bukan otak beneran. Atau bahasa sundanya, uteuk-uteukan. Tahukah Anda apa yang suka uteuk-uteukan? Ya: cacing cawu.

24/7 CEO, 24/7 Manusia

Satu waktu, saya pernah mengisi acara dengan salah satu investor modal ventura di Indonesia. Saat ditanyakan apa biasanya faktor yang mereka lihat dalam memberikan investasi kepada satu startup, dia menjawab, “Founder-nya dong“. Jawaban lumrah. Tapi, kemudian dilanjutkan, “kita melihat seberapa keras mereka kerja. Kalau jam 7 malem udah pulang kantor, founder macam apa itu. Seenggaknya 80-100 jam lah seminggu“. Saya mengernyitkan dahi mendengar itu. Wah, si Bapak ini kelihatannya nggak akan investasi ke saya yang nggak jarang pulang sebelum jam 7 malam. Tentu, alasan saya bukan malas kerja layaknya oknum PNS gaji buta. Tapi, bagi saya, premis tentang kerja panjang adalah cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang pasti memuaskan, sangatlah tidak masuk akal.

Mitos Workaholic itu Keren dan Produktif

Entah dari mana asalnya, masyarakat kita sangat memuja kerja. Workaholic, dianggap keren. Posting-an di media sosial yang masih kerja di akhir pekan, dianggap ganteng. Begadang demi pekerjaan, dianggap teladan. Bahkan, rumah tangga yang retak, hidup yang tidak bahagia, teman yang tidak punya, karena lebih sering bekerja, dianggap bentuk hakiki dari determinasi. Pengorbanan yang layak, katanya. Lihatlah bagaimana dunia startup kita begitu iri dengan 80-100 jam kerja per pekan yang ada di Silicon Valley dan Cina. Kerja, yang utama.

workaholic_000015949815XSmall.jpg

Apakah membahagiakan orang tua, menjaga keutuhan keluarga, dianggap lebih mudah daripada memenuhi capaian dalam bisnis dan pekerjaan? Tentu saja, tidak. Buktinya, banyak yang gagal melakukannya. Tapi, masyarakat yang didikte oleh pola pikir materialistis, dengan tidak sadar menempatkan pekerjaan sebagai prioritas tertinggi dari capaian hidup yang bisa kita ukur, serta hal terbesar yang perlu kita kejar. Saya menolak mengikuti dogma ini.

Di sisi lain, apa bekerja lebih panjang memang hasilnya lebih efektif? Ternyata, tidak juga. Studi yang dilakukan Harvard Business Review memperlihatkan kalau bekerja 70 jam sepekan itu berbahaya. Lama waktu kerja, ternyata tidak sebanding dengan jumlah luaran yang didapatkan. Di beberapa studi, hal ini justru menyebabkan penurunan dalam performa; karena waktu kerja yang panjang akan menurunkan konsentrasi, menghabiskan energi, menimbulkan kebosanan, menurunkan ketahanan tubuh, hingga bisa berujung depresi. Makanya, jangan heran kalau di Silicon Valley tidak jarang ada tragedi bunuh diri.

Melihat durasi waktu kerja sebagai indikator kelayakan seorang CEO, bagi saya tidak rasional. Dasar premisnya sama sekali tidak logis. Metric yang terbaik seharusnya jelas saja luaran yang dihasilkan, bukan waktu yang dikeluarkan. Pemimpin perusahaan terbaik adalah yang bisa mendorong performa perusahaan secara optimal, panjang ataupun pendek waktu kerjanya. Kalau dia bisa menghasilkan lebih banyak dengan waktu kerja lebih sedikit, kenapa tidak?

Workaholics aren’t heroes, they don’t save the day, they just use it up. The real hero is already home because she figured out a faster way to get things done” – Jason Fried

Peran yang Integral

Kenapa standar 80-100 jam kerja per pekan ini dianggap tolok ukur kelayakan CEO dan founder? Menurut saya, ini karena perspektif sempit dalam melihat peranan CEO secara diskrit. Tuntutan kepada seorang CEO  yang harus bekerja di kantor selama 16 jam sehari hadir dari anggapan bahwa pekerjaan CEO hanya dilakukan di 16 jam tersebut. Dan anggapan negatif terhadap CEO yang kerja di bawah itu, juga didasari dari hal yang sama; di luar jam kerja, maka sang CEO tidak bekerja. Ini sudut pandang yang salah.

Apakah saat saya di kantor sebagai CEO, maka saya libur sebagai suami, ayah, dan hamba Tuhan? Tentu tidak. Saat saya di kantor dan bekerja sebagai CEO, toh status saya tidak jadi jomblo dan ateis; tetap berkeluarga dan beragama. Lalu, kenapa saat bercengkarama dengan keluarga di rumah, kita dianggap tidak bekerja? Pemikiran diskrit dalam melihat pekerjaan inilah yang berujung pada penghambaan terhadap kerja. Padahal, peranan CEO dan founder, sudah selayaknya terintegrasi dengan peranan lain kita dalam hidup.

Dengan bekerja, saya memenuhi tugas saya sebagai ayah dan suami yang mencari nafkah; sekaligus memenuhi perintah agama untuk beribadah. Sebaliknya, saat menjadi suami, ayah, dan hamba Tuhan, saya memenuhi tugas saya sebagai CEO. Perusahaan memerlukan saya dalam kondisi prima secara intelektual, emosional, mental, dan spiritual. Interaksi dengan keluarga dan Tuhan adalah upaya seorang CEO untuk memperbaharui level energi dan kondisi dirinya, agar bisa memberikan performa terbaik untuk perusahaan. Kondisi optimal ini hanya bisa terjadi ketika setiap sisi diri secara seimbang terpenuhi. Semua tanggung jawab kita dalam sudut hidup yang berbeda, sebenarnya saling berhubungan dalam satu kesatuan. Inilah bentuk peranan yang integral kita sebagai manusia.

24/7 Manusia

Saat berkomitmen untuk membangun perusahaan dan menjalankannya, kita mengambil tanggung jawab besar bahwa perusahaan bergantung kepada kita. Ini pun berlaku sama saat kita memutuskan untuk menjadi kepala keluarga. Dengan kata lain, pada dasarnya, tidak ada batasan waktu yang tegas antara kehidupan profesional dan personal. Kita berperan di keduanya selama 24 jam dalam 1 hari, 7 hari dalam sepekan.

Maka, dalam praktiknya, tidak ada ruang batasan yang membedakan keduanya. Saya sering menyelesaikan pekerjaan tengah malam di rumah setelah waktu bersama keluarga terpenuhi; dan sering juga merencanakan aktivitas keluarga di tengah waktu istirahat di kantor. Saya tidak akan segan jika memang harus menginap 3 hari di akhir pekan, atau melakukan perjalanan bisnis beberapa hari, mengurangi waktu dengan keluarga; jika memang perusahaan sedang membutuhkan. Dan saya pun tidak akan ragu untuk menjauhkan diri dari kesibukan pekerjaan, jika urgensinya ada dalam kehadiran saya di tengah keluarga. Toh, saat melakukan keduanya, saya sama-sama berada dalam upaya memenuhi tanggung jawab integral saya sebagai kepala perusahaan dan kepala keluarga.

Dan, pada ujungnya, hidup kita tidak hanya didefinisikan oleh karya satu-satunya; dan identitas kita tidak hanya tertera pada satu sisi saja. Kelak, saat kita mati, orang di sekitar kita akan mengenang hal-hal yang telah kita lakukan dalam berbagai macam keadaan. Di level yang lebih tinggi, hasil hidup kita akan ditakar dari amalan positif kita di berbagai macam peran. Kita akan dinilai dan diingat dari wujud utuh yang terbentuk dari optimalisasi berbagai macam tanggung jawab kehidupan.

Jadi, alih-alih berfokus pada 80-100 jam kerja per pekan saja, ada baiknya kita memaknai hidup dari sudut pandang yang lebih paripurna; serta mencoba melakukan segala hal secara adidaya, 24 jam perhari, 7 hari per pekan, untuk bisa sebaik-baiknya menjadi manusia.

Jurang Kekosongan yang Nyaring Bunyinya

“Ignorance more frequently begets confidence than does knowledge” – Charles Darwin

Disamping untuk pamer dan pencitraan, saya sudah jarang scrolling media sosial seperti Facebook dan Twitter (paling-paling hanya Quora). Selain karena sok sibuk dan mencoba lebih produktif, media sosial kini sangat bising. Bisingnya terkadang bikin sebal sampai ke ubun-ubun. Dari urusan politik, agama, bisnis, bahkan urusan pribadi, ada saja orang-orang yang tidak kompeten yang mengutarakan pendapat sesukanya tanpa ada pemahaman yang cukup dan proses logika yang tertata. Bising karena isinya memang tong-tong yang kosong yang beradu nyaring.

Walaupun menyebalkan, hal begini memang fenomena psikologis yang lumrah, disebutnya Dunning-Kruger effect. Ini adalah postulat yang dikeluarkan oleh David Dunning dan Justin Kruger di thaun 1999, yang menyatakan bahwa orang yang tidak kompeten dan pengetahuannya terbatas memiliki bias kognitif serta mengidap superioritas yang ilusif; mereka seringkali menakar kemampuannya melebihi kenyataan. Lebih jelasnya lagi diperlihatkan di grafik ini:

Screen-Shot-2015-02-14-at-6.08.11-PM.png

Grafik ini menunjukkan bahwa orang yang mempunyai pemahaman yang sedikit, cenderung memiliki kepercayaan diri yang berlebihan. Mereka merasa paling tahu dan pintar tentang bidang yang baru sangat sedikit mereka ketahui; dan secara tidak sadar mengabaikan ketidaktahuan mereka.

Di era informasi seperti sekarang, ilusi superioritas ini semakin mudah menjangkiti banyak orang. Karena sudah beberapa kali menonton Mata Najwa dan headline news di Metro TV, tiba-tiba merasa menjadi pakar politik. Karena sesekali baca artikel di linimasa atau baca Wikipedia, tiba-tiba merasa paling paham ilmu sosial. Karena sering datang pengajian sepekan sekali dalam beberapa bulan terakhir, tiba-tiba mengira sudah paling sholeh sedunia, atau setidaknya sudah selevel ulama.

Ilusi superioritas ini semakin diperparah dengan mentalitas yang bully dan intimidatif. Karena merasa paling, orang-orang seperti ini siap untuk menyerang siapapun yang berbeda pendapat. Semuanya pasti salah, karena mereka merasa paling benar dan paling pintar. Dan media sosial menjadi arena yang tepat, karena argumentasi bisa dilakukan tanpa nyali dan tanggung jawab; bisa sambil browsing di Google dulu kalau ada yang kurang paham, dan setidaknya bisa bersembunyi dibalik layar 5 inci.

Kenapa masalah ini semakin banyak dan menular? Karena, sebagaimana grafik di atas, orang-orang seperti ini, saat baru tahu sedikit, berhenti untuk mencari tahu lebih. Mereka tersangkut di satu titik puncak kepercayaan diri berlebih, sekaligus titik pemahaman yang minim. Akhirnya, terjerambab lah dalam jurang yang disebut jurang kekosongan yang nyaring bunyinya. Jelek banget ya namanya. Biarin aja. Jurang ini isinya tong-tong kosong yang saling beradu. Berisik dan menyebalkan.

Jadi, saya mohon, jika rekan Anda terjebak di jurang ini, segera selamatkan. Caranya mudah, semudah membaca grafik di atas: terus tambah pemahaman. Sedikit saja pemahaman bertambah, maka terbuka pula mata kita dari kebodohan kita sendiri. Itulah alasan kepercayaan diri akan menurun drastis. Semakin kita sadar betapa kita bodoh, semakin kita tidak percaya diri -dan berhati-hati, dalam berpendapat. Dan ini titik awal yang paling penting, karena kesadaran akan kebodohan dan ketidakpercayaan diri kita akan memicu pembelajaran lebih dalam, yang kemudian menaikkan kita ke level selanjutnya; dimana kita percaya diri karena benar-benar mengerti. Ini lah yang disebut bijaksana.

Dalam dunia nyata, kasus yang memperlihatkan kebenaran Dunning-Kruger effect ini bisa kita perhatikan dimanapun. Bagaimana mahasiswa tingkat satu merasa pintar dan belagu, sedangkan si professor sangat rendah hati. Bagaimana ulama sangat sejuk dan bijak, sedangkan orang baru tobat sangat agresif dan judgemental. Dan banyak contoh lainnya. Mari, belajar menjadi bijaksana, setidaknya dengan terlebih dahulu tahu bahwa kita belum banyak tahu; dan dengan terlebih dulu sadar bahwa kita perlu banyak belajar.

Dysrhythmia

Saya berada pada kondisi dimana dimensi ruang dan waktu terdistorsi. Ketika eksistensi yang kita pilih untuk dirasa adalah dilusi. Mungkin karena saya terbiasa oleh satu keadaan -yang jika hal itu berubah drastis ke sudut ekstrem, setiap inci tubuh kita akan berupaya menolak; lalu kita kehilangan kemampuan untuk mengindera mana nyata dan mana maya. Seperti jet lag; saat terbiasa oleh ritmik circadian di satu zona waktu, tubuh kita akan kesulitan membedakan mana siang dan mana malam.

Saya masih belum bisa mencerna fakta bahwa ia telah tiada. Saya masih merasa bahwa di ujung jaringan ponsel ini, jika saya hubungi nomor dia sekarang juga, suaranya masih akan menjawab dengan salam. Dan jika saya pulang ke rumah, akan hadir dia menyambut di depan pintu. Bahwa di ruang depan ‘kan terduduk dia disana. Bahwa di kamar sebelah terlelap lah dia di dalamnya. Dan di akhir hari, akan ada obrolan ringan ayah-anak, yang terlihat dingin tapi terasa hangat. Inilah yang nyata, meskipun bukan yang fakta.

Karena fakta hanyalah pil legam yang terlalu pahit untuk sekedar terbesit. Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa sosok yang mengajarkan saya arti kekuatan, bisa terkulai lemah tak berdaya? Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa orang yang memperlihatkan makna perjuangan, harus kalah di pertarungan terakhirnya? Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa dia yang selalu ada, kini tetiba tiada? Fakta hanyalah pil legam yang terlalu getir untuk sekadar terdesir.

Dan tidak seperti jet lag yang jika sering-sering memaparkan diri ke sinar matahari semua akan reda -karena kita telah terbiasa dengan fakta zona waktu yang baru; terpapar realita sama sekali tidak membantu dalam hal ini. Tidak ada potongan fakta yang mampu memaksa saya untuk menelannya sebagai hal nyata yang harus dipercaya. Tidak ketika saya menyaksikan monitor jantung yang menunjukkan berhentinya detak. Tidak juga ketika saya melihat wajahnya yang memucat pasi. Tidak juga ketika saya menyentuh tubuhnya yang dingin dan kaku. Tidak juga ketika saya harus menyiram air membasuh seluruh badannya. Tidak juga ketika saya membungkusnya dengan kain kafan. Tidak juga ketika saya berdiri di shaf terdepan dengan dia tersimpan dalam keranda. Tidak juga ketika saya menempatkan jasadnya di dalam liang. Tidak juga ketika saya memandang tanah yang menutupnya hingga menjadi gundukan.

Tidak juga ‘kan waktu.

Less for More

Di bulan Ramadhan kemarin saya sempat one-on-one mentoring dengan salah satu pemilik saham mayoritas grup perusahaan di sektor agri yang sudah publik. Karena level bisnisnya sudah jauh berbeda, selain network, sebenarnya nggak banyak yang bisa diimplementasikan. Apa yang beliau disampaikan seringnnya terlalu umum, kadang juga sangat korporat. Tapi, justru ada kejadian menarik yang nggak berkaitan sama sesi ini.

Waktu mentoring selesai, saya meletakkan HP BB Armstrong buluk saya di atas meja. Bentuknya memang suram, sesuram jomblo mendalami kisah asmaranya. Ini pun hasil warisan dari istri sendiri, karena HP sebelum ini HP jadul hasil minta ke suhu Al. Melihat HP saya, si Bapak senyum dan mengeluarkan HP yang sama, BB Armstrong, tapi casing luar lebih terawat.

“Sama dong HP kita”, kata dia.
“Kok tumben anak muda startup macam kamu nggak pakai HP necis?”, tambahnya.

Emang anak gaul perkotaan HPnya keren sih. Mungkin, di pikiran dia, HP saya begini karena memilih jalan sederhana dan anti-kemapanan. Padahal cuma karena kere. Tapi, dipikir-pikir, saya masih wajar pakai HP seadanya, kan makan sehari-hari masih gehu dan bala-bala. Lah, beliau ini kan perusahaannya udah triliunan, Tbk pula, justru saya yang harusnya heran.

“Iya, Pak. Biar praktis, kan udah punya tablet buat internetan. Justru saya yang lebih heran, kok Bapak HPnya cuma gini aja?”, tanggap saya.

Seakan sudah berharap saya menanyakan itu, si Bapak tersenyum sambil menunjuk HPnya. “Dengan HP yang harganya segini, saya bisa handle bisnis triliunan, dan menghasilkan triliunan kan. Bandingin sama anak muda yang HP bagus dipakai untuk update social media, nilai produknya timpang. This is less for more!”

Saya tercenung. Selain karena saya baru sadar kalau di kantong kirinya terselip HP necis, yang berarti dialog tadi cuma akal-akalan dia supaya bisa menyampaikan konsep itu ke saya, saya tercenung dengan konsepnya yang luar biasa dalam. Less, for more. Hal yang lebih sedikit, untuk hal yang lebih banyak. Pulangnya saya merenung, dan semakin sadar bahwa aplikasi konsep ini sangatlah luas.

Less for more adalah tentang efisiensi dan daya guna. HP si Bapak adalah simbol dari sumber daya yang kita miliki: waktu, tenaga, orang-orang di sekitar kita, dan lain sebagainya. Dan cara dia menggunakannya menjadi gambaran bagaimana kita bisa mengoptimalkan sumber daya. Seharusnya kita bisa memaksimalkan satu jam waktu dan energi kita, dengan menghasilkan dampak riil yang lebih besar dari biasanya. Saya yang bisnisnya nggak gede-gede amat, hanya bisa khatamkan 1 buku per pekan. Sementara Elang Gumilang yang nilai proyeknya sudah 10 triliunan, bisa menamatkan 1 buku setiap harinya. Apa yang membedakan ini? Penggunaan waktu yang lebih sedikit, untuk hasil yang lebih banyak. Ini berkaitan dengan konsep selanjutnya.

Less for more adalah tentang alokasi. Dalam setiap unsur yang tangible dan berbatas, alokasi menjadi kunci efektivitas, dan ini selalu soal memilih. Dalam unsur waktu yang hanya kita miliki 24 jam sehari (berbatas), alokasi kita terhadap hal tersebut jadi dasar dari dampak yang dihasilkan. Kita tidak bisa tidur 8 jam sehari, main game 4 jam sehari, jalan-jalan 4 jam sehari, lalu berharap jadi pintar dan berkecukupan tiba-tiba, tanpa alokasi waktu belajar dan bekerja, kan? Jika uang kita 5 juta rupiah dan 4 juta dipakai beli HP, tentu akan berbeda hasilnya ketika 500ribu dipakai beli ponsel, 3juta sedekah, dan 1,5juta sisanya berinvestasi. Dalam unsur yang berbatas, memutuskan untuk menghabiskan lebih sedikit pada satu hal, akan menyisakan lebih banyak untuk dimanfaatkan ke hal lain, yang luarannya bisa jauh berbeda. Less for more.

Less for more adalah tentang kejernihan memandang diri. Akar masalah pada konsumerisme manusia jaman sekarang adalah ketidakmampuan membedakan dengan jelas antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan; lalu salah memutuskan mana yang dipilih diantara ketiganya. Saat pada kenyatannya, kebutuhannya hanya nokia 3310, keinginannya iPhone, dan kemampuannya Xiaomi, orang-orang yang bias akan menganggap keinginannya adalah kebutuhan, sehingga menimbulkan hasrat diri untuk memenuhinya. Jurangnya dengan kemampuan lah yang kelak akan menjadi lubang: yang jika memaksa mencapainya akan memberikan tambalan tidak perlu pada materi, dan jika tidak tercapai akan memberi jarak dengan kebahagiaan dan kepuasan. Titik jernih adalah saat sadar bahwa kebutuhan kita selalu lebih sedikit (less) dari keinginan, dan bahwa kemampuan kita bisa didedikasikan pada keinginan yang di arahkan ke sudut lain yang berdampak lebih besar (more).

Penjelasan panjang lebar di atas pada hakikatnya telah diteladankan dengan sederhana oleh Rasulullah dan sahabatnya. Melalui efisiensi waktunya yang bekerja efektif siang hari, dan beribadah tiada lelah di malam hari. Melalui alokasi materinya yang memilih sedekah berlimpah, dengan merelakan memakai sandang tambalan. Melalui mentalitas sederhananya dalam titik jernih yang tiada banding. Lalu, tidak jarang muslim kini yang meneladaninya hanya karena mereka kaya dalam materi, lalu melupakan bahwa kekayaan sebenarnya ada di dalam konsep diri.

Surat Rindu

Kali ini saya ada di Venice, Italia. Kota kanal dimana bangunannya masih sama dengan 600 tahun yang lalu. Kota indah, unik, dan romantis, berisi turis-turis dari berbagai penjuru dunia. Sebagaimana yang banyak ditulis di internet, ke Venice jangan sampai lupa untuk mengunjungi beberapa tempat penting, yang terpaksa saya ikuti untuk jadi mainstream.

Saya datang ke Rialto Bridge yang legendaris, melihat bentuknya yang artistik menembus canal grande, disertai bangunan-bangunan antik di sekitarnya. Setelah itu saya mampir ke St. Mark’s Basillica, melihat megahnya gereja yang bagian ruangannya dilapisi emas, beserta pahatan dan karya seni yang begitu detail. Lalu saya berkunjung ke La Piazza San Marco yang merupakan ikon Venice, kebetulan bertepatan dengan “Carnevale di Venice“, menyaksikan banyak pagelaran seni dengan puluhan orang berpakaian abad pertengahan dan menggunakan topeng berlalu-lalang.

Tempat-tempat tadi sangat menarik, tetapi bagi saya tidak terlalu berkesan. Entah mungkin terlalu ramai, atau memang tak memikat. Di masing-masing tempat tadi saya hanya menghabiskan 30 menit. Saya lalu memutuskan untuk pergi tersesat di antara campi (gang-gang kecil) dan canali (kanal-kanal) tanpa tujuan pasti, hingga akhirnya menemukan satu tempat sepi yang begitu indah. Hanya kanal kecil, tanpa perahu lewat, di antara dua jembatan: kayu dan beton, keduanya berbentuk setengah lingkaran. Sisi kanan dan kirinya adalah bangunan lama yang tidak terawat, agak lebih tinggi. Gabungan karakteristik ini membuat semburat mentari masuk dalam jumlah yang tepat untuk menyinari sebagian tembok bangunan, dan membuat bayangan di permukaan air. Semilir angin juga tidak lebih, tidak juga kurang. Karena terkagum dengan kualitas tempat ini, apalagi tidak ada seorang pun yang lewat untuk mengganggu, saya memutuskan untuk diam dan duduk di tepi kanalnya, sambil merenung. Berjam-jam.

Bagi saya, perjalanan ini adalah analogi romansa. Tak peduli apa yang orang lain katakan tentang karakteristik tempat yang anggapannya menarik, yang mampu membuat kita berlabuh adalah yang paling bisa membuat kita nyaman dan tetap bertahan. Tempat dengan ciri spesifik, yang keindahannya hanya kita yang mampu persepsikan, yang memudahkan kita menentukan pilihan. Hal yang selalu kita cerna dengan hati, tanpa objektifikasi.

Analogi ini mengingatkan saya dengan sosok yang jauh disana, yang berujung pada kesimpulan yang ironis. Walaupun sekarang berada di tempat destinasi cantik nan favorit yang diidolakan jutaan orang untuk datang, saya lebih memilih untuk ada disamping wanita pujaan dan makan rendang bersama, meskipun itu di pinggir sawah di Ujung Berung sana. Saat ini juga. Di detik ini, indahnya Venice tak seujung kuku dibanding indahnya berada di sisi dia, apapun kondisinya. Ternyata, inilah Rindu, yang juga buta: tak melihat situasi, tanpa objektifikasi. Tanpa syarat, hanya hati.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tadi, saya memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Belum saja berselang 15 menit, belum juga 400 meter, saya tetiba ingin kembali lagi ke tempat tadi. Memang, tak peduli 1 kilometer atau 11.000, tak peduli semenit atau dua minggu: rindu tetaplah rindu.