Yang Diingat

Ada berapa banyak orang yang Anda pernah kenal? Mungkin ratusan. Secara kumulatif sampai nanti akhir hayat, bisa jadi di angka ribuan, atau bahkan puluhan dan ratusan ribu. Dari semua manusia yang pernah kenal, berapa banyak yang akan benar-benar Anda ingat? Most likely, just a handful. Itu memang cara kerja otak kita, yang secara evolusi hanya memilah satu atau dua peristiwa, memori, serta situasi yang kita simpan dan akan berguna. Otak kita hanya mengingat sudut ekstrem dari setiap kejadian untuk kelak memberikan keunggulan evolusioner manusia sebagai spesies. Ketika memori kita mengingat kalau kena api itu panas, kita bisa menghindari itu nantinya yang ujung-ujungnya bisa membuat kita tetap bertahan hidup.

Menyambung ke pertanyaan awal, dari sekian banyak orang yang kita kenal, kita hanya akan mengingat beberapa orang yang ada di sudut ekstrem. Kita akan ingat orang yang lubang hidungnya paling besar. Kita akan ingat wanita paling cantik. Kita mengingat mantan pacar yang paling baik. Kita mengingat teman yang paling jago kayang. Otak kita dirancang hanya untuk menyeleksi citra orang-orang yang ada di luar batas normal.

Dalam hal itu, teman yang sekarang sedang dipasangkan dengan saya, yaitu Ivan Nashara, adalah orang yang ditakdirkan untuk bisa diingat; karena memang orbitnya ada di luar jalur orang kebanyakan. Sebagian akan mengingatnya sebagai manusia paling baper. Sebagian mengingatnya sebagai bos yang paling posesif. Sebagian lagi akan mengingatnya sebagai orang yang paling arogan. Tapi, saya pribadi akan mengingatnya sebagai rekan yang paling idealis. Dan dalam situasi dimana kaum idealis adalah spesies yang hampir punah, saya rasa kualitas tersebut meninggalkan kesan yang akan tetap bertahan.

Bagi teman saya yang lubang hidungnya paling lebar yang saya sebutkan tadi, saya juga meningatnya sebagai orang yang paling rajin amal ibadahnya. Dan saking rajin dan sholehnya, ingatan tentang berapa ukuran lubang hidungnya kini sudah hampir pudar. Dia sekarang saya ingat sebagai teman yang dulu paling banyak mengajarkan saya tentang agama, tidak lagi terkait dengan lubang hidungnya.

Ternyata, dalam dimensi diri manusia yang memiliki banyak sisi, serta dimensi waktu yang terus berjalan, memori kita juga diciptakan untuk senantiasa memperbaharui apa yang bisa kita ingat tentang citra yang pernah kita tangkap. Dan ini pun kembali memiliki fungsi evolusioner. Otak kita diberikan hak untuk memproses kembali satu hal yang kita ketahui, untuk kemudian membandingkannya dan memberikan keputusan terhadapnya. Karenanya, walaupun kita punya memori untuk menghindari terbakar dari api, kita akan selalu mengingat api sebagai invensi terbesar manusia dan sumber energi yang merevolusi kehidupan kita.

* * * *

Sejarah ini diukir oleh orang-orang yang namanya diingat. Beruntung bagi Ivan, karakteristik pribadinya sudah bisa memenuhi hal itu. Tinggal, takdir mungkin yang akan menentukan, untuk seperti apa dia, sebagaimana manusia lainnya, kelak akan diingat dan diapresiasi orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks yang sama, saya pribadi akan memilih berperang, walaupun untuk diri sendiri, agar nanti bisa menjadi penanda masa, sebagaimana nama-nama para legenda.

If they ever tell my story, let them say that I walked with giants. Men rise and fall like the winter wheat, but these names will never die. Let them say I lived in the time of Hector, tamer of horses. Let them say I lived in the time of Achilles.

– Odysseus

Ternyata Tidak Sederhana

Agaknya, saya memang beruntung bisa punya istri seperti istri saya. Pertama, tentunya, karena dia mau sama saya. Kedua, walaupun dengan latar belakang keluarga yang berbeda, saya dan istri saya sama-sama punya konsep yang sama tentang harta. Saya yang bukan anak orang kaya, merasa bahwa saya sejak dulu bisa hidup bahagia walaupun tanpa limpahan uang yang tak terhingga. Istri saya yang dari keluarga mampu, sejak dulu merasa bahwa uang tidak bisa melelang kembali ingatan yang tidak terlalu membahagiakan. Jadi, secara tidak sengaja kami bersepakat bahwa harta memang hanya selewat, dan uang hanyalah sebuah alat.

Oleh karenanya, bagi kami keserhanaan itu sesuatu yang alami. Kami tidak mencoba memaksakan ataupun mengkampanyekan bentuk kesederhanaan ini sebagai pilihan hidup yang masuk akal di tengah badai konsumerisme. Jika konsumerisme adalah arus yang membawa manusia lainnya secara tidak berdaya, kami adalah pohon kelapa yang tertanam di tengah gunung. Jadi, ya tidak nyambung. Sebagaimana ritme kita bernafas, kesederhanaan ini bukanlah sebuah pilihan serta hasil dari aksi, tapi memang satu sifat natural yang digerakkan oleh alam bawah sadar.

Wujud dari hal ini adalah alpanya segala macam bentuk pemameran dari keserhanaan, sebagaimana khalayak lain. Makanya, walaupun harga baju istri saya cuma 50ribu lebih, dia tidak lantas post di Instagram bahwa sebagai istri direktur hanya beli baju murah demi pilihan menjadi sederhana. Saya pun tidak lantas pamer di Facebook bahwa setiap hari tidak ganti celana dalam demi makna menjadi sederhana. Tanpa melakukan itu, kami memang hanya membeli pakaian ketika membutuhkan, yang terkadang setahun sekali seperti lebaran. Mau itu diskonan baju, sepatu, ataupun kosmetik, tidak pernah rasanya kami tergoda lalu kalap,sebagaimana cerita orang lain yang matanya seketika gelap

Nah, yang lucu, konsep yang sama tidak terjadi ketika urusannya buku. Hampir setiap diskon buku di berbagai toko, kami pasti datang dan membeli banyak tanpa terkendali; walaupun tidak butuh dan masih banyak sisa di rak yang belum dibaca. Ini kelihatannya mirip dengan kebanyakan kelas menengah yang membeli baju mewah padahal isi lemari sudah membuncah.

Kira-kira, kenapa kami yang biasanya bisa sederhana tapi ketika urusan buku justru tidak bisa menahan diri untuk belanja? Ternyata, ini terjawab secara tidak sengaja saat tadi pagi saya berdiskusi dengan istri soal garage sale. Istri saya terheran ketika teman-temannya di dunia maya melakukan garage sale barang pribadinya, dari sepatu, jam tangan, hingga pakaian, yang itu masih bagus dan bahkan tidak pernah terpakai. Dia berargumen, kalau saja kami yang melakukan garage sale seperti itu, sudah pasti semua bajunya tidak layak pakai. Ini memang benar. Kemudian dia lanjut bertanya, “Kalau tidak butuh dan tidak akan pakai, kenapa di awal beli?”

Menanggapi argumen tersebut, saya justru balik bertanya, “Lah, kita juga kalau beli buku dan sampai sekarang belum dibaca, kenapa di awal beli?”. Jawaban setelah inilah yang tidak sengaja memberikan solusi dari misteri ini, “Ya beda dong, kalau buku kan nanti juga ujungnya dibaca”. Ini menarik.

Kenapa ini menarik? Karena, terdengar benar, tetapi juga bias dan paradoks. Apakah semua buku yang saat ini dengan tingkat pembelian yang lebih tinggi dibanding tingkat kecepatan membaca, di akhir nanti akan punya saldo yang positif? Logikanya kan, tidak. Logika yang sama ini lah yang menjadi justifikasi konsumen dalam membeli barang-barang yang kelak tidak berfungsi. Saat memutuskan untuk membeli, psikologis mereka juga berpikir hal yang sama: “Wah, dress ini bagus ya, nanti juga ujung-ujungnya dipakai pas ada kondangan“, “Wah jamnya bagus ya, nanti juga bisa buat ganti setiap hari, nanti pasti dipakai“, “Wah, mobilnya bagus ya, mungkin perlu ganti kalau ke luar kota supaya mobil satunya lebih awet, toh nanti juga terpakai“. Jadi, pada dasarnya, keputusan kita membeli adalah upaya untuk merasionalisasi fungsi eventual dari suatu produk. Dan kita akhirnya memutuskan untuk membeli, saat kita bisa mendapatkan justifikasi akhir bahwa ujung-ujungnya produk tersebut bisa memberikan manfaat, seberapapun nyatanya tidak.

Jika ini dibalik, tentunya banyak sekali orang yang menghabiskan uang dengan mudah untuk membeli baju necis, tapi akan keberatan saat membeli buku diskonan. Sebagaimana tidak terpengaruhnya kami terhadap godaan syetan dalam bentuk potongan harga baju tahun baruan. tapi mudah dirayu dengan buku. Ujung-ujungnya, kembali ke diri kita, bahwa masing-masing kita memiliki jiwa sederhana dalam memaknai satu benda, tapi memiliki hasrat berlebih terhadap benda lain. Orang yang royal dalam membeli game di Steam, belum tentu bisa royal saat membeli lipstick di Wardah.

Kesimpulannya, ternyata berkaitan dengan tulisan saya empat tahun yang lalu; dengan sedikit ekstensi. Kesederhanaan akan bergantung pada keinginan, kita cukup perlu secara hati-hati mendefinisikan apa keinginan kita. Tapi, di sisi lain, terkadang kita juga tidak bisa lari dari aspek lain dari diri kita yang bisa saja sama sekali tidak sederhana. Dan ini pun juga ditentukan dari definisi tentang keinginan. Orang yang keinginan besarnya adalah pahala, akan sangat tidak sederhana dalam beramal dan bersedekah. Dan orang yang keinginannya benda yang gemerlap, akan sangat tidak sederhana dalam belanja untuk mengoleksinya. Yang jadi tantangan adalah, bahwa apapun yang kita miliki, baik itu waktu maupun sumber daya, sangatlah terbatas. Di sisi mana kita bisa secara alamiah memutuskan untuk menjadi sederhana dan tidak sederhana?

Konsisten Untuk Tidak Konsisten

Ajegile. Dari Total 25 hari menulis, saya baru menulis 12 kali. Lebih banyak dendanya dibanding menulisnya. Ini luar bisa menyedihkan. Lebih sedih dari film Twilight atau kasus korupsi Setya Novanto.

Kenapa saya tidak menulis? Ada banyak justifikasi yang bisa dicari, terutama karena pekan ini luar biasa melelahkan karena harus keliling bolak-balik Bekasi-Bogor. Menulis yang menurut saya semacam melukis bagi seorang artis, membutuhkan satu energi, ide, serta fokus yang cukup agar hasilnya bisa saya banggakan. Sayangnya, tidak cukup ada yang tersisa tentang tiga hal itu di pekan ini untuk bisa mencurahkan isi kepala barang satu dua biji. Tapi, dibalik justifikasi itu, dasarnya memang saya bukan orang yang bisa konsisten untuk melakukan aksi kecil selama berulang-ulang dan terus-menerus.

Dulu saya sempat ditanya teman saya tentang apa jalur karir terburuk yang mungkin terjadi ke saya. Saya jawab: tukang fotokopi. Alasannya bukan dari segi pemasukan atau tingkat kekerenan, tapi lebih ke aktivitas yang dilakukan. Coba bayangkan, apa yang dilakukan tukang fotokopi? Memotokopi. Masukkan kertas ke dalam mesin fotokopi, menekan tombol, lalu jadi. Yang jadi masalah adalah, kalau sehari ada 200 lembar saja yang difotokopi, sebulan sudah 6000. Enam ribu kali melakukan aktivitas kecil yang sama dan berulang-ulang: masukan kertas, tekan tombol, lalu jadi. Begitu terus, enam ribu kali. Mungkin satu atau dua bulan melakukan itu, saya sudah masuk rumah sakit jiwa. Mentalitas saya yang petakilan membutuhkan satu hal yang dinamis dalam spektrum waktu yang pendek.

Mentalitas ini tentunya bukan hal yang selalu positif, karena mempersulit saya untuk melakukan hal yang sama dengan rutin. Padahal, rutinitas ini penting dalam membangun satu progress yang signifikan. Ini akhirnya terwujud dalam berbagai macam dimensi. Di level pribadi, saya tidak bisa rutin mandi atau melakukan ibadah di waktu yang sama setiap hari. Di level keluarga, saya tidak bisa melakukan pekerjaan harian seperti mencuci piring atau membereskan kasur. Di level perusahaan, saya juga tidak bisa mengirimkan newsletter pekanan. Satu-satunya hal yang konsisten, adalah dalam menjadi tidak konsiten.

Konsistensi dan Persistensi

Dengan melihat hal tersebut, saya juga tidak rela jika dibilang menjadi anak muda yang galau. Karena, dalam skala yang makro, saya tetap melakukan hal yang sama apapun kondisinya. Hampir sejak dari tingkat tiga, saya selalu ada di industri perikanan pada berbagai bentukan; mulai dari punya kolam, punya kios makanan, jadi pedagang, hingga sekarang fokus di teknologi. Saya tidak serta-merta menjadi banci trend yang gamang lalu pindah haluan. Padahal, jalan menuju ini pun tidak mudah; dari mulai tidak ada restu orang tua, didera kerugian, kehabisan uang, tawaran pekerjaan dan beasiswa, hingga penolakan dari konsumen yang tidak ada habisnya.

Di level perusahaan, saya pun tidak rela jika dibilang tidak konsisten. Karena, sejak awal bisnis masih seuprit sampai sekarang sudah seuprit lebih sedikit, saya masih tetap berjuang siang malam dengan energi yang tetap besar dan siap sedia berada di garda terdepan. Saya tetap konsisten untuk berupaya memberikan yang terbaik yang saya bisa. Berarti, saya juga konsisten, kan?

Ternyata, tidak. Contoh di atas bukanlah bentuk suatu konsistensi, melainkan persistensi. Apa bedanya? Persistensi adalah kemampuan untuk tetap melakukan sesuatu hal, bahkan di saat-saat yang sulit. Sedangkan konsistensi adalah kemampuan untuk terus-menerus melakukan hal yang sama dalam keadaan apapun. Persistensi berkaitan dengan respon terhadap tekanan atau situasi, sedangkan konsistensi adalah suatu hal yang reguler dan tidak berubah terlepas dari situasi yang terjadi.

Contohnya, jika kita adalah satu orang yang tersekap di dalam goa, persistensi adalah kemampuan kita untuk tetap bertahan, mencari jalan keluar, serta melakukan aksi walaupun dalam kepanikan dan keterbatasan sumber daya. Sedangkan konsistensi adalah kita yang mengetuk-ngetuk satu lubang yang sama di pintu goa tersebut hingga bisa terlihat cahaya dan membongkar hingga bisa keluar goa. Dalam konteks apapun, kita membutuhkan persistensi dan konsistensi agar menghasilkan satu luaran yang berbeda.

Belajar Menjadi Konsisten

Bagi saya pribadi, menjadi persisten ini adalah hal yang alamiah. Dari dulu saya mampu menjadi orang yang paling persisten dimanapun berada. Kenapa? Karena, untuk menjadi persisten, faktor utama yang wajib ada adalah tekanan dan kesulitan. Untungnya, seumur hidup saya selalu penuh dengan dua hal tersebut sehingga, mau atau tidak, mentalitas persisten bisa terbentuk dari kekacauan yang hadir secara sengaja maupun tidak.

Berkorelasi dengan poin di atas, menjadi konsisten justru sangat sulit. Saat hidup Anda cukup familiar dengan chaos, melakukan hal yang sama secara terus-menerus sama sekali tidak mudah. Jika Anda tinggal di Singapura, naik MRT setiap hari setiap jam 7 pagi masih bisa dilakukan, karena situasi aman terkendali. Tapi, ketika Anda tinggal di Palestina, setiap jam 5 pagi bangun tidur terus mandi tidak lupa menggosok gigi bukan hal yang gampang, karena banyak sekali kemungkinan yang terjadi untuk menghambat itu; mulai dari desa sebelah yang di bom hingga air bak mandi yang belum tentu masih mengucur.

Oleh karena itu, sebelum belajar untuk menjadi konsisten, hal yang pertama yang perlu saya pelajari adalah bagaimana untuk bisa nyaman dengan situasi yang nyaman, atau setidaknya menemukan waktu atau zona yang bisa membuat kita nyaman. Dalam kenyamanan ini ada satu ruang yang, bagi manusia pencari kekacauan seperti saya, tepat untuk mensimulasikan satu aksi yang konsisten. Rekan saya yang punya mental agent of chaos seperti saya juga melakukan ini, dengan yoga dan meditasi. Setelah melakukan meditasi, selama 1 jam setelahnya adalah waktu bagi dia untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan rutinitas; menulis buku satu paragraf, olahraga, mengirim newsletter, dan lain sebagainya.

Kelihatannya, ide ini bisa dijalankan, bukan? Sampai saat saya memikirkan betapa anehnya hal ini; melakukan suatu aktivitas rutin agar bisa belajar melakukan aktivitas dengan rutin. Paradoks. Dalam paradoks ini, yang masuk akal hanyalah untuk bisa konsiten dalam menjadi inkonsisten. Mungkin dengan belajar konsisten dalam inkonsistensi, saya bisa menemukan makna menjadi konsisten.

Puisi Dalam Saya

Nama saya Gibran. Siapapun penggemar sastra pasti akan mudah menemukan korelasi nama saya. Tentunya bukan dengan anak presiden yang doyan ngevlog dan viral, tapi dengan salah satu sastrawan terbesar dari Lebanon. Menariknya, sastra yang ada di dalam nama saya juga terselip ke dalam bakat saya.

Ayah saya sangat suka dengan karya-karyanya Kahlil Gibran dan dia punya cukup banyak koleksi bukunya. Di usia TK hingga SD, buku Sang Nabi sudah khatam saya baca walaupun tidak paham artinya. Ayah saya juga pandai dalam bersajak. Mungkin karena sejak dini terpapar dengan sastra, dipadu dengan darah melayu, serta warisan genetis ayah saya tadi, saya cukup berbakat dalam membuat puisi.

Karena paham dengan kemampuan saya yang lihai, kelihatannya sudah tidak terhingga banyaknya wanita-wanita yang saya rayu dengan puisi aduhai. Pernah di satu waktu di SMA, ada adik kelas manis yang saya suka. Karena tampang saya yang mirip dengan Kotaro Minami saat sudah berubah menjadi Kamen Rider, tentunya tidak mudah bagi saya untuk menarik hati wanita yang semacam ini. Alhasil, saya menuliskan 5 puisi anonim yang saya tulis di surat dan dititipkan ke teman. Tanpa mengharap balasan. Platonis.

Lewat satu tahun sejak saat itu, si wanita ini punya pacar tampan dan atletis yang merupakan senior saya. Satu kesempatan, saya duduk berdua dengan dia di satu acara OSIS, lalu tiba-tiba dia memperlihatkan SMS dari pacarnya yang berisi puisi. Sayangnya, puisi itu lebih seperti pertanyaan teka-teki silang. Saya agak bingung kenapa dia menunjukkan SMS tersebut ke saya. Sampai dia bilang sambil melirik tersenyum, “Jauh banget kan sama puisi yang dulu pernah kakak bikin? Coba aja itu nggak anonim, aku bisa dapet SMS yang lebih bagus sekarang”. Satu tahun, tapi puisi iseng yang saya kasih itu bekasnya masih banyak tersisa, padahal saya sendiri pun saat itu sudah lupa isinya apa.

Karena memiliki rekam jejak yang bagus, akhirnya saya juga sempat membuka jasa pembuatan puisi. Saat SMP dan SMA, dipengaruhi oleh kekerenan Rangga di AADC yang saat itu sedang trend, banyak sekali teman-teman saya yang jadinya sok berpuisi, tanpa bakat yag mumpuni. Akhirnya, upaya-upaya romantis mereka ke gebetan, perlu karya yang lebih berkualitas agar bisa efektif bikin hati deg-degan. Di sana peran saya. Cukup 5 hingga 10 ribu rupiah, orang bisa mendapatkan satu puisi customized sesuai dengan tujuan dan karakter target puisi ini. Ada yang untuk mantan, kecengan, bahkan pacar orang; yang semuanya dibuat khusus. Hasilnya lumayan; setidaknya kalau dijumlahkan saya sudah mendapatkan jutaan rupiah dari transaksi ini. Dan setidaknya ada dua lusin pasangan yang jadian karena puisi-puisi yang tampan.

Karena proses ini, bagi saya, membuat puisi itu effortless. Hanya butuh berpikir 5 menit untuk saya bisa membuat beberapa bait. Saat ide menulis ini mentok, seperti malam ini, jalan pintas yang selalu terpikir pertama kalinya adalah membuat puisi; yang sejauh ini belum pernah saya lakukan demi memaksa diri untuk bisa membuat tulisan yang bisa dibanggakan. Lain dengan para sastrawan yang membuat puisi dari hati, puisi-puisi saya yang mekanistis sama sekali tidak sempat masuk memori.

Saya tidak ingat hampir semua sajak yang saya buat. Tapi, malam ini, tiba-tiba saya teringat satu sajak yang saya gubah di satu malam, di Gunung Papandayan, di depan api unggun yang menyala. Malam itu cerah dan indah. Biasanya, situasi seperti itu sangat saya nikmati dengan ketenangan dan kesendirian. Tapi, tidak saat itu. Saat itu saya selalu membayangkan satu wajah yang membuat saya resah. Resah yang berupa rindu. Dan untuk mencurahkan itu, saya ambil kertas, lalu saya menulis satu surat.

Keesokan harinya surat ini saya selipkan di tas seorang wanita. Tujuh tahun setelahnya, wanita ini yang sekarang terlelap di sebelah saya, memeluk anak kecil cantik yang wajahnya mirip dengan kami berdua.

Seperti menulis puisi, ada banyak hal lain yang effortless, yang bahkan saya lakukan setiap harinya: mencetuskan ide, bernafas, atau berkata satu dua hal. Tapi, seperti puisi di atas, ada hal-hal tertentu yang terjadi dalam percikan yang tepat yang kemudian berdampak besar bagi kehidupan saya: ide bisnis yang cukup dalam yang kini menjadi sumber penghidupan, nafas yang ditarik dalam lalu mendorong saya melakukan sesuatu yang berani, atau perkataan yang cukup dalam yang kemudian mengubah pandangan orang terhadap saya. Seperti puisi di atas, hal kecil yang kita lakukan hanya perlu kita hayati lebih dalam agar bisa benar-benar memberikan makna yang nyata.

The Art in You

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up. – Pablo Picasso

Jadi, di #31HariNulis ini, ada sesi khusus yang dibuat dimana kita harus bikin tulisan yang menanggapi atau terinspirasi dari tulisan teman kita di eFishery. Untung sekali, saya kebagian menanggapi blognya Reggy. Reggy ini graphic designer di eFishery. Baca blognya, Anda bisa melihat sesuatu yang luar biasa; hampir setiap postingan ada ilustrasi cantik yang dibuat sendiri! Kurang keren apa coba.

Jiwa yang sangat artistik dari Reggy ini benar-benar intriguing. Saya sendiri merasa bahwa otak bagian seni saya sama sekali tidak diasah; mungkin itu juga yang bikin jalan pikiran saya suka ruwet. Kadang, kita butuh simplisitas, kebebasan, serta ketenangan yang bisa dibawa oleh seni agar bisa menghasilkan suatu pemikiran yang lebih kompleks.

Supaya inspirasi kreativitas visual yang disuguhkan Reggy tidak hanya sekadar inspirasi sahaja, saya mencoba melakukan aksi dengan membuat satu karya luar biasa di Microsoft Paint. Setelah selesai membuat karya ini dan memperhatikan dengan seksama, saya menyadari satu hal besar yang sesuai dengan quote di atas: setiap diri kita adalah seniman. Hanya saja, ada yang berbakat seperti Reggy, dan yang terlaknat seperti saya.

Karya Seni Abad Ini

Dua Puluh Ribu

Apa artinya 20 ribu rupiah?

Bagi Anda yang biasa minum di cafe, 20 ribu bahkan tidak cukup untuk beli satu cangkir kopi. Bagi kita yang biasa makan di restoran, 20 ribu bahkan tidak cukup untuk mencicipi satu piring nasi. Tapi, bagi tukang pulung yang dulu sempat saya temui, 20 ribu ini senilai dengan makan satu hari bagi dia, istri, dan dua orang putri.

Seberapa mudah kita kehilangan 20 ribu? Kalau terselip di kasur, tertinggal di saku, atau terjatuh di jalan; apakah kita akan sedih dan mencarinya habis-habisan? Saya jamin, tidak akan. Tapi, bagi tukang pulung yang dulu sempat saya temui, 20 ribu ini cukup besar baginya untuk meniti kembali berkilo meter jalur yang sudah ia lewatkan, karena lembar uang ini jatuh entah dimana di tengah jalan.

Ini yang aneh dari harta; nilai intrinsiknya tidak hanya dilihat dari kemampuannya menukar barang atau jasa, tapi juga situasi pemiliknya. Walaupun harga 20 ribu nilai intrinsiknya sama, bisa membeli satu kilogram telur ayam, misalnya; tapi tingkat kebutuhan pemiliknya lebih menentukan seberapa berharga nilainya.

Dalam konteks sekarang, 20 ribu bagi saya adalah sebuah dilema. Saya yang banyak gaya ini hanya ingin menulis sesuatu yang panjang dan lebar dengan ide yang mendalam. Tujuannya mungkin untuk pencitraan. Tetapi, karena banyak pekerjaan lain yang menanti untuk diselesaikan, saya tidak punya cukup energi dan konsentrasi untuk ide tersebut terejawantahkan. Sementara itu, di sisi lain, kalau saya tidak menulis sama sekali, saya akan kena denda 20 ribu. Seperti lima hari lainnya, dimana saya juga kena denda. 20 ribu.

Saya tidak ada masalah untuk membayar denda, seperti lima hari sebelumnya dimana saya sudah memutuskan untuk rela. Tanpa beban; tanpa kekhawatiran. Tapi, tiba-tiba saja, tadi di jalan saya ingat dengan pemulung yang dulu sempat saya temui. Dia sedang mengais sampah sambil menitikkan sedikit air mata. Waktu sudah maghrib. Langit sudah muram, tapi wajah dia lebih terlihat suram. Saat saya datangi dan tanya kenapa dan sedang cari apa, dia menjawab sambil terisak,

“Uang saya hilang, dek. 20 ribu”

Saya terdiam. Saat itu juga, dan saat ini ketika mengingatnya, saya jadi sadar banyak sekali nikmat yang kecil, seperti nilai 20 ribu, yang setiap waktunya telah kita dustakan.

Dysrhythmia

Saya berada pada kondisi dimana dimensi ruang dan waktu terdistorsi. Ketika eksistensi yang kita pilih untuk dirasa adalah dilusi. Mungkin karena saya terbiasa oleh satu keadaan -yang jika hal itu berubah drastis ke sudut ekstrem, setiap inci tubuh kita akan berupaya menolak; lalu kita kehilangan kemampuan untuk mengindera mana nyata dan mana maya. Seperti jet lag; saat terbiasa oleh ritmik circadian di satu zona waktu, tubuh kita akan kesulitan membedakan mana siang dan mana malam.

Saya masih belum bisa mencerna fakta bahwa ia telah tiada. Saya masih merasa bahwa di ujung jaringan ponsel ini, jika saya hubungi nomor dia sekarang juga, suaranya masih akan menjawab dengan salam. Dan jika saya pulang ke rumah, akan hadir dia menyambut di depan pintu. Bahwa di ruang depan ‘kan terduduk dia disana. Bahwa di kamar sebelah terlelap lah dia di dalamnya. Dan di akhir hari, akan ada obrolan ringan ayah-anak, yang terlihat dingin tapi terasa hangat. Inilah yang nyata, meskipun bukan yang fakta.

Karena fakta hanyalah pil legam yang terlalu pahit untuk sekedar terbesit. Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa sosok yang mengajarkan saya arti kekuatan, bisa terkulai lemah tak berdaya? Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa orang yang memperlihatkan makna perjuangan, harus kalah di pertarungan terakhirnya? Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa dia yang selalu ada, kini tetiba tiada? Fakta hanyalah pil legam yang terlalu getir untuk sekadar terdesir.

Dan tidak seperti jet lag yang jika sering-sering memaparkan diri ke sinar matahari semua akan reda -karena kita telah terbiasa dengan fakta zona waktu yang baru; terpapar realita sama sekali tidak membantu dalam hal ini. Tidak ada potongan fakta yang mampu memaksa saya untuk menelannya sebagai hal nyata yang harus dipercaya. Tidak ketika saya menyaksikan monitor jantung yang menunjukkan berhentinya detak. Tidak juga ketika saya melihat wajahnya yang memucat pasi. Tidak juga ketika saya menyentuh tubuhnya yang dingin dan kaku. Tidak juga ketika saya harus menyiram air membasuh seluruh badannya. Tidak juga ketika saya membungkusnya dengan kain kafan. Tidak juga ketika saya berdiri di shaf terdepan dengan dia tersimpan dalam keranda. Tidak juga ketika saya menempatkan jasadnya di dalam liang. Tidak juga ketika saya memandang tanah yang menutupnya hingga menjadi gundukan.

Tidak juga ‘kan waktu.

Less for More

Di bulan Ramadhan kemarin saya sempat one-on-one mentoring dengan salah satu pemilik saham mayoritas grup perusahaan di sektor agri yang sudah publik. Karena level bisnisnya sudah jauh berbeda, selain network, sebenarnya nggak banyak yang bisa diimplementasikan. Apa yang beliau disampaikan seringnnya terlalu umum, kadang juga sangat korporat. Tapi, justru ada kejadian menarik yang nggak berkaitan sama sesi ini.

Waktu mentoring selesai, saya meletakkan HP BB Armstrong buluk saya di atas meja. Bentuknya memang suram, sesuram jomblo mendalami kisah asmaranya. Ini pun hasil warisan dari istri sendiri, karena HP sebelum ini HP jadul hasil minta ke suhu Al. Melihat HP saya, si Bapak senyum dan mengeluarkan HP yang sama, BB Armstrong, tapi casing luar lebih terawat.

“Sama dong HP kita”, kata dia.
“Kok tumben anak muda startup macam kamu nggak pakai HP necis?”, tambahnya.

Emang anak gaul perkotaan HPnya keren sih. Mungkin, di pikiran dia, HP saya begini karena memilih jalan sederhana dan anti-kemapanan. Padahal cuma karena kere. Tapi, dipikir-pikir, saya masih wajar pakai HP seadanya, kan makan sehari-hari masih gehu dan bala-bala. Lah, beliau ini kan perusahaannya udah triliunan, Tbk pula, justru saya yang harusnya heran.

“Iya, Pak. Biar praktis, kan udah punya tablet buat internetan. Justru saya yang lebih heran, kok Bapak HPnya cuma gini aja?”, tanggap saya.

Seakan sudah berharap saya menanyakan itu, si Bapak tersenyum sambil menunjuk HPnya. “Dengan HP yang harganya segini, saya bisa handle bisnis triliunan, dan menghasilkan triliunan kan. Bandingin sama anak muda yang HP bagus dipakai untuk update social media, nilai produknya timpang. This is less for more!”

Saya tercenung. Selain karena saya baru sadar kalau di kantong kirinya terselip HP necis, yang berarti dialog tadi cuma akal-akalan dia supaya bisa menyampaikan konsep itu ke saya, saya tercenung dengan konsepnya yang luar biasa dalam. Less, for more. Hal yang lebih sedikit, untuk hal yang lebih banyak. Pulangnya saya merenung, dan semakin sadar bahwa aplikasi konsep ini sangatlah luas.

Less for more adalah tentang efisiensi dan daya guna. HP si Bapak adalah simbol dari sumber daya yang kita miliki: waktu, tenaga, orang-orang di sekitar kita, dan lain sebagainya. Dan cara dia menggunakannya menjadi gambaran bagaimana kita bisa mengoptimalkan sumber daya. Seharusnya kita bisa memaksimalkan satu jam waktu dan energi kita, dengan menghasilkan dampak riil yang lebih besar dari biasanya. Saya yang bisnisnya nggak gede-gede amat, hanya bisa khatamkan 1 buku per pekan. Sementara Elang Gumilang yang nilai proyeknya sudah 10 triliunan, bisa menamatkan 1 buku setiap harinya. Apa yang membedakan ini? Penggunaan waktu yang lebih sedikit, untuk hasil yang lebih banyak. Ini berkaitan dengan konsep selanjutnya.

Less for more adalah tentang alokasi. Dalam setiap unsur yang tangible dan berbatas, alokasi menjadi kunci efektivitas, dan ini selalu soal memilih. Dalam unsur waktu yang hanya kita miliki 24 jam sehari (berbatas), alokasi kita terhadap hal tersebut jadi dasar dari dampak yang dihasilkan. Kita tidak bisa tidur 8 jam sehari, main game 4 jam sehari, jalan-jalan 4 jam sehari, lalu berharap jadi pintar dan berkecukupan tiba-tiba, tanpa alokasi waktu belajar dan bekerja, kan? Jika uang kita 5 juta rupiah dan 4 juta dipakai beli HP, tentu akan berbeda hasilnya ketika 500ribu dipakai beli ponsel, 3juta sedekah, dan 1,5juta sisanya berinvestasi. Dalam unsur yang berbatas, memutuskan untuk menghabiskan lebih sedikit pada satu hal, akan menyisakan lebih banyak untuk dimanfaatkan ke hal lain, yang luarannya bisa jauh berbeda. Less for more.

Less for more adalah tentang kejernihan memandang diri. Akar masalah pada konsumerisme manusia jaman sekarang adalah ketidakmampuan membedakan dengan jelas antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan; lalu salah memutuskan mana yang dipilih diantara ketiganya. Saat pada kenyatannya, kebutuhannya hanya nokia 3310, keinginannya iPhone, dan kemampuannya Xiaomi, orang-orang yang bias akan menganggap keinginannya adalah kebutuhan, sehingga menimbulkan hasrat diri untuk memenuhinya. Jurangnya dengan kemampuan lah yang kelak akan menjadi lubang: yang jika memaksa mencapainya akan memberikan tambalan tidak perlu pada materi, dan jika tidak tercapai akan memberi jarak dengan kebahagiaan dan kepuasan. Titik jernih adalah saat sadar bahwa kebutuhan kita selalu lebih sedikit (less) dari keinginan, dan bahwa kemampuan kita bisa didedikasikan pada keinginan yang di arahkan ke sudut lain yang berdampak lebih besar (more).

Penjelasan panjang lebar di atas pada hakikatnya telah diteladankan dengan sederhana oleh Rasulullah dan sahabatnya. Melalui efisiensi waktunya yang bekerja efektif siang hari, dan beribadah tiada lelah di malam hari. Melalui alokasi materinya yang memilih sedekah berlimpah, dengan merelakan memakai sandang tambalan. Melalui mentalitas sederhananya dalam titik jernih yang tiada banding. Lalu, tidak jarang muslim kini yang meneladaninya hanya karena mereka kaya dalam materi, lalu melupakan bahwa kekayaan sebenarnya ada di dalam konsep diri.

Surat Rindu

Kali ini saya ada di Venice, Italia. Kota kanal dimana bangunannya masih sama dengan 600 tahun yang lalu. Kota indah, unik, dan romantis, berisi turis-turis dari berbagai penjuru dunia. Sebagaimana yang banyak ditulis di internet, ke Venice jangan sampai lupa untuk mengunjungi beberapa tempat penting, yang terpaksa saya ikuti untuk jadi mainstream.

Saya datang ke Rialto Bridge yang legendaris, melihat bentuknya yang artistik menembus canal grande, disertai bangunan-bangunan antik di sekitarnya. Setelah itu saya mampir ke St. Mark’s Basillica, melihat megahnya gereja yang bagian ruangannya dilapisi emas, beserta pahatan dan karya seni yang begitu detail. Lalu saya berkunjung ke La Piazza San Marco yang merupakan ikon Venice, kebetulan bertepatan dengan “Carnevale di Venice“, menyaksikan banyak pagelaran seni dengan puluhan orang berpakaian abad pertengahan dan menggunakan topeng berlalu-lalang.

Tempat-tempat tadi sangat menarik, tetapi bagi saya tidak terlalu berkesan. Entah mungkin terlalu ramai, atau memang tak memikat. Di masing-masing tempat tadi saya hanya menghabiskan 30 menit. Saya lalu memutuskan untuk pergi tersesat di antara campi (gang-gang kecil) dan canali (kanal-kanal) tanpa tujuan pasti, hingga akhirnya menemukan satu tempat sepi yang begitu indah. Hanya kanal kecil, tanpa perahu lewat, di antara dua jembatan: kayu dan beton, keduanya berbentuk setengah lingkaran. Sisi kanan dan kirinya adalah bangunan lama yang tidak terawat, agak lebih tinggi. Gabungan karakteristik ini membuat semburat mentari masuk dalam jumlah yang tepat untuk menyinari sebagian tembok bangunan, dan membuat bayangan di permukaan air. Semilir angin juga tidak lebih, tidak juga kurang. Karena terkagum dengan kualitas tempat ini, apalagi tidak ada seorang pun yang lewat untuk mengganggu, saya memutuskan untuk diam dan duduk di tepi kanalnya, sambil merenung. Berjam-jam.

Bagi saya, perjalanan ini adalah analogi romansa. Tak peduli apa yang orang lain katakan tentang karakteristik tempat yang anggapannya menarik, yang mampu membuat kita berlabuh adalah yang paling bisa membuat kita nyaman dan tetap bertahan. Tempat dengan ciri spesifik, yang keindahannya hanya kita yang mampu persepsikan, yang memudahkan kita menentukan pilihan. Hal yang selalu kita cerna dengan hati, tanpa objektifikasi.

Analogi ini mengingatkan saya dengan sosok yang jauh disana, yang berujung pada kesimpulan yang ironis. Walaupun sekarang berada di tempat destinasi cantik nan favorit yang diidolakan jutaan orang untuk datang, saya lebih memilih untuk ada disamping wanita pujaan dan makan rendang bersama, meskipun itu di pinggir sawah di Ujung Berung sana. Saat ini juga. Di detik ini, indahnya Venice tak seujung kuku dibanding indahnya berada di sisi dia, apapun kondisinya. Ternyata, inilah Rindu, yang juga buta: tak melihat situasi, tanpa objektifikasi. Tanpa syarat, hanya hati.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tadi, saya memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Belum saja berselang 15 menit, belum juga 400 meter, saya tetiba ingin kembali lagi ke tempat tadi. Memang, tak peduli 1 kilometer atau 11.000, tak peduli semenit atau dua minggu: rindu tetaplah rindu.