Agar Tidak Lagi Rundung

Akhir-akhir di lini masa berseliweran berita tentang perundungan (bullying). Mulai dari mahasiswa universitas swasta yang merundung orang berkebutuhan khusus; sampai sekumpulan anak SMP yang juga menganiaya rekan sebayanya. Banyak yang marah melihat video itu; tapi saya tidak yakin banyak yang benar-benar tahu bagaimana rasanya jadi korban rundungan.

Kebetulan, waktu SD saya juga korban bullying semacam ini. Dulu saya anak paling pintar di sekolah yang rambutnya selalu disisir klimis dan baju seragam dimasukkan ke dalam celana. Tampilan luarnya memang sudah memenuhi prasyarat umum korban bully. Tapi, yang kelihatannya jadi alasan saya dirundung adalah fisik saya yang pendek dan kurus dulu. Bentuk bully-nya bermacam-macam, mulai dari jadi pesuruh untuk beli siomay di depan sekolah, sampai dikerjai dengan dilempar-lempar sepatunya.

Memenuhi Syarat Korban Bully

Di SMP kelas 1 saya sempat mengalami hal yang sama. Untungnya di kelas 2, saya pindah sekolah dengan teman-teman yang lebih beradab dibanding sebelumnya. Dan waktu SMA, saya diselamatkan oleh nasib karena saat itu saya jadi atlet pemenang perunggu sekaligus ketua pencak silat dan presiden OSIS, jadi syarat untuk jadi korban bully tidak lagi terpenuhi. Sayangnya, di masa-masa ini saya justru menyaksikan orang-orang di sekolah saya yang menjadi korban rundungan secara fisik dan mental.

Ada satu teman saya yang di-bully karena fisiknya yang memang kecil. Dia menjadi pesuruh untuk ke kantin, menjadi korban yang didorong-dorong saat ada yang sedang kesal, dan dimasukkan ke tong sampah saat dia balik melawan. Ada juga teman wanita saya yang dirundung secara mental karena penampilannya yang tidak seelok perempuan pada umumnya. Dia menjadi objek standar keburukan rupa untuk mengejek teman yang lainnya. Dikucilkan dan ditertawakan kelihatannya sudah menjadi makan sehari-harinya. Sayangnya, orang-orang yang bernasib seperti itu tidak hanya dua, tapi ada beberapa. Dan saya juga yakin, ada dimana-mana.

Merundung Diri Sendiri

Apa salahnya orang yang di-bully? Kadang, nyaris tidak ada. Dalam kasus video mahasiswa swasta di atas, korbannya dirundung hanya karena dia memiliki keterbelakangan mental. Di pengalaman saya saat SD dan teman-teman saya waktu SMA, korban dirundung karena memiliki kekurangan fisik dibanding yang merundung. Korban ini di-bully karena dipandang lebih rendah; lebih kecil, lebih bodoh, atau lebih jelek dibanding pelakunya.

Seandainya pun kenyataannya demikian, tapi apa salahnya orang yang di-bully? Kekurangan fisik, mental, maupun intelektual korban ini adalah hal yang dimiliki sejak lahir, tanpa bisa memilih. Kalau bisa memilih, saya akan meminta wajah saya seperti Nicholas Saputra dan tubuh saya mirip dengan Chris Hemsworth. Tapi, realitanya kan tidak. Saya hanya nyaris setampan dan se-atletis itu.

Nah, kondisi inilah yang akhirnya semakin memberi tekanan ganda bagi korban yang dirundung. Pertama, mereka memiliki luka fisik ataupun mental dari proses rundungan ini, yang kadang bisa berkepanjangan. Kedua, saat mereka mencoba berpikir tentang apa alasan mereka menjadi korban, mereka akhirnya akan menyimpulkan bahwa itu karena kekurangan yang mereka punya. Mereka dipaksa untuk mengira kalau penyebab ini terjadi adalah diri mereka sendiri.

Ini bukan hanya dramatisasi. Di SD dulu, saya punya teman dekat yang menangis di ujung kelas karena ada anak lelaki yang bilang ke dia sambil tertawa, “elo mah jelek, nggak akan ada yang mau!”. Sambil menangis, dia bilang ke saya, “Salah gue apa ya kalau jelek? Kan Tuhan yang kasih, bukan gue yang minta“. Saya hanya bisa terdiam. Sedih juga rasanya melihat teman saya yang sudah dirundung orang lain, lalu dipaksa untuk merundung diri sendiri karena penilaian cacat manusia serta perilaku yang semena-mena.

Sendiri Dirundung

Apa hal kedua yang paling mengesalkan dari video bullying yang beredar di media sosial, selain si pem-bully-nya? Bagi saya, orang-orang di sekitarnya. Mereka melihat, tapi hanya melihat, bukannya memilih untuk berbuat. Harusnya mereka bisa menghentikan, membela, atau menyelamatkan korban rundungan ini agar tidak lebih jauh lagi tersudutkan. Tapi, tidak, korban ini tersiksa sendirian.

Ini pula sesal terbesar saya di masa SMA dulu. Sebagai mantan korban bully, harusnya saya bisa mengerti tidak enaknya di posisi itu lalu bisa melakukan sesuatu. Tapi, setiap melihat adegan perundungan, saya hanya diam saja tanpa tindakan, tidak jarang malah juga ikut menertawakan. Pilihan sikap kita sebagai orang-orang yang ada di sekitarnya inilah satu tindak pengecut, yang dalam perspektif lain hampir sama seperti pelaku yang merundung. Secara tidak langsung, kita juga pelaku bully, karena membiarkan hal itu tetap berulang-ulang terjadi.

Kalau saya kembali mengingat di masa menjadi korban bully dulu saat SD, ada satu titik dimana saya tidak lagi di-bully lagi. Satu waktu, saya sedang dirundung dua teman saya yang melempar topi saya berganti-gantian dan memaksa saya harus bolak-balik mengejar. Mereka melakukan itu cukup lama sampai-sampai saya nyaris meneteskan air mata. Hampir menjelang frustrasi, datang teman sekelas wanita saya yang mendatangi salah satu dari pelaku itu, memukul tangannya, sambil berteriak, “balikin nggak topi dia?!“. Si perundung ini langsung takut dan mau tidak mau memberikan topi saya ke si wanita pemberani ini. Adegan setelahnya sampai mati tidak akan saya lupa: dia mendekati saya, memasangkan topi tersebut di kepala saya, lalu tersenyum sambil bertanya, “kamu nggak apa-apa?”. Manis. Teramat manis. Sejak saat itu saya bebas bully, dan saya menganggap wanita manis ini sebagai dewi penyelamat karena dia tidak membiarkan saya tersiksa sendiri.

Jika saja waktu bisa diputar, saya akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh teman wanita saya sebelumnya, ke semua teman-teman saya yang menjadi korban rundungan. Mungkin saya tidak perlu memasangkan topi, dan tidak juga bisa tersenyum semanis tadi, tapi setidaknya saya ingin memastikan kalau saya siap membela mereka dari serangan bully. Dan juga memperlihatkan kalau mereka tidak sendiri.

KTP Saya Dikorupsi

“Pak, KTP saya udah jadi?”

Pertanyaan ke pegawai kecamatan di atas memiliki jawaban yang sangat absolut, selayaknya pertanyaan apakah mata Anda ada lima. Jawabannya, tentu saja, tidak. Hampir 10 bulan sejak saya foto untuk eKTP, sampai sekarang belum juga jadi. Kalau di waktu yang sama istri saya hamil, sekarang anak saya akan sudah terlahir. Kalau saya ternak lele, hari ini akan sudah panen tiga kali. Kalau saya keliling dunia naik kapal laut, hari akan sudah dua kali keliling bumi. Tapi, eKTP, kartu dari plastik seukuran 8,6 x 5,4 cm ini, belum juga jadi.

Mungkin Anda akan bisa maklum saat alasannya adalah satu-satunya ratu KTP yang bisa mencetak kartu dari bahan awan kinton ini sedang sibuk hamil, ternak lele, dan keliling dunia naik kapal laut secara bersamaan; sehingga kartunya tidak jadi-jadi. Tapi, ‘kan jadi makin sebal saat alasannya adalah: ‘blankonya abis, mas, belum dateng’. Blanko. Habis.

Sudah dibuat naik pitam dengan ini yang tidak selesai-selesai, saya makin kesal lagi saat beberapa pekan lalu ke kecamatan untuk menanyakan hal ini untuk kesejutalimapuluhribu kali. Saat saya tanya status KTP saya, dia menjawab, “Sudah terima surat undangan dari RT/RW mas?”. Saya makin heran, apa hubungannya surat undangan dengan KTP? Saat saya tanya apa surat undangan ini dan bagaimana prosesnya, si Bapak malah menjawab, “Jadi untuk KTP yang akan dicetak, kita kirim surat undangan ke kelurahan, nanti kelurahan kirim ke RW, lalu ke RT, dan setelah iitu dikirim ke rumah Bapak”. Lah, terus? “Nanti undangan itu dibawa ke kecamatan, artinya KTP Bapak sudah siap dicetak, jadi nanti kami cetak deh!”

Anda paham kan betapa proses yang dijelaskan di atas rasanya bikin Anda pingin salto ke belakang sambil makan gorengan pisang? Jadi, untuk saya bisa ambil KTP, kecamatan akan mengirimkan surat ke kelurahan, dimana kelurahan akan mengirimkan lagi ke RW, lalu RW akan kasih ke RT, dan RT baru kirim ke rumah saya. Di bagian ini aja udah tidak masuk di akal, karena kenapa juga kecamatan tidak kirim langsung ke saya. Oke, tapi ini setidaknya bisa bikin saya sedikit senang kalau yang dikirimnya adalah KTP-nya. Ini, hanya surat undangan! Terus, surat undangan ini harus saya sendiri yang bawa ke kecamatan. Brok, kenapa nggak kirim SMS atau tilpun weh atuh ke saya buat dateng ke kecamatan? Nah, mungkin, mungkin, saya masih bisa ada kadar lega barang secuil kalau ketika datang ke kecamatan saya langsung dikasih KTP yang sudah jadi. Ini, ternyata, surat undangan itu hanya untuk tanda bahwa KTP saya sudah siap cetak. Jadi, belum dicetak. Ah. Tape ketan!

Inefisiensi yang Terstruktur

Kelihatannya kejam dan bebal rasanya jika saya menganggap bahwa pemerintah kita, dari level pusat hingga daerah, memiliki kadar intelektualitas yang rendah. Karena, nyatanya mereka sudah menempuh pendidikan tinggi untuk mencapai posisi tersebut. Tapi, kenapa kasus eKTP yang saya alami di atas tetap terjadi? Padahal kan, orang yang kecerdasannya jongkok pun akan mampu melihat dengan jelas betapa prosesnya sangat inefisien. Menurut saya, jawabannya hanya satu: korupsi. Dan bukan hanya kasus korupsi secara spesifik di eKTP yang kemarin sempat ramai saja, tapi korupsi di sistem negara kita yang sudah lama mendera.

Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dipupuk subur selama orde baru masih menyisakan banyak kerak yang membuat fungsi pemerintahan kita, termasuk pelayanan publik, kian berkarat. Alasan utamanya adalah, bahwa sistem kita sejak dulu sengaja dibuat strukturnya agar tidak efisien. Inefisiensi dari segi proses, waktu, dan sumber daya manusia inilah yang kemudian menyisakan banyak ruang dan peluang untuk korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Pertama, dari segi inefisiensi proses dan waktu. Pelayanan publik kita nampaknya sengaja memperpanjang setiap proses yang ada di dalamnya, mulai dari pendaftaran PT hingga pembuatan KTP. Tidak perlu kita bandingan dengan Singapura yang pembuatannya hanya butuh waktu sehari. Membandingkan dengan proses lain yang terjadi di negara kita saja, menjadikan ini fakta yang lucu dan ajaib. Contohnya, membuat KK dan akte lahir, dari pengalaman saya, membutuhkan waktu lebih dari 3 bulan. Tapi, rekan saya yang punya kenalan orang dalam bisa mendapatkan dokumen tersebut dalam waktu 3 hari. Contoh lainnya ada pada perbedaan paket pembuatan PT atau pengurusan sertifikat rumah yang normal dan percepatan. Ini jelas-jelas membuktikan kalau sebenarnya prosesnya memungkinkan untuk bisa jadi cepat, tapi memang sengaja dibuat lambat. Ruang-ruang di proses yang lambat ini lah yang terisi oleh korupsi dan kolusi.

Kedua, dari segi inefisiensi sumber daya manusia. Di kasus surat undangan cetak KTP tadi, kita bisa melihat bahwa keterlibatan sumber daya manusia di dalamnya sama sekali tidak tepat guna. Untuk apa, hanya sekadar mengirim surat saja, perlu melibatkan pejabatan kecamatan hingga RT? Dan kacaunya, hampir semua dokumen serta surat kependudukan, selalu membutuhkan surat dari RT hingga kecamatan. Apa tujuannya? Dalam pengalaman teman saya yang meminta izin CV dari RT hingga kecamatan, tujuannya supaya di setiap titik yang terlibat, ada pungutan yang tidak wajib tapi diharuskan yang masuk ke saku para pejabat. Lalu, kalau orang yang terlibat banyak, artinya makin banyak juga posisi jabatan imajiner yang bisa dibuat, sehingga bisa diisi oleh sanak saudara mereka yang sedang mencari kerja. Inefisiensi sumber daya manusia ini sengaja dibuat supaya bisa jadi ruang untuk korupsi dan nepotisme.

Korupsi Mental

Apakah pelayanan publik kita lebih baik sekarang? Ya, kita bisa sedikit atau banyak merasakannya. Apakah korupsi masih ada? Ya, tapi dengan jumlah yang jauh lebih rendah dibandingkan dulu. Kita bisa melihat, setidaknya, ada transparansi proses dan semakin banyak kasus korupsi yang akhirnya dihukum di level daerah dan nasional. Jadi, kita masih bisa menyimpulkan kalau hal ini sedang mengarah ke arah yang lebih baik.

Nah, masalahnya, progres yang terjadi di perubahan proses yang saya sebutkan di awal tidak juga terlihat besar. Sudah 20 tahun sejak reformasi, pembuatan eKTP masih membutuhkan waktu lebih dari 10 bulan (dan itu pun belum juga selesai). Masalah ini bukan juga karena pejabat daerahnya melakukan korupsi dan kolusi. Tapi, merupakan efek laten dari korupsi tersebut.

Pemerintah kita yang terbiasa hidup dalam struktur yang korup, akhirnya memiliki mentalitas yang juga terbiasa terhadapnya. Oleh karena itu, sekalipun tindak korupsi sudah berkurang, proses berpikir mereka dalam membangun sistem dan menyelesaikan krisis masih menggunakan mental yang sama dengan saat mereka ada dalam struktur yang koruptif. Ujung-ujungnya, sistem yang dirancang dan proses yang dilakukan tetap saja inefisien, karena mereka hanya tahu cara membuat sesuatu yang inefisien. Dalam analogi yang ekstrem, manusia yang dibesarkan di tengah gorila tidak akan mampu melakukan apa yang idealnya manusia lakukan. Korupsi membius otak kita secara kolektif agar tetap membangun struktur yang koruptif. Sistem yang korup ini yang secara tidak langsung juga mengorupsi mentalitas kita.

Revolusi Mental

Entah mungkin karena kesal karena eKTP tidak jadi-jadi, atau memang karena kenyataannya demikian; tapi saya merasa bahwa penyakit korupsi di pemerintahan kita sudah sangat kronis dan tidak bisa diselamatkan. Korupsi bisa saja diberantas, tindaknya bisa dipidanakan, tapi dampak tidak kasat mata dan berkelanjutan di dalam sistemnya ini yang sulit akan dihilangkan. Lalu, apa solusinya? Tunggu saja mati; karena yang mati akan terlahir kembali.

Maksudnya, saya masih meyakini bahwa supaya negara secara struktur bisa lebih baik adalah dengan menunggu generasi yang sekarang digantikan dengan generasi yang baru. Mereka yang ada di level pemegang kebijakan di pusat dan daerah adalah orang-orang yang terlahir atau dibesarkan di struktur yang korup, sehingga mereka disuapi oleh sistem yang sengaja dirancang inefisien, lambat, dan berat. Sekalipun mereka orang-orang yang bersih, mereka bukan orang-orang yang mampu merestrukturisasi isinya, karena mereka tidak tahu idealitas bahkan dalam tatanan konseptual.

Namun, saat generasi saya yang lahir dan besar dari masa yang baru; di tengah perubahan politik, ekonomi, serta teknologi yang sangat cepat, revolusi merupakan hal natural bagi kita. Pembaharuan adalah kondisi normal yang kita pahami. Efisiensi adalah kemestian, bukan hanya pilihan.

Jadi, sekesal-kesalnya saya dengan proses dan struktur pemerintah sekarang, saya setidaknya bisa merasa tenang kalau saya merupakan bagian dari solusi; sebagai generasi yang kelak akan merevolusi. Mungkin saja, 10 atau 20 tahun dari sekarang, kita bisa memiliki proses pemerintahan dan pelayanan publik yang sangat berbeda; cepat, transparan, dan bisa diandalkan.

Dan mungkin saja, di waktu itulah, eKTP saya akhirnya akan jadi juga.

Kenangan yang Kita Butuhkan

 

Dua tahun lalu, di ajang entrepreneurship di Kenya, saya duduk bersebelahan dengan pejabat tinggi Intel Capital dari Silicon Valley. Dengan profil yang demikian, saya menganggap orang ini sangat rasional, straightforward, dan kaku. Saya merasa prediksi saya kelihatannya benar pada awalnya, sampai tiba topik yang kita bincangkan tentang Bali. Dia bercerita kalau dia hanya pernah satu kali ke Bali di akhir tahun 80an dan memutuskan untuk tidak akan sekali pun kesana lagi, meskipun dia sekarang ke Indonesia setiap 6 bulan sekali.

Saat saya tanya alasannya, jawabannya lebih menarik dari yang saya kira. Di pengalaman pertama dan satu-satunya ke Bali, ia saat itu bersama mantan pacarnya, yang menurut dia wanita paling sempurna. Kecantikan, keceriaan, dan kecerdasan wanita ini dipadu dengan keindahan alam Bali yang masih murni sebelum ada serangan turis menginterupsi. Begitu sempurna paduannya, sampai ia memutuskan untuk mengawetkan memori ini di dalam hati. Dan begitu inginnya dia menjaga memori ini, sampai puluhan tahun setelahnya ia tidak ingin mengisi pengalaman baru di lokasi yang sama: supaya citra Bali, sang juwita, dan keindahannya tetap utuh tanpa ada noda. Di akhir cerita, dia bilang, di antara hal-hal banal yang kita jalani setiap harinya, dia ingin menyimpan satu pengalaman yang tetap terjaga sempurna. Memori ini dia fungsikan sebagai lambang kesempurnaan.

Preservasi Memori

Cerita di atas langsung seketika menempel di kepala karena terasosiasi dengan quote favorit di film favorit saya sepanjang masa.

We all need memories to remind ourselves who we are. I’m no different. – Leonard (Memento)

Kita semua butuh memori untuk mengingatkan kita tentang siapa diri kita. Dan sadar atau tidak, memori ini kita awetkan dalam berbagai macam bentuk. Umumnya orang menyimpannya di album-album foto. Tapi ada yang menyelipkannya di balik ijazah di dalam laci. Di seragam di dalam lemari. Di etalase yang berjejer medali. Di batu nisan yang terhias bunga melati. Atau, seperti cerita di atas, hanya di pojok dalam hati. Walaupun bentuknya berbeda, perlakuan kita terhadapnya sama. Kita jaga itu karena kemungkinan hanya itu satu-satunya hal yang bisa kembali mengingatkan terhadap hal yang kita pernah punya.

Hal ini kelihatannya terdengar lumrah, tapi mari sejenak kita kaji lebih dalam untuk mengetahui seberapa ini berlawanan dengan intuisi. Waktu dan hidup berjalan dengan linear, sehingga setiap kejadian dalam hidup yang dilewati oleh waktu, secara spontan akan menjadi kenangan masa lalu. Ketika sekarang saya mengetik huruf ‘A’, maka sekarang saya sudah memiliki kenangan bahwa beberapa detik lalu saya pernah mengetik huruf ‘A’. Dengan kata lain, sepanjang hidup kita, masa kini dan masa depan hanya akan menjadi masa lalu yang sudah lewat, sehingga di detik kematian kita, kita hanya terdiri atas sekumpulan masa lalu menumpuk berlebih, tanpa masa kini, apalagi masa depan.

“Euleuh, aing geus nyaho, kehed!”, pasti Anda berpikir demikian. Ya, ini memang hal yang sangat kentara yang akal kita pasti sudah bisa cerna. Tapi, justru disitulah letak kontradiksinya. Jika kita sudah jelas-jelas mengetahui bahwa semua hidup kita hanya akan menjadi memori masa lalu, kenapa saat kita menjalani saat ini dan saat nanti, kita seringkali justru sibuk kembali melihat memori-memori lalu yang kita preservasi? Mengapa kita perlu mengenang betapa bahagianya masa kecil kita, dari foto-foto di dalam album? Mengapa kita perlu menangis di hadapan batu nisan? Perlu bangga melihat ijazah atau seragam? Perlu senang mengingat kekasih yang terkenang? Dibanding mengingat masa lalu, kenapa kita tidak fokus saja untuk memastikan bahagianya kita saat ini, berbakti kepada keluarga kita yang sekarang tersisa, mengoptimalkan karya kita terlepas dari mana tempat studi kita, serta membahagiakan pasangan yang ada di samping kita? Kenapa kita tidak bisa benar-benar hidup sepenuhnya di masa sekarang?

Lekat dengan Masa

Kelekatan manusia dengan memori masa lalunya adalah hal yang belum bisa saya pahami, terutama karena saya sendiri juga mengalami. Secara intelektual, pengetahuan kita terhadap dunia terakumulasi secara implisit yang kemudian terbentuk menjadi pemahaman, kecakapan, dan kemampuan kita terhadap hal-hal yang sudah kita pelajari. Cristiano Ronaldo tidak butuh mengingat kembali latihan tendangan pertamanya saat menerima umpan silang di depan gawang. Insting dan keahlian kognitif yang ia miliki sekarang sudah cukup untuk ia mengambil keputusan kapan dan bagaimana harus menendang.

Sementara, secara emosional dan spiritual, bukan hal ini yang sepenuhnya bekerja. Saya masih perlu mengingat betapa hangatnya kasih sayang ibu saya di masa kecil dulu untuk bisa benar-benar merasakan kembali hangatnya dan membalasnya dengan sama sekarang. Saat beribadah, saya harus bisa membayangkan bagaimana indahnya surga atau pedihnya neraka setelah mati nanti, untuk bisa benar-benar menyerapi keyakinannya dan bertindak sesuai dengan itu sekarangBerbeda dengan intelektual, di dimensi emosional dan spiritual, diri saya yang ada saat ini bukan citra yang imanen dan independen, melainkan terikat dan transenden.

Kita Butuh Memori

Walaupun dalam bentuk yang lebih sederhana, saat dengar cerita dari pejabat Intel Capital ini saya berpikir tentang apa yang saya tulis di sini. Mau tidak mau, saya terpaksa menanyakan dia soal hal ini lagi, walaupun beberapa menit setelahnya kita sudah mendiskusikan topik yang lain. Saya tanya, “Why don’t you go to Bali with your wife and kids now? I mean, there’s a chance that you can have a better memory. And I bet you love them more.

Sambil tersenyum, dia menjawab, “Yes, of course. We had a great other memories in Maldives, Europe. But I need memory in Bali to stay as it was. I wouldn’t take a chance to give away something that I know was perfect. Luckily, our memory is unlike a hard drive, right? It has no limit”. Saya berhenti bertanya karena tertawa sejenak dengan referensi candanya yang cerdas. Tapi juga karena jawaban itu cukup untuk sementara membuat saya puas.

Beberapa bulan setelah kembali dari Kenya, saya pulang ke rumah membawa anak saya yang baru berumur 2 bulan untuk bertemu ayah saya. Saat itu, ayah saya yang sedang sakit terlihat teramat bahagia bermain berdua dengan cucu pertamanya. Saya yang melihatnya dari luar kamar, hanya sempat tersenyum kecil. Ketika tiga bulan kemudian ayah saya meninggal, memori itu jadi berlipat-lipat harganya karena menjadi momen terakhirnya berinteraksi dengan cucunya.

Untungnya, kenangan ini sempat sengaja terekam dalam swafoto di ponsel ayahanda. Sejak saat itu, saya simpan baik di memori; di cloud storage dan juga di hati. Bagi saya, ini juga perlambang kesempurnaan. Dan ternyata, saya butuh memori ini. Terutama untuk mengingatkan kembali pada kebahagiaan yang intelektualitas saya tidak sanggup lagi untuk melukiskan. Dan pada satu kenyataan sederhana bahwa hal ini tidak bisa lagi dikembalikan.

We all, indeed, need memories.

Wawancara Manusia

Saya paling suka bagian mewawancarai kandidat. Ini bagian favorit saya karena, saat wawancara, saya punya keleluasaan untuk menanyakan apapun selama ada di dalam batas norma, dan mereka mau tidak mau harus menjawabnya. Oleh karenanya, pertanyaan-pertanyaan menarik, filosofis, dan personal bisa saya lontarkan sesukanya. Jawaban tersebut bisa merepresentasikan banyak hal dari kandidat ini, yang kadang tentang hal yang mereka tidak sepenuhnya tahu.

Masalah dan Masa Lalu

Pertanyaan pertama yang paling sering saya tanyakan, dan tentunya hampir di tempat interview lainnya, adalah: apa masalah terbesar kamu dalam hidup sejauh ini? Tentunya tujuan dari pertanyaan ini sudah cukup jelas; supaya kita bisa melihat kualitas kandidat dalam menghadapi masalah dan tekanan. Tapi, saya lebih suka menelaah ini ke satu level lebih dalam: sebesar apa masalah yang mereka anggap besar. Jawaban singkat ini bisa merepresentasikan banyak hal, perspektif, kualitas hidup, latar belakang keluarga, dan proses perjalanan mereka. Kalau satu orang masa kecilnya di Suriah saat masa konflik atau di Ethiopia di waktu kelaparan, tentunya akan berbeda level masalahnya dengan orang yang lahir dan besar di Menteng. Jika ada kandidat yang menjawab bahwa masalah terbesarnya adalah diputusin pacar, saya sangat iri dengan hidupnya yang terlalu indah bersinar.

Apakah berarti orang yang memiliki masalah lebih besar memiliki kualitas yang lebih baik? Nah, ini yang menarik: ternyata tidak. Pertimbangan posisi serta pekerjaan yang diberikan akan berpengaruh besar kepada keputusan ini. Orang-orang yang lapang hidupnya juga memiliki kelapangan dalam berkreativitas, negosiasi, dan berinteraksi dengan orang lain; tapi mereka akan ciut di pekerjaan yang penuh tekanan fisik dan mental. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki latar belakang yang sulit, bisa bekerja optimal dalam tekanan besar serta menunjukkan efisiensi tinggi, tapi minim dalam berkreasi.

Penyebab dari dualisme ini adalah pola pikir yang terbentuk dari pengalaman hidupnya. Orang yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, dituntut untuk bisa fokus bekerja dan menentukan prioritas, bukan untuk berkreasi. Saat mereka sepanjang hidupnya biasa memiliki uang yang minim, keluarganya akan mengharuskan mereka untuk bisa prihatin dan menentukan pilihan di tengah tekanan. Saat uang tinggal seribu, mereka tidak bisa berkreasi tentang apa yang bisa dibeli, karena memang harus hanya nasi. Tapi mereka sangat baik untuk memastikan bahwa nasi ini bisa cukup dengan hanya uang sebegini.

Sebaliknya, kandidat yang dari keluarga mampu, bisa memiliki waktu dan energi lebih banyak untuk mengeluarkan kreativitas karena kebutuhan utamanya selalu terpenuhi. Mereka bisa berpikir untuk membeli mainan, buku, serta jalan-jalan di masa kecilnya sehingga di satu atau lain hal bisa membuka batasan mereka atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa didapatkan atau hal-hal yang mungkin dilakukan.

Dari satu pertanyaan sederhana, walaupun tetap berpotensi bias dan salah, kita bisa mengetahui banyak hal tentang karakteristik yang terbentuk dari pandangan seseorang terhadap masalah terbesar yang pernah dihadapi dalam hidupnya. Kita bisa melihat lebih dalam diri seseorang sebagai manusia.

Hidup Mati

Pertanyaan lainnya yang hampir selalu saya tanyakan juga adalah: kalau kamu mati sekarang, apakah kamu bisa mati dengan tenang? Jika iya atau tidak, apa alasannya?Pertanyaan ini kelihatannya tidak cukup sering ditanyakan perusahaan lain, karena terbukti banyak yang ternganga saat pertanyaan ini keluar. Mayoritas orang akan kebingungan lalu menjawab dengan apapun yang ada di kepala. Beberapa memilih untuk tidak menjawab karena tidak tahu. Dan beberapa menjawab dengan sepenuh hati sampai bercucuran air mata. Pernah di satu hari, karena mungkin sedang on fire, saya membuat dua orang kandidat menangis saat wawancara dari pertanyaan ini.

Tentunya pertanyaan ini juga punya poin yang sederhana, sejauh apa kita menilai hidup kita dan di titik mana kita puas terhadapnya? Orang yang cukup memahami dirinya sendiri akan bisa menjawab ini dengan mudah, sesuai dengan nilai, visi, dan ekspektasi yang dia pegang. Hal-hal ini yang kemudian secara rutin dia evaluasi untuk bisa menakar apakah dia tetap ada di jalur yang benar, atau tidak. Sayangnya, orang yang seperti ini jarang.

Kebanyakan orang, saat ditanya soal kematian dan kehidupan, ia tidak mampu menjawab setegas kemampuannya menjawab tentang skill-set, pengalaman kerja, atau ekspektasi remunerasi. Padahal, hidup adalah keseluruhan proses besar yang mencakup itu semua, dan mati menjadi batas akhir segalanya. Jika kita tidak tahu apa yang bisa kita nilai dalam hidup ketika mati, lalu skill dan kompetensi apa artinya?

Kerja itu Transaksional

Sekalipun begitu, setelah proses wawancara ini, saya kembali menilai orang dari kulit terluar dalam proses yang begitu mekanistik. Saya melihat manusia hanya sebagai komponen mesin di suatu sistem kaku yang ujungnya menghasilkan luaran yang seragam yang saya impikan. Penilaian ini begitu penuh objektivikasi karena menilai makhluk hidup hanya dari apa yang bisa ia lakukan (skill-set) dari hal terkait yang pernah ia alami (experience). Saya tidak menilai dia dari keseluruhan kualitas, keresahan, mimpi, keinginan, dan keseluruhan pengalaman diri yang ia punya. Mereka hanya beberapa dari lebih banyak pilihan lain untuk mengisi peranan itu.

Di sisi lain, orang-orang kebanyakan juga melihat perusahaan bukan sebagai satu alat yang cukup krusial dalam membentuk dirinya, mengejar mimpinya, atau mencapai kepuasan hidupnya. Ini hanya jadi satu dari sekian pilihan untuk mendapatkan sumber daya yang cukup agar bisa melanjutkan kehidupan. Di ujung, ini akhirnya hanya menjadi satu proses transaksi materi. Tidak lebih. Kadang kurang.

Inilah yang sedih dan penuh ironi. Saat kita menghabiskan lebih dari separuh waktu kita di lingkungan kerja dan perusahaan menghabiskan lebih dari separuh biayanya untuk pekerja, bukankah sudah seharusnya kita bisa saling bertukar lebih dari sekadar materi?

Anti-metamorfosa

Karena hari libur, saya juga ingin libur menulis hal yang berat-berat.

Tulisan saya beberapa hari yang lalu ternyata cukup banyak disebar. Di antara orang-orang yang menyebar adalah teman saya yang dulunya sama-sama aktif saling komentar di blog; yang bahkan dulu hanya berinteraksi melalui media ini. Dia bilang kalau ‘rasa’ di tulisan saya masih sama dengan tulisan galau di jaman dulu, yang salah satunya berjudul Pematang Nelangsa. Ini adalah sekuel patah hati dari puisi jatuh cinta sebelumnya, Hujan, Senja, dan Pematang. Walaupun rasanya masih sama, teman saya itu bilang kalau tulisan saya yang sekarang pemikirannya lebih besar dibanding masa kinyis dulu.

Dari komentar dia, saya jadi penasaran untuk membuka tulisan-tulisan yang lama di blog sebelumnya. Dan ternyata, benar, bacanya bikin saya geli sendiri. Yang lebih menggelikan dari itu, saya jadi ingat kalau dulu punya blog yang paling pertama dibuat waktu pertama masuk kuliah. Nama blognya: sigibranyangkeren.blogspot.co.id. Si. Gibran. Yang. Keren. Mengingat kalau saya pernah membuat nama blog sedemikian ajaib bikin saya migrain sebelah kanan. Saat baca isinya, jadi tambah migrain sebelah kiri, belakang, dan depan.

Kesimpulan dari itu tentunya jelas, saya berkembang ke arah yang lebih baik. 10 tahun dari tulisan blog pertama, saya bisa sedikit berbangga kalau setidaknya sekarang tulisan saya tidak menggunakan ‘gw’ sebagai kata ganti pertama, dan akhirnya saya tahu gimana caranya memotong alinea. Itu membuat hati saya riang dengan mengetahui betapa berbedanya saya yang dulu dan sekarang.

Iri Dengan Diri

Akan tetapi, di sisi lain, tulisan-tulisan lama saya juga sedikit banyak merekam citra, karakter, dan jiwa saya di masa itu. Yang terkadang bikin saya iri. Di tulisan Serobot Gedekmisalnya. Saya bisa tetap menuangkan satu kisah menyenangkan dari pengalaman yang sangat kecil yang dijalani di hari itu. Jika diri saya yang sekarang menjalani momen yang sama, mungkin rasanya hambar. Dan saya jadi iri tentang betapa sulitnya kini saya bisa seketika bergembira oleh hal-hal yang sederhana. Saya pun jadi sebal betapa mudahnya sekarang saya menganggap mayoritas hal sebagai sesuatu yang banal.

Atau, rasa yang tersaji di beberapa puisi, seperti Kau, Alamiah. Kalau melihat saya yang sekarang, saya jadi bingung kok bisa-bisanya dulu bikin puisi yang singkat tapi bermakna macam ini. Sekarang, saya jadi iri karena tidak sempat memberi ruang cukup pada emosi hati untuk menuangkannya dalam kata-kata. Kelihatannya, saya sudah sangat jarang mengungkapkan rasa, bahkan ke orang-orang yang terdekat dan bertatap setiap harinya. Saya jadi kesal betapa kini saya menganggap rasa sebagai sesuatu yang elusif dan eksklusif.

Inversi Metamorfosis

Karena gamang di dua respon diri saya terhadap masa lalu, saya jadi mendapatkan satu kesimpulan; manusia ini makhluk yang perubahannya tidak bisa secara penuh dipilah. Kita tidak sama dengan hewan maupun tumbuhan yang proses evolusinya hanya mempertahankan hal-hal yang terbaik agar mereka bisa bertahan. Dalam dimensi waktu yang berjalan linear, kita melangkah menempuh alurnya, memungut mozaik baru yang melengkapi diri kita, tapi juga menanggalkan kepingan lain yang menghilangkannya. Bisa jadi, di satu titik, kita berubah menjadi satu bentuk yang sepenuhnya baru, tetapi tidak sepenuhnya baik.

Yang jadi pertanyaan adalah, mana yang lebih banyak? Apakah kita lebih banyak berubah menjadi baik dibanding yang buruk? Dan jika iya, apakah kebaikan yang ada di diri kita sekarang memang setanding dengan kebaikan yang hilang dan hanya ada di diri kita yang dulu? Pertanyaan ini yang sangat sulit dijawab. Karena, tidak seperti serangga yang perubahannya meninggalkan sisa dengan wujud yang kontras, perubahan dalam diri manusia tidak meninggalkan jejak yang begitu jelas.

Ketidakjelasan sejarah perubahan diri ini yang agak mengkhawatirkan. Bagaimana jika di akhir hayat kita baru sadar bahwa perubahan kita sepanjang hidup justru mengakumulasi semua kesalahan yang akhirnya mencelakakan? Padahal, di saat itu, tidak ada lagi waktu yang tersedia untuk bisa mengganti diri kita. Dan tentunya, mustahil bagi manusia untuk bertumbuh mundur ke awal fasa; ber-anti-metamorfosa.

Tidak Lagi Rela Berkorban

Beberapa pekan lalu, saya diskusi dengan managing partner salah satu venture capital. Saat saya cerita soal visi besar bisnis saya, dia merespon: “Are you willing to give what it really takes to achieve that?“. Saya jawab sederhana: ya, saya siap lakukan apapun. Lalu, dia merespon balik, “Serius? Apapun? Even if I want to bring people to Mars, I’m not ready to work like Elon Musk. I don’t want to spend my life the way he does“.

Mirip dengan cerita itu dalam konteks yang lebih metafisik, beberapa hari setelahnya saya ngobrol santai dengan ayah mertua. Dia cerita kalau rekan bisnisnya tajir banget 24 turunan. Mertua saya ini punya satu teori kalau apa yang kita dapatkan, setara dengan apa yang kita korbankan. Hanya saja, berbeda dengan orang pada umumnya yang mengartikan ini secara kasat mata saja, dia berpendapat kalau pengorbanan ini bisa dalam proses yang tidak berkaitan secara langsung. Di contoh rekan bisnisnya tadi, orang ini di satu waktu dalam hidup kehilangan anak lelaki kesayangannya. Bayanginnya aja saya merasa perih dari ubun-ubun sampai jempol kaki. Nah, menurut ayah mertua, musibah itu adalah satu harga yang harus dibayar yang setara dengan nilai kelebihan yang ia terima.

Setuju atau nggak dengan itu, saya serahkan ke pendapat masing-masing. Tapi komentar setelahnya yang justru menarik: “Kalau saya mah dikasih harta sebanyak apa, nggak akan mau kalau harus ngerasain perih kehilangan anak sendiri“.

Menyambungkan dua cerita ini bikin saya berpikir dalam. Kebanyakan dari kita punya cita-cita. Dan kadang kita merasa bahwa hal itu yang akan menjadi karya (atau amalan) terbesar kita di dunia. Kalau kita mengejar sesuatu yang besar dalam hidup, yang menurut kita sebegitu berarti, sejauh apakah kita siap berkorban?

Pengorbanan Bersesal

Founder Alibaba yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia sempat mengeluarkan pernyataan yang bikin kaget saat ditanya apa kesalahan terbesar dia:

My biggest mistake was I made Alibaba. I never thought that this thing would change my life. I was just trying to do a small business and grow that big, take that much responsibility and got so much trouble. Everyday is like as busy as a president, and I don’t have any power! And then I don’t have my life

Ini juga selaras dengan jawabannya saat ditanya apa penyesalannya; “…I regret that I work so hard and spend so little time with my family. And if I have another life, I would never do things like this.

Tentunya sulit untuk berempati dengan Jack Ma saat nilai kekayaannya bisa bikin rumah tiga lantai dari emas yang dibalur whip cream hanya supaya dia bisa salto di depan pintunya; saking kayanya. Tapi, justru poin itu yang menarik. Dengan harta sebanyak itu dan pencapaian signifikan dalam membangun bisnis dari nol sampai bernilai hampir lima ribu triliun rupiah, serta dampak yang dihasilkan ke ratusan juta orang di dunia, dia malah menyesal karena ia mendapatkannya dengan mengorbankan hidup dan waktunya bersama keluarga. Pengorbanan itu begitu tidak layak hingga dia tidak akan rela untuk melakukan ini di kehidupan yang lain, jika memang mungkin.

Sadar atau tidak, setiap dari kita melakukan pengorbanan dalam wujud tindakan yang merupakan suatu pilihan. Pengorbanan ini memang bisa menyisakan sesal, karena terjadi dalam bentuk yang tidak bisa sepenuhnya kita inspeksi, hingga kemudian mencapai batas dimana akibatnya tidak bisa kita putar kembali. Kenapa? Karena waktu, yang merupakan sumber daya yang terbatas, kita jalani dalam arus satu arah. Setiap detiknya, kita tidak bisa memiliki dimensi fisik lebih dari satu; yang ujungnya memaksa kita untuk memberikan alokasi diri kepada hal-hal yang saat itu kita pilih. Tindakan yang kita seleksi ini, secara langsung berarti memutuskan kita untuk tidak melakukan, berada, atau menjadi hal yang lain di luar itu. Saat saya memilih untuk di depan laptop sekarang, saat yang sama juga saya memilih untuk tidak mengecup kening anak saya, tidak membeli eskrim Aice di warung, tidak menjadi presiden Amerika, dan tidak kayang di tengah jalan Dago.

Hal ini terasa begitu sepele karena mengalir dalam proses alamiah kita sebagai manusia. Saat ada seorang suami mengejar karir demi memenuhi mimpi, dia melakukannya tanpa menyadari bahwa malam-malam yang terlewat untuk lembur itu juga malam-malam yang sama dimana anaknya bertumbuh dari balita menuju dewasa. Pengorbanan intrinsik ini tidak akan terasa, sampai satu titik ia menoleh ke belakang lalu menyaksikan bahwa ia telah kehilangan apa-apa yang seharusnya bisa ia dapatkan. Di sana lah, pengorbanan mendatangkan sesal.

Berkorban Tanpa Terlambat

Kepicikan, dan terkadang kebutaan, kita dalam menakar satu hal secara berlebihan hingga mengalihkan kita untuk memandang sesuatu dengan sebagaimana mestinya merupakan akar dari masalah ini.

Akhir tahun 2015, saat eFishery baru dapat pendanaan, saya ada di euforia bahwa tidak ada hal yang lebih penting melebihi ini di dunia. Akhirnya saya punya kendaraan untuk mencapai mimpi saya; dan yang lebih penting, saya punya kesempatan untuk memiliki kendaraan ini. Sebegitu euforianya hingga merasa kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kali.

Hampir bersamaan dengan itu, ayah saya sakit dan harus bolak-balik dirawat di rumah sakit. Diagnosa dari dokter berganti mulai dari jantung, paru-paru, syaraf, hingga sekadar sakit tulang kaki yang, entah kenapa, menuntun saya untuk memandang remeh saking tidak jelasnya. Di satu waktu, ayah saya secara khusus meminta saya untuk datang ke rumah sakit untuk saling bercerita. Sompretnya, saya merasa terlalu sibuk ngurus ini dan itu di kantor, jadi nggak bisa. Sampai di satu waktu, saya harus pergi ke Amerika untuk suatu program dan pamit, tapi ayah saya sedang hilang kesadaran. Saya tidak sempet bersua dengan beliau.

Satu pekan di Amerika, saya diminta dokter untuk pulang. Perasaan hati sudah tidak terkendali. Saya terpaksa berhenti di tengah program yang harusnya masih ada satu minggu lagi. Sampai di rumah sakit di Jakarta, dokter mendiagonis kalau ternyata sakit ayah saya sejak kemarin adalah kanker, dan sekarang sudah stadium akhir. Dokter bilang, usianya tidak akan lama lagi. Sialnya, prediksinya tepat. Tiga hari kemudian, ayah saya meninggal dunia.

Pedih, hancur, lebur, itu pasti. Tapi, tidak ada yang mengalahkan satu rasa yang mendominasi: sesal. Saya begitu menyesal karena saya tidak sempat memenuhi permintaan ayah saya untuk bertemu di akhir waktunya. Saya begitu menyesal karena sosok yang mengorbankan sepanjang hidupnya untuk pendidikan saya, yang hal itu bisa menjadikan saya seperti sekarang, tidak bisa terbalas dengan sedikit saja anak sulungnya berkorban waktu untuk sekadar hadir di masanya yang terakhir. Saya begitu menyesal karena hal ini sudah terlanjur lewat; dan semua sudah terlambat.

Saya terlambat untuk sadar, bahwa saya mengorbankan momen yang teramat penting untuk hal-hal lain yang sama sekali tidak sebanding. Saat merefleksi ulang, keputusan untuk mengurusi bisnis di saat-saat kritis, adalah hal yang luar biasa bodoh. Jika toh saya harus ada di sana berbulan-bulan, saya tetap bisa kerja. Sekalipun saya tidak bisa, ada tim lain di perusahaan yang tetap bisa menyelesaikan pekerjaan. Sekalipun bisnisnya yang selesai, saya bisa membuat bisnis baru sebagai kelanjutan. Semua kekacauan di aspek ini, masih bisa diperbaiki. Tapi, saat waktu bersama ayah saya sudah tidak lagi ada, dari mana saya bisa cari gantinya?

Kepicikan, dan terkadang kebutaan, kita dalam menakar makna dari dua pilihan, berujung pada sesal karena kita terlambat sadar; telah mengorbankan hal yang terlalu berarti untuk tidak lagi kita miliki.

Tidak Lagi Rela Berkorban

Sejak saat itu, saya mengubah banyak pandangan tentang hidup. Saya jadi sadar bahwa kita sebagai manusia begitu lemah terbawa arus waktu dan bias terhadap apa yang paling bermakna bagi diri kita. Dan dari kelemahan itu kita terlena perlahan-lahan telah mengorbankan hal paling berharga yang pernah kita punya.

Sekarang, jika ada siapapun yang menanyakan saya tentang sejauh apa saya siap berusaha untuk mencapai mimpi besar saya dalam hidup, saya tetap akan menjawab sederhana: saya siap melakukan apapun agar itu bisa terwujud. Tapi, untungnya, saya sempat diberi pencerahan untuk bisa memilih dengan pasti hal-hal apa yang nantinya tidak akan lagi rela untuk saya korbankan.

Siapa Suruh Anda Miskin

Saya lahir hanya beberapa meter dari rumah kumuh bantaran kali dan pasar becek. Sedekat itu saya dengan kemiskinan. Teman SD saya tinggal di gubuk pinggir kali. Teman main rumah saya anak tukang pulung. Mengingat itu, tentunya congkak sekali rasanya kalau saya tidak menganggap diri saya sebagai orang yang beruntung.

Bisa dibilang, mungkin mayoritas dari 20 tahun awal hidup saya juga hanya sejengkal di atas garis kemiskinan. Berkat perjuangan kedua orang tua saya dalam menyediakan pendidikan dan atas izin Allah, saya bisa menembus strata sosial beberapa tingkat. Biarpun demikian, saya berupaya tetap terkoneksi, dari satu cara maupun lainnya, dengan isu kemiskinan. Mungkin saja soal idealisme. Atau mungkin soal egoisme, karena kemiskinan banyak membentuk ego: kesayaan. Sedekat itu saya dengan kemiskinan.

Makanya, saya sebal sekali kalau ada kawula kelas menengah ngehek komentar di Facebook dengan menyindir si miskin, bahwa mereka miskin karena nggak berusaha dan/atau karena bodoh. Kutukupret. Kemiskinan yang mereka tahu mungkin cuma dari artikel Hipwee yang berjudul “Jack Ma: ‘Kalau Masih Miskin Sampai Umur 35, Itu Salahmu Sendiri!’“. Atau dari jendela kaca Uber ber-AC saat mereka melintasi pengemis di lampu merah.

Bagi para kaum metropolis ini, kemiskinan seperti polusi yang mengganggu mata dan perlu dialienasi; sebagaimana mereka bangga menggusur rumah bantaran kali supaya bisa dipakai selfie atau lari pagi.

Bagi mereka yang tontonannya The Golden Way Mario Teguh atau kitab pedomannya adalah motivator coach yang covernya selalu berjas, dengan senyum terlalu lebar, dan gaya jempol, kemiskinan ini seperti 1+1=2. Asal ada keinginan, ada perjuangan, maka Anda bisa kaya. Anda PASTI kaya. PERCAYALAH!

Miskin Karena Miskin

Semakin kesini, saya banyak berinteraksi dengan orang-orang kaya; yang bahkan dari keluarga terkaya di Indonesia. Dari interaksi itu, saya makin sadar bahwa kesenjangan itu nyata. Dan kesenjangan inilah yang membawa kesenjangan yang lain, yang hingga sekarang ada di titik di mana 4 orang terkaya di Indonesia memiliki harta lebih banyak dari 100 juta masyarakat termiskinnya.

Saya ketemu dengan anak konglomerat yang sejak kecil udah jadi anak konglomerat. Dari kecil, dia bisa dapet pendidikan dimana aksesnya terhadap buku dan ilmu semudah ngupil yang udah nyangkut di tepi lubang hidung. Nutrisi makanannya top notch. Kuliah di Ivy League tanpa perlu pusing biaya. Bapaknya donatur di sana. Temenannya sama anak-anak konglomerat dari negara lain yang liburannya naik jet pribadi keliling kastil di Eropa. Saat lulus, dia bisa kerja langsung di top level perusahaan keluarganya yang multi-national. Mau bikin bisnis, koneksi temen-temennya di kampus atau temen bapaknya udah bisa dapet funding jutaan dollar sambil merem. Sampai sekarang, dia tetap kaya. Jadi, apakah orang ini bisa kaya karena perjuangan tanpa lelahnya dalam hidup?

Bandingin sama temen SD saya yang nggak sengaja ketemu beberapa tahun lalu di terminal bis Pulogadung. Keluarganya miskin, rumah pinggir kali. Dulu sering banget cerita makan cuma garam dan nasi. Anaknya pinter, masuk ke sekolah favorit di SMP. Sayangnya, rumahnya kebakaran, menghabisi semua harta yang keluarganya punya. Dia nggak bisa sekolah lagi. Di usia SMP, dia jadi tukang pulung. Lalu, naik pangkat jadi tukang semir sepatu. Terus, naik lagi jadi pedagang asongan. Saat ketemu, dia jadi kenek metro mini. Seumur-umur saya hidup, dia salah satu wanita (ya, doi cewek) paling pinter yang pernah saya kenal. Sampai sekarang tetap miskin. Jadi, apakah dia miskin karena nggak berusaha dan bodoh?

Ya, dua kasus di atas memang anekdotal dan siapapun bisa kasih cerita lain yang bertentangan. Tapi, mari objektif: kemiskinan ini kompleks. Dan penyimpulan kita bahwa kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan dan kebodohan adalah bentuk nyata dari kemalasan kita untuk berpikir atau kebodohan kita dalam melihat realita. Orang miskin yang memiliki keterbatas akses terhadap pendidikan, gizi, relasi, serta sumber daya, tentunya tidak semudah itu bisa mengubah nasibnya untuk lebih pintar dan berdaya, seberapapun payah ia berupaya.

Kemiskinan bukan hanya pola yang salah tentang mengelola uang. Dalam mayoritas kasus, mereka bahkan tidak punya cukup uang untuk dikelola. Kemiskinan jelas-jelas tidak sesederhana kemalasan untuk berikhtiar. Dalam banyak hal, mereka lebih keras bekerja dibanding mayoritas kita. Hambatannya bukan hanya hal-hal material, tapi semua kesulitan material ini mengendap menjadi hambatan immaterial dalam diri mereka yang menyaksikan bahwa hidup menentang mereka untuk bisa maju; bahwa peruntungan memaksa mereka untuk tetap jadi miskin.

Kemiskinan adalah akumulasi dari kemiskinan sebelumnya, yang terakumulasi dari kemiskinan lainnya. Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan kesenjangan keempat tertinggi di dunia, kemiskinan semakin diperparah karena sulitnya mobilitas vertikal. Saat pendidikan yang berkualitas mahal dan yang miskin hanya kebagian sekolah bobrok dengan dana BOS yang dikorupsi; saat makanan bergizi mahal dan yang miskin hanya kebagian raskin yang sudah tengik, saat lapangan pekerjaan layak sulit dan yang miskin hanya bisa mengais nafkah dari kerja kasar, bagaimana bisa si miskin naik strata? Kemiskinan adalah hasil dari struktur yang berpihak pada kesenjangan.

Kamu sih, Miskin

Kemiskinan memang kompleks. Sekompleks keresahan tulisan ini yang tidak bisa terwujud nyata dalam dampak apapun yang signifikan di keseharian penulisnya. Mungkin saja, di satu titik nanti di masa depan, hidup saya tidak lagi dekat dengan kemiskinan. Mungkin saja, suatu saat nanti, anak saya bisa dengan mudahnya sekolah di Ivy League lalu liburan keliling kastil di Eropa. Mungkin saja, takdir mempercayakan saya untuk memiliki banyak harta. Tapi, saya berdoa supaya ketika memang titik itu sampai waktunya, saya bisa tetap punya ego yang cukup naif untuk meruntuhkan struktur yang membuat siklus kemiskinan ini ada. Atau, setidaknya saya bisa tetap diberi kekuatan untuk menggetok sekeras-kerasnya kutukupret yang menyalahkan si miskin yang tetap jadi miskin.

24/7 CEO, 24/7 Manusia

Satu waktu, saya pernah mengisi acara dengan salah satu investor modal ventura di Indonesia. Saat ditanyakan apa biasanya faktor yang mereka lihat dalam memberikan investasi kepada satu startup, dia menjawab, “Founder-nya dong“. Jawaban lumrah. Tapi, kemudian dilanjutkan, “kita melihat seberapa keras mereka kerja. Kalau jam 7 malem udah pulang kantor, founder macam apa itu. Seenggaknya 80-100 jam lah seminggu“. Saya mengernyitkan dahi mendengar itu. Wah, si Bapak ini kelihatannya nggak akan investasi ke saya yang nggak jarang pulang sebelum jam 7 malam. Tentu, alasan saya bukan malas kerja layaknya oknum PNS gaji buta. Tapi, bagi saya, premis tentang kerja panjang adalah cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang pasti memuaskan, sangatlah tidak masuk akal.

Mitos Workaholic itu Keren dan Produktif

Entah dari mana asalnya, masyarakat kita sangat memuja kerja. Workaholic, dianggap keren. Posting-an di media sosial yang masih kerja di akhir pekan, dianggap ganteng. Begadang demi pekerjaan, dianggap teladan. Bahkan, rumah tangga yang retak, hidup yang tidak bahagia, teman yang tidak punya, karena lebih sering bekerja, dianggap bentuk hakiki dari determinasi. Pengorbanan yang layak, katanya. Lihatlah bagaimana dunia startup kita begitu iri dengan 80-100 jam kerja per pekan yang ada di Silicon Valley dan Cina. Kerja, yang utama.

workaholic_000015949815XSmall.jpg

Apakah membahagiakan orang tua, menjaga keutuhan keluarga, dianggap lebih mudah daripada memenuhi capaian dalam bisnis dan pekerjaan? Tentu saja, tidak. Buktinya, banyak yang gagal melakukannya. Tapi, masyarakat yang didikte oleh pola pikir materialistis, dengan tidak sadar menempatkan pekerjaan sebagai prioritas tertinggi dari capaian hidup yang bisa kita ukur, serta hal terbesar yang perlu kita kejar. Saya menolak mengikuti dogma ini.

Di sisi lain, apa bekerja lebih panjang memang hasilnya lebih efektif? Ternyata, tidak juga. Studi yang dilakukan Harvard Business Review memperlihatkan kalau bekerja 70 jam sepekan itu berbahaya. Lama waktu kerja, ternyata tidak sebanding dengan jumlah luaran yang didapatkan. Di beberapa studi, hal ini justru menyebabkan penurunan dalam performa; karena waktu kerja yang panjang akan menurunkan konsentrasi, menghabiskan energi, menimbulkan kebosanan, menurunkan ketahanan tubuh, hingga bisa berujung depresi. Makanya, jangan heran kalau di Silicon Valley tidak jarang ada tragedi bunuh diri.

Melihat durasi waktu kerja sebagai indikator kelayakan seorang CEO, bagi saya tidak rasional. Dasar premisnya sama sekali tidak logis. Metric yang terbaik seharusnya jelas saja luaran yang dihasilkan, bukan waktu yang dikeluarkan. Pemimpin perusahaan terbaik adalah yang bisa mendorong performa perusahaan secara optimal, panjang ataupun pendek waktu kerjanya. Kalau dia bisa menghasilkan lebih banyak dengan waktu kerja lebih sedikit, kenapa tidak?

Workaholics aren’t heroes, they don’t save the day, they just use it up. The real hero is already home because she figured out a faster way to get things done” – Jason Fried

Peran yang Integral

Kenapa standar 80-100 jam kerja per pekan ini dianggap tolok ukur kelayakan CEO dan founder? Menurut saya, ini karena perspektif sempit dalam melihat peranan CEO secara diskrit. Tuntutan kepada seorang CEO  yang harus bekerja di kantor selama 16 jam sehari hadir dari anggapan bahwa pekerjaan CEO hanya dilakukan di 16 jam tersebut. Dan anggapan negatif terhadap CEO yang kerja di bawah itu, juga didasari dari hal yang sama; di luar jam kerja, maka sang CEO tidak bekerja. Ini sudut pandang yang salah.

Apakah saat saya di kantor sebagai CEO, maka saya libur sebagai suami, ayah, dan hamba Tuhan? Tentu tidak. Saat saya di kantor dan bekerja sebagai CEO, toh status saya tidak jadi jomblo dan ateis; tetap berkeluarga dan beragama. Lalu, kenapa saat bercengkarama dengan keluarga di rumah, kita dianggap tidak bekerja? Pemikiran diskrit dalam melihat pekerjaan inilah yang berujung pada penghambaan terhadap kerja. Padahal, peranan CEO dan founder, sudah selayaknya terintegrasi dengan peranan lain kita dalam hidup.

Dengan bekerja, saya memenuhi tugas saya sebagai ayah dan suami yang mencari nafkah; sekaligus memenuhi perintah agama untuk beribadah. Sebaliknya, saat menjadi suami, ayah, dan hamba Tuhan, saya memenuhi tugas saya sebagai CEO. Perusahaan memerlukan saya dalam kondisi prima secara intelektual, emosional, mental, dan spiritual. Interaksi dengan keluarga dan Tuhan adalah upaya seorang CEO untuk memperbaharui level energi dan kondisi dirinya, agar bisa memberikan performa terbaik untuk perusahaan. Kondisi optimal ini hanya bisa terjadi ketika setiap sisi diri secara seimbang terpenuhi. Semua tanggung jawab kita dalam sudut hidup yang berbeda, sebenarnya saling berhubungan dalam satu kesatuan. Inilah bentuk peranan yang integral kita sebagai manusia.

24/7 Manusia

Saat berkomitmen untuk membangun perusahaan dan menjalankannya, kita mengambil tanggung jawab besar bahwa perusahaan bergantung kepada kita. Ini pun berlaku sama saat kita memutuskan untuk menjadi kepala keluarga. Dengan kata lain, pada dasarnya, tidak ada batasan waktu yang tegas antara kehidupan profesional dan personal. Kita berperan di keduanya selama 24 jam dalam 1 hari, 7 hari dalam sepekan.

Maka, dalam praktiknya, tidak ada ruang batasan yang membedakan keduanya. Saya sering menyelesaikan pekerjaan tengah malam di rumah setelah waktu bersama keluarga terpenuhi; dan sering juga merencanakan aktivitas keluarga di tengah waktu istirahat di kantor. Saya tidak akan segan jika memang harus menginap 3 hari di akhir pekan, atau melakukan perjalanan bisnis beberapa hari, mengurangi waktu dengan keluarga; jika memang perusahaan sedang membutuhkan. Dan saya pun tidak akan ragu untuk menjauhkan diri dari kesibukan pekerjaan, jika urgensinya ada dalam kehadiran saya di tengah keluarga. Toh, saat melakukan keduanya, saya sama-sama berada dalam upaya memenuhi tanggung jawab integral saya sebagai kepala perusahaan dan kepala keluarga.

Dan, pada ujungnya, hidup kita tidak hanya didefinisikan oleh karya satu-satunya; dan identitas kita tidak hanya tertera pada satu sisi saja. Kelak, saat kita mati, orang di sekitar kita akan mengenang hal-hal yang telah kita lakukan dalam berbagai macam keadaan. Di level yang lebih tinggi, hasil hidup kita akan ditakar dari amalan positif kita di berbagai macam peran. Kita akan dinilai dan diingat dari wujud utuh yang terbentuk dari optimalisasi berbagai macam tanggung jawab kehidupan.

Jadi, alih-alih berfokus pada 80-100 jam kerja per pekan saja, ada baiknya kita memaknai hidup dari sudut pandang yang lebih paripurna; serta mencoba melakukan segala hal secara adidaya, 24 jam perhari, 7 hari per pekan, untuk bisa sebaik-baiknya menjadi manusia.

Jurang Kekosongan yang Nyaring Bunyinya

“Ignorance more frequently begets confidence than does knowledge” – Charles Darwin

Disamping untuk pamer dan pencitraan, saya sudah jarang scrolling media sosial seperti Facebook dan Twitter (paling-paling hanya Quora). Selain karena sok sibuk dan mencoba lebih produktif, media sosial kini sangat bising. Bisingnya terkadang bikin sebal sampai ke ubun-ubun. Dari urusan politik, agama, bisnis, bahkan urusan pribadi, ada saja orang-orang yang tidak kompeten yang mengutarakan pendapat sesukanya tanpa ada pemahaman yang cukup dan proses logika yang tertata. Bising karena isinya memang tong-tong yang kosong yang beradu nyaring.

Walaupun menyebalkan, hal begini memang fenomena psikologis yang lumrah, disebutnya Dunning-Kruger effect. Ini adalah postulat yang dikeluarkan oleh David Dunning dan Justin Kruger di thaun 1999, yang menyatakan bahwa orang yang tidak kompeten dan pengetahuannya terbatas memiliki bias kognitif serta mengidap superioritas yang ilusif; mereka seringkali menakar kemampuannya melebihi kenyataan. Lebih jelasnya lagi diperlihatkan di grafik ini:

Screen-Shot-2015-02-14-at-6.08.11-PM.png

Grafik ini menunjukkan bahwa orang yang mempunyai pemahaman yang sedikit, cenderung memiliki kepercayaan diri yang berlebihan. Mereka merasa paling tahu dan pintar tentang bidang yang baru sangat sedikit mereka ketahui; dan secara tidak sadar mengabaikan ketidaktahuan mereka.

Di era informasi seperti sekarang, ilusi superioritas ini semakin mudah menjangkiti banyak orang. Karena sudah beberapa kali menonton Mata Najwa dan headline news di Metro TV, tiba-tiba merasa menjadi pakar politik. Karena sesekali baca artikel di linimasa atau baca Wikipedia, tiba-tiba merasa paling paham ilmu sosial. Karena sering datang pengajian sepekan sekali dalam beberapa bulan terakhir, tiba-tiba mengira sudah paling sholeh sedunia, atau setidaknya sudah selevel ulama.

Ilusi superioritas ini semakin diperparah dengan mentalitas yang bully dan intimidatif. Karena merasa paling, orang-orang seperti ini siap untuk menyerang siapapun yang berbeda pendapat. Semuanya pasti salah, karena mereka merasa paling benar dan paling pintar. Dan media sosial menjadi arena yang tepat, karena argumentasi bisa dilakukan tanpa nyali dan tanggung jawab; bisa sambil browsing di Google dulu kalau ada yang kurang paham, dan setidaknya bisa bersembunyi dibalik layar 5 inci.

Kenapa masalah ini semakin banyak dan menular? Karena, sebagaimana grafik di atas, orang-orang seperti ini, saat baru tahu sedikit, berhenti untuk mencari tahu lebih. Mereka tersangkut di satu titik puncak kepercayaan diri berlebih, sekaligus titik pemahaman yang minim. Akhirnya, terjerambab lah dalam jurang yang disebut jurang kekosongan yang nyaring bunyinya. Jelek banget ya namanya. Biarin aja. Jurang ini isinya tong-tong kosong yang saling beradu. Berisik dan menyebalkan.

Jadi, saya mohon, jika rekan Anda terjebak di jurang ini, segera selamatkan. Caranya mudah, semudah membaca grafik di atas: terus tambah pemahaman. Sedikit saja pemahaman bertambah, maka terbuka pula mata kita dari kebodohan kita sendiri. Itulah alasan kepercayaan diri akan menurun drastis. Semakin kita sadar betapa kita bodoh, semakin kita tidak percaya diri -dan berhati-hati, dalam berpendapat. Dan ini titik awal yang paling penting, karena kesadaran akan kebodohan dan ketidakpercayaan diri kita akan memicu pembelajaran lebih dalam, yang kemudian menaikkan kita ke level selanjutnya; dimana kita percaya diri karena benar-benar mengerti. Ini lah yang disebut bijaksana.

Dalam dunia nyata, kasus yang memperlihatkan kebenaran Dunning-Kruger effect ini bisa kita perhatikan dimanapun. Bagaimana mahasiswa tingkat satu merasa pintar dan belagu, sedangkan si professor sangat rendah hati. Bagaimana ulama sangat sejuk dan bijak, sedangkan orang baru tobat sangat agresif dan judgemental. Dan banyak contoh lainnya. Mari, belajar menjadi bijaksana, setidaknya dengan terlebih dahulu tahu bahwa kita belum banyak tahu; dan dengan terlebih dulu sadar bahwa kita perlu banyak belajar.