Yang Diingat

Ada berapa banyak orang yang Anda pernah kenal? Mungkin ratusan. Secara kumulatif sampai nanti akhir hayat, bisa jadi di angka ribuan, atau bahkan puluhan dan ratusan ribu. Dari semua manusia yang pernah kenal, berapa banyak yang akan benar-benar Anda ingat? Most likely, just a handful. Itu memang cara kerja otak kita, yang secara evolusi hanya memilah satu atau dua peristiwa, memori, serta situasi yang kita simpan dan akan berguna. Otak kita hanya mengingat sudut ekstrem dari setiap kejadian untuk kelak memberikan keunggulan evolusioner manusia sebagai spesies. Ketika memori kita mengingat kalau kena api itu panas, kita bisa menghindari itu nantinya yang ujung-ujungnya bisa membuat kita tetap bertahan hidup.

Menyambung ke pertanyaan awal, dari sekian banyak orang yang kita kenal, kita hanya akan mengingat beberapa orang yang ada di sudut ekstrem. Kita akan ingat orang yang lubang hidungnya paling besar. Kita akan ingat wanita paling cantik. Kita mengingat mantan pacar yang paling baik. Kita mengingat teman yang paling jago kayang. Otak kita dirancang hanya untuk menyeleksi citra orang-orang yang ada di luar batas normal.

Dalam hal itu, teman yang sekarang sedang dipasangkan dengan saya, yaitu Ivan Nashara, adalah orang yang ditakdirkan untuk bisa diingat; karena memang orbitnya ada di luar jalur orang kebanyakan. Sebagian akan mengingatnya sebagai manusia paling baper. Sebagian mengingatnya sebagai bos yang paling posesif. Sebagian lagi akan mengingatnya sebagai orang yang paling arogan. Tapi, saya pribadi akan mengingatnya sebagai rekan yang paling idealis. Dan dalam situasi dimana kaum idealis adalah spesies yang hampir punah, saya rasa kualitas tersebut meninggalkan kesan yang akan tetap bertahan.

Bagi teman saya yang lubang hidungnya paling lebar yang saya sebutkan tadi, saya juga meningatnya sebagai orang yang paling rajin amal ibadahnya. Dan saking rajin dan sholehnya, ingatan tentang berapa ukuran lubang hidungnya kini sudah hampir pudar. Dia sekarang saya ingat sebagai teman yang dulu paling banyak mengajarkan saya tentang agama, tidak lagi terkait dengan lubang hidungnya.

Ternyata, dalam dimensi diri manusia yang memiliki banyak sisi, serta dimensi waktu yang terus berjalan, memori kita juga diciptakan untuk senantiasa memperbaharui apa yang bisa kita ingat tentang citra yang pernah kita tangkap. Dan ini pun kembali memiliki fungsi evolusioner. Otak kita diberikan hak untuk memproses kembali satu hal yang kita ketahui, untuk kemudian membandingkannya dan memberikan keputusan terhadapnya. Karenanya, walaupun kita punya memori untuk menghindari terbakar dari api, kita akan selalu mengingat api sebagai invensi terbesar manusia dan sumber energi yang merevolusi kehidupan kita.

* * * *

Sejarah ini diukir oleh orang-orang yang namanya diingat. Beruntung bagi Ivan, karakteristik pribadinya sudah bisa memenuhi hal itu. Tinggal, takdir mungkin yang akan menentukan, untuk seperti apa dia, sebagaimana manusia lainnya, kelak akan diingat dan diapresiasi orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks yang sama, saya pribadi akan memilih berperang, walaupun untuk diri sendiri, agar nanti bisa menjadi penanda masa, sebagaimana nama-nama para legenda.

If they ever tell my story, let them say that I walked with giants. Men rise and fall like the winter wheat, but these names will never die. Let them say I lived in the time of Hector, tamer of horses. Let them say I lived in the time of Achilles.

– Odysseus

Leave a Reply