Ternyata Tidak Sederhana

Agaknya, saya memang beruntung bisa punya istri seperti istri saya. Pertama, tentunya, karena dia mau sama saya. Kedua, walaupun dengan latar belakang keluarga yang berbeda, saya dan istri saya sama-sama punya konsep yang sama tentang harta. Saya yang bukan anak orang kaya, merasa bahwa saya sejak dulu bisa hidup bahagia walaupun tanpa limpahan uang yang tak terhingga. Istri saya yang dari keluarga mampu, sejak dulu merasa bahwa uang tidak bisa melelang kembali ingatan yang tidak terlalu membahagiakan. Jadi, secara tidak sengaja kami bersepakat bahwa harta memang hanya selewat, dan uang hanyalah sebuah alat.

Oleh karenanya, bagi kami keserhanaan itu sesuatu yang alami. Kami tidak mencoba memaksakan ataupun mengkampanyekan bentuk kesederhanaan ini sebagai pilihan hidup yang masuk akal di tengah badai konsumerisme. Jika konsumerisme adalah arus yang membawa manusia lainnya secara tidak berdaya, kami adalah pohon kelapa yang tertanam di tengah gunung. Jadi, ya tidak nyambung. Sebagaimana ritme kita bernafas, kesederhanaan ini bukanlah sebuah pilihan serta hasil dari aksi, tapi memang satu sifat natural yang digerakkan oleh alam bawah sadar.

Wujud dari hal ini adalah alpanya segala macam bentuk pemameran dari keserhanaan, sebagaimana khalayak lain. Makanya, walaupun harga baju istri saya cuma 50ribu lebih, dia tidak lantas post di Instagram bahwa sebagai istri direktur hanya beli baju murah demi pilihan menjadi sederhana. Saya pun tidak lantas pamer di Facebook bahwa setiap hari tidak ganti celana dalam demi makna menjadi sederhana. Tanpa melakukan itu, kami memang hanya membeli pakaian ketika membutuhkan, yang terkadang setahun sekali seperti lebaran. Mau itu diskonan baju, sepatu, ataupun kosmetik, tidak pernah rasanya kami tergoda lalu kalap,sebagaimana cerita orang lain yang matanya seketika gelap

Nah, yang lucu, konsep yang sama tidak terjadi ketika urusannya buku. Hampir setiap diskon buku di berbagai toko, kami pasti datang dan membeli banyak tanpa terkendali; walaupun tidak butuh dan masih banyak sisa di rak yang belum dibaca. Ini kelihatannya mirip dengan kebanyakan kelas menengah yang membeli baju mewah padahal isi lemari sudah membuncah.

Kira-kira, kenapa kami yang biasanya bisa sederhana tapi ketika urusan buku justru tidak bisa menahan diri untuk belanja? Ternyata, ini terjawab secara tidak sengaja saat tadi pagi saya berdiskusi dengan istri soal garage sale. Istri saya terheran ketika teman-temannya di dunia maya melakukan garage sale barang pribadinya, dari sepatu, jam tangan, hingga pakaian, yang itu masih bagus dan bahkan tidak pernah terpakai. Dia berargumen, kalau saja kami yang melakukan garage sale seperti itu, sudah pasti semua bajunya tidak layak pakai. Ini memang benar. Kemudian dia lanjut bertanya, “Kalau tidak butuh dan tidak akan pakai, kenapa di awal beli?”

Menanggapi argumen tersebut, saya justru balik bertanya, “Lah, kita juga kalau beli buku dan sampai sekarang belum dibaca, kenapa di awal beli?”. Jawaban setelah inilah yang tidak sengaja memberikan solusi dari misteri ini, “Ya beda dong, kalau buku kan nanti juga ujungnya dibaca”. Ini menarik.

Kenapa ini menarik? Karena, terdengar benar, tetapi juga bias dan paradoks. Apakah semua buku yang saat ini dengan tingkat pembelian yang lebih tinggi dibanding tingkat kecepatan membaca, di akhir nanti akan punya saldo yang positif? Logikanya kan, tidak. Logika yang sama ini lah yang menjadi justifikasi konsumen dalam membeli barang-barang yang kelak tidak berfungsi. Saat memutuskan untuk membeli, psikologis mereka juga berpikir hal yang sama: “Wah, dress ini bagus ya, nanti juga ujung-ujungnya dipakai pas ada kondangan“, “Wah jamnya bagus ya, nanti juga bisa buat ganti setiap hari, nanti pasti dipakai“, “Wah, mobilnya bagus ya, mungkin perlu ganti kalau ke luar kota supaya mobil satunya lebih awet, toh nanti juga terpakai“. Jadi, pada dasarnya, keputusan kita membeli adalah upaya untuk merasionalisasi fungsi eventual dari suatu produk. Dan kita akhirnya memutuskan untuk membeli, saat kita bisa mendapatkan justifikasi akhir bahwa ujung-ujungnya produk tersebut bisa memberikan manfaat, seberapapun nyatanya tidak.

Jika ini dibalik, tentunya banyak sekali orang yang menghabiskan uang dengan mudah untuk membeli baju necis, tapi akan keberatan saat membeli buku diskonan. Sebagaimana tidak terpengaruhnya kami terhadap godaan syetan dalam bentuk potongan harga baju tahun baruan. tapi mudah dirayu dengan buku. Ujung-ujungnya, kembali ke diri kita, bahwa masing-masing kita memiliki jiwa sederhana dalam memaknai satu benda, tapi memiliki hasrat berlebih terhadap benda lain. Orang yang royal dalam membeli game di Steam, belum tentu bisa royal saat membeli lipstick di Wardah.

Kesimpulannya, ternyata berkaitan dengan tulisan saya empat tahun yang lalu; dengan sedikit ekstensi. Kesederhanaan akan bergantung pada keinginan, kita cukup perlu secara hati-hati mendefinisikan apa keinginan kita. Tapi, di sisi lain, terkadang kita juga tidak bisa lari dari aspek lain dari diri kita yang bisa saja sama sekali tidak sederhana. Dan ini pun juga ditentukan dari definisi tentang keinginan. Orang yang keinginan besarnya adalah pahala, akan sangat tidak sederhana dalam beramal dan bersedekah. Dan orang yang keinginannya benda yang gemerlap, akan sangat tidak sederhana dalam belanja untuk mengoleksinya. Yang jadi tantangan adalah, bahwa apapun yang kita miliki, baik itu waktu maupun sumber daya, sangatlah terbatas. Di sisi mana kita bisa secara alamiah memutuskan untuk menjadi sederhana dan tidak sederhana?

Leave a Reply