Konsisten Untuk Tidak Konsisten

Ajegile. Dari Total 25 hari menulis, saya baru menulis 12 kali. Lebih banyak dendanya dibanding menulisnya. Ini luar bisa menyedihkan. Lebih sedih dari film Twilight atau kasus korupsi Setya Novanto.

Kenapa saya tidak menulis? Ada banyak justifikasi yang bisa dicari, terutama karena pekan ini luar biasa melelahkan karena harus keliling bolak-balik Bekasi-Bogor. Menulis yang menurut saya semacam melukis bagi seorang artis, membutuhkan satu energi, ide, serta fokus yang cukup agar hasilnya bisa saya banggakan. Sayangnya, tidak cukup ada yang tersisa tentang tiga hal itu di pekan ini untuk bisa mencurahkan isi kepala barang satu dua biji. Tapi, dibalik justifikasi itu, dasarnya memang saya bukan orang yang bisa konsisten untuk melakukan aksi kecil selama berulang-ulang dan terus-menerus.

Dulu saya sempat ditanya teman saya tentang apa jalur karir terburuk yang mungkin terjadi ke saya. Saya jawab: tukang fotokopi. Alasannya bukan dari segi pemasukan atau tingkat kekerenan, tapi lebih ke aktivitas yang dilakukan. Coba bayangkan, apa yang dilakukan tukang fotokopi? Memotokopi. Masukkan kertas ke dalam mesin fotokopi, menekan tombol, lalu jadi. Yang jadi masalah adalah, kalau sehari ada 200 lembar saja yang difotokopi, sebulan sudah 6000. Enam ribu kali melakukan aktivitas kecil yang sama dan berulang-ulang: masukan kertas, tekan tombol, lalu jadi. Begitu terus, enam ribu kali. Mungkin satu atau dua bulan melakukan itu, saya sudah masuk rumah sakit jiwa. Mentalitas saya yang petakilan membutuhkan satu hal yang dinamis dalam spektrum waktu yang pendek.

Mentalitas ini tentunya bukan hal yang selalu positif, karena mempersulit saya untuk melakukan hal yang sama dengan rutin. Padahal, rutinitas ini penting dalam membangun satu progress yang signifikan. Ini akhirnya terwujud dalam berbagai macam dimensi. Di level pribadi, saya tidak bisa rutin mandi atau melakukan ibadah di waktu yang sama setiap hari. Di level keluarga, saya tidak bisa melakukan pekerjaan harian seperti mencuci piring atau membereskan kasur. Di level perusahaan, saya juga tidak bisa mengirimkan newsletter pekanan. Satu-satunya hal yang konsisten, adalah dalam menjadi tidak konsiten.

Konsistensi dan Persistensi

Dengan melihat hal tersebut, saya juga tidak rela jika dibilang menjadi anak muda yang galau. Karena, dalam skala yang makro, saya tetap melakukan hal yang sama apapun kondisinya. Hampir sejak dari tingkat tiga, saya selalu ada di industri perikanan pada berbagai bentukan; mulai dari punya kolam, punya kios makanan, jadi pedagang, hingga sekarang fokus di teknologi. Saya tidak serta-merta menjadi banci trend yang gamang lalu pindah haluan. Padahal, jalan menuju ini pun tidak mudah; dari mulai tidak ada restu orang tua, didera kerugian, kehabisan uang, tawaran pekerjaan dan beasiswa, hingga penolakan dari konsumen yang tidak ada habisnya.

Di level perusahaan, saya pun tidak rela jika dibilang tidak konsisten. Karena, sejak awal bisnis masih seuprit sampai sekarang sudah seuprit lebih sedikit, saya masih tetap berjuang siang malam dengan energi yang tetap besar dan siap sedia berada di garda terdepan. Saya tetap konsisten untuk berupaya memberikan yang terbaik yang saya bisa. Berarti, saya juga konsisten, kan?

Ternyata, tidak. Contoh di atas bukanlah bentuk suatu konsistensi, melainkan persistensi. Apa bedanya? Persistensi adalah kemampuan untuk tetap melakukan sesuatu hal, bahkan di saat-saat yang sulit. Sedangkan konsistensi adalah kemampuan untuk terus-menerus melakukan hal yang sama dalam keadaan apapun. Persistensi berkaitan dengan respon terhadap tekanan atau situasi, sedangkan konsistensi adalah suatu hal yang reguler dan tidak berubah terlepas dari situasi yang terjadi.

Contohnya, jika kita adalah satu orang yang tersekap di dalam goa, persistensi adalah kemampuan kita untuk tetap bertahan, mencari jalan keluar, serta melakukan aksi walaupun dalam kepanikan dan keterbatasan sumber daya. Sedangkan konsistensi adalah kita yang mengetuk-ngetuk satu lubang yang sama di pintu goa tersebut hingga bisa terlihat cahaya dan membongkar hingga bisa keluar goa. Dalam konteks apapun, kita membutuhkan persistensi dan konsistensi agar menghasilkan satu luaran yang berbeda.

Belajar Menjadi Konsisten

Bagi saya pribadi, menjadi persisten ini adalah hal yang alamiah. Dari dulu saya mampu menjadi orang yang paling persisten dimanapun berada. Kenapa? Karena, untuk menjadi persisten, faktor utama yang wajib ada adalah tekanan dan kesulitan. Untungnya, seumur hidup saya selalu penuh dengan dua hal tersebut sehingga, mau atau tidak, mentalitas persisten bisa terbentuk dari kekacauan yang hadir secara sengaja maupun tidak.

Berkorelasi dengan poin di atas, menjadi konsisten justru sangat sulit. Saat hidup Anda cukup familiar dengan chaos, melakukan hal yang sama secara terus-menerus sama sekali tidak mudah. Jika Anda tinggal di Singapura, naik MRT setiap hari setiap jam 7 pagi masih bisa dilakukan, karena situasi aman terkendali. Tapi, ketika Anda tinggal di Palestina, setiap jam 5 pagi bangun tidur terus mandi tidak lupa menggosok gigi bukan hal yang gampang, karena banyak sekali kemungkinan yang terjadi untuk menghambat itu; mulai dari desa sebelah yang di bom hingga air bak mandi yang belum tentu masih mengucur.

Oleh karena itu, sebelum belajar untuk menjadi konsisten, hal yang pertama yang perlu saya pelajari adalah bagaimana untuk bisa nyaman dengan situasi yang nyaman, atau setidaknya menemukan waktu atau zona yang bisa membuat kita nyaman. Dalam kenyamanan ini ada satu ruang yang, bagi manusia pencari kekacauan seperti saya, tepat untuk mensimulasikan satu aksi yang konsisten. Rekan saya yang punya mental agent of chaos seperti saya juga melakukan ini, dengan yoga dan meditasi. Setelah melakukan meditasi, selama 1 jam setelahnya adalah waktu bagi dia untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan rutinitas; menulis buku satu paragraf, olahraga, mengirim newsletter, dan lain sebagainya.

Kelihatannya, ide ini bisa dijalankan, bukan? Sampai saat saya memikirkan betapa anehnya hal ini; melakukan suatu aktivitas rutin agar bisa belajar melakukan aktivitas dengan rutin. Paradoks. Dalam paradoks ini, yang masuk akal hanyalah untuk bisa konsiten dalam menjadi inkonsisten. Mungkin dengan belajar konsisten dalam inkonsistensi, saya bisa menemukan makna menjadi konsisten.

Leave a Reply