Puisi Dalam Saya

Nama saya Gibran. Siapapun penggemar sastra pasti akan mudah menemukan korelasi nama saya. Tentunya bukan dengan anak presiden yang doyan ngevlog dan viral, tapi dengan salah satu sastrawan terbesar dari Lebanon. Menariknya, sastra yang ada di dalam nama saya juga terselip ke dalam bakat saya.

Ayah saya sangat suka dengan karya-karyanya Kahlil Gibran dan dia punya cukup banyak koleksi bukunya. Di usia TK hingga SD, buku Sang Nabi sudah khatam saya baca walaupun tidak paham artinya. Ayah saya juga pandai dalam bersajak. Mungkin karena sejak dini terpapar dengan sastra, dipadu dengan darah melayu, serta warisan genetis ayah saya tadi, saya cukup berbakat dalam membuat puisi.

Karena paham dengan kemampuan saya yang lihai, kelihatannya sudah tidak terhingga banyaknya wanita-wanita yang saya rayu dengan puisi aduhai. Pernah di satu waktu di SMA, ada adik kelas manis yang saya suka. Karena tampang saya yang mirip dengan Kotaro Minami saat sudah berubah menjadi Kamen Rider, tentunya tidak mudah bagi saya untuk menarik hati wanita yang semacam ini. Alhasil, saya menuliskan 5 puisi anonim yang saya tulis di surat dan dititipkan ke teman. Tanpa mengharap balasan. Platonis.

Lewat satu tahun sejak saat itu, si wanita ini punya pacar tampan dan atletis yang merupakan senior saya. Satu kesempatan, saya duduk berdua dengan dia di satu acara OSIS, lalu tiba-tiba dia memperlihatkan SMS dari pacarnya yang berisi puisi. Sayangnya, puisi itu lebih seperti pertanyaan teka-teki silang. Saya agak bingung kenapa dia menunjukkan SMS tersebut ke saya. Sampai dia bilang sambil melirik tersenyum, “Jauh banget kan sama puisi yang dulu pernah kakak bikin? Coba aja itu nggak anonim, aku bisa dapet SMS yang lebih bagus sekarang”. Satu tahun, tapi puisi iseng yang saya kasih itu bekasnya masih banyak tersisa, padahal saya sendiri pun saat itu sudah lupa isinya apa.

Karena memiliki rekam jejak yang bagus, akhirnya saya juga sempat membuka jasa pembuatan puisi. Saat SMP dan SMA, dipengaruhi oleh kekerenan Rangga di AADC yang saat itu sedang trend, banyak sekali teman-teman saya yang jadinya sok berpuisi, tanpa bakat yag mumpuni. Akhirnya, upaya-upaya romantis mereka ke gebetan, perlu karya yang lebih berkualitas agar bisa efektif bikin hati deg-degan. Di sana peran saya. Cukup 5 hingga 10 ribu rupiah, orang bisa mendapatkan satu puisi customized sesuai dengan tujuan dan karakter target puisi ini. Ada yang untuk mantan, kecengan, bahkan pacar orang; yang semuanya dibuat khusus. Hasilnya lumayan; setidaknya kalau dijumlahkan saya sudah mendapatkan jutaan rupiah dari transaksi ini. Dan setidaknya ada dua lusin pasangan yang jadian karena puisi-puisi yang tampan.

Karena proses ini, bagi saya, membuat puisi itu effortless. Hanya butuh berpikir 5 menit untuk saya bisa membuat beberapa bait. Saat ide menulis ini mentok, seperti malam ini, jalan pintas yang selalu terpikir pertama kalinya adalah membuat puisi; yang sejauh ini belum pernah saya lakukan demi memaksa diri untuk bisa membuat tulisan yang bisa dibanggakan. Lain dengan para sastrawan yang membuat puisi dari hati, puisi-puisi saya yang mekanistis sama sekali tidak sempat masuk memori.

Saya tidak ingat hampir semua sajak yang saya buat. Tapi, malam ini, tiba-tiba saya teringat satu sajak yang saya gubah di satu malam, di Gunung Papandayan, di depan api unggun yang menyala. Malam itu cerah dan indah. Biasanya, situasi seperti itu sangat saya nikmati dengan ketenangan dan kesendirian. Tapi, tidak saat itu. Saat itu saya selalu membayangkan satu wajah yang membuat saya resah. Resah yang berupa rindu. Dan untuk mencurahkan itu, saya ambil kertas, lalu saya menulis satu surat.

Keesokan harinya surat ini saya selipkan di tas seorang wanita. Tujuh tahun setelahnya, wanita ini yang sekarang terlelap di sebelah saya, memeluk anak kecil cantik yang wajahnya mirip dengan kami berdua.

Seperti menulis puisi, ada banyak hal lain yang effortless, yang bahkan saya lakukan setiap harinya: mencetuskan ide, bernafas, atau berkata satu dua hal. Tapi, seperti puisi di atas, ada hal-hal tertentu yang terjadi dalam percikan yang tepat yang kemudian berdampak besar bagi kehidupan saya: ide bisnis yang cukup dalam yang kini menjadi sumber penghidupan, nafas yang ditarik dalam lalu mendorong saya melakukan sesuatu yang berani, atau perkataan yang cukup dalam yang kemudian mengubah pandangan orang terhadap saya. Seperti puisi di atas, hal kecil yang kita lakukan hanya perlu kita hayati lebih dalam agar bisa benar-benar memberikan makna yang nyata.

One thought on “Puisi Dalam Saya

Leave a Reply