Agar Tidak Lagi Rundung

Akhir-akhir di lini masa berseliweran berita tentang perundungan (bullying). Mulai dari mahasiswa universitas swasta yang merundung orang berkebutuhan khusus; sampai sekumpulan anak SMP yang juga menganiaya rekan sebayanya. Banyak yang marah melihat video itu; tapi saya tidak yakin banyak yang benar-benar tahu bagaimana rasanya jadi korban rundungan.

Kebetulan, waktu SD saya juga korban bullying semacam ini. Dulu saya anak paling pintar di sekolah yang rambutnya selalu disisir klimis dan baju seragam dimasukkan ke dalam celana. Tampilan luarnya memang sudah memenuhi prasyarat umum korban bully. Tapi, yang kelihatannya jadi alasan saya dirundung adalah fisik saya yang pendek dan kurus dulu. Bentuk bully-nya bermacam-macam, mulai dari jadi pesuruh untuk beli siomay di depan sekolah, sampai dikerjai dengan dilempar-lempar sepatunya.

Memenuhi Syarat Korban Bully

Di SMP kelas 1 saya sempat mengalami hal yang sama. Untungnya di kelas 2, saya pindah sekolah dengan teman-teman yang lebih beradab dibanding sebelumnya. Dan waktu SMA, saya diselamatkan oleh nasib karena saat itu saya jadi atlet pemenang perunggu sekaligus ketua pencak silat dan presiden OSIS, jadi syarat untuk jadi korban bully tidak lagi terpenuhi. Sayangnya, di masa-masa ini saya justru menyaksikan orang-orang di sekolah saya yang menjadi korban rundungan secara fisik dan mental.

Ada satu teman saya yang di-bully karena fisiknya yang memang kecil. Dia menjadi pesuruh untuk ke kantin, menjadi korban yang didorong-dorong saat ada yang sedang kesal, dan dimasukkan ke tong sampah saat dia balik melawan. Ada juga teman wanita saya yang dirundung secara mental karena penampilannya yang tidak seelok perempuan pada umumnya. Dia menjadi objek standar keburukan rupa untuk mengejek teman yang lainnya. Dikucilkan dan ditertawakan kelihatannya sudah menjadi makan sehari-harinya. Sayangnya, orang-orang yang bernasib seperti itu tidak hanya dua, tapi ada beberapa. Dan saya juga yakin, ada dimana-mana.

Merundung Diri Sendiri

Apa salahnya orang yang di-bully? Kadang, nyaris tidak ada. Dalam kasus video mahasiswa swasta di atas, korbannya dirundung hanya karena dia memiliki keterbelakangan mental. Di pengalaman saya saat SD dan teman-teman saya waktu SMA, korban dirundung karena memiliki kekurangan fisik dibanding yang merundung. Korban ini di-bully karena dipandang lebih rendah; lebih kecil, lebih bodoh, atau lebih jelek dibanding pelakunya.

Seandainya pun kenyataannya demikian, tapi apa salahnya orang yang di-bully? Kekurangan fisik, mental, maupun intelektual korban ini adalah hal yang dimiliki sejak lahir, tanpa bisa memilih. Kalau bisa memilih, saya akan meminta wajah saya seperti Nicholas Saputra dan tubuh saya mirip dengan Chris Hemsworth. Tapi, realitanya kan tidak. Saya hanya nyaris setampan dan se-atletis itu.

Nah, kondisi inilah yang akhirnya semakin memberi tekanan ganda bagi korban yang dirundung. Pertama, mereka memiliki luka fisik ataupun mental dari proses rundungan ini, yang kadang bisa berkepanjangan. Kedua, saat mereka mencoba berpikir tentang apa alasan mereka menjadi korban, mereka akhirnya akan menyimpulkan bahwa itu karena kekurangan yang mereka punya. Mereka dipaksa untuk mengira kalau penyebab ini terjadi adalah diri mereka sendiri.

Ini bukan hanya dramatisasi. Di SD dulu, saya punya teman dekat yang menangis di ujung kelas karena ada anak lelaki yang bilang ke dia sambil tertawa, “elo mah jelek, nggak akan ada yang mau!”. Sambil menangis, dia bilang ke saya, “Salah gue apa ya kalau jelek? Kan Tuhan yang kasih, bukan gue yang minta“. Saya hanya bisa terdiam. Sedih juga rasanya melihat teman saya yang sudah dirundung orang lain, lalu dipaksa untuk merundung diri sendiri karena penilaian cacat manusia serta perilaku yang semena-mena.

Sendiri Dirundung

Apa hal kedua yang paling mengesalkan dari video bullying yang beredar di media sosial, selain si pem-bully-nya? Bagi saya, orang-orang di sekitarnya. Mereka melihat, tapi hanya melihat, bukannya memilih untuk berbuat. Harusnya mereka bisa menghentikan, membela, atau menyelamatkan korban rundungan ini agar tidak lebih jauh lagi tersudutkan. Tapi, tidak, korban ini tersiksa sendirian.

Ini pula sesal terbesar saya di masa SMA dulu. Sebagai mantan korban bully, harusnya saya bisa mengerti tidak enaknya di posisi itu lalu bisa melakukan sesuatu. Tapi, setiap melihat adegan perundungan, saya hanya diam saja tanpa tindakan, tidak jarang malah juga ikut menertawakan. Pilihan sikap kita sebagai orang-orang yang ada di sekitarnya inilah satu tindak pengecut, yang dalam perspektif lain hampir sama seperti pelaku yang merundung. Secara tidak langsung, kita juga pelaku bully, karena membiarkan hal itu tetap berulang-ulang terjadi.

Kalau saya kembali mengingat di masa menjadi korban bully dulu saat SD, ada satu titik dimana saya tidak lagi di-bully lagi. Satu waktu, saya sedang dirundung dua teman saya yang melempar topi saya berganti-gantian dan memaksa saya harus bolak-balik mengejar. Mereka melakukan itu cukup lama sampai-sampai saya nyaris meneteskan air mata. Hampir menjelang frustrasi, datang teman sekelas wanita saya yang mendatangi salah satu dari pelaku itu, memukul tangannya, sambil berteriak, “balikin nggak topi dia?!“. Si perundung ini langsung takut dan mau tidak mau memberikan topi saya ke si wanita pemberani ini. Adegan setelahnya sampai mati tidak akan saya lupa: dia mendekati saya, memasangkan topi tersebut di kepala saya, lalu tersenyum sambil bertanya, “kamu nggak apa-apa?”. Manis. Teramat manis. Sejak saat itu saya bebas bully, dan saya menganggap wanita manis ini sebagai dewi penyelamat karena dia tidak membiarkan saya tersiksa sendiri.

Jika saja waktu bisa diputar, saya akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh teman wanita saya sebelumnya, ke semua teman-teman saya yang menjadi korban rundungan. Mungkin saya tidak perlu memasangkan topi, dan tidak juga bisa tersenyum semanis tadi, tapi setidaknya saya ingin memastikan kalau saya siap membela mereka dari serangan bully. Dan juga memperlihatkan kalau mereka tidak sendiri.

Leave a Reply