Dua Puluh Ribu

Apa artinya 20 ribu rupiah?

Bagi Anda yang biasa minum di cafe, 20 ribu bahkan tidak cukup untuk beli satu cangkir kopi. Bagi kita yang biasa makan di restoran, 20 ribu bahkan tidak cukup untuk mencicipi satu piring nasi. Tapi, bagi tukang pulung yang dulu sempat saya temui, 20 ribu ini senilai dengan makan satu hari bagi dia, istri, dan dua orang putri.

Seberapa mudah kita kehilangan 20 ribu? Kalau terselip di kasur, tertinggal di saku, atau terjatuh di jalan; apakah kita akan sedih dan mencarinya habis-habisan? Saya jamin, tidak akan. Tapi, bagi tukang pulung yang dulu sempat saya temui, 20 ribu ini cukup besar baginya untuk meniti kembali berkilo meter jalur yang sudah ia lewatkan, karena lembar uang ini jatuh entah dimana di tengah jalan.

Ini yang aneh dari harta; nilai intrinsiknya tidak hanya dilihat dari kemampuannya menukar barang atau jasa, tapi juga situasi pemiliknya. Walaupun harga 20 ribu nilai intrinsiknya sama, bisa membeli satu kilogram telur ayam, misalnya; tapi tingkat kebutuhan pemiliknya lebih menentukan seberapa berharga nilainya.

Dalam konteks sekarang, 20 ribu bagi saya adalah sebuah dilema. Saya yang banyak gaya ini hanya ingin menulis sesuatu yang panjang dan lebar dengan ide yang mendalam. Tujuannya mungkin untuk pencitraan. Tetapi, karena banyak pekerjaan lain yang menanti untuk diselesaikan, saya tidak punya cukup energi dan konsentrasi untuk ide tersebut terejawantahkan. Sementara itu, di sisi lain, kalau saya tidak menulis sama sekali, saya akan kena denda 20 ribu. Seperti lima hari lainnya, dimana saya juga kena denda. 20 ribu.

Saya tidak ada masalah untuk membayar denda, seperti lima hari sebelumnya dimana saya sudah memutuskan untuk rela. Tanpa beban; tanpa kekhawatiran. Tapi, tiba-tiba saja, tadi di jalan saya ingat dengan pemulung yang dulu sempat saya temui. Dia sedang mengais sampah sambil menitikkan sedikit air mata. Waktu sudah maghrib. Langit sudah muram, tapi wajah dia lebih terlihat suram. Saat saya datangi dan tanya kenapa dan sedang cari apa, dia menjawab sambil terisak,

“Uang saya hilang, dek. 20 ribu”

Saya terdiam. Saat itu juga, dan saat ini ketika mengingatnya, saya jadi sadar banyak sekali nikmat yang kecil, seperti nilai 20 ribu, yang setiap waktunya telah kita dustakan.

Leave a Reply