Kenangan yang Kita Butuhkan

 

Dua tahun lalu, di ajang entrepreneurship di Kenya, saya duduk bersebelahan dengan pejabat tinggi Intel Capital dari Silicon Valley. Dengan profil yang demikian, saya menganggap orang ini sangat rasional, straightforward, dan kaku. Saya merasa prediksi saya kelihatannya benar pada awalnya, sampai tiba topik yang kita bincangkan tentang Bali. Dia bercerita kalau dia hanya pernah satu kali ke Bali di akhir tahun 80an dan memutuskan untuk tidak akan sekali pun kesana lagi, meskipun dia sekarang ke Indonesia setiap 6 bulan sekali.

Saat saya tanya alasannya, jawabannya lebih menarik dari yang saya kira. Di pengalaman pertama dan satu-satunya ke Bali, ia saat itu bersama mantan pacarnya, yang menurut dia wanita paling sempurna. Kecantikan, keceriaan, dan kecerdasan wanita ini dipadu dengan keindahan alam Bali yang masih murni sebelum ada serangan turis menginterupsi. Begitu sempurna paduannya, sampai ia memutuskan untuk mengawetkan memori ini di dalam hati. Dan begitu inginnya dia menjaga memori ini, sampai puluhan tahun setelahnya ia tidak ingin mengisi pengalaman baru di lokasi yang sama: supaya citra Bali, sang juwita, dan keindahannya tetap utuh tanpa ada noda. Di akhir cerita, dia bilang, di antara hal-hal banal yang kita jalani setiap harinya, dia ingin menyimpan satu pengalaman yang tetap terjaga sempurna. Memori ini dia fungsikan sebagai lambang kesempurnaan.

Preservasi Memori

Cerita di atas langsung seketika menempel di kepala karena terasosiasi dengan quote favorit di film favorit saya sepanjang masa.

We all need memories to remind ourselves who we are. I’m no different. – Leonard (Memento)

Kita semua butuh memori untuk mengingatkan kita tentang siapa diri kita. Dan sadar atau tidak, memori ini kita awetkan dalam berbagai macam bentuk. Umumnya orang menyimpannya di album-album foto. Tapi ada yang menyelipkannya di balik ijazah di dalam laci. Di seragam di dalam lemari. Di etalase yang berjejer medali. Di batu nisan yang terhias bunga melati. Atau, seperti cerita di atas, hanya di pojok dalam hati. Walaupun bentuknya berbeda, perlakuan kita terhadapnya sama. Kita jaga itu karena kemungkinan hanya itu satu-satunya hal yang bisa kembali mengingatkan terhadap hal yang kita pernah punya.

Hal ini kelihatannya terdengar lumrah, tapi mari sejenak kita kaji lebih dalam untuk mengetahui seberapa ini berlawanan dengan intuisi. Waktu dan hidup berjalan dengan linear, sehingga setiap kejadian dalam hidup yang dilewati oleh waktu, secara spontan akan menjadi kenangan masa lalu. Ketika sekarang saya mengetik huruf ‘A’, maka sekarang saya sudah memiliki kenangan bahwa beberapa detik lalu saya pernah mengetik huruf ‘A’. Dengan kata lain, sepanjang hidup kita, masa kini dan masa depan hanya akan menjadi masa lalu yang sudah lewat, sehingga di detik kematian kita, kita hanya terdiri atas sekumpulan masa lalu menumpuk berlebih, tanpa masa kini, apalagi masa depan.

“Euleuh, aing geus nyaho, kehed!”, pasti Anda berpikir demikian. Ya, ini memang hal yang sangat kentara yang akal kita pasti sudah bisa cerna. Tapi, justru disitulah letak kontradiksinya. Jika kita sudah jelas-jelas mengetahui bahwa semua hidup kita hanya akan menjadi memori masa lalu, kenapa saat kita menjalani saat ini dan saat nanti, kita seringkali justru sibuk kembali melihat memori-memori lalu yang kita preservasi? Mengapa kita perlu mengenang betapa bahagianya masa kecil kita, dari foto-foto di dalam album? Mengapa kita perlu menangis di hadapan batu nisan? Perlu bangga melihat ijazah atau seragam? Perlu senang mengingat kekasih yang terkenang? Dibanding mengingat masa lalu, kenapa kita tidak fokus saja untuk memastikan bahagianya kita saat ini, berbakti kepada keluarga kita yang sekarang tersisa, mengoptimalkan karya kita terlepas dari mana tempat studi kita, serta membahagiakan pasangan yang ada di samping kita? Kenapa kita tidak bisa benar-benar hidup sepenuhnya di masa sekarang?

Lekat dengan Masa

Kelekatan manusia dengan memori masa lalunya adalah hal yang belum bisa saya pahami, terutama karena saya sendiri juga mengalami. Secara intelektual, pengetahuan kita terhadap dunia terakumulasi secara implisit yang kemudian terbentuk menjadi pemahaman, kecakapan, dan kemampuan kita terhadap hal-hal yang sudah kita pelajari. Cristiano Ronaldo tidak butuh mengingat kembali latihan tendangan pertamanya saat menerima umpan silang di depan gawang. Insting dan keahlian kognitif yang ia miliki sekarang sudah cukup untuk ia mengambil keputusan kapan dan bagaimana harus menendang.

Sementara, secara emosional dan spiritual, bukan hal ini yang sepenuhnya bekerja. Saya masih perlu mengingat betapa hangatnya kasih sayang ibu saya di masa kecil dulu untuk bisa benar-benar merasakan kembali hangatnya dan membalasnya dengan sama sekarang. Saat beribadah, saya harus bisa membayangkan bagaimana indahnya surga atau pedihnya neraka setelah mati nanti, untuk bisa benar-benar menyerapi keyakinannya dan bertindak sesuai dengan itu sekarangBerbeda dengan intelektual, di dimensi emosional dan spiritual, diri saya yang ada saat ini bukan citra yang imanen dan independen, melainkan terikat dan transenden.

Kita Butuh Memori

Walaupun dalam bentuk yang lebih sederhana, saat dengar cerita dari pejabat Intel Capital ini saya berpikir tentang apa yang saya tulis di sini. Mau tidak mau, saya terpaksa menanyakan dia soal hal ini lagi, walaupun beberapa menit setelahnya kita sudah mendiskusikan topik yang lain. Saya tanya, “Why don’t you go to Bali with your wife and kids now? I mean, there’s a chance that you can have a better memory. And I bet you love them more.

Sambil tersenyum, dia menjawab, “Yes, of course. We had a great other memories in Maldives, Europe. But I need memory in Bali to stay as it was. I wouldn’t take a chance to give away something that I know was perfect. Luckily, our memory is unlike a hard drive, right? It has no limit”. Saya berhenti bertanya karena tertawa sejenak dengan referensi candanya yang cerdas. Tapi juga karena jawaban itu cukup untuk sementara membuat saya puas.

Beberapa bulan setelah kembali dari Kenya, saya pulang ke rumah membawa anak saya yang baru berumur 2 bulan untuk bertemu ayah saya. Saat itu, ayah saya yang sedang sakit terlihat teramat bahagia bermain berdua dengan cucu pertamanya. Saya yang melihatnya dari luar kamar, hanya sempat tersenyum kecil. Ketika tiga bulan kemudian ayah saya meninggal, memori itu jadi berlipat-lipat harganya karena menjadi momen terakhirnya berinteraksi dengan cucunya.

Untungnya, kenangan ini sempat sengaja terekam dalam swafoto di ponsel ayahanda. Sejak saat itu, saya simpan baik di memori; di cloud storage dan juga di hati. Bagi saya, ini juga perlambang kesempurnaan. Dan ternyata, saya butuh memori ini. Terutama untuk mengingatkan kembali pada kebahagiaan yang intelektualitas saya tidak sanggup lagi untuk melukiskan. Dan pada satu kenyataan sederhana bahwa hal ini tidak bisa lagi dikembalikan.

We all, indeed, need memories.

Leave a Reply