Wawancara Manusia

Saya paling suka bagian mewawancarai kandidat. Ini bagian favorit saya karena, saat wawancara, saya punya keleluasaan untuk menanyakan apapun selama ada di dalam batas norma, dan mereka mau tidak mau harus menjawabnya. Oleh karenanya, pertanyaan-pertanyaan menarik, filosofis, dan personal bisa saya lontarkan sesukanya. Jawaban tersebut bisa merepresentasikan banyak hal dari kandidat ini, yang kadang tentang hal yang mereka tidak sepenuhnya tahu.

Masalah dan Masa Lalu

Pertanyaan pertama yang paling sering saya tanyakan, dan tentunya hampir di tempat interview lainnya, adalah: apa masalah terbesar kamu dalam hidup sejauh ini? Tentunya tujuan dari pertanyaan ini sudah cukup jelas; supaya kita bisa melihat kualitas kandidat dalam menghadapi masalah dan tekanan. Tapi, saya lebih suka menelaah ini ke satu level lebih dalam: sebesar apa masalah yang mereka anggap besar. Jawaban singkat ini bisa merepresentasikan banyak hal, perspektif, kualitas hidup, latar belakang keluarga, dan proses perjalanan mereka. Kalau satu orang masa kecilnya di Suriah saat masa konflik atau di Ethiopia di waktu kelaparan, tentunya akan berbeda level masalahnya dengan orang yang lahir dan besar di Menteng. Jika ada kandidat yang menjawab bahwa masalah terbesarnya adalah diputusin pacar, saya sangat iri dengan hidupnya yang terlalu indah bersinar.

Apakah berarti orang yang memiliki masalah lebih besar memiliki kualitas yang lebih baik? Nah, ini yang menarik: ternyata tidak. Pertimbangan posisi serta pekerjaan yang diberikan akan berpengaruh besar kepada keputusan ini. Orang-orang yang lapang hidupnya juga memiliki kelapangan dalam berkreativitas, negosiasi, dan berinteraksi dengan orang lain; tapi mereka akan ciut di pekerjaan yang penuh tekanan fisik dan mental. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki latar belakang yang sulit, bisa bekerja optimal dalam tekanan besar serta menunjukkan efisiensi tinggi, tapi minim dalam berkreasi.

Penyebab dari dualisme ini adalah pola pikir yang terbentuk dari pengalaman hidupnya. Orang yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, dituntut untuk bisa fokus bekerja dan menentukan prioritas, bukan untuk berkreasi. Saat mereka sepanjang hidupnya biasa memiliki uang yang minim, keluarganya akan mengharuskan mereka untuk bisa prihatin dan menentukan pilihan di tengah tekanan. Saat uang tinggal seribu, mereka tidak bisa berkreasi tentang apa yang bisa dibeli, karena memang harus hanya nasi. Tapi mereka sangat baik untuk memastikan bahwa nasi ini bisa cukup dengan hanya uang sebegini.

Sebaliknya, kandidat yang dari keluarga mampu, bisa memiliki waktu dan energi lebih banyak untuk mengeluarkan kreativitas karena kebutuhan utamanya selalu terpenuhi. Mereka bisa berpikir untuk membeli mainan, buku, serta jalan-jalan di masa kecilnya sehingga di satu atau lain hal bisa membuka batasan mereka atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa didapatkan atau hal-hal yang mungkin dilakukan.

Dari satu pertanyaan sederhana, walaupun tetap berpotensi bias dan salah, kita bisa mengetahui banyak hal tentang karakteristik yang terbentuk dari pandangan seseorang terhadap masalah terbesar yang pernah dihadapi dalam hidupnya. Kita bisa melihat lebih dalam diri seseorang sebagai manusia.

Hidup Mati

Pertanyaan lainnya yang hampir selalu saya tanyakan juga adalah: kalau kamu mati sekarang, apakah kamu bisa mati dengan tenang? Jika iya atau tidak, apa alasannya?Pertanyaan ini kelihatannya tidak cukup sering ditanyakan perusahaan lain, karena terbukti banyak yang ternganga saat pertanyaan ini keluar. Mayoritas orang akan kebingungan lalu menjawab dengan apapun yang ada di kepala. Beberapa memilih untuk tidak menjawab karena tidak tahu. Dan beberapa menjawab dengan sepenuh hati sampai bercucuran air mata. Pernah di satu hari, karena mungkin sedangĀ on fire, saya membuat dua orang kandidat menangis saat wawancara dari pertanyaan ini.

Tentunya pertanyaan ini juga punya poin yang sederhana, sejauh apa kita menilai hidup kita dan di titik mana kita puas terhadapnya? Orang yang cukup memahami dirinya sendiri akan bisa menjawab ini dengan mudah, sesuai dengan nilai, visi, dan ekspektasi yang dia pegang. Hal-hal ini yang kemudian secara rutin dia evaluasi untuk bisa menakar apakah dia tetap ada di jalur yang benar, atau tidak. Sayangnya, orang yang seperti ini jarang.

Kebanyakan orang, saat ditanya soal kematian dan kehidupan, ia tidak mampu menjawab setegas kemampuannya menjawab tentangĀ skill-set, pengalaman kerja, atau ekspektasi remunerasi. Padahal, hidup adalah keseluruhan proses besar yang mencakup itu semua, dan mati menjadi batas akhir segalanya. Jika kita tidak tahu apa yang bisa kita nilai dalam hidup ketika mati, lalu skill dan kompetensi apa artinya?

Kerja itu Transaksional

Sekalipun begitu, setelah proses wawancara ini, saya kembali menilai orang dari kulit terluar dalam proses yang begitu mekanistik. Saya melihat manusia hanya sebagai komponen mesin di suatu sistem kaku yang ujungnya menghasilkan luaran yang seragam yang saya impikan. Penilaian ini begitu penuh objektivikasi karena menilai makhluk hidup hanya dari apa yang bisa ia lakukan (skill-set) dari hal terkait yang pernah ia alami (experience). Saya tidak menilai dia dari keseluruhan kualitas, keresahan, mimpi, keinginan, dan keseluruhan pengalaman diri yang ia punya. Mereka hanya beberapa dari lebih banyak pilihan lain untuk mengisi peranan itu.

Di sisi lain, orang-orang kebanyakan juga melihat perusahaan bukan sebagai satu alat yang cukup krusial dalam membentuk dirinya, mengejar mimpinya, atau mencapai kepuasan hidupnya. Ini hanya jadi satu dari sekian pilihan untuk mendapatkan sumber daya yang cukup agar bisa melanjutkan kehidupan. Di ujung, ini akhirnya hanya menjadi satu proses transaksi materi. Tidak lebih. Kadang kurang.

Inilah yang sedih dan penuh ironi. Saat kita menghabiskan lebih dari separuh waktu kita di lingkungan kerja dan perusahaan menghabiskan lebih dari separuh biayanya untuk pekerja, bukankah sudah seharusnya kita bisa saling bertukar lebih dari sekadar materi?

One thought on “Wawancara Manusia

  1. Kerja adalah transaksional materi belaka…hmhmhm..bisa iya bisa juga nggak tergantung niat dalam diri masing2.. yang afdol di iringi niat bekerja sebagai ibadah dan kewajiban untuk pemenuhan kebutuhan lahir batin pribadi dan org lain.
    Dan sependapat memang sebaiknya yang diperoleh dari kedua belah pihak perusahaan dan pekerja jangan cuma mutual simbiolis hanya perkara materi…tapi ada nilai lain yang bisa membangun jiwa atau spirit bagi kedua…
    tapi jangan lupa leader diperusahaan akan menentukan bukan cuma visi misi dan strategi tapi juga nilai dan budaya dilingkungan perusahaan dan insan cita didalamnya…

Leave a Reply