Startup Sarap

Saya hampir terjengkang dan ingin kayang saat baca berita non-komedi-tapi-menggelikan soal startup di Cina yang namanya Sharing E Umbrella. Mereka salah satu dari sekian banyak startup yang mengambil bagian dari sharing economy, seperti Uber dan Airbnb. Bedanya, yang dibagikan bukan rumah atau mobil, tapi payung. Ya, startup ini membagikan payung. Payung as a services. Payung sharing. Payung.

Dan bukan hanya beritanya saja yang menggelikan, dimana mereka kehilangan 300.000 payungnya karena dipinjam dan tidak kembali lagi, tapi startup, yang MENYEWAKAN PAYUNG ini, bisa mendapatkan pendanaan sekitar USD 1.47 juta, atau hampir 20 milliar rupiah. 20 milliar rupiah! Sekali lagi biar dramatis. 20 milliar rupiah!!

Sarap. Ide startup yang bisnis modelnya tidak lebih kreatif dari ojek payung di terminal bis yang sudah ada puluhan tahun lalu ini bisa-bisanya dapat pendanaan sebanyak itu. Gimana mereka pitch-nya coba? “Pak, hujan pasti akan datang, dan kami startup yang sejalan dengan pribahasa: sewalah payung sebelum hujan.“. Atau pas mereka ada di bagian market size, mereka bilang, “alam kita pasti hujan, dan semua orang pasti kebasahan; kami memberikan solusi untuk semua umat manusia yang bisa basah. Pasar kami tidak terbatas!“. Semua orang juga pakai celana dalam, tapi masa perlu kita bikin underwear as a service? Sarap.

Kaya Modal, Miskin Ide

Inilah alasan kenapa saya sangat sebal saat dunia startup, entrepreneurship di bidang teknologi, menjadi trend. Karena saat jadi trend, maka startup dipenuhi oleh orang-orang yang hanya berusaha menjadi keren, atau para pragmatis yang suka berdandan necis dan bermulut manis. Saat berada di ekosistem startup punya peluang lebih besar untuk jadi sorotan dibanding daftar menjadi aktris sinetron Indosiar atau kontes dangdut TPI, maka di waktu yang sama para konformis yang oportunis akan berbaris mengantre gilirannya di bawah ketenaran dan kekayaan.

Di titik itu, ekosistem startup teknologi kita akan kehilangan jiwanya sebagaimana mestinya. Teknologi yang seharusnya diciptakan untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia, ujung-ujungnya hanya difungsikan sebagai umpan untuk memancing uang atau popularitas. Dan produk yang diciptakan akhirnya bukan menjadi solusi, melainkan hanya jadi kosmetik yang menghias bingkai realitas kita, yang penuh dengan masalah-masalah dasar yang berpotensi untuk membusuk jadi bangkai. Saat dunia startup teknologi diisi oleh orang-orang yang mendewakan tren dan tendensi, maka di saat yang sama kita akan kehilangan semangat perlawanan terhadap status quo dan pembaharuan yang seharusnya dimiliki oleh sebuah ide inovasi.

Tentunya, ini juga dibantu oleh wajah kapitalisme kita yang berpihak pada potensi semu untuk mendapatkan pendapatan instan yang hanya masuk akal jika ditempatkan pada ide yang berkiblat ke kecondongan populis, seberapapun remehnya itu. Jika Uber dan Airbnb bisa menjadi unicorn dalam waktu pesat, mereka akan siap menghamburkan uang dengan tidak masuk akal ke ide-ide sejenis yang teramat dangkal. Kombinasi dari kedua hal ini akhirnya mendorong potret ekosistem kita yang kaya akan modal, tapi miskin atas ide.

Kesenjangan Teknologi

Ironisnya, selaras dengan banyaknya uang dihamburkan untuk ide-ide yang sama sekali tidak signifikan, kita juga banyak melihat perusahaan yang mencoba menyelesaikan permasalahan fundamental di masyarakat kita justru menghadapi kesulitan soal pendanaan. Saya bertemu dengan beberapa startup yang punya tujuan mulia dan model bisnis yang baru, ditolak oleh modal ventura teknologi hanya karena mereka mengincar pasar petani. Kenapa ini jadi masalah, saat petani merepresentasikan pasar yang besar, dengan lebih dari seperempat dari penduduk Indonesia? Jawaban mereka sangat picik; jual ke petani sulit, pertumbuhannya akan lambat, dan petani tidak punya daya beli.

Sudut pandang inilah yang ujungnya juga menimbulkan kesenjangan masyarakat. Saat teknologi yang ada sekarang sudah cukup eksklusif yang akhirnya hanya memberikan nilai pada masyarakat perkotaan, ide-ide baru yang bisa menjembatani ini justru dihajar oleh skeptisisme kita terhadapnya. Saat petani, nelayan, para pekerja kasar, tidak punya cukup uang untuk lebih produktif dengan memiliki komputer, ponsel cerdas, atau akses internet; teknologi yang terupaya untuk tersedia bagi mereka pun ditolak karena alasan yang membuat kita tersedak.

Dari perspektif inilah akhirnya kembali menjadi jurang yang menimbulkan kesenjangan dengan nyata. Masyarakat bawah tetap di bawah, karena teknologi, yang mungkin menjadi salah satu tangga untuk membuat mereka lebih naik strata, juga tidak bisa tersedia. Ide-ide yang bisa membantu mereka juga terkekang oleh keterbatas dukungan dari ekosistem untuk bisa jauh berkembang. Karena itu, para calon “inovator” baru pun tidak melihat ini sebagai peluang. Akhirnya, startup kita dipenuhi ide-ide yang menawarkan privilege dalam bentuk yang lain kepada masyarakat yang mampu membeli. Masyarakat kota kita semakin nyaman dengan tersedianya aplikasi untuk mereka memesan nasi goreng, memanggil taksi, berkomunikasi, mencatat ide, belajar, dan mencari pacar. Sementara petani ikan di desa memberi makan dengan menggunakan tangan, tidak berubah sejak dari tahun 60an (sampai hadirnya eFishery…lah, ngiklan). Teknologi kita berkontribusi dalam memperlebar kesenjangan.

Disrupsi yang Sebenarnya

Hal ini sudah nampak di Amerika, sudah terjadi di Cina dengan cerita Share E Umbrella tadi dan beberapa hal lainnya, dan sudah ada indikasinya di India. Mari kita jaga ekosistem startup teknologi Indonesia agar tidak mengarah kesana. Bagaimana caranya?

Pertama, para (calon) pendiri perusahaan teknologi di Indonesia harus bisa melihat peluang yang benar-benar menyelesaikan isu dasar yang terjadi di masyarakat secara luas. Dan Indonesia tidak pernah kekurangan masalah ini. Sebagai inventor, justru inilah peluang besar yang sebenarnya ada. Kita bisa membangun produk dan teknologi yang menyelesaikan permasalahan di pendidikan, kesehatan, pemerintahan, pertanian, dan banyak sektor lainnya yang tidak produktif dan belum efisien. Produktivitas dan efisiensi yang bisa kita berikan tentunya memiliki nilai tawar yang lebih tinggi dibanding hanya membuat satu aplikasi supaya orang-orang bisa lebih sering selfie.

Lalu, kita juga perlu memiliki persistensi karena lebih tingginya tembok untuk mengadopsi teknologi di pasar-pasar yang memiliki lebih rendah daya beli. Tapi, justru ini keunggulan kompetitif kita ketika bisa melompati hal ini. Keunggulan kompetitif ini juga yang bisa memberikan kekuatan jangka panjang untuk membangun bisnis yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan.

Kedua, sistem pendukung juga perlu lebih terbuka terhadap ide radikal yang menyelesaikan persoalan yang substansial. Para penyedia modal dan pemerintah perlu siap menyediakan lebih banyak sumber daya agar perusahaan-perusahaan ini bisa lebih berjaya. Ide yang menawarkan solusi ini memiliki porsi pasar yang kuat dan spesifik dengan kompetisi yang lebih terbatas, sehingga mampu menyediakan ruang yang lebih leluasa untuk para pendirinya bereksperimen terhadap model bisnis yang kemudian menghasilkan volume transaksi dan potensi pasar yang lebih luas. Dengan kata lain, dalam perspektif yang lebih long-term, tingkat return-nya bisa lebih potensial dibanding bisnis lain yang tingkat kecepatan adopsinya lebih tinggi, tapi atap batas pasarnya lebih rendah.

Dan yang terakhir, media, talenta, serta publik pada umumnya juga perlu memberikan sokongan dengan bergabung dalam menggunakan, menjadi bagian, atau menyebarluaskan produk atau servis yang memiliki nilai tambah bagi kalangan yang lebih membutuhkan. Hanya dengan ini solusi tersebut bisa benar-benar terintegrasi ke dalam masyarakat; saat komponen masyarakat awam juga terlibat.

Dengan termultiplikasinya ide ini yang kita menjadi bagian di dalamnya, maka kualitas solusi, teknologi, serta pendiri dari perusahaan-perusahaan sejenis ini pun mampu naik beberapa tingkat. Hingga di satu titik, kita bisa benar-benar mewujudkan disrupsi yang sebenarnya; yang menyelesaikan masalah manusia dan memajukan kehidupan kita secara merata.

Leave a Reply