Anti-metamorfosa

Karena hari libur, saya juga ingin libur menulis hal yang berat-berat.

Tulisan saya beberapa hari yang lalu ternyata cukup banyak disebar. Di antara orang-orang yang menyebar adalah teman saya yang dulunya sama-sama aktif saling komentar di blog; yang bahkan dulu hanya berinteraksi melalui media ini. Dia bilang kalau ‘rasa’ di tulisan saya masih sama dengan tulisan galau di jaman dulu, yang salah satunya berjudul Pematang Nelangsa. Ini adalah sekuel patah hati dari puisi jatuh cinta sebelumnya, Hujan, Senja, dan Pematang. Walaupun rasanya masih sama, teman saya itu bilang kalau tulisan saya yang sekarang pemikirannya lebih besar dibanding masa kinyis dulu.

Dari komentar dia, saya jadi penasaran untuk membuka tulisan-tulisan yang lama di blog sebelumnya. Dan ternyata, benar, bacanya bikin saya geli sendiri. Yang lebih menggelikan dari itu, saya jadi ingat kalau dulu punya blog yang paling pertama dibuat waktu pertama masuk kuliah. Nama blognya: sigibranyangkeren.blogspot.co.id. Si. Gibran. Yang. Keren. Mengingat kalau saya pernah membuat nama blog sedemikian ajaib bikin saya migrain sebelah kanan. Saat baca isinya, jadi tambah migrain sebelah kiri, belakang, dan depan.

Kesimpulan dari itu tentunya jelas, saya berkembang ke arah yang lebih baik. 10 tahun dari tulisan blog pertama, saya bisa sedikit berbangga kalau setidaknya sekarang tulisan saya tidak menggunakan ‘gw’ sebagai kata ganti pertama, dan akhirnya saya tahu gimana caranya memotong alinea. Itu membuat hati saya riang dengan mengetahui betapa berbedanya saya yang dulu dan sekarang.

Iri Dengan Diri

Akan tetapi, di sisi lain, tulisan-tulisan lama saya juga sedikit banyak merekam citra, karakter, dan jiwa saya di masa itu. Yang terkadang bikin saya iri. Di tulisan Serobot Gedekmisalnya. Saya bisa tetap menuangkan satu kisah menyenangkan dari pengalaman yang sangat kecil yang dijalani di hari itu. Jika diri saya yang sekarang menjalani momen yang sama, mungkin rasanya hambar. Dan saya jadi iri tentang betapa sulitnya kini saya bisa seketika bergembira oleh hal-hal yang sederhana. Saya pun jadi sebal betapa mudahnya sekarang saya menganggap mayoritas hal sebagai sesuatu yang banal.

Atau, rasa yang tersaji di beberapa puisi, seperti Kau, Alamiah. Kalau melihat saya yang sekarang, saya jadi bingung kok bisa-bisanya dulu bikin puisi yang singkat tapi bermakna macam ini. Sekarang, saya jadi iri karena tidak sempat memberi ruang cukup pada emosi hati untuk menuangkannya dalam kata-kata. Kelihatannya, saya sudah sangat jarang mengungkapkan rasa, bahkan ke orang-orang yang terdekat dan bertatap setiap harinya. Saya jadi kesal betapa kini saya menganggap rasa sebagai sesuatu yang elusif dan eksklusif.

Inversi Metamorfosis

Karena gamang di dua respon diri saya terhadap masa lalu, saya jadi mendapatkan satu kesimpulan; manusia ini makhluk yang perubahannya tidak bisa secara penuh dipilah. Kita tidak sama dengan hewan maupun tumbuhan yang proses evolusinya hanya mempertahankan hal-hal yang terbaik agar mereka bisa bertahan. Dalam dimensi waktu yang berjalan linear, kita melangkah menempuh alurnya, memungut mozaik baru yang melengkapi diri kita, tapi juga menanggalkan kepingan lain yang menghilangkannya. Bisa jadi, di satu titik, kita berubah menjadi satu bentuk yang sepenuhnya baru, tetapi tidak sepenuhnya baik.

Yang jadi pertanyaan adalah, mana yang lebih banyak? Apakah kita lebih banyak berubah menjadi baik dibanding yang buruk? Dan jika iya, apakah kebaikan yang ada di diri kita sekarang memang setanding dengan kebaikan yang hilang dan hanya ada di diri kita yang dulu? Pertanyaan ini yang sangat sulit dijawab. Karena, tidak seperti serangga yang perubahannya meninggalkan sisa dengan wujud yang kontras, perubahan dalam diri manusia tidak meninggalkan jejak yang begitu jelas.

Ketidakjelasan sejarah perubahan diri ini yang agak mengkhawatirkan. Bagaimana jika di akhir hayat kita baru sadar bahwa perubahan kita sepanjang hidup justru mengakumulasi semua kesalahan yang akhirnya mencelakakan? Padahal, di saat itu, tidak ada lagi waktu yang tersedia untuk bisa mengganti diri kita. Dan tentunya, mustahil bagi manusia untuk bertumbuh mundur ke awal fasa; ber-anti-metamorfosa.

Leave a Reply