Tidak Lagi Rela Berkorban

Beberapa pekan lalu, saya diskusi dengan managing partner salah satu venture capital. Saat saya cerita soal visi besar bisnis saya, dia merespon: “Are you willing to give what it really takes to achieve that?“. Saya jawab sederhana: ya, saya siap lakukan apapun. Lalu, dia merespon balik, “Serius? Apapun? Even if I want to bring people to Mars, I’m not ready to work like Elon Musk. I don’t want to spend my life the way he does“.

Mirip dengan cerita itu dalam konteks yang lebih metafisik, beberapa hari setelahnya saya ngobrol santai dengan ayah mertua. Dia cerita kalau rekan bisnisnya tajir banget 24 turunan. Mertua saya ini punya satu teori kalau apa yang kita dapatkan, setara dengan apa yang kita korbankan. Hanya saja, berbeda dengan orang pada umumnya yang mengartikan ini secara kasat mata saja, dia berpendapat kalau pengorbanan ini bisa dalam proses yang tidak berkaitan secara langsung. Di contoh rekan bisnisnya tadi, orang ini di satu waktu dalam hidup kehilangan anak lelaki kesayangannya. Bayanginnya aja saya merasa perih dari ubun-ubun sampai jempol kaki. Nah, menurut ayah mertua, musibah itu adalah satu harga yang harus dibayar yang setara dengan nilai kelebihan yang ia terima.

Setuju atau nggak dengan itu, saya serahkan ke pendapat masing-masing. Tapi komentar setelahnya yang justru menarik: “Kalau saya mah dikasih harta sebanyak apa, nggak akan mau kalau harus ngerasain perih kehilangan anak sendiri“.

Menyambungkan dua cerita ini bikin saya berpikir dalam. Kebanyakan dari kita punya cita-cita. Dan kadang kita merasa bahwa hal itu yang akan menjadi karya (atau amalan) terbesar kita di dunia. Kalau kita mengejar sesuatu yang besar dalam hidup, yang menurut kita sebegitu berarti, sejauh apakah kita siap berkorban?

Pengorbanan Bersesal

Founder Alibaba yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia sempat mengeluarkan pernyataan yang bikin kaget saat ditanya apa kesalahan terbesar dia:

My biggest mistake was I made Alibaba. I never thought that this thing would change my life. I was just trying to do a small business and grow that big, take that much responsibility and got so much trouble. Everyday is like as busy as a president, and I don’t have any power! And then I don’t have my life

Ini juga selaras dengan jawabannya saat ditanya apa penyesalannya; “…I regret that I work so hard and spend so little time with my family. And if I have another life, I would never do things like this.

Tentunya sulit untuk berempati dengan Jack Ma saat nilai kekayaannya bisa bikin rumah tiga lantai dari emas yang dibalur whip cream hanya supaya dia bisa salto di depan pintunya; saking kayanya. Tapi, justru poin itu yang menarik. Dengan harta sebanyak itu dan pencapaian signifikan dalam membangun bisnis dari nol sampai bernilai hampir lima ribu triliun rupiah, serta dampak yang dihasilkan ke ratusan juta orang di dunia, dia malah menyesal karena ia mendapatkannya dengan mengorbankan hidup dan waktunya bersama keluarga. Pengorbanan itu begitu tidak layak hingga dia tidak akan rela untuk melakukan ini di kehidupan yang lain, jika memang mungkin.

Sadar atau tidak, setiap dari kita melakukan pengorbanan dalam wujud tindakan yang merupakan suatu pilihan. Pengorbanan ini memang bisa menyisakan sesal, karena terjadi dalam bentuk yang tidak bisa sepenuhnya kita inspeksi, hingga kemudian mencapai batas dimana akibatnya tidak bisa kita putar kembali. Kenapa? Karena waktu, yang merupakan sumber daya yang terbatas, kita jalani dalam arus satu arah. Setiap detiknya, kita tidak bisa memiliki dimensi fisik lebih dari satu; yang ujungnya memaksa kita untuk memberikan alokasi diri kepada hal-hal yang saat itu kita pilih. Tindakan yang kita seleksi ini, secara langsung berarti memutuskan kita untuk tidak melakukan, berada, atau menjadi hal yang lain di luar itu. Saat saya memilih untuk di depan laptop sekarang, saat yang sama juga saya memilih untuk tidak mengecup kening anak saya, tidak membeli eskrim Aice di warung, tidak menjadi presiden Amerika, dan tidak kayang di tengah jalan Dago.

Hal ini terasa begitu sepele karena mengalir dalam proses alamiah kita sebagai manusia. Saat ada seorang suami mengejar karir demi memenuhi mimpi, dia melakukannya tanpa menyadari bahwa malam-malam yang terlewat untuk lembur itu juga malam-malam yang sama dimana anaknya bertumbuh dari balita menuju dewasa. Pengorbanan intrinsik ini tidak akan terasa, sampai satu titik ia menoleh ke belakang lalu menyaksikan bahwa ia telah kehilangan apa-apa yang seharusnya bisa ia dapatkan. Di sana lah, pengorbanan mendatangkan sesal.

Berkorban Tanpa Terlambat

Kepicikan, dan terkadang kebutaan, kita dalam menakar satu hal secara berlebihan hingga mengalihkan kita untuk memandang sesuatu dengan sebagaimana mestinya merupakan akar dari masalah ini.

Akhir tahun 2015, saat eFishery baru dapat pendanaan, saya ada di euforia bahwa tidak ada hal yang lebih penting melebihi ini di dunia. Akhirnya saya punya kendaraan untuk mencapai mimpi saya; dan yang lebih penting, saya punya kesempatan untuk memiliki kendaraan ini. Sebegitu euforianya hingga merasa kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kali.

Hampir bersamaan dengan itu, ayah saya sakit dan harus bolak-balik dirawat di rumah sakit. Diagnosa dari dokter berganti mulai dari jantung, paru-paru, syaraf, hingga sekadar sakit tulang kaki yang, entah kenapa, menuntun saya untuk memandang remeh saking tidak jelasnya. Di satu waktu, ayah saya secara khusus meminta saya untuk datang ke rumah sakit untuk saling bercerita. Sompretnya, saya merasa terlalu sibuk ngurus ini dan itu di kantor, jadi nggak bisa. Sampai di satu waktu, saya harus pergi ke Amerika untuk suatu program dan pamit, tapi ayah saya sedang hilang kesadaran. Saya tidak sempet bersua dengan beliau.

Satu pekan di Amerika, saya diminta dokter untuk pulang. Perasaan hati sudah tidak terkendali. Saya terpaksa berhenti di tengah program yang harusnya masih ada satu minggu lagi. Sampai di rumah sakit di Jakarta, dokter mendiagonis kalau ternyata sakit ayah saya sejak kemarin adalah kanker, dan sekarang sudah stadium akhir. Dokter bilang, usianya tidak akan lama lagi. Sialnya, prediksinya tepat. Tiga hari kemudian, ayah saya meninggal dunia.

Pedih, hancur, lebur, itu pasti. Tapi, tidak ada yang mengalahkan satu rasa yang mendominasi: sesal. Saya begitu menyesal karena saya tidak sempat memenuhi permintaan ayah saya untuk bertemu di akhir waktunya. Saya begitu menyesal karena sosok yang mengorbankan sepanjang hidupnya untuk pendidikan saya, yang hal itu bisa menjadikan saya seperti sekarang, tidak bisa terbalas dengan sedikit saja anak sulungnya berkorban waktu untuk sekadar hadir di masanya yang terakhir. Saya begitu menyesal karena hal ini sudah terlanjur lewat; dan semua sudah terlambat.

Saya terlambat untuk sadar, bahwa saya mengorbankan momen yang teramat penting untuk hal-hal lain yang sama sekali tidak sebanding. Saat merefleksi ulang, keputusan untuk mengurusi bisnis di saat-saat kritis, adalah hal yang luar biasa bodoh. Jika toh saya harus ada di sana berbulan-bulan, saya tetap bisa kerja. Sekalipun saya tidak bisa, ada tim lain di perusahaan yang tetap bisa menyelesaikan pekerjaan. Sekalipun bisnisnya yang selesai, saya bisa membuat bisnis baru sebagai kelanjutan. Semua kekacauan di aspek ini, masih bisa diperbaiki. Tapi, saat waktu bersama ayah saya sudah tidak lagi ada, dari mana saya bisa cari gantinya?

Kepicikan, dan terkadang kebutaan, kita dalam menakar makna dari dua pilihan, berujung pada sesal karena kita terlambat sadar; telah mengorbankan hal yang terlalu berarti untuk tidak lagi kita miliki.

Tidak Lagi Rela Berkorban

Sejak saat itu, saya mengubah banyak pandangan tentang hidup. Saya jadi sadar bahwa kita sebagai manusia begitu lemah terbawa arus waktu dan bias terhadap apa yang paling bermakna bagi diri kita. Dan dari kelemahan itu kita terlena perlahan-lahan telah mengorbankan hal paling berharga yang pernah kita punya.

Sekarang, jika ada siapapun yang menanyakan saya tentang sejauh apa saya siap berusaha untuk mencapai mimpi besar saya dalam hidup, saya tetap akan menjawab sederhana: saya siap melakukan apapun agar itu bisa terwujud. Tapi, untungnya, saya sempat diberi pencerahan untuk bisa memilih dengan pasti hal-hal apa yang nantinya tidak akan lagi rela untuk saya korbankan.

One thought on “Tidak Lagi Rela Berkorban

  1. Menarik Mas. Saya mungkin skrg pada titik yg nggak lagi “I’m running my business” tapi jadi “The business is running me”. Ketita turn over berlipat dari angka milyaran ke angka deket mendekat orde Triliun. Bisnis ini serasa jadi candu yg hampir menghancurkan keluarga saya, terutama karena waktu menjadi mahal harganya.

    In the end, nggak sepadan kalau sampai mengorbankan kenikmatan untuk ngobrol ringan dengan keluarga cuma demi mengejar kapital yg nggak ada habisnya.

Leave a Reply