Siapa Suruh Anda Miskin

Saya lahir hanya beberapa meter dari rumah kumuh bantaran kali dan pasar becek. Sedekat itu saya dengan kemiskinan. Teman SD saya tinggal di gubuk pinggir kali. Teman main rumah saya anak tukang pulung. Mengingat itu, tentunya congkak sekali rasanya kalau saya tidak menganggap diri saya sebagai orang yang beruntung.

Bisa dibilang, mungkin mayoritas dari 20 tahun awal hidup saya juga hanya sejengkal di atas garis kemiskinan. Berkat perjuangan kedua orang tua saya dalam menyediakan pendidikan dan atas izin Allah, saya bisa menembus strata sosial beberapa tingkat. Biarpun demikian, saya berupaya tetap terkoneksi, dari satu cara maupun lainnya, dengan isu kemiskinan. Mungkin saja soal idealisme. Atau mungkin soal egoisme, karena kemiskinan banyak membentuk ego: kesayaan. Sedekat itu saya dengan kemiskinan.

Makanya, saya sebal sekali kalau ada kawula kelas menengah ngehek komentar di Facebook dengan menyindir si miskin, bahwa mereka miskin karena nggak berusaha dan/atau karena bodoh. Kutukupret. Kemiskinan yang mereka tahu mungkin cuma dari artikel Hipwee yang berjudul “Jack Ma: ‘Kalau Masih Miskin Sampai Umur 35, Itu Salahmu Sendiri!’“. Atau dari jendela kaca Uber ber-AC saat mereka melintasi pengemis di lampu merah.

Bagi para kaum metropolis ini, kemiskinan seperti polusi yang mengganggu mata dan perlu dialienasi; sebagaimana mereka bangga menggusur rumah bantaran kali supaya bisa dipakai selfie atau lari pagi.

Bagi mereka yang tontonannya The Golden Way Mario Teguh atau kitab pedomannya adalah motivator coach yang covernya selalu berjas, dengan senyum terlalu lebar, dan gaya jempol, kemiskinan ini seperti 1+1=2. Asal ada keinginan, ada perjuangan, maka Anda bisa kaya. Anda PASTI kaya. PERCAYALAH!

Miskin Karena Miskin

Semakin kesini, saya banyak berinteraksi dengan orang-orang kaya; yang bahkan dari keluarga terkaya di Indonesia. Dari interaksi itu, saya makin sadar bahwa kesenjangan itu nyata. Dan kesenjangan inilah yang membawa kesenjangan yang lain, yang hingga sekarang ada di titik di mana 4 orang terkaya di Indonesia memiliki harta lebih banyak dari 100 juta masyarakat termiskinnya.

Saya ketemu dengan anak konglomerat yang sejak kecil udah jadi anak konglomerat. Dari kecil, dia bisa dapet pendidikan dimana aksesnya terhadap buku dan ilmu semudah ngupil yang udah nyangkut di tepi lubang hidung. Nutrisi makanannya top notch. Kuliah di Ivy League tanpa perlu pusing biaya. Bapaknya donatur di sana. Temenannya sama anak-anak konglomerat dari negara lain yang liburannya naik jet pribadi keliling kastil di Eropa. Saat lulus, dia bisa kerja langsung di top level perusahaan keluarganya yang multi-national. Mau bikin bisnis, koneksi temen-temennya di kampus atau temen bapaknya udah bisa dapet funding jutaan dollar sambil merem. Sampai sekarang, dia tetap kaya. Jadi, apakah orang ini bisa kaya karena perjuangan tanpa lelahnya dalam hidup?

Bandingin sama temen SD saya yang nggak sengaja ketemu beberapa tahun lalu di terminal bis Pulogadung. Keluarganya miskin, rumah pinggir kali. Dulu sering banget cerita makan cuma garam dan nasi. Anaknya pinter, masuk ke sekolah favorit di SMP. Sayangnya, rumahnya kebakaran, menghabisi semua harta yang keluarganya punya. Dia nggak bisa sekolah lagi. Di usia SMP, dia jadi tukang pulung. Lalu, naik pangkat jadi tukang semir sepatu. Terus, naik lagi jadi pedagang asongan. Saat ketemu, dia jadi kenek metro mini. Seumur-umur saya hidup, dia salah satu wanita (ya, doi cewek) paling pinter yang pernah saya kenal. Sampai sekarang tetap miskin. Jadi, apakah dia miskin karena nggak berusaha dan bodoh?

Ya, dua kasus di atas memang anekdotal dan siapapun bisa kasih cerita lain yang bertentangan. Tapi, mari objektif: kemiskinan ini kompleks. Dan penyimpulan kita bahwa kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan dan kebodohan adalah bentuk nyata dari kemalasan kita untuk berpikir atau kebodohan kita dalam melihat realita. Orang miskin yang memiliki keterbatas akses terhadap pendidikan, gizi, relasi, serta sumber daya, tentunya tidak semudah itu bisa mengubah nasibnya untuk lebih pintar dan berdaya, seberapapun payah ia berupaya.

Kemiskinan bukan hanya pola yang salah tentang mengelola uang. Dalam mayoritas kasus, mereka bahkan tidak punya cukup uang untuk dikelola. Kemiskinan jelas-jelas tidak sesederhana kemalasan untuk berikhtiar. Dalam banyak hal, mereka lebih keras bekerja dibanding mayoritas kita. Hambatannya bukan hanya hal-hal material, tapi semua kesulitan material ini mengendap menjadi hambatan immaterial dalam diri mereka yang menyaksikan bahwa hidup menentang mereka untuk bisa maju; bahwa peruntungan memaksa mereka untuk tetap jadi miskin.

Kemiskinan adalah akumulasi dari kemiskinan sebelumnya, yang terakumulasi dari kemiskinan lainnya. Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan kesenjangan keempat tertinggi di dunia, kemiskinan semakin diperparah karena sulitnya mobilitas vertikal. Saat pendidikan yang berkualitas mahal dan yang miskin hanya kebagian sekolah bobrok dengan dana BOS yang dikorupsi; saat makanan bergizi mahal dan yang miskin hanya kebagian raskin yang sudah tengik, saat lapangan pekerjaan layak sulit dan yang miskin hanya bisa mengais nafkah dari kerja kasar, bagaimana bisa si miskin naik strata? Kemiskinan adalah hasil dari struktur yang berpihak pada kesenjangan.

Kamu sih, Miskin

Kemiskinan memang kompleks. Sekompleks keresahan tulisan ini yang tidak bisa terwujud nyata dalam dampak apapun yang signifikan di keseharian penulisnya. Mungkin saja, di satu titik nanti di masa depan, hidup saya tidak lagi dekat dengan kemiskinan. Mungkin saja, suatu saat nanti, anak saya bisa dengan mudahnya sekolah di Ivy League lalu liburan keliling kastil di Eropa. Mungkin saja, takdir mempercayakan saya untuk memiliki banyak harta. Tapi, saya berdoa supaya ketika memang titik itu sampai waktunya, saya bisa tetap punya ego yang cukup naif untuk meruntuhkan struktur yang membuat siklus kemiskinan ini ada. Atau, setidaknya saya bisa tetap diberi kekuatan untuk menggetok sekeras-kerasnya kutukupret yang menyalahkan si miskin yang tetap jadi miskin.

23 thoughts on “Siapa Suruh Anda Miskin

  1. Dan saya masih percaya bahwa orang yang betul-betul pintar adalah orang-orang yang sanggup menemukan solusi atas masalah kompleks ini. Tapi, apakah solusinya benar-benar ada?

    • Kalau berkaca ke sejarah, sebenernya ada beberapa titik di sejarah dimana kesenjangan ini sedikit sekali karena struktur yang adil. Jadi, solusinya ada; tapi sangat kompleks dan tidak instan.

  2. Mas gib, saya mungkin terlahir di keluarga menengah, tapi, serius mas, selama kuliah saya banyak main sama temen2 di jalan, di perkampungan pinggir rel, kadang2 mikir, kapaan saya bisa selesai bantu diri saya, biar bisa bantu nasib mereka lebih optimal, over all saya setuju, sih barrier buat vertical mobility itu nyata…. Hope to talk with you in real world sih mas, jarang yang bisa saya ajak diskusi sehat soal ini 🙂

    • Thanks mas. Senang rasanya denger banyak orang yang menyengaja terkoneksi dengan kemiskinan. Empati itu yang kelak jadi pendorong perubahan lebih jauh mas. Semoga bisa makin nyata cita-citanya ya mas, dan kita kapan-kapan bisa kongkow bareng.

  3. “Kemiskinan adalah hasil dari struktur yang berpihak pada kesenjangan”. Struktur, jejaring, atau sistem perekonomian kah maksudnya?

  4. Mau urun rembug bro, sudah setahunan ini saya mengikuti sebuah gerakan keagamaan dan forum ilmu di fase akar rumput yg sering kali bersingunggan dgn lapisan masyarakat yg dimaksud. Dalam hemat saya, biarkan lah solusi tingkat struktural dan sistematis menjadi tanggung jawab utk org yg memang mempunyai kapabilitas di sana. Saya melihat bahwa yg terpenting sekarang adalah membantu membesarkan hati mereka dan melihat secara nyata ttg apa dan bagaimana yg di sebut sebagai orang miskin itu tadi seperti yg skrg anda lakukan ini sbnrnya. Saya banyak sekali menemukan org yg dituduh miskin oleh masyarakat tp mempunyai ilmu dan kualitas kehidupan yg lebih dr rata rata orang.

  5. Pingback: Siapa Suruh Anda Miskin | Ziliun

  6. Bagus Gib! Apa kabar lo?
    Kadang kalau dibilang ada faktor “kesempatan” yang membuat orang nggak bisa maju atau menjadi sukses gue setuju sih… Kayak dari SD negeri tempat gue sekolah dulu, ada beberapa yang pinter-pinter meski dari keluarga kurang mampu, tapi karena berbagai alasan lain, jadinya terpaksa nggak bisa melanjutkan SMP atau SMA atau bahkan kuliah.. 🙁
    Jadi, ya gitu deh..

  7. Ya intinya IMO sih gak selamanya yang miskin itu pemalas, bodoh, dsb atau yang kaya itu pekerja keras, cerdas, pantang menyerah, dsb. Memang orang yang miskin tapi males dan orang kaya karena pekerja keras itu ada, tapi gak semuanya. Miskin itu juga ada kareno faktor “luck”, begitu juga dengan yang kaya. Ada orang yang kerjanya super keras tapi tetep aja jadi miskin, tapi ada juga yang kaya gara2 ibaratnya menang lotre/undian gitu.. kan bisa juga yaa haha. Intinya kita gak perlu membuat stereotip2 atau menggeneralisasi semacem gitu dan yang terpenting bersyukur aja dengan apa yang kita punya.. hehehe. Btw nice artikel broo

  8. Ada yang menyampaikan faktor kemiskinan karena kultural seperti lemahnya etos kerja,atau pribadi yang biasa manja..namun yg tdk bisa d pungkiri adalah adanya kemiskinan struktural,miskin yang d bentuk oleh sistem yang mmg cacat bawaan..kapitalis mmg berpihak hanya utk mereka yang memiliki modal kuat namun menghisap bak drakula terhadap mereka yg modalnya terbatas..

    • Adikku jg pernah bilang begini, tp untuk kasus dunia. Indonesia dan negara2 dunia ketiga ngga akan bisa jd negara kaya, karena sudah tersistem oleh negara2 adidaya jadi konsumennya.

  9. Halo Gibran, tulisannya keren. Salam kenal juga.

    Jadi inget di buku Outlier-nya Malcolm Gladwell bahwa kesuksesan bukan cuma karena usaha sendiri, tapi karena ada faktor bantuan dari orang lain yang kadang-kadang orang ga sadar. Dan bantuan itu lah yg sering disebut luck atau kesempatan.

    Nah kesempatan ini yg lebih sering di dapatkan sama orang yg lebih berada dibanding sama orang yg (maaf) relatif lebih miskin. In this case temennya Gibran.

    Knowing this, saya pikir ini adalah tugas kita yg relatif lebih berada untuk giving chance ke orang yg kurang berada. Apalagi startupnya Gibran mengarah ke sana. So props to your cause juga, semoga bisa giving chance ke banyak orang 🙂

  10. Pas baca pertama kali kok belum mudeng. mungkin liatnya dari hp kecil. pas dibaca lewat laptop baru dapat benang merah

    sedikit menjawab pertanyaan. kenapa orang miskin selalu ada ? yah kemiskinan selanjutnya. knp tidak keluar ? krn semua nya mahal. lalu bagaimana solusi nya ? bisa banyak. jika problem sudah terlihat maka solusi bisa dijalankan.

    artikelnya bagus

  11. kalau kata EmHa AN adanya korelasi yang terbangun dengan kesengajaan …kemiskinan struktural yang disengaja sadar atau tidak akhirnya….menciptakan kemiskinan lagi…

    andai aja negara komit dengan program pembangunan terutama pendidikan dan penciptaan kesempatan sekolah yang berkualitas lebih besar… barangkali kemiskinan akan mentas juga pada akhirnya…

Leave a Reply