Hoax Cacing Cawu

‚ÄčKasian jadi Mark Zuckerberg. Saya baca beberapa artikel di Techcrunch dan BuzzFeed soal tuntutan orang ke Facebook supaya bisa bikin algoritma mencegah penyebaran berita hoax, dan akhirnya jadi kambing hitam atas terpilihnya Trump. Lah? Yang bikin, baca, nyebar, dan terpengaruh, adalah orang-orang yang ngasal, kenapa FB yang salah?

Kalo saya jadi Mark, pasti udah menggerutu, “maneh nu nyieun jeung nyebar hoax, naha aing nu disalahkeun, kehed?!“. Untung si Mark nggak ngomong gitu, karena nggak bisa bahasa Sunda. Kalaupun bisa, mungkin dia pakai umpatan yang lebih halus dibanding ‘kehed‘. Mungkin seperti ‘cacing cawu‘.

Sebenernya nggak perlu algoritma buatan Facebook, cukup pakai algoritma tingkat tinggi yang sejak dulu ada, yaitu otak. Atau bahasa sundanya, uteuk. Nah, saat baca berita, coba diserap pakai otak, dan difungsikan sebagaimana mestinya: sebagai alat pencari kebenaran. Jangan kalah dengan jempol yang jelas-jelas ukurannya lebih kecil, dan biasanya dikendalikan nafsu buta membela kepentingan politik dan golongan.

Nggak butuh deh kita AI segala. Pakai aja otak, dan pastiin beneran dipakai, biar nggak cuma jadi pengisi rongga kepala. Karena kalau nggak dipakai, ini hanya akan jadi otak-otakan, bukan otak beneran. Atau bahasa sundanya, uteuk-uteukan. Tahukah Anda apa yang suka uteuk-uteukan? Ya: cacing cawu.

Leave a Reply