Jurang Kekosongan yang Nyaring Bunyinya

“Ignorance more frequently begets confidence than does knowledge” – Charles Darwin

Disamping untuk pamer dan pencitraan, saya sudah jarang scrolling media sosial seperti Facebook dan Twitter (paling-paling hanya Quora). Selain karena sok sibuk dan mencoba lebih produktif, media sosial kini sangat bising. Bisingnya terkadang bikin sebal sampai ke ubun-ubun. Dari urusan politik, agama, bisnis, bahkan urusan pribadi, ada saja orang-orang yang tidak kompeten yang mengutarakan pendapat sesukanya tanpa ada pemahaman yang cukup dan proses logika yang tertata. Bising karena isinya memang tong-tong yang kosong yang beradu nyaring.

Walaupun menyebalkan, hal begini memang fenomena psikologis yang lumrah, disebutnya Dunning-Kruger effect. Ini adalah postulat yang dikeluarkan oleh David Dunning dan Justin Kruger di thaun 1999, yang menyatakan bahwa orang yang tidak kompeten dan pengetahuannya terbatas memiliki bias kognitif serta mengidap superioritas yang ilusif; mereka seringkali menakar kemampuannya melebihi kenyataan. Lebih jelasnya lagi diperlihatkan di grafik ini:

Screen-Shot-2015-02-14-at-6.08.11-PM.png

Grafik ini menunjukkan bahwa orang yang mempunyai pemahaman yang sedikit, cenderung memiliki kepercayaan diri yang berlebihan. Mereka merasa paling tahu dan pintar tentang bidang yang baru sangat sedikit mereka ketahui; dan secara tidak sadar mengabaikan ketidaktahuan mereka.

Di era informasi seperti sekarang, ilusi superioritas ini semakin mudah menjangkiti banyak orang. Karena sudah beberapa kali menonton Mata Najwa dan headline news di Metro TV, tiba-tiba merasa menjadi pakar politik. Karena sesekali baca artikel di linimasa atau baca Wikipedia, tiba-tiba merasa paling paham ilmu sosial. Karena sering datang pengajian sepekan sekali dalam beberapa bulan terakhir, tiba-tiba mengira sudah paling sholeh sedunia, atau setidaknya sudah selevel ulama.

Ilusi superioritas ini semakin diperparah dengan mentalitas yang bully dan intimidatif. Karena merasa paling, orang-orang seperti ini siap untuk menyerang siapapun yang berbeda pendapat. Semuanya pasti salah, karena mereka merasa paling benar dan paling pintar. Dan media sosial menjadi arena yang tepat, karena argumentasi bisa dilakukan tanpa nyali dan tanggung jawab; bisa sambil browsing di Google dulu kalau ada yang kurang paham, dan setidaknya bisa bersembunyi dibalik layar 5 inci.

Kenapa masalah ini semakin banyak dan menular? Karena, sebagaimana grafik di atas, orang-orang seperti ini, saat baru tahu sedikit, berhenti untuk mencari tahu lebih. Mereka tersangkut di satu titik puncak kepercayaan diri berlebih, sekaligus titik pemahaman yang minim. Akhirnya, terjerambab lah dalam jurang yang disebut jurang kekosongan yang nyaring bunyinya. Jelek banget ya namanya. Biarin aja. Jurang ini isinya tong-tong kosong yang saling beradu. Berisik dan menyebalkan.

Jadi, saya mohon, jika rekan Anda terjebak di jurang ini, segera selamatkan. Caranya mudah, semudah membaca grafik di atas: terus tambah pemahaman. Sedikit saja pemahaman bertambah, maka terbuka pula mata kita dari kebodohan kita sendiri. Itulah alasan kepercayaan diri akan menurun drastis. Semakin kita sadar betapa kita bodoh, semakin kita tidak percaya diri -dan berhati-hati, dalam berpendapat. Dan ini titik awal yang paling penting, karena kesadaran akan kebodohan dan ketidakpercayaan diri kita akan memicu pembelajaran lebih dalam, yang kemudian menaikkan kita ke level selanjutnya; dimana kita percaya diri karena benar-benar mengerti. Ini lah yang disebut bijaksana.

Dalam dunia nyata, kasus yang memperlihatkan kebenaran Dunning-Kruger effect ini bisa kita perhatikan dimanapun. Bagaimana mahasiswa tingkat satu merasa pintar dan belagu, sedangkan si professor sangat rendah hati. Bagaimana ulama sangat sejuk dan bijak, sedangkan orang baru tobat sangat agresif dan judgemental. Dan banyak contoh lainnya. Mari, belajar menjadi bijaksana, setidaknya dengan terlebih dahulu tahu bahwa kita belum banyak tahu; dan dengan terlebih dulu sadar bahwa kita perlu banyak belajar.

Leave a Reply