Dysrhythmia

Saya berada pada kondisi dimana dimensi ruang dan waktu terdistorsi. Ketika eksistensi yang kita pilih untuk dirasa adalah dilusi. Mungkin karena saya terbiasa oleh satu keadaan -yang jika hal itu berubah drastis ke sudut ekstrem, setiap inci tubuh kita akan berupaya menolak; lalu kita kehilangan kemampuan untuk mengindera mana nyata dan mana maya. Seperti jet lag; saat terbiasa oleh ritmik circadian di satu zona waktu, tubuh kita akan kesulitan membedakan mana siang dan mana malam.

Saya masih belum bisa mencerna fakta bahwa ia telah tiada. Saya masih merasa bahwa di ujung jaringan ponsel ini, jika saya hubungi nomor dia sekarang juga, suaranya masih akan menjawab dengan salam. Dan jika saya pulang ke rumah, akan hadir dia menyambut di depan pintu. Bahwa di ruang depan ‘kan terduduk dia disana. Bahwa di kamar sebelah terlelap lah dia di dalamnya. Dan di akhir hari, akan ada obrolan ringan ayah-anak, yang terlihat dingin tapi terasa hangat. Inilah yang nyata, meskipun bukan yang fakta.

Karena fakta hanyalah pil legam yang terlalu pahit untuk sekedar terbesit. Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa sosok yang mengajarkan saya arti kekuatan, bisa terkulai lemah tak berdaya? Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa orang yang memperlihatkan makna perjuangan, harus kalah di pertarungan terakhirnya? Bagaimana saya bisa menerima fakta bahwa dia yang selalu ada, kini tetiba tiada? Fakta hanyalah pil legam yang terlalu getir untuk sekadar terdesir.

Dan tidak seperti jet lag yang jika sering-sering memaparkan diri ke sinar matahari semua akan reda -karena kita telah terbiasa dengan fakta zona waktu yang baru; terpapar realita sama sekali tidak membantu dalam hal ini. Tidak ada potongan fakta yang mampu memaksa saya untuk menelannya sebagai hal nyata yang harus dipercaya. Tidak ketika saya menyaksikan monitor jantung yang menunjukkan berhentinya detak. Tidak juga ketika saya melihat wajahnya yang memucat pasi. Tidak juga ketika saya menyentuh tubuhnya yang dingin dan kaku. Tidak juga ketika saya harus menyiram air membasuh seluruh badannya. Tidak juga ketika saya membungkusnya dengan kain kafan. Tidak juga ketika saya berdiri di shaf terdepan dengan dia tersimpan dalam keranda. Tidak juga ketika saya menempatkan jasadnya di dalam liang. Tidak juga ketika saya memandang tanah yang menutupnya hingga menjadi gundukan.

Tidak juga ‘kan waktu.