Less for More

Di bulan Ramadhan kemarin saya sempat one-on-one mentoring dengan salah satu pemilik saham mayoritas grup perusahaan di sektor agri yang sudah publik. Karena level bisnisnya sudah jauh berbeda, selain network, sebenarnya nggak banyak yang bisa diimplementasikan. Apa yang beliau disampaikan seringnnya terlalu umum, kadang juga sangat korporat. Tapi, justru ada kejadian menarik yang nggak berkaitan sama sesi ini.

Waktu mentoring selesai, saya meletakkan HP BB Armstrong buluk saya di atas meja. Bentuknya memang suram, sesuram jomblo mendalami kisah asmaranya. Ini pun hasil warisan dari istri sendiri, karena HP sebelum ini HP jadul hasil minta ke suhu Al. Melihat HP saya, si Bapak senyum dan mengeluarkan HP yang sama, BB Armstrong, tapi casing luar lebih terawat.

“Sama dong HP kita”, kata dia.
“Kok tumben anak muda startup macam kamu nggak pakai HP necis?”, tambahnya.

Emang anak gaul perkotaan HPnya keren sih. Mungkin, di pikiran dia, HP saya begini karena memilih jalan sederhana dan anti-kemapanan. Padahal cuma karena kere. Tapi, dipikir-pikir, saya masih wajar pakai HP seadanya, kan makan sehari-hari masih gehu dan bala-bala. Lah, beliau ini kan perusahaannya udah triliunan, Tbk pula, justru saya yang harusnya heran.

“Iya, Pak. Biar praktis, kan udah punya tablet buat internetan. Justru saya yang lebih heran, kok Bapak HPnya cuma gini aja?”, tanggap saya.

Seakan sudah berharap saya menanyakan itu, si Bapak tersenyum sambil menunjuk HPnya. “Dengan HP yang harganya segini, saya bisa handle bisnis triliunan, dan menghasilkan triliunan kan. Bandingin sama anak muda yang HP bagus dipakai untuk update social media, nilai produknya timpang. This is less for more!”

Saya tercenung. Selain karena saya baru sadar kalau di kantong kirinya terselip HP necis, yang berarti dialog tadi cuma akal-akalan dia supaya bisa menyampaikan konsep itu ke saya, saya tercenung dengan konsepnya yang luar biasa dalam. Less, for more. Hal yang lebih sedikit, untuk hal yang lebih banyak. Pulangnya saya merenung, dan semakin sadar bahwa aplikasi konsep ini sangatlah luas.

Less for more adalah tentang efisiensi dan daya guna. HP si Bapak adalah simbol dari sumber daya yang kita miliki: waktu, tenaga, orang-orang di sekitar kita, dan lain sebagainya. Dan cara dia menggunakannya menjadi gambaran bagaimana kita bisa mengoptimalkan sumber daya. Seharusnya kita bisa memaksimalkan satu jam waktu dan energi kita, dengan menghasilkan dampak riil yang lebih besar dari biasanya. Saya yang bisnisnya nggak gede-gede amat, hanya bisa khatamkan 1 buku per pekan. Sementara Elang Gumilang yang nilai proyeknya sudah 10 triliunan, bisa menamatkan 1 buku setiap harinya. Apa yang membedakan ini? Penggunaan waktu yang lebih sedikit, untuk hasil yang lebih banyak. Ini berkaitan dengan konsep selanjutnya.

Less for more adalah tentang alokasi. Dalam setiap unsur yang tangible dan berbatas, alokasi menjadi kunci efektivitas, dan ini selalu soal memilih. Dalam unsur waktu yang hanya kita miliki 24 jam sehari (berbatas), alokasi kita terhadap hal tersebut jadi dasar dari dampak yang dihasilkan. Kita tidak bisa tidur 8 jam sehari, main game 4 jam sehari, jalan-jalan 4 jam sehari, lalu berharap jadi pintar dan berkecukupan tiba-tiba, tanpa alokasi waktu belajar dan bekerja, kan? Jika uang kita 5 juta rupiah dan 4 juta dipakai beli HP, tentu akan berbeda hasilnya ketika 500ribu dipakai beli ponsel, 3juta sedekah, dan 1,5juta sisanya berinvestasi. Dalam unsur yang berbatas, memutuskan untuk menghabiskan lebih sedikit pada satu hal, akan menyisakan lebih banyak untuk dimanfaatkan ke hal lain, yang luarannya bisa jauh berbeda. Less for more.

Less for more adalah tentang kejernihan memandang diri. Akar masalah pada konsumerisme manusia jaman sekarang adalah ketidakmampuan membedakan dengan jelas antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan; lalu salah memutuskan mana yang dipilih diantara ketiganya. Saat pada kenyatannya, kebutuhannya hanya nokia 3310, keinginannya iPhone, dan kemampuannya Xiaomi, orang-orang yang bias akan menganggap keinginannya adalah kebutuhan, sehingga menimbulkan hasrat diri untuk memenuhinya. Jurangnya dengan kemampuan lah yang kelak akan menjadi lubang: yang jika memaksa mencapainya akan memberikan tambalan tidak perlu pada materi, dan jika tidak tercapai akan memberi jarak dengan kebahagiaan dan kepuasan. Titik jernih adalah saat sadar bahwa kebutuhan kita selalu lebih sedikit (less) dari keinginan, dan bahwa kemampuan kita bisa didedikasikan pada keinginan yang di arahkan ke sudut lain yang berdampak lebih besar (more).

Penjelasan panjang lebar di atas pada hakikatnya telah diteladankan dengan sederhana oleh Rasulullah dan sahabatnya. Melalui efisiensi waktunya yang bekerja efektif siang hari, dan beribadah tiada lelah di malam hari. Melalui alokasi materinya yang memilih sedekah berlimpah, dengan merelakan memakai sandang tambalan. Melalui mentalitas sederhananya dalam titik jernih yang tiada banding. Lalu, tidak jarang muslim kini yang meneladaninya hanya karena mereka kaya dalam materi, lalu melupakan bahwa kekayaan sebenarnya ada di dalam konsep diri.

Leave a Reply