Surat Rindu

Kali ini saya ada di Venice, Italia. Kota kanal dimana bangunannya masih sama dengan 600 tahun yang lalu. Kota indah, unik, dan romantis, berisi turis-turis dari berbagai penjuru dunia. Sebagaimana yang banyak ditulis di internet, ke Venice jangan sampai lupa untuk mengunjungi beberapa tempat penting, yang terpaksa saya ikuti untuk jadi mainstream.

Saya datang ke Rialto Bridge yang legendaris, melihat bentuknya yang artistik menembus canal grande, disertai bangunan-bangunan antik di sekitarnya. Setelah itu saya mampir ke St. Mark’s Basillica, melihat megahnya gereja yang bagian ruangannya dilapisi emas, beserta pahatan dan karya seni yang begitu detail. Lalu saya berkunjung ke La Piazza San Marco yang merupakan ikon Venice, kebetulan bertepatan dengan “Carnevale di Venice“, menyaksikan banyak pagelaran seni dengan puluhan orang berpakaian abad pertengahan dan menggunakan topeng berlalu-lalang.

Tempat-tempat tadi sangat menarik, tetapi bagi saya tidak terlalu berkesan. Entah mungkin terlalu ramai, atau memang tak memikat. Di masing-masing tempat tadi saya hanya menghabiskan 30 menit. Saya lalu memutuskan untuk pergi tersesat di antara campi (gang-gang kecil) dan canali (kanal-kanal) tanpa tujuan pasti, hingga akhirnya menemukan satu tempat sepi yang begitu indah. Hanya kanal kecil, tanpa perahu lewat, di antara dua jembatan: kayu dan beton, keduanya berbentuk setengah lingkaran. Sisi kanan dan kirinya adalah bangunan lama yang tidak terawat, agak lebih tinggi. Gabungan karakteristik ini membuat semburat mentari masuk dalam jumlah yang tepat untuk menyinari sebagian tembok bangunan, dan membuat bayangan di permukaan air. Semilir angin juga tidak lebih, tidak juga kurang. Karena terkagum dengan kualitas tempat ini, apalagi tidak ada seorang pun yang lewat untuk mengganggu, saya memutuskan untuk diam dan duduk di tepi kanalnya, sambil merenung. Berjam-jam.

Bagi saya, perjalanan ini adalah analogi romansa. Tak peduli apa yang orang lain katakan tentang karakteristik tempat yang anggapannya menarik, yang mampu membuat kita berlabuh adalah yang paling bisa membuat kita nyaman dan tetap bertahan. Tempat dengan ciri spesifik, yang keindahannya hanya kita yang mampu persepsikan, yang memudahkan kita menentukan pilihan. Hal yang selalu kita cerna dengan hati, tanpa objektifikasi.

Analogi ini mengingatkan saya dengan sosok yang jauh disana, yang berujung pada kesimpulan yang ironis. Walaupun sekarang berada di tempat destinasi cantik nan favorit yang diidolakan jutaan orang untuk datang, saya lebih memilih untuk ada disamping wanita pujaan dan makan rendang bersama, meskipun itu di pinggir sawah di Ujung Berung sana. Saat ini juga. Di detik ini, indahnya Venice tak seujung kuku dibanding indahnya berada di sisi dia, apapun kondisinya. Ternyata, inilah Rindu, yang juga buta: tak melihat situasi, tanpa objektifikasi. Tanpa syarat, hanya hati.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tadi, saya memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Belum saja berselang 15 menit, belum juga 400 meter, saya tetiba ingin kembali lagi ke tempat tadi. Memang, tak peduli 1 kilometer atau 11.000, tak peduli semenit atau dua minggu: rindu tetaplah rindu.

3 thoughts on “Surat Rindu

Leave a Reply