Visi dalam Pemaknaan; Pemaknaan dalam Visi

Sabtu lalu saya menghadiri acara BaSIC (Bandung Social Innovator Circle), yang mengundang Silverius Oscar Unggul, atau Bang Onte. Beliau adalah seorang pebisnis dan wirausahawan sosial, aktivis TELAPAK. Seperti Wiro Sableng dengan telapak naga geni-nya (eh, apa kapak?), Bang Onte ini sungguh sakti. Dia merupakan peraih penghargaan Social Entrepreneur of the year 2008, Ernst and Young, Schwab Foundation for Social Entrepreneurship, Skoll Award for Social Entrepreneurship 2010, Young Global Leaders Honoree World Economic Forum 2009, dan Ashoka Fellow; penghargaan-penghargaan paling bergengsi untuk social entrepreneur. Di dunia ini, hanya ada dua orang yang mendapatkan semua penghargaan yang saya sebutkan di atas, dan Bang Onte adalah salah satunya. Sakti kan? Level kesaktiannya melebihi Sinto Gendeng, setara dengan pendekar rajawali. Setelah mendengar kisahnya, saya jadi tahu dari mana kesaktian itu datang.

Reportase lengkap bisa dibaca di tautan ini: http://adriarani.blogspot.com/2014/12/bang-onte-kuantita-kejiwaan-dari-alam.html , saya hanya ingin mendalami beberapa hal menurut saya paling mengagumkan. Pertama, soal membangun tim yang solid. Bang Onte memulai perjalanannya dengan 7 orang temannya di pencinta alam, yang hingga kini masih terus bertahan tanpa ada perpecahan kongsi. Bagi yang pernah berbisnis, tentunya tahu kalau hal ini amatlah sulit. Kondisi terpuruk atau kondisi puncak, tetap bisa memunculkan hal yang menyebabkan pecah tim, dan Bang Onte sudah melewati ini. Bagaimana bisa tetap mempertahankan kebersamaan tim sedemikian lama melalui banyak situasi? Ternyata, rahasianya ada di pelajaran PPKn kelas 1-3 SD.

Dulu, karena sulit mendapatkan dana proyek untuk LSM-nya, dan dua dari delapan orang sudah menikah, enam orang sisanya setiap hari harus meminta uang dari orang tua untuk dikumpulkan dan diberikan ke dua orang tadi. Tujuannya, supaya saat pulang nanti kedua orang tersebut tetap bisa membawa hasil ke anak istri. Hal ini dilakukan selama 2 tahun pertama. Ini pelajaran PPKn kelas 2 semester 1: kesetiakawanan. Lalu, pemasukan dari delapan orang ini, dari manapun dan sebesar apapun itu, masuk di 1 pintu dan dibagikan secara merata. Setiap pembagian, masing-masing ditanyakan apa kebutuhan saat itu, dan bagi yang memiliki kebutuhan mendesak, ia diberikan uang lebih banyak. Ini pelajaran kelas 1 semester 2: gotong royong. Dalam proses itu, Bang Onte sebagai pemimpin merelakan diri untuk memiliki rumah paling akhir, karena mendahulukan ketujuh anggota timnya yang lain dulu untuk membeli rumah. Ini pelajaran kelas 3 semester 1 sekaligus semester 2: rela berkorban dan keteladanan.

Teori ini kita pelajari sejak dini, tapi mampukah diterapkan dalam organisasi dan bisnis kita? Sanggupkah kita, dalam kondisi yang amat sulit, memberikan milik kita yang tersisa kepada rekan seperjuangan? Sanggupkah kita, dalam kondisi puncak, tidak mengambil seluruh hak dan mengakui kemenangannya sendirian? Ini tantangannya. Bang Onte sudah melewati itu, baik masa-masa pelik di atas maupun masa-masa dimana perusahaan TV-nya diakuisisi raksasa media di Indonesia dengan total nilai transaksi belasan milyar. Beliau menyebut nilai-nilai seperti pantang menyerah, rela berkorban, kebersamaan, sebagai kuantita kejiwaan, sesuatu yang tidak bisa dilatih secara kognitif, dan hanya bisa dibentuk melalui pengalaman. Dan pembentuk terbaik, menurut Beliau, adalah alam. Karena hanya di alam lah, di saat tersesat bersama teman dan air minum sisa seperempat, kuantita kejiwaan kita dihadapkan dengan musuhnya yang utama: diri sendiri.

Konsep ini selaras dengan ide Viktor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning. Psikolog asal Austria yang sempat ditahan di dalam concentration camp Nazi ini melihat beberapa tahanan, yang diujung maut karena akan dieksekusi, justru mampu menghibur temannya dan berbagi sepotong rotinya yang terakhir. Ini menunjukkan bahwa sikap kita tidak dikendalikan oleh insting bertahan hidup saja, tapi juga oleh makna yang membebaskan kita untuk memilih tindakan terbaik yang bisa kita hargai, pada konteks yang melebihi ego kita sendiri. Sikap altruistik inilah yang menjadikan kita manusia; karena bukan bergerak berdasarkan naluri, tetapi pertimbangan jiwa. Semakin besar pemaknaan kita terhadap kehidupan di sekeliling kita, semakin sedikit pula kepentingan diri kita akan didahulukan. Itulah kenapa seorang Jendral Sudirman, dalam fisiknya yang terbatas, tetap rela menjadi terdepan di medan perang. Itu juga alasan kenapa Muhammad, dalam sakit di ujung hayatnya, tetap berbisik melafalkan ummatnya. Pemaknaan memunculkan nilai kepahlawanan diri yang melebihi diri sendiri.

Kedua, soal pencapaian Bang Onte yang fenomenal. Dengan minim modal, beliau bisa membuat LSM Yascinta, Radio Swara Alam, Kendari TV, Bengkulu TV, dan komunitas TELAPAK, yang masing-masing memberikan dampak yang begitu besar. Kalau orang lain, mungkin membuat 1 TV pun sudah membanggakan. Beliau sudah menerapkan metodologi bootstrapping, Minimum Viable Product, dan The Lean Startup dari Sillicon Valley yang sekarang sedang populer, jauh sebelum ide ini dirumuskan. Bagaimana bisa di jaman dulu, dengan segala keterbatasan, beliau dan tim bisa membuat begitu banyak pencapaian? Dari mana mereka, tanpa teori yang mumpuni, mendapatkan metode dan cara yang sungguh inovatif? Jawabannya disampaikan Bang Onte dengan sangat sederhana: “kami kembali lagi ke visi kami”. Ah, aduhai.

image

Hal ini persis dengan teori golden circle yang dicetuskan Simon Sinek, bahwa ada tiga lingkaran dalam aktivitas manusia; Why (kulit terdalam), How (kulit tengah), dan What (kulit terluar). Orang-orang yang memberikan dampak besar, selalu memulainya dari WHY yang juga besar. Kekuatan alasan mengalahkan semuanya, menjadi sumber daya terbesar yang kita punya. Alasan yang kuat menjadikan Orville dan Wilbur Wright, yang hanya pemilik bengkel sepeda dari Ohio, membuat mesin yang berhasil terbang pertama yang dikendalikan manusia, dan kelak merevolusi dunia. Alasan yang tepat menjadikan Steve Jobs, seorang drop-out dari perguruan tinggi liberal arts, menjadi penggagas revolusi di bidang komputer, animasi, musik, dan telekomunikasi; lalu mengubah dunia. Alasan ini pula yang menjadikan Bang Onte berdampak sedemikian rupa.

Nah, kedua hal ini sebenarnya berkaitan: antara makna dan visi. Pemaknaan bersifat sangat kekinian, personal, dan ke dalam, tentang dasar dan keyakinan dari keputusan diri yang kita pilih, tentang apa-apa yang kita punya, dan tentang nilai-nilai yang kita genggam. Dan visi, umumnya bersifat sosial dan keluar, tentang hal-hal yang ingin kita ubah dan kita capai, tentang imaji yang ingin kita wujudkan. Kolaborasi antara keduanya, adalah rahasia utama bagaimana dampak sosial bisa dihasilkan, dengan integritas dan identitas diri yang selalu bisa bertahan. Jadi, untuk mengukuhkan dampak yang luas, pastikan lah kita memiliki visi yang besar dan benar, serta dibalut oleh pemaknaan mendalam dan melebar, yang melebihi lingkup individu; inilah sekuat-kuatnya alasan. Sebelum berbuat, pastikan kita memiliki visi yang kuat, yang membuat langkah kita tepat, dan dampaknya kelak akan hebat.

He who has a WHY to live for can bear almost any HOW.” — Nietzsche

Leave a Reply