Salahkah Takdir?

Sepekan lalu seharusnya saya memenuhi undangan untuk menghadiri Annual Meeting salah satu organisasi di bawah World Economic Forum di Geneva, dan setelah itu mau beberapa hari jalan-jalan di Paris. Sayangnya, visa saya ditolak, entah kenapa. Dugaannya karena nama belakang saya El Farizy dan sekarang sedang ramai urusan ISIS, atau karena alasan saya untuk transit di Perancis kurang kuat. Atau bisa juga karena kekhawatiran akan adanya kericuhan nasional, akibat gadis-gadis Swiss yang histeris saat tahu saya datang ke bandara sana. Alasan terakhir ini yang paling masuk akal.

Anyway, saat bayangan selfie di depan Eiffel atau pamer check-in FB; di Swiss ini sudah di depan mata lalu runtuh begitu saja, rasanya agak perih juga. Seperih luka cacar yang tertusuk anak panah yang terbakar; nanar (naoon deui). Yah, wajar lah, tiket pesawat dan undangan sudah di tangan, lalu batal karena visa gagal; pedih. Tapi saya mencoba menghibur diri dengan mengeja kalimat klasik: “mungkin belum jodoh”.

Nggak lama setelah itu, saya curhat ke teman warga Perancis yang tadinya mau ditumpangin, dan dia membalas dengan heran, yang dalam terjemahan bahasa condetnya: “yaelah bro, kenapa kagak bilang ke gua dulu dah sebelomnye, gua punya banyak kenalan konsulat disono!”. Hmm, bener juga. Kenapa nggak minta bantuan dia ya? Kenapa juga nggak nanya ke teman saya yang mungkin punya pengalaman yang sama? Kenapa pasrah gitu aja diurus host saat pengajuan banding pasca ditolak? Dari situ saya berpikir, benarkah ini memang belum jodoh, atau memang saya yang kurang keras memperjuangkan?

Tetiba saya teringat curhat teman saya yang gagal bisnis lalu berucap “yah, bukan takdirnya, mungkin Allah punya rencana lain”. Saat itu saya terheran, karena tahu betul bahwa dia mengurus bisnis asal-asalan, terlalu cepat menarik investasi besar, serta mengelola dengan manajemen yang jauh dari profesional dan akuntabel. Lalu, kenapa takdir yang disalahkan? Yah, memang mungkin saja karena memang bukan takdirnya; tapi bukankah mungkin juga karena usahanya yang kurang keras dan cerdas? Yah, memang bisa jadi karena Allah punya rencana lain; tapi bukankah bisa juga karena kita yang lemah dalam mengeksekusi rencana yang ada? Di detik itu saya dibelai kembali dengan ayat tentang Allah yang tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa adanya upaya perubahan dari kaum itu sendiri.

Ya, takdir mensyaratkan adanya optimalitas perjuangan. Saya setuju dengan salah satu analogi yang menariq dari Pidi Baiq (biar berrima); bahwa takdir itu seperti kalkulator. Jika kita menginginkan hasil 9, maka kita bisa mengetik “2+2+2+2+1=” atau “7+1+1=” atau “9=”. Dengan kata lain, hasil yang diharapkan dapat ditempuh dengan jalan yang berbeda, tapi by default masing-masing tetap mengharuskan adanya pemenuhan syarat dan kesatuan proses, sunnatullah; kecuali Allah berkehendak lain. Yang disayangkan, kadangkala kita menyalahkan kalkulator saat hasil yang keluar 4 dan yang diharapkan 25, padahal kita mengetik “1+3=”.

Yang lebih menarik, dalam Islam, satu amal divaluasi dalam sebuah runtutan yang integral. Mulai dari niat (pre-action), ikhtiar dan doa (in-action), tawakkal (pre-result), dan sabar serta syukur (post-result); hasil (result) adalah hak Allah. Kita dituntut untuk memiliki niat yang lurus dan mulia, ikhtiar beriring doa yang keras dan optimal, bertawakkal apapun hasil yang kelak Allah tentukan, lalu bersabar dan bersyukur terhadap hasil yang kita dapatkan. Tanpa adanya optimalitas holistik di setiap prosesnya, amal kita tidak akan dinilai secara maksimal. Nah, bayangkan jika setiap diri kita memenuhi ini; maka kita akan jadi manusia yang memiliki motivasi besar dan murni (niat), dengan etos kerja dan visi tiada henti (ikhtiar dan doa), tanpa perlu diresahkan dengan hasil melalui kepasrahan diri (tawakkal), dan terhindar dari kesombongan maupun penyesalan berlebih, apapun pencapaian yang kita dapati (syukur dan sabar). Mental ini akan mewujudkan hidup yang produktif, rendah hati, tenang, dan visioner, dalam waktu yang bersamaan. Dahsyat. Luar biasa. Biasa di luar. Dibiasakan keluar.

Maka, berkaca dari itu, saya malu jika hanya menyalahkan takdir, lalu melupakan evaluasi di setiap titik dalam amal diri. Sebelum berucap “ah, bukan jodohnya” saat hasil yang kita dapatkan tidak baik, mungkin kita harus berkaca untuk menilai apakah kita telah menempuh jalan dengan proses yang terbaik. Karena, itulah karakter diri yang seharusnya; memupuk niat yang terbaik, berusaha dengan kekuatan yang terbaik, sembari meyakini bahwa Allah memang selalu menjanjikan hasil yang terbaik.

4 thoughts on “Salahkah Takdir?

  1. Gibran,,,nasib ke tolak bisa sama gini ya bro,,,,klo gw visa UK,,,ah sudahlah,,,takdir 😀 hahaha,,,btw tulisan nya bagus bran,,,maju terus bung,,,salam ppsdms. mukhlis reg 1 angktan 4

Leave a Reply