Kolak Kesenjangan

Di bulan Ramadhan yang sama dengan cerita sebelumnya, saya mengalami tragedi lain. Tragedi ini tidak sepedih kisah sebelumnya, tapi tetap lumayan perih. Ini konspirasi yang melibatkan pisang, ubi, kolang-kaling, gula merah, dan santan yang bersatu padu. Kita menyebutnya dengan kolak.

Seperti yang udah saya ceritakan, Ramadhan di tingkat pertama memang masa paceklik, terutama dari sisi saldo dompet dan ATM. Jatah makan hanya Rp 9.000 per hari. Paceklik ini berdampak dengan tidak bisanya saya makan kolak. Kalau Ramadhan sebelumnya seumur hidup saya selalu dengan mudahnya makan kolak buatan Ibu, kali ini tidak. Harga kolak saat itu di depan Salman sekitar Rp 3.000 – Rp 4.000, tergantung isi dan kemasan. Bagi saya waktu itu, harga ini mahal untuk ukuran kolak, karena uang tersebut setara dengan satu kali makan di warung tahu telor ancur atau kantin mini di Gelap Nyawang. Nggak rela rasanya menghabiskan uang senilai satu kali makan, hanya untuk sebungkus kolak. Tapi, saya benar-benar ngidam kolak, karena Ramadhan rasanya kurang lengkap tanpa makan kolak. Pagi ingat kolak, malam mimpi kolak, hingga dalam lelap pun menyebut nama kolak. Oh, kolak.. Sungguh ku jatuh hati dan merindu. Demi hal itu, saya tidak tinggal diam membisu.

Di sekitar hari ke-11 Ramadhan, saya mulai menabung 500 perak per hari selama seminggu. Di hari ketujuh, saya sudah punya tabungan Rp 3500, khusus untuk beli kolak. Dari pagi di pikiran saya hanya diisi dengan manisnya kolak saat berbuka nanti. Tapi, karena ada acara setelah kuliah, saya baru kosong menjelang jam 9 malam. Di jam segitu, tukang kolak sudah pada bubar, yang biasanya di jam buka puasa banyak yang keliling menjajakan. Saya hampir putus asa dan kecewa. Sampai di satu detik, saya sadar bahwa memang rezeki tidak kemana; masih ada satu penjual kolak yang hampir tutup di depan Salman, dengan hanya tersisa satu gelas kolak! Ini serius, memang sedramatis itu. Dalam hati, saya senang bukan main. “Jodoh pasti bertemuu~”, kata saya sambil bersenandung setampan Afgan, padahal di tahun itu lagunya belum keluar.

Saya bawa kolak itu ke angkot, berencana menikmatinya di perjalanan menyeberang lautan ke Ujung Berung. Sepanjang jalan saya tersenyum bahagia, karena kolak sudah ada di pandangan mata. Ini rasanya setara dengan pertemuan Romeo-Juliet saat ditentang hubungannya; indah dan lega. Warnanya yang coklat merah merekah benar-benar menjadi pelepas keinginan sejak awal bulan Ramadhan. Saat sudah duduk di kursi angkot, saya mengambil satu sendok pisang di dalam kolak, dan perlahan menggiringnya ke rongga mulut yang sudah tak sabar berteriak. Sebelum kolak masuk, sudah terbayang manis rasanya di lidah, membentuk ekspektasi kenikmatan yang tiada tara. Semakin tidak sabar, saya langsung memasukkan pisang kolak itu ke dalam mulut. Dan tepat saat kolak itu menyentuh indera perasa, harapan yang ada di kepala langsung hancur menjadi serpihan. Ternyata..rasa kolaknya asam. Kolak yang dari awal saya dambakan, yang harus menabung sepekan, yang tersisa satu-satunya dan menjadi satu-satunya kolak yang berhasil saya makan, ternyata basi. Kolak itu basi.

Rasa perihnya sulit dibayangkan. Bibir saya tersenyum kecut, sekecut kolak yang basi. Hati meringis, teriris, kinyis-kinyis. Sudah susah payah menanti, ternyata terbalas dengan kolak basi. Rasakan pedih patahnya, hancur berkeping-keping. Saya terpaksa harus membuang kolak yang saya perjuangkan habis-habisan, yang saya impikan siang dan malam. Adegan saya melepas gelas kolak menuju dasar tong sampah di malam itu sama sedihnya dengan adegan Rose melepas Jack ke dasar laut di Titanic; sendu dan pilu.

Tujuh tahun setelahnya, tepatnya di buka puasa pertama kemarin, saya diberi Allah untuk bisa berbuka di The Valley, dari traktiran mertua. Tentunya kita tahu harga makanan disana. Saat saya membuka menu, harga main course paling murah di atas Rp 90.000. Saya pesan tenderloin classic seharga Rp 120.000. Setelah pesan, secara tiba-tiba saya teringat tragedi kolak. Harga satu makanan yang saya makan sekarang jika dikonversi dengan kolak bisa menjadi jatah kolak saya dulu selama satu bulan. Saya merenung sendiri menyadari kesenjangan saya saat ini dan dulu. Kalau nasib saya dulu saja, yang hanya mahasiswa, terhitung senjang, bagaimana jika dibandingkan dengan nasib orang lain yang lebih sengsara? Bagaimana senjangnya kita dengan nasib tukang becak yang mati kelaparan di Jawa Tengah, tepat di hari yang sama? Bagaimana senjangnya kita dengan cerita orang Somalia yang bertanya, “jika aku tidak makan sahur dan berbuka, akankah ibadah shaumku diterima”?

Saya tetiba semakin sadar, bahwa makna shaum adalah mengeliminasi kesenjangan. Kita semua wajib merasa lapar, tanpa syarat; merata, tanpa galat. Bulan Ramadhan pun mendorong kita untuk berbagi dengan balasan yang berlipat. Lalu di akhir, ditutup dengan ritual yang sarat dengan unsur kemasyarakatan; zakat. Ibadah yang sangat individual ini ternyata memiliki makna yang sangat sosial. Jika dimaknai seperti ini, Ramadhan mensaratkan suatu kesatuan proses yang berujung pada kualitas personal yang mampu mengentaskan kesenjangan. Jika kita sadar, dengan mengkesinambungkan dampak personal yang kita dapatkan di Ramadhan dengan pemaknaan yang mendalam saja, bisa menjadi satu jalan menuju kesejahteraan.

Tantangan sebenarnya adalah, mampukah kita memaknai Ramadhan dengan sebegitu mendalam? Sanggupkah kita mempertahankan prosesnya di masa setelahnya? Saya berdoa, semoga Allah mengizinkan kita untuk bisa. Karena dengan begitu, amalan, aktivitas, dan langkah kita kelak, tak akan lagi egois; justru akan berorientasi pada pembagian kebahagiaan dengan hal-hal yang manis. Semanis kolak asli yang tidak basi.

Leave a Reply