Antitesis Propaganda Israel-Palestina

image

Hmmm, gambar ini dan berita kaya gini (http://www.bbc.com/news/world-middle-east-28222613) adalah propaganda yang sungguh bikin geram. Ini memperlihatkan bagaimana media mencoba menjustifikasi dan menyalahkan Hamas atas serangan yang tidak manusiawi ke Gaza. Tapi, karena saya bagian dari kaum intelektual, saya akan membalas ini dengan lebih dari sekadar umpatan di status; antitesis:

1. Saya meragukan jumlah roket yang diluncurkan Hamas sebanyak itu. Dari data yang saya dapat, di 2013 saja contohnya, total hanya ada 56 roket/mortar di 37 serangan yang berbeda dalam 1 tahun (http://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_Palestinian_rocket_attacks_on_Israel,_2013). Di 2014 serangan lebih banyak, tapi tidak ada orang yang terluka, apalagi mati, NOL. (http://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_Palestinian_rocket_attacks_on_Israel,_2014). Roket Hamas itu kroco, sedangkan Israel hi-tech military equipment. Israel punya 4000 main battle tank dan 450 combat aircraft, Palestina nol, cuma roket, mortar, dan senjata bekas. Come on, masa mau diputarbalikkan sih.

2. Tiga remaja Israel ditangkap dan dibunuh. Ya, ini pelanggaran. Tapi respon dari Israel pasca insiden ini juga kejam, membunuh 2 remaja nggak bersalah dan menahan 150 orang tanpa proses hukum (laporan tinjauan langsung -data primer- Human Rights Watch: http://m.hrw.org/news/2014/07/03/israel-serious-violations-west-bank-operations). Terus, ini mau dijadikan alasan penyulut serangan ke Gaza yang korbannya 145 orang dan mayoritas warga sipil termasuk anak-anak? Meh, ngaco.

3. Ben Gufron Airport sebagai target hanya ultimatum kosong, dan dijamin gak bakal bisa. Berkali-kali roket Hamas nggak sampai target, karena memang roket bekas. Jadi, boro-boro ngerusak. Serangan terakhir ke Tel Aviv oleh Hamas nggak memakan korban sama sekali, tapi Israel langsung membalas serangan ke rumah kepala polisi Gaza yang membunuh 18 orang Palestina (http://mobile.reuters.com/article/topNews/idUSKBN0FC0JP20140712?irpc=932) . Tipikal banget sih.

4. Hamas menjadikan warga sebagai tameng? I extremely doubt it, walaupun saya nggak bisa mencari data langsungnya, gak ada kenalan orang Hamas. Tapi, logika saya, ini bukan strategi perang, tapi memang dampak minimnya area Hamas dan Palestina. Secara politik geografis, Palestina hanya menguasai 18% wilayah administratifnya, yang hampir semuanya di Gaza, karena West Bank mayoritas sudah dipegang oleh militer Israel (http://www.polgeonow.com/2012/12/is-palestine-really-country.html). Kondisi ini, mau nggak mau Hamas bermarkas di Gaza, yang banyak warga sipilnya. Tapi, toh, dengan level Hamas yang kecil kekuatan militernya dan jelas-jelas ada di tengah pemukiman sipil, masih juga diserang sama F-15 fighter jet dan delilah missiles, ke 200 titik di area Gaza yang sempit? Cih, saha nu bodo sih.

5. Israel SELALU begini. Membantai warga Palestina, lalu menyetir opini masyarakat global melalui media raksasa. Basi. Ini clear penjajahan, sudah jelas massacre. Di invasi Gaza selama 3 pekan tahun 2008-2009 lalu, 1400 jiwa Palestina melayang, dan hanya 13 warga Israel yang tewas (sumber dari link reuters di atas). Nyawa manusia Palestina lebih murahkah hingga parah dibantai lalu kita diam? Kalau kita manusiawi, tegas bilang TIDAK!

Berita BBC tadi dibalas dengan sangat adil oleh The Guardian (http://www.theguardian.com/commentisfree/2014/jul/09/israel-renewed-hamas-attack-bbc-balance-palestinian), dimana memperlihatkan dengan jelas tidak imbangnya pemberitaan yang berpihak, “it is up to licence payers”, katanya. So, guys, ayo cerdas pilih berita; gali straight facts! Menjadi adil, manusiawi, dan objektif adalah bukti bahwa kita kaum intelektual. Dan hanya dengan itu, kita akan membela Palestina. Ini bukan soal agama; ini masalah kemanusiaan, mari tegas kita bela.

Kolak Kesenjangan

Di bulan Ramadhan yang sama dengan cerita sebelumnya, saya mengalami tragedi lain. Tragedi ini tidak sepedih kisah sebelumnya, tapi tetap lumayan perih. Ini konspirasi yang melibatkan pisang, ubi, kolang-kaling, gula merah, dan santan yang bersatu padu. Kita menyebutnya dengan kolak.

Seperti yang udah saya ceritakan, Ramadhan di tingkat pertama memang masa paceklik, terutama dari sisi saldo dompet dan ATM. Jatah makan hanya Rp 9.000 per hari. Paceklik ini berdampak dengan tidak bisanya saya makan kolak. Kalau Ramadhan sebelumnya seumur hidup saya selalu dengan mudahnya makan kolak buatan Ibu, kali ini tidak. Harga kolak saat itu di depan Salman sekitar Rp 3.000 – Rp 4.000, tergantung isi dan kemasan. Bagi saya waktu itu, harga ini mahal untuk ukuran kolak, karena uang tersebut setara dengan satu kali makan di warung tahu telor ancur atau kantin mini di Gelap Nyawang. Nggak rela rasanya menghabiskan uang senilai satu kali makan, hanya untuk sebungkus kolak. Tapi, saya benar-benar ngidam kolak, karena Ramadhan rasanya kurang lengkap tanpa makan kolak. Pagi ingat kolak, malam mimpi kolak, hingga dalam lelap pun menyebut nama kolak. Oh, kolak.. Sungguh ku jatuh hati dan merindu. Demi hal itu, saya tidak tinggal diam membisu.

Di sekitar hari ke-11 Ramadhan, saya mulai menabung 500 perak per hari selama seminggu. Di hari ketujuh, saya sudah punya tabungan Rp 3500, khusus untuk beli kolak. Dari pagi di pikiran saya hanya diisi dengan manisnya kolak saat berbuka nanti. Tapi, karena ada acara setelah kuliah, saya baru kosong menjelang jam 9 malam. Di jam segitu, tukang kolak sudah pada bubar, yang biasanya di jam buka puasa banyak yang keliling menjajakan. Saya hampir putus asa dan kecewa. Sampai di satu detik, saya sadar bahwa memang rezeki tidak kemana; masih ada satu penjual kolak yang hampir tutup di depan Salman, dengan hanya tersisa satu gelas kolak! Ini serius, memang sedramatis itu. Dalam hati, saya senang bukan main. “Jodoh pasti bertemuu~”, kata saya sambil bersenandung setampan Afgan, padahal di tahun itu lagunya belum keluar.

Saya bawa kolak itu ke angkot, berencana menikmatinya di perjalanan menyeberang lautan ke Ujung Berung. Sepanjang jalan saya tersenyum bahagia, karena kolak sudah ada di pandangan mata. Ini rasanya setara dengan pertemuan Romeo-Juliet saat ditentang hubungannya; indah dan lega. Warnanya yang coklat merah merekah benar-benar menjadi pelepas keinginan sejak awal bulan Ramadhan. Saat sudah duduk di kursi angkot, saya mengambil satu sendok pisang di dalam kolak, dan perlahan menggiringnya ke rongga mulut yang sudah tak sabar berteriak. Sebelum kolak masuk, sudah terbayang manis rasanya di lidah, membentuk ekspektasi kenikmatan yang tiada tara. Semakin tidak sabar, saya langsung memasukkan pisang kolak itu ke dalam mulut. Dan tepat saat kolak itu menyentuh indera perasa, harapan yang ada di kepala langsung hancur menjadi serpihan. Ternyata..rasa kolaknya asam. Kolak yang dari awal saya dambakan, yang harus menabung sepekan, yang tersisa satu-satunya dan menjadi satu-satunya kolak yang berhasil saya makan, ternyata basi. Kolak itu basi.

Rasa perihnya sulit dibayangkan. Bibir saya tersenyum kecut, sekecut kolak yang basi. Hati meringis, teriris, kinyis-kinyis. Sudah susah payah menanti, ternyata terbalas dengan kolak basi. Rasakan pedih patahnya, hancur berkeping-keping. Saya terpaksa harus membuang kolak yang saya perjuangkan habis-habisan, yang saya impikan siang dan malam. Adegan saya melepas gelas kolak menuju dasar tong sampah di malam itu sama sedihnya dengan adegan Rose melepas Jack ke dasar laut di Titanic; sendu dan pilu.

Tujuh tahun setelahnya, tepatnya di buka puasa pertama kemarin, saya diberi Allah untuk bisa berbuka di The Valley, dari traktiran mertua. Tentunya kita tahu harga makanan disana. Saat saya membuka menu, harga main course paling murah di atas Rp 90.000. Saya pesan tenderloin classic seharga Rp 120.000. Setelah pesan, secara tiba-tiba saya teringat tragedi kolak. Harga satu makanan yang saya makan sekarang jika dikonversi dengan kolak bisa menjadi jatah kolak saya dulu selama satu bulan. Saya merenung sendiri menyadari kesenjangan saya saat ini dan dulu. Kalau nasib saya dulu saja, yang hanya mahasiswa, terhitung senjang, bagaimana jika dibandingkan dengan nasib orang lain yang lebih sengsara? Bagaimana senjangnya kita dengan nasib tukang becak yang mati kelaparan di Jawa Tengah, tepat di hari yang sama? Bagaimana senjangnya kita dengan cerita orang Somalia yang bertanya, “jika aku tidak makan sahur dan berbuka, akankah ibadah shaumku diterima”?

Saya tetiba semakin sadar, bahwa makna shaum adalah mengeliminasi kesenjangan. Kita semua wajib merasa lapar, tanpa syarat; merata, tanpa galat. Bulan Ramadhan pun mendorong kita untuk berbagi dengan balasan yang berlipat. Lalu di akhir, ditutup dengan ritual yang sarat dengan unsur kemasyarakatan; zakat. Ibadah yang sangat individual ini ternyata memiliki makna yang sangat sosial. Jika dimaknai seperti ini, Ramadhan mensaratkan suatu kesatuan proses yang berujung pada kualitas personal yang mampu mengentaskan kesenjangan. Jika kita sadar, dengan mengkesinambungkan dampak personal yang kita dapatkan di Ramadhan dengan pemaknaan yang mendalam saja, bisa menjadi satu jalan menuju kesejahteraan.

Tantangan sebenarnya adalah, mampukah kita memaknai Ramadhan dengan sebegitu mendalam? Sanggupkah kita mempertahankan prosesnya di masa setelahnya? Saya berdoa, semoga Allah mengizinkan kita untuk bisa. Karena dengan begitu, amalan, aktivitas, dan langkah kita kelak, tak akan lagi egois; justru akan berorientasi pada pembagian kebahagiaan dengan hal-hal yang manis. Semanis kolak asli yang tidak basi.