Naik Kelas, Keleus

Bisnis rada niat pertama saya waktu di tingkat dua, sekitar taun 2009. Waktu itu saya start bisnis ternak cacing. Bisnis ternak cacing ini ajaib, karena modalnya dikit, efisiensi tinggi, dan harga jual bagus. Jadi modalnya cuma sampah organik yang disimpan di wadah campuran tanah dan cacing. 60% dari sampah itu dikonversi jadi pupuk, dan 40% sisanya jadi biomassa cacing. Dua-duanya bisa dijual. Pupuk dijual harganya 1000 sampai 2000 per kg, sedangkan cacingnya Rp 125.000/kg, lebih mahal dari daging sapi. Bahkan, waktu itu dapat permintaan dari Malaysia dalam bentuk kering, harganya Rp 1.000.000/kg. Edun lah.

Cacing makannya sampah organik, sisa rumah tangga atau pasar. Biar produksinya cepet, sisa sampah ini harus diperhalus biar gampang dicerna. Jadi kerjaan saya dulu adalah ke rumah makan sekitar ITB dan pasar balubur buat ngumpulin sampah, ngeblenderin satu-satu itu sampah, terus nyuapin ke cacing di tempat produksi sekitar pelesiran. Kitu weh terus. Tanahnya juga harus dijaga kelembabannya, disemprotin rutin tiap jam. Leuwih riweuh ti ngurus pacar. Tapi alhamdulillah berjalan. Produksi jalan, jualan lancar, cacing pun senang.

Tapi da namanya pengusaha pemula, kemakan jargon “Bisnis jalan, kitanya jalan-jalan”. Apalagi kerjaannya asa nggak elite, ya ngumpulin sampah sisa sama ngasih makan cacing, aduh asa teu bisa update status gaul di twitter. Akhirnya terburu-buru lah rekrut karyawan, tanpa sistem udah dibangun dengan jelas, tanpa SOP yang bisa terkontrol, tanpa KPI yang udah di-set, dan tanpa pola manajemen karyawan dan pemasaran yang jelas. Lebih dari itu, tanpa semangat membangun bisnis dan terus belajar. Tujuannya biar bisa gaya dan jalan-jalan. Merasa udah finish, padahal belum lama start.

Nggak sampai 1 bulan, muncul lah masalah. Pas di kelas lagi kuliah, saya ditilpun Pak RT yang punya tempat saya produksi Pak RT ini marah-marah minta saya segera ke kontrakan. Saya bingung. Karena panik, langsung lah buru-buru datang. Sesampainya disana, ternyata depan kontrakan saya penuh sama orang se-RT. Asa mau ada penghakiman massal. Saya deg-degan, jangan-jangan disangka maling celana dalam Pak RT. Pak RT langsung nyamperin sambil melotot:

“KAMU INI PAKAI APA DI KONTRAKAN SAYA!”, kata Pak RT marah-marah

“Cuma buat produksi aja kok, Pak”

“SERIUS KAMU! SAYA TELPON POLISI YA! KAMU PASTI NYIMPEN MAYAT DISINI!”

“Hah, nggak lah Pak!”, jawab saya kaget sambil pucat muka.

Ternyata saya dikira ngebunuh orang atau nyimpen mayat bayi orok hasil hubungan gelap. Edan teuing. Udah mau dikeroyok ieu mah euy. Untuk menenangkan warga, saya memutuskan untuk mengajak semuanya kayang. Nggak ding. Saya langsung buka pintu. Ternyata eh ternyata, ADA MAYAT WANITA! Nggak lagi ding. Ternyata karyawan saya kabur, cacing nggak ada yang ngurus, sampah membusuk. Yang tadinya ternak cacing malah jadi ternak belatung. Itu baunya emang kaya mayat. Pusing lah saya, belatung dimana-mana. Warga protes, Pak RT protes, besoknya saya digusur dari kontrakan. Karyawan kabur, permintaan keputus, pelanggan kabur, dan uang pun kabur. Bangkrut lah bisnisnya. Pedih.

Di kondisi ini, dulu saya nyalahin karyawan yang nggak bertanggung jawab. Tapi itu salah, karena yang sebenernya salah ya ownernya, saya sendiri. Salah sendiri ngerekrut karyawan asal-asalan, salah sendiri nggak bikin SOP yang jelas, salah sendiri nggak ngontrol dengan rutin, salah sendiri bisnis asal dilepas. Salah sendiri.

Nah, yang saya lihat, banyak juga pebisnis muda yang begini. Sembrono buru-buru melepas bisnis tanpa membangun sistem dan belajar terus-menerus. Owner ini terlalu gengsi karena iming-iming motivator tentang kerennya jadi pebisnis. Padahal, selevel CT pun dulu bolak-balik ngangkut kertas fotokopian saat berbisnis fotocopy, sebelum sekarang jadi owner Bank Mega dan Transmedia Group. Djoko Susanto dulunya juga ngangkut barang di toko kelontong, sebelum sekarang jadi owner Alfamart. Sudono Salim dulunya adalah kuli kopra di pelabuhan, sebelum punya BCA dan Indofood. Membangun bisnis meniscayakan kerja keras dan persistensi, yang berkolaborasi dengan kejelian melihat peluang dan keinginan terus berkembang.

Saya jadi ingat yang Pak Budi Isman bilang waktu di Ciater lalu, “bisnis itu refleksi ownernya, saat ownernya berhenti belajar, maka di saat itu juga bisnisnya berhenti berkembang”. Indonesia diisi lebih dari 55 juta bisnis kecil dan mikro, yang sayangnya selalu jadi kecil dan mikro. Yang membedakan bisnis kecil yang kini meraksasa adalah orang-orang dibaliknya, yang tidak pernah berhenti untuk terus belajar, berjuang, dan berkembang. Mari terus naik kelas.

Leave a Reply