Kisah Elang

Dulu sekali di JCC dalam sebuah pameran, saya dihampiri satu orang yang mukanya familiar. Nama dan reputasinya lebih santer terdengar daripada penampakannya. Kisah suksesnya jadi banyak motivasi buat pengusaha muda. Tapi, gayanya tidak sesuai dengan apa yang didengar. Baju terlihat lusuh, sepatu pantofelnya terkelupas, nggak ada necis-necisnya. Dalam hati saya bergumam, “Serius ini Elang Gumilang?”.

Dan pepatah “Jangan menghakimi buku dari sampulnya”, memang benar. Saat dia mulai berbicara, barulah saya menyadar di hadapan saya ini memang bukan orang biasa. Bicaranya penuh kesederhanaan, sangat rendah hati, dan kaya akan makna. Dia bercerita kalau dulu di usia 25 tahun pernah nekat mengambil kredit untuk bisnis perumahannya. Berapa nilai kreditnya? Rp 40 M! Milliar bukan Munaroh! Bahayanya, kreditnya ini tanpa agunan, bunganya selangit. Untuk bayar bunganya aja hampir 400juta setiap bulannya. Saya sama beberapa teman saling melirik. “Omzet kita aja nggak nyampe segitu, ini bunga hutang doi doang”, begitu makna lirikan kita.

Beliau cerita soal visinya, dan bagaimana nafsu ternyata bisa membiaskan pandangan mata. “Kalau kamu mengejar nafsu, ujungnya dikejar nafsu, kaya saya dulu”. Mengejar nafsu, mengejar hutang, akhirnya dikejar bunga hutang. Bisnis yang dulu dinikmati jadi tidak indah lagi, siang dikejar hutang, malam mimpinya hutang. Kita jadi lupa apa makna dalam aktivitas kita. Untungnya Allah kasih kesempatan dia untuk taubat, dan mengingat betapa riba itu mendosakan dan menyengsarakan. Dia kejar proyek lebih keras untuk melunasi hutangnya, dan menarik skema berserikat dengan investor dalam setiap proyeknya. Dalam waktu kurang dari 2 tahun, hutangnya sudah nol rupiah, buah nanas sambal pedes; lunas bin ludes. “Allah itu Maha Adil, kalau kita ikuti jalannya, pasti dikasih lebih, nggak akan disengsarakan”, kata beliau menyimpul hikmah. Dan memang, saat itu total nilai proyek terkelola di Elang Group hampir mencapai Rp 1 Trilliun, dengan investasi dari US, Perancis, hingga Timur Tengah. Saat dia menceritakan ini di tahun 2012 dulu, usianya belum genap 28 tahun. Sakti mandragade.

Dia menutupnya dengan tips menjadi pengusaha sukses, karena ada teman saya yang nanya. Saya berekspektasi jawabannya tentang kerja keras, kejujuran, atau kejelian mencari peluang. Tapi, ternyata nggak. Jawabannya, “Dekatlah dengan Allah, karena hanya dengan begitu kita bisa melihat jelas apa yang kita tuju dan memilih jalan yang menenangkan dan membahagiakan. Kita kan ngejar surga, bro”. Dalem. Tapi masuk akal. Saat kualitas kita memang sedekat itu, kejujuran, kerja keras, dan kecerdasan adalah keniscayaan. Dan, lagi, inilah faktor yang membedakan jalan dia. Orang-orang besar memang selalu mampu memaknai setiap hal dengan besar; tidak sekecil fenomena yang kita rasa, tidak sekerdil dunia yang mampu kita indera. Visinya menembus diri yang terdalam, membongkar setiap tantangan, dan melewati ruang dan zaman. Saat kita mengejar dunia, orang seperti Elang sudah terbang berkelana melewatinya. Manusia seperti ini tidak mengejar materi, tapi mencari sesuatu yang tidak mampu terbeli; kebahagiaan setelah mati.

Memori ini kembali ternguing (bahasa apa ini) saat saya baca berita ini: http://m.kompas.com/properti/read/2014/06/24/1816453/Elang.Group.Akuisisi.Saham dua hari lalu. Dahsyat, kesaktiannya melebihi Sun Go Kong. Semoga kita segera menyusulnya, naik kelas melebihi batas. Dan semoga bukan hanya kesuksesan bisnisnya yang membuat kita iri, tapi juga kesuksesannya memaknai diri.

Leave a Reply