Tragedi Bulan Ramadhan

Saya bukan berasal dari keluarga yang mapan, buat biaya kuliah di Bandung aja butuh perjuangan. Supaya nggak ngekost, saya tinggal di rumah saudara yang nggak ditempati di daerah Ujung Berung. Jatah bulanan saya waktu itu sebulan 600ribu, untuk semua pengeluaran; ongkos, makan, tugas kuliah. Biaya naik angkot dari Ujung Berung ke ITB (caheum-cileunyi dan caheum-ledeng) Rp 5.500 sekali berangkat, bolak-balik Rp 11.000. Jatah saya per hari Rp 20.000. Sisa cuma Rp 9.000 untuk 3x makan dan tugas. Memang agak pedih.

Nah, dengan kepedihan itu, saya menghadapi Ramadhan pertama di Bandung seorang diri. Udah tinggal sendirian, buka-sahur nggak ada yang nyiapin, uang minim, lengkap sudah. Saya dulu pemalu, karena baru masuk kuliah, dan dulu (sampai sekarang) adalah satu-satunya alumni SMA saya yang masuk ITB, jadi nggak punya temen, nggak ada rekan se-almamater. Puncaknya, tragedi di akhir bulan September 2007, hari ke 19 Ramadhan. Setiap ingat ini, rasanya perih.

Waktu itu saya di rumah Ujung Berung. Karena nggak ada yang bangunin, saya sahur kesiangan, jadi nggak sempat makan. Uang tersisa tinggal Rp 6.000 karena belum dikirim jatah bulanan. Saya harus berangkat ke kampus karena kuliah jam 7 pagi, dan uang dipakai ongkos, sisa cuma Rp 500. Beres kuliah jam 5 sore, saya ke Salman. Dengan kondisi belum sahur, pas adzan maghrib saya nggak bisa makan karena belum dikirimi orang tua untuk jajan. Nggak tega rasanya mau minta, karena saya yakin mereka bukan sengaja lupa. Masjid Salman saat itu cuma menyediakan kurma 3 biji dan air putih. Dan nggak seperti tahun setelahnya dimana saya udah memetakan masjid sekitar Bandung yang makanan maghribnya enak, saya nggak bisa makan. Mau pinjam uang, nggak punya teman. Semua orang yang saya kenal masih temen baru, masa udah langsung minjem uang, mana mungkin dikasih. Mau beli Okky Jelly Drink pelepas dahaga penunda lapar, duit cuma 500 perak. Mau pulang, nggak ada ongkos. Mau jalan kaki, takut tergelepar di perjalanan karena Ujung Berung jauh pisan, padahal di rumah ada beras dan telur. Malam itu, saya hanya bisa membayangkam gemericik telor yang diceplok di minyak panas dan aroma nasi yang dimasak di rice cooker, lengkap dengan baluran legamnya kecap ABC. Bayangin ini rasanya macam memeras jeruk nipis di luka sembilu; pedih, semakin perih.

Malam itu saya harus tidur di Salman. Menjelang sahur, uang saya belum juga dikirim. Terpaksa nggak bisa makan sahur lagi, sekadar minum air putih. Besoknya saya kuliah dari pagi sampai sore, sampai adzan maghrib tiba, tapi saya tetap belum dikirim uang. Rasa lapar udah diubun-ubun, tapi da kumaha. Dengan alasan 1 paragraf yang di jabarkan sebelumnya, saya nggak bisa kemana-mana. Terpaksa saya tidur di Salman lagi, sampai sahur, yang belum juga dikirimi uang. Nggak makan sahur lagi. Esok harinya masih sama, kuliah sampai sore, hingga maghrib tiba. Saya cek ke ATM, uang masih belum diterima. Kisah PHP ATM ke saya lebih sadis daripada drama korea. Terpaksa belum bisa makan untuk berbuka selain air putih dan kurma. Nggak sahur, nggak buka, nggak sahur, nggak buka, nggak sahur, dan nggak buka lagi. Makan terakhir saya adalah buka puasa 3 hari yang lalu. Ini rasa lapar udah diubun-ubun dan ujung kuku jempol kaki. Pedih.

Malam itu saya tidur di Salman, dan sudah nyaris nggak kuat buat jalan. Saya berbaring sambil menatap langit masjid. Kepala pusing, pandangan buram, perut terlilit, nafas memburu, untungnya wajah tetap tampan. Bulan puasa, hampir 72 jam tidak makan selain tiga butir kurma tiap harinya. Saya sudah kehabisan energi, kepala sudah berkhayal kesana kemari, mulai dari ayam goreng McD sampai pikiran mau mati. Di titik nadir itu, saya bergumam, “Ya Allah, hamba akan mati sebentar lagi”. Asli, sepedih itu bro. Masuk ITB baru sebulan, masa harus meninggal di ruang utama masjid Salman? Aih, sungguh malang nasib. Tapi dipikir-pikir, mati di bulan Ramadhan di masjid, yah, insya Allah syahid lah. Saya revisi gumaman saya, “Ya Allah, hamba akan mati sebentar lagi, SEMOGA SYAHID!!”, sambil teriak kencang dalam hati. Wajar, teriak beneran nggak punya energi.

Tapi Allah belum mengijinkan saya syahid malam itu. Jam 11 menjelang dini hari HP saya bunyi, ada SMS dari Mama, “A’, uang udah dikirim, maaf ya telat”. Menerima itu, otak saya secara otomatis langsung membakar sedikit glikogen yang tersisa untuk menjadi energi yang dikumpulkan ke saraf motorik tangan dan kaki. Saya  bangun, lari kencang menuju ATM Mandiri di gerbang depan, lalu menuju tempat makan di Balubur pinggir jalan. Saking kencangnya itu lari, burung koak di atas pohon sepanjang jalan ganeca pun serentak pergi. Saya makan dua porsi, dan pandangan mata kembali berseri. Terima kasih ya Ilahi. *edan ini bagus euy ada rimanya*

Besok paginya, saya masih di Salman dan menyempatkan baca koran. Saya tersentak membaca satu berita di satu halaman yang berjudul “SATU ANAK DITEMUKAN MATI KELAPARAN”. Wah, saya kaget. Jangan-jangan ini saya yang mayatnya masih ketinggalan di dalam masjid, dan yang baca adalah arwah gentayangan?! Tapi ternyata nggak, saya cubit diri sendiri masih sakit, saya masih hidup. Ini berita beneran. Menurut saya, mati karena kelaparan itu sangat tersiksa, lebih baik mati ditembak tepat di kepala. Bayangkan kita merasakan perih di sekujur tubuh perlahan-lahan sampai nggak lagi punya kekuatan untuk sekadar memompa darah ke seluruh badan. Bayangkan kita melihat cahaya terakhir, mendengar suara terakhir, diiringi dengan rasa sakit karena lapar yang tidak kunjung hilang hingga akhir. Hampir pecah tangis membayangkan ada yang mati, dengan rasa lapar yang sama seperti yang saya rasakan semalam. Dan bulir air pun menetes ketika baca bahwa yang mati itu adalah warga Indonesia, di bumi Indonesia. Di tempat yang tanahnya tumbuh jika ditancap tongkat, yang katanya diisi kolam susu dan bukan lautan, ada orang yang mati kelaparan! Kemana pemerintah yang mengurus warga dan sumber daya alamnya? Kemana orang kaya yang ada di sekelilingnya? Saya menarik nafas panjang. Pagi itu, meskipun sudah makan nasi, saya tetap merasa perih. Kali ini bukan di lambung, tetapi di hati. Di detik itu saya berjanji untuk melepaskan setiap manusia Indonesia dari kelaparan suatu saat nanti. Di detik itu, hidup saya memiliki visi.

Saya diberkahi karena Allah memberi saya alasan dengan cara kelaparan sejak awal sekali menjadi mahasiswa. Kehidupan di kampus setelahnya tidak lebih mudah, tapi visi itu membawa saya untuk lebih kuat dan berani. Untuk mencapai visi itu, pilihan jalan hidup saya hanya dua; menjadi pemegang kebijakan di jalur politik, atau menjadi pebisnis yang merevolusi sektor pangan. Dan semua hal yang saya tempuh di kampus, buku yang saya baca, pasti berkaitan dengan keduanya. Di organisasi, saya pasti terlibat di divisi/kementerian sosial politik, atau divisi ekonomi/kewirausahaan. Sejak tingkat dua, saya berbisnis di sektor agri, mulai dari pupuk, cacing, trading pertanian, konsultan peternakan, petani ikan, pebisnis olahan, hingga memutuskan untuk berkonsentrasi di Cybreed yang menyediakan teknologi tepat guna untuk petani. Ini yang memudahkan saya untuk memutuskan mandiri dan bayar kuliah sendiri sejak tingkat 2. Ini yang memudahkan saya menolak saat forum kahim mengajukan saya untuk jadi presiden KM saat itu. Ini pula yang memudahkan saya menolak untuk mengelola perusahaan konstruksi dengan omzet Rp 50M per tahun untuk startup teknologi agrikultur yang belum jelas masa depannya; karena saya tahu jelas apa yang ingin dituju. Kekuatan alasan memudahkan saya untuk menentukan setiap pilihan dan menjalankannya dengan habis-habisan.

image

Hal ini sesuai dengan teori golden circle yang dicetuskan Simon Sinek, bahwa ada tiga lingkaran dalam aktivitas manusia; Why (kulit terdalam), How (kulit tengah), dan What (kulit terluar). Inspiring leaders, great entrepreneurs, selalu memulainya dari WHY, mereka tahu jelas mengapa mereka melakukan itu. Kekuatan alasan mengalahkan semuanya, menjadi sumber daya terbesar yang kita punya. Alasan yang kuat menjadikan Orville dan Wilbur Wright, yang hanya pemilik bengkel sepeda dari Ohio, membuat mesin yang berhasil terbang pertama yang dikendalikan manusia, dan kelak merevolusi dunia. Alasan yang tepat menjadikan Steve Jobs, seorang drop-out dari perguruan tinggi liberal arts, menjadi penggagas revolusi di bidang komputer, animasi, musik, dan telekomunikasi; lalu mengubah dunia. Selalu lah memulai dengan alasan yang kuat dan tanamkan dalam diri hingga menjadi kepercayaan yang terpancar. Inilah yang, sebagai pemimpin, membuat kita dikelilingi orang-orang yang satu visi yang akan kuat berjuang bersama. People don’t follow you because you have what they need, people follow you because they believe what you believe.

Lalu, biarkan memori kita kembali ke belasan abad lalu, dimana kekuatan alasan membuat seorang yatim piatu, yang tak mampu baca tulis, yang tak berdarah biru, mampu mengubah zaman. Tidak ada yang mampu menyamai alasan yang Ia punya, dan tidak jua ada yang mampu menyamai dampak yang Ia bina. Muhammad SAW, menjadi teladan bahwa kekuatan alasan atas dasar ketuhanan dan rahmat bagi semesta alam menjadikannya manusia yang paling berpengaruh dalam garis waktu, dan menjadikannya pemimpin, yang hanya dari kisahnya saja, mampu memperbaiki kehidupan miliaran makhluk bumi. Kekuatan alasan yang Allah ridhoi menjadikannya pemimpin terbesar dalam sejarah peradaban. Pastikan kita memiliki kekuatan alasan, dan pastikan alasan kita cukup besar dan benar.

Naik Kelas, Keleus

Bisnis rada niat pertama saya waktu di tingkat dua, sekitar taun 2009. Waktu itu saya start bisnis ternak cacing. Bisnis ternak cacing ini ajaib, karena modalnya dikit, efisiensi tinggi, dan harga jual bagus. Jadi modalnya cuma sampah organik yang disimpan di wadah campuran tanah dan cacing. 60% dari sampah itu dikonversi jadi pupuk, dan 40% sisanya jadi biomassa cacing. Dua-duanya bisa dijual. Pupuk dijual harganya 1000 sampai 2000 per kg, sedangkan cacingnya Rp 125.000/kg, lebih mahal dari daging sapi. Bahkan, waktu itu dapat permintaan dari Malaysia dalam bentuk kering, harganya Rp 1.000.000/kg. Edun lah.

Cacing makannya sampah organik, sisa rumah tangga atau pasar. Biar produksinya cepet, sisa sampah ini harus diperhalus biar gampang dicerna. Jadi kerjaan saya dulu adalah ke rumah makan sekitar ITB dan pasar balubur buat ngumpulin sampah, ngeblenderin satu-satu itu sampah, terus nyuapin ke cacing di tempat produksi sekitar pelesiran. Kitu weh terus. Tanahnya juga harus dijaga kelembabannya, disemprotin rutin tiap jam. Leuwih riweuh ti ngurus pacar. Tapi alhamdulillah berjalan. Produksi jalan, jualan lancar, cacing pun senang.

Tapi da namanya pengusaha pemula, kemakan jargon “Bisnis jalan, kitanya jalan-jalan”. Apalagi kerjaannya asa nggak elite, ya ngumpulin sampah sisa sama ngasih makan cacing, aduh asa teu bisa update status gaul di twitter. Akhirnya terburu-buru lah rekrut karyawan, tanpa sistem udah dibangun dengan jelas, tanpa SOP yang bisa terkontrol, tanpa KPI yang udah di-set, dan tanpa pola manajemen karyawan dan pemasaran yang jelas. Lebih dari itu, tanpa semangat membangun bisnis dan terus belajar. Tujuannya biar bisa gaya dan jalan-jalan. Merasa udah finish, padahal belum lama start.

Nggak sampai 1 bulan, muncul lah masalah. Pas di kelas lagi kuliah, saya ditilpun Pak RT yang punya tempat saya produksi Pak RT ini marah-marah minta saya segera ke kontrakan. Saya bingung. Karena panik, langsung lah buru-buru datang. Sesampainya disana, ternyata depan kontrakan saya penuh sama orang se-RT. Asa mau ada penghakiman massal. Saya deg-degan, jangan-jangan disangka maling celana dalam Pak RT. Pak RT langsung nyamperin sambil melotot:

“KAMU INI PAKAI APA DI KONTRAKAN SAYA!”, kata Pak RT marah-marah

“Cuma buat produksi aja kok, Pak”

“SERIUS KAMU! SAYA TELPON POLISI YA! KAMU PASTI NYIMPEN MAYAT DISINI!”

“Hah, nggak lah Pak!”, jawab saya kaget sambil pucat muka.

Ternyata saya dikira ngebunuh orang atau nyimpen mayat bayi orok hasil hubungan gelap. Edan teuing. Udah mau dikeroyok ieu mah euy. Untuk menenangkan warga, saya memutuskan untuk mengajak semuanya kayang. Nggak ding. Saya langsung buka pintu. Ternyata eh ternyata, ADA MAYAT WANITA! Nggak lagi ding. Ternyata karyawan saya kabur, cacing nggak ada yang ngurus, sampah membusuk. Yang tadinya ternak cacing malah jadi ternak belatung. Itu baunya emang kaya mayat. Pusing lah saya, belatung dimana-mana. Warga protes, Pak RT protes, besoknya saya digusur dari kontrakan. Karyawan kabur, permintaan keputus, pelanggan kabur, dan uang pun kabur. Bangkrut lah bisnisnya. Pedih.

Di kondisi ini, dulu saya nyalahin karyawan yang nggak bertanggung jawab. Tapi itu salah, karena yang sebenernya salah ya ownernya, saya sendiri. Salah sendiri ngerekrut karyawan asal-asalan, salah sendiri nggak bikin SOP yang jelas, salah sendiri nggak ngontrol dengan rutin, salah sendiri bisnis asal dilepas. Salah sendiri.

Nah, yang saya lihat, banyak juga pebisnis muda yang begini. Sembrono buru-buru melepas bisnis tanpa membangun sistem dan belajar terus-menerus. Owner ini terlalu gengsi karena iming-iming motivator tentang kerennya jadi pebisnis. Padahal, selevel CT pun dulu bolak-balik ngangkut kertas fotokopian saat berbisnis fotocopy, sebelum sekarang jadi owner Bank Mega dan Transmedia Group. Djoko Susanto dulunya juga ngangkut barang di toko kelontong, sebelum sekarang jadi owner Alfamart. Sudono Salim dulunya adalah kuli kopra di pelabuhan, sebelum punya BCA dan Indofood. Membangun bisnis meniscayakan kerja keras dan persistensi, yang berkolaborasi dengan kejelian melihat peluang dan keinginan terus berkembang.

Saya jadi ingat yang Pak Budi Isman bilang waktu di Ciater lalu, “bisnis itu refleksi ownernya, saat ownernya berhenti belajar, maka di saat itu juga bisnisnya berhenti berkembang”. Indonesia diisi lebih dari 55 juta bisnis kecil dan mikro, yang sayangnya selalu jadi kecil dan mikro. Yang membedakan bisnis kecil yang kini meraksasa adalah orang-orang dibaliknya, yang tidak pernah berhenti untuk terus belajar, berjuang, dan berkembang. Mari terus naik kelas.

Kisah Elang

Dulu sekali di JCC dalam sebuah pameran, saya dihampiri satu orang yang mukanya familiar. Nama dan reputasinya lebih santer terdengar daripada penampakannya. Kisah suksesnya jadi banyak motivasi buat pengusaha muda. Tapi, gayanya tidak sesuai dengan apa yang didengar. Baju terlihat lusuh, sepatu pantofelnya terkelupas, nggak ada necis-necisnya. Dalam hati saya bergumam, “Serius ini Elang Gumilang?”.

Dan pepatah “Jangan menghakimi buku dari sampulnya”, memang benar. Saat dia mulai berbicara, barulah saya menyadar di hadapan saya ini memang bukan orang biasa. Bicaranya penuh kesederhanaan, sangat rendah hati, dan kaya akan makna. Dia bercerita kalau dulu di usia 25 tahun pernah nekat mengambil kredit untuk bisnis perumahannya. Berapa nilai kreditnya? Rp 40 M! Milliar bukan Munaroh! Bahayanya, kreditnya ini tanpa agunan, bunganya selangit. Untuk bayar bunganya aja hampir 400juta setiap bulannya. Saya sama beberapa teman saling melirik. “Omzet kita aja nggak nyampe segitu, ini bunga hutang doi doang”, begitu makna lirikan kita.

Beliau cerita soal visinya, dan bagaimana nafsu ternyata bisa membiaskan pandangan mata. “Kalau kamu mengejar nafsu, ujungnya dikejar nafsu, kaya saya dulu”. Mengejar nafsu, mengejar hutang, akhirnya dikejar bunga hutang. Bisnis yang dulu dinikmati jadi tidak indah lagi, siang dikejar hutang, malam mimpinya hutang. Kita jadi lupa apa makna dalam aktivitas kita. Untungnya Allah kasih kesempatan dia untuk taubat, dan mengingat betapa riba itu mendosakan dan menyengsarakan. Dia kejar proyek lebih keras untuk melunasi hutangnya, dan menarik skema berserikat dengan investor dalam setiap proyeknya. Dalam waktu kurang dari 2 tahun, hutangnya sudah nol rupiah, buah nanas sambal pedes; lunas bin ludes. “Allah itu Maha Adil, kalau kita ikuti jalannya, pasti dikasih lebih, nggak akan disengsarakan”, kata beliau menyimpul hikmah. Dan memang, saat itu total nilai proyek terkelola di Elang Group hampir mencapai Rp 1 Trilliun, dengan investasi dari US, Perancis, hingga Timur Tengah. Saat dia menceritakan ini di tahun 2012 dulu, usianya belum genap 28 tahun. Sakti mandragade.

Dia menutupnya dengan tips menjadi pengusaha sukses, karena ada teman saya yang nanya. Saya berekspektasi jawabannya tentang kerja keras, kejujuran, atau kejelian mencari peluang. Tapi, ternyata nggak. Jawabannya, “Dekatlah dengan Allah, karena hanya dengan begitu kita bisa melihat jelas apa yang kita tuju dan memilih jalan yang menenangkan dan membahagiakan. Kita kan ngejar surga, bro”. Dalem. Tapi masuk akal. Saat kualitas kita memang sedekat itu, kejujuran, kerja keras, dan kecerdasan adalah keniscayaan. Dan, lagi, inilah faktor yang membedakan jalan dia. Orang-orang besar memang selalu mampu memaknai setiap hal dengan besar; tidak sekecil fenomena yang kita rasa, tidak sekerdil dunia yang mampu kita indera. Visinya menembus diri yang terdalam, membongkar setiap tantangan, dan melewati ruang dan zaman. Saat kita mengejar dunia, orang seperti Elang sudah terbang berkelana melewatinya. Manusia seperti ini tidak mengejar materi, tapi mencari sesuatu yang tidak mampu terbeli; kebahagiaan setelah mati.

Memori ini kembali ternguing (bahasa apa ini) saat saya baca berita ini: http://m.kompas.com/properti/read/2014/06/24/1816453/Elang.Group.Akuisisi.Saham dua hari lalu. Dahsyat, kesaktiannya melebihi Sun Go Kong. Semoga kita segera menyusulnya, naik kelas melebihi batas. Dan semoga bukan hanya kesuksesan bisnisnya yang membuat kita iri, tapi juga kesuksesannya memaknai diri.