AEC 2015: Regional Overview

Salah satu misi pribadi saya ke Filipina kemarin adalah untuk melihat ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dalam kacamata regional. Bagaimana persiapan masing-masing negara, perusahaan multinasional, investor, dan terutama, para startups dalam melihat AEC 2015 ini. Hasilnya, menarik.

Bagi yang belum tahu, AEC 2015 adalah event liberalisasi ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal (single market and production base). Manifestasinya dalam tiga hal: 1) free flow of goods/services, 2) free flow of investment, dan 3) free flow of skilled labor. Dengan kata lain, produk dan jasa, investasi, serta tenaga kerja terlatih akan bebas mengalir antar negara-negara ASEAN, melalui pembebasan tarif bea-cukai, kemudahan birokrasi, dan pembebasan visa kerja. Ini tantangan sekaligus peluang: kalau Anda pengusaha, berarti mendapatkan total 600juta potensi pasar, sekaligus kompetitor tambahan lintas-negara. Hal yang sama berlaku untuk self-employee dan karyawan. Tukang nasi uduk bisa bersaing sebelahan dengan tukang nasi lemak dari Malaysia. Engineer atau Financial Planner kita bisa bersaing memperebutkan posisi atau klien yang sama. Karena konteksnya 3 hal tadi, supaya sederhana, saya mencoba mencari jawaban dari ketiga pertanyaan ini: a) bagaimana UMKM mempersiapkan produk/servis untuk ekspansi lintas negara?, b) negara mana yang menjadi preferensi investasi?, c) bagaimana kualitas tenaga kerja terlatih di setiap negara?

Mulai dari pertanyaan pertama. Gimana sih kondisi UMKM masing-masing negara? Kondisi di Filipina, Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia dari observasi saya hampir sama. Infrastruktur, skala bisnis, investasi, dan dukungan pemerintahnya sama: biasa-biasa saja. Malaysia lebih baik karena iklim entrepreneurship dibangun secara sistemik oleh pemerintah, dengan adanya inkubator, accelarator, dan pendanaan yang dibuat langsung oleh pemerintahnya. Tapi, gerakan entrepreneurship dari akar rumput justru minim. Filipina dan Indonesia terbalik, dukungan pemerintah tidak optimal (Filipina sedikit lebih baik) tetapi iklim terbentuk justru dari para investor dan entrepreneur yang ada. Singapore tentunya yang paling menggeliat. Laos, Kamboja, dan Myanmar sedikit terbelakang karena masalah infrastruktur. Telekomunikasi, internet, dan smartphone belum banyak tersedia, sehingga iklim entrepreneurship hanya tumbuh di beberapa sektor saja.

Tapi, di semua negara, mayoritas UMKM memang tidak aware dengan adanya AEC 2015. Di Buku “AEC 2015: Work in Progress” dari Asian Development Bank memperlihatkan hasil survey bahwa secara menyeluruh, 55% bisnis tidak mengetahui adanya AEC 2015. Indonesia, Filipina, Singapura, dan Vietnam juga memperlihatkan secara berturut-turut bahwa 77%, 80%, 86%, dan 76% tidak sadar akan AEC 2015. Justru Laos, Kamboja, Myanmar, yang justru mayoritas pengusahanya sadar akan ini. Jadi, kalau Anda nggak aware? Santai, berarti Anda mainstream.

Di buku yang sama juga memperlihatkan hasil dimana mayoritas pebisnis memprioritaskan menggarap pasar domestik dibandingkan ekspansi ke negara ASEAN lain. Di survey tersebut, pebisnis juga ditanyakan preferensi target market: domestik, negara ASEAN lain, atau rest of the world (ROW). Hasilnya, 60% memilih pasar domestik sebagai prioritasnya, 16% memilih pasar negara ASEAN lain, dan 23% memilih ROW. Hal ini bisa memperlihatkan 2 kemungkinan: para pebisnis belum siap ekspansi, dan potensi market negara ASEAN lain tidak sebegitu menggoda. Tapi, kalau dilihat secara sektoral, pebisnis kuliner lebih aware dan memiliki preferensi ekspansi dibanding sektor lainnya (67%). Hal ini memang terlihat dari beberapa tahun belakangan ekspansi bisnis kuliner sangat agresif antar negara ASEAN

Berlanjut ke pertanyaan kedua, bagaimana dengan investasi? Saya mengobservasi ini dengan melayangkan pertanyaan ke para investor domestik maupun multinasional tentang kondisi market tiap negara secara makro dan rencana investasi mereka. Hasilnya sama, bahwa investor paling meminati Filipina sebagai negara tujuan investasi. Alasannya, marketnya sangat luas, middle income meningkat, konsumsi naik, pertumbuhan ekonomi sedang meroket, dan optimisme di perbaikan pemerintahan sedang tinggi. Presiden Benigno III Aquino, yang sangat excellent dalam komunikasi bahasa Inggris (dibanding presiden lain), memiliki kejelian untuk mampu menarik FDI dengan membangun lingkungan investasi yang baik. Filipina lebih baik dibanding Indonesia jika melihat kemudahan birokrasi, index korupsi, dan proteksi terhadap hak intelektual.

Kemudian, Myanmar menjadi salah satu tujuan investasi yang menggoda untuk sektor infrastruktur. Infrastruktur yang belum berkembang, populasi yang besar, dan lagi-lagi optimisme masyarakat menjadi penarik utama para investor. Bagaimana dengan Indonesia? Saya sempat berdiskusi dengan managing partner investor CIMB dan Axiata, yang berinvestasi di Indonesia di sektor perbankan dan telekomunikasi. Mereka bilang, pasar terbaik memang di Indonesia, karena secara demografis dan perilaku konsumtif menjadi salah satu yang tertinggi. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir pertembuhan ekonomi melambat, dan sering disebut sebagai bagian dari Fragile Five, negara yang fragile secara ekonomi. Tapi, saya sepakat dengan Pak CT yang mengatakan bahwa Indonesia adalah pasar utama bagi investor maupun pebisnis.

Lalu, menuju pertanyaan ketiga, bagaimana kualitas SDM di tiap negara? Ini juga menarik. Singapore tentunya memiliki SDM tingkat dunia untuk urusan service and hospitality. Di sektor medis, Thailand dan Singapore sudah jadi tujuan utama dunia karena kualitasnya yang mengagumkan. Filipina merupakan saingan terberat Indonesia untuk urusan ketenagakerjaan. Dengan upah minimum yang relatif sama, orang-orang Filipina lebih ramah dan lancar berbahasa Inggris dibandingkan orang Indonesia. Saya mengujinya dengan iseng pergi ke terminal semacam Pulogadung di Filipina, yaitu Guadalupe, lalu mengajak dialog dengan bahasa Inggris ke tukang pisang goreng, penjaga minimarket, teteh-teteh penjaga toko baju, dan ibu-ibu penumpang kereta. Hasilnya, semua bisa berbahasa Inggris. Hal ini yang menyebabkan investor lebih berminat ke Filipina. Di Hongkong pun, jumlah tenaga kerja dari Filipina lebih besar dibanding Indonesia, dan hal ini menyumbang 10% devisa negara. Thailand dan Vietnam lebih buruk jika berkaitan dengan english fluency. Tapi, Thailand mencoba memperbaiki itu dengan menganggarkan insentif 500juta baht untuk pendidikan bahasa Inggris di sekolah-sekolah.

Apa kesimpulannya? Dalam kacamata regional, AEC 2015 bukan event yang dinanti, disadari, apalagi dikhawatirkan oleh masyarakat ASEAN. Persiapan masing-masing negara juga kurang lebih sama, tidak ada yang ambisius. Tapi, mau tidak mau, ajang ini pasti datang untuk menantang kita dengan potensi pasar dan kompetisi yang lebih luas. Mempersiapkan diri, dengan menggali peluang ekspansi, meningkatkan kapasitas dan kemampuan berbahasa, tentu tidak ada salahnya. Yang pasti, konteks AEC 2015, yang kelak disusul dengan pasar bebas diikuti oleh para raksasa Cina, Jepang, Korea, Australia, dan New Zealand di dua tahun berikutnya, membutuhkan sosok kepemimpinan Indonesia yang terbuka pemahaman regional-internasional tapi tetap berorientasi pada proteksi dan pengokohan nasional.

Leave a Reply