Mengejar Kebahagiaan

Di GK Enchanted Farm, Bulacan, saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu penggeraknya, Dylan Wilk, seorang berkebangsaan Inggris yang kini tinggal di Filipina. Penampilannya sangat sederhana, rendah hati, dan penuh kepedulian. Saat Ia menceritakan masa lalunya, saya terngaga. Beneran nganga.

Dylan dulunya adalah seorang startup founder di era dotcom bloom, akhir tahun 90an, satu jaman dengan Larry Page atau Jeff Bezos. Dia seorang dropout yang memulai bisnis di usia 20 tahun, dan sukses. Bisnis game online market-nya merupakan salah satu perusahaan yang berhasil masuk ke bursa London Stock Exchange; yang membuatnya sangat kaya di usia muda. He was the 9th richest man under 30 in England. Profilnya macam Bill Gates dan Steve Jobs, impian setiap pengusaha muda.

Di usia semuda itu, Ia sudah memiliki apa yang kebanyakan anak muda cari: harta dan ketenaran. Garasinya dulu diisi oleh Porsche, BMW, Ferrari, you name it. Dia punya mansion, dan kalau malas kena macet, tinggal naik helikopter. Asik banget kan. Karena berasal dari keluarga miskin, mampu menikmati kemewahan semacam itu adalah privilage bagi Dylan, penuh kesenangan. Semua baik-baik saja, sampai satu hari yang tiada diduga…

Saat itu, tepat enam pekan setelah dia membeli Ferrari impian, dari dulu sudah didamba-dambakan. Di hari itu, enam pekan setelah beli Ferrari baru, ia baca berita kalau Ferrari meluncurkan model paling baru. Lebih bagus, lebih jadi dambaan. Barang yang dari dulu dia inginkan sekarang berubah jadi nggak menarik, hanya karena ada model baru yang lebih menarik. Lebih parahnya, kesenangan yang Ia dapatkan dari Ferrari itu malah jadi kekesalan dan berubah jadi keinginan yang lebih menenggelamkan. Di titik itu Ia merenung, karena merasa hampa. Ada yang salah dari dirinya, dia memutuskan untuk keliling dunia, mencari isi dari kekosongan diri.

Pergilah Ia ke Afrika, Amerika Selatan, hingga ke Asia. Sekembalinya dari pencarian diri, Ia masih belum mendapat jawaban. Justru Ia mendapatkan pencerahan setelah bertemu dengan koleganya orang Filipina yang ada di Inggris, dan dikenalkan dengan penggerak masyarakat, Tony Meloto, seorang social entrepreneur yang bermimpi mengentaskan kemiskinan di negaranya. Terbanglah Dylan ke Filipina, lalu Ia terkejut dengan apa yang dilihat. Kebanyakan orang di Filipina hidup di kemiskinan, tanpa rumah, dan di tengah sumber daya alam melimpah. Dylan makin tercekat ketika tahu bahwa satu BMW yang dimilikinya seharga 15 tempat tinggal baru bagi keluarga di miskin di Filipina; dan tiket pesawat keliling dunianya bisa membeli 10 rumah bagi mereka. Disitu dia tahu betapa piciknya dulu, sekaligus terbuka matanya tentang makna hidup yang ingin Ia padu.

Dia kembali lagi ke Inggris, kemudian merasa muak dan mual saat melihat isi garasi. Langsung lah dia menghubungi Tony Meloto, dan mengutarakan keinginan menjual BMWnya lalu mengirimkan uangnya untuk membangun rumah bagi rakyat miskin Filipina. Tony hanya tersenyum, lalu berkata “We don’t need your money, just come here and we build people’s life together“. Sekarang sudah bertahun-tahun sejak Ia meninggalkan kekayaannya disana, memutuskan untuk membangun komunitas di Filipina, menjadi menantu dari Tony, dan hidup bahagia. Kini gerakan yang diinisiasi olehnya dan Tony sudah membangun 1910 rumah gratis bagi rakyat miskin disana, memiliki 34 desa pertanian berdikari, dan menjalani bisnis kosmetik berbasis sosial yang memiliki 32 cabang di 4 negara. Total jutaan orang yang sudah dibebaskan dari kemiskinan. Besar sekali dampaknya. Dylan bilang, “I was vastly rich, but was not happy as I am right now“.

Di akhir dialog yang sangat menyentuh, Dylan menutupnya dengan kalimat yang lebih menyentuh: “Strive for happiness, not just pleasure“. Kejar kebahagiaan, jangan kesenangan. Basi memang, tapi kalimat itu hadir sebagai buah pengalaman pencarian diri yang luar biasa, lebih kaya makna.

Kita seringkali buram tentang apa yang dikejar, tak jarang kita berhasrat besar mengejar hal yang tidak mendasar. Dari dia saya belajar, bahwa sedini mungkin kita harus mengingatkan diri untuk tidak mengejar kesenangan belaka yang hanya akan menjadi dahaga yang tiada habisnya. Tantangan terbesar bagi kita adalah sejelas mungkin mendefinisikan diri, secerah mungkin mengetahui apa yang menjadi misi, dan setegas mungkin membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diingini. Di titik akhir dari itu, ada kebahagiaan yang bisa kita temukan, dari kemurnian niat mengejar manfaat yang bisa kita hasilkan. Lagi, semuanya sesederhana slogan ini: “be who you are, do what you love, and have what you need“. Mari mengejar kebahagiaan.

Leave a Reply