Cerdaslah Secara Finansial

Saya berkesempatan diskusi untuk memetakan masalah project Global Shaper di Davao City. Kelompok diskusinya menarik: satu dari Hongkong, satu dari Seoul, satu dari Tokyo, satu dari Manila, satu dari Davao, dan satu lagi dari Bandung (eike cyin). Total enam orang; tiga dari negara maju, tiga lagi negara berkembang. Isu yang ingin diselesaikan lebih menarik lagi: financial literacy. Davao ini kota di Filipin dengan populasi terbesar ketiga. Kalau saya dengar, karakteristiknya mirip Bandung.

Nah, saat diskusi dimulai dengan mengidentifikasi masalah finansial di filipin secara umum, orang-orang dari negara maju kaget dengan situasi yang ada. Saya dan rekan-rekan dari Filipin juga kaget karena mereka bisa kaget dengan kondisi yang menurut saya umum banget terjadi. Dan orang dari negara maju kembali kaget karena kami kaget melihat mereka kaget. Akhirnya kami kaget melihat mereka kaget karena kami kaget melihat mereka kaget. Lalu merekapun kembali kaget….ah, mari sudahi.

Intinya, ada beberapa hal yang mengejutkan mereka, dan kondisi ini sangat umum di Indonesia:

1. Beban finansial anak terhadap orang tua. Di Indonesia dan Filipina, ini sangat umum. Orang tua mengharapkan anak memenuhi kebutuhannya di hari tua, yang membuat beban finansial generasi muda tinggi. Saat teman dari Tokyo tanya tentang apa umumnya rencana pensiun orang disini, teman dari Filipin menjawab: “have a successful children“. Di negara maju tentu ini nggak terjadi. Hal ini diperparah dengan upah minimum yang lebih kecil. Kebutuhan di atas upah memaksa kita mencari uang masuk yang lain. Dan karena skill terbatas, kemampuan investasi minim, ujungnya satu-satunya jalan adalah berhutang. Yang menjadikan masalah lain yang mengejutkan:

2. Kebiasaan berhutang. Di Indonesia mungkin tidak seekstrem Filipina, karena bahkan di beberapa daerah ada warung retail yang memperbolehkan orang berhutang dengan gampang. Tapi kurang lebih sama; hutang membeli mobil dan motor, rumah, bahkan kartu kredit. Kepemilikan kartu kredit pun bisa didapatkan dengan sangat mudah, mendorong masyarakat untuk konsumtif karena merasa punya daya beli yang lebih besar, padahal semu. Di negara maju, orang malas mengajukan kartu kredit. Bahkan berhutang itu tabu, kecuali benar-benar butuh. Sampai-sampai, biasanya wanita muda minta tolong temannya yang kerja di bank untuk mengecek status keuangan pacarnya (ilegal sih). Saat ketahuan banyak hutang, didepak langsung. Kondisi ini juga memperlihatkan masalah lain yang berbeda di negara maju dan berkembang:

3. Konsumerisme. Udah kenal baik lah ya kalau di Indonesia kelas menengah sangat konsumtif. Ini juga terjadi di Filipina. Tingkat konsumtif yang didasari motivasi gengsi bahkan jadi lifestyle yang akut, sampai ada trend “shop & selfie“, belanja sambil dipamerin dengan selfie di sosmed. Di Hongkong, Jepang, dan Korea, justru hal ini tidak terjadi. Kalau ada orang yang beli barang mahal yang nggak butuh (luxury goods), dia akan dibilang bodoh dan nggak bijak, tertekan secara sosial. Mereka sangat bijak dalam spending money, yang kemudian terlihat jelas di poin keempat:

4. Alokasi belanja. Ini standar banget dalam financial planning, yang tentu di Indonesia dan Filipina belum banyak yang melakukan dengan disiplin. Di Korea, ini sudah jadi kebiasaan sejak dulu. Teman saya cerita kalau dari kecil, setiap awal bulan dia melihat ibunya memisahkan gaji yang didapat di beberapa amplop: pendidikan, mortgage, pengeluaran bulanan, tabungan, dan lain sebagainya. Dan itu sangat disiplin. Itulah kenapa di era IT, mint.com dan aplikasi sejenis sangat dimanfaatkan dengan baik. Ini sudah masuk ke dalam budaya sehari-hari.

Kesimpulan dari diskusi ini adalah rencana dibuatnya satu kampanye berjudul “Don’t marry a debtor“. Intinya adalah mengurangi hutang pribadi akibat konsumsi yang tidak penting dengan hukuman sosial paling kejam: jomblo seumur hidup. Ini bisa juga kalau dilakukan di Indonesia.

Tapi, secara umum, saya melihat bahwa financial intellegence dan financial literacy ini jadi berperan sangat penting untuk kehidupan bermasyarakat. Kita bukan bicara sekadar stabilitas finansial personal atau keluarga, tapi membangun kebiasaan masyarakat yang kelak bisa memperkuat dan memperbijak bangsa kita. Mari cerdas!

Leave a Reply