Pamer Dunia Akhirat

Di satu malam poolside party undangan CEO Standard Chattered, saya ngobrol santai dengan bapak CEO intellectual firm di Silicon Valley dan teteh-teteh owner startup di Perth. Kebanyakan saya diem dan pasang tampang mikir, karena mereka ngomongin mana yang lebih enak antara anggur merah dan anggur putih. Ya mana eike tahu. Satu-satunya hal yang saya tahu tentang anggur merah adalah bahwa itu belum seberapa jika dibandingkan dengan senyumanmu. Beres ngobrol itu, mereka ngobrol soal dating dan partying. Saya diem lagi, cuma ikut nyengir.

Saya baru ikut nimbrung setelah salah satu dari mereka nyadar kalau dari tadi saya cuma minum cola. Terus nanya, “So you don’t drink alcohol?“. Saya jawab, “No, never, not a sip“. Mereka kaget. Terus satu orang lain juga baru sadar kalau di beberapa party di night club dan salsa bar buat anak muda di malam-malam sebelumnya saya nggak pernah ikut, lalu nanya kenapa. Saya jawab kalau selepas acara terakhir, selalu langsung ke kamar buat skyping sama bini. Mereka kaget lagi, kali ini sambil terkagum. Saya merasa ganteng.

Nah, kalimat selanjutnya yang diucapkan bapak CEO IP firm mengejutkan, dia bilang: “I have a friend like you in US. He doesn’t smoke, no alcohol, never partying, and settle with one girl. Now he is very successful, like a Bill Gates to me. I hope you’ll become one“. Sekarang saya yang kaget, sambil mengamini. Ini orang yang ngomong adalah partner Samsung saat perang paten sama Apple kemarin, jadi yang diceritain ini pasti ngeri. Biar nggak penasaran, saya tanya pertanyaan sensitif, “What was his religion, if you don’t mind?“. Dia jawab, “He was more of an atheist, but he is Jewish, though“. Saya diam.

Menurut saya, kalimat di atas sangat masuk akal. Jika kita tidak menghabiskan waktu untuk mabuk dan berpesta dan setia dengan satu pasangan, maka waktu kita lebih banyak, otak kita lebih segar, kesehatan lebih terjaga, dan emosi pun lebih terbina. Dengan kata lain, lebih banyak energi untuk melakukan lebih. Jadi, sangat wajar orang itu bisa mencapai lebih dari orang lain. Saya pun pernah membaca kalau Bill Gates melakukan hal yang sama. Dan tentu kita tahu, ini sangat islami. Yang jadi bahan pemikiran saya adalah: jika muslim melakukan itu, lalu mengapa minim berita tentang pencapaiannya?

Diantara ratusan distinguished leaders di pelbagai sektor yang datang kemarin, saya nyaris tidak menemukan yang muslim kecuali dari Indonesia. Peraih nobel, seingat saya hanya enam yang muslim. Pencapaian secara individual dan jama’ah sangat minim. Perusahaan mendunia yang dibangun oleh muslim, nyaris tidak pernah terdengar. Kalau dengan logika yang tadi, kenapa ini bisa terjadi? Kan harusnya secara kolektif, kita lebih banyak energi. Karena jumlah muslim lebih sedikitkah? Ah, Yahudi jauh lebih sedikit. Karena kita diajarkan untuk menjadi biasa saja kah? Ah, dasar ajaran kita kan rahmat bagi semesta dan manfaat seluas-luasnya.

Dalam kegelisahan singkat di tengah obrolan tadi, saya tidak tahan untuk tidak bertanya: “That your friend in mind, why do you think he can achieve that?“. Jawaban dia nggak bisa lebih sempurna dari ini: “I don’t know, he just works very hard, with some sort of motivation like he want to impress the world“. Gila, mendengar itu saya hampir mengecup kening si Bapak, karena saya jadi bisa mengaitkannya dengan ayat ini:

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Kalau orang itu punya motivasi memperlihatkan sesuatu pada dunia, kita punya dasar motivasi untuk memperlihatkan sesuatu yang lebih jauh dari dunia; tidak hanya yang nyata, bahkan yang ghaib jua. Yang jadi masalah, menurut saya, motivasi ini tidak terekspresikan pada etos kerja pantang menyerah. Inginkah kita membuat manfaat seluasnya? Jika ingin, getarkan, dan kejar habis-habisan. Potensi pemahaman keislaman sudah saatnya menjadi aksi yang menyuburkan bumi; tidak lagi sekadar kesolehan yang kita sendiri menikmati.

Ehem. Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengingat lagi motivasi Bill Gates di awal memulai Microsoft, yang ia tuliskan di secarik kertas yang dilekat di meja kerjanya: “One PC, on every desk, in every home“. Bukan, bukan jadi terkaya. Motivasi dia lebih dalam dan naif. Utopia itu nyaris tercapai hampir 30 tahun kemudian, dimana hampir semua punya laptop dan PC, yang di dalamnya menggunakan software atau OS Microsoft. Dan sekarang dia nggak hanya jadi orang terkaya, tapi juga filantropis terbesar di era kita. Besar sekali manfaat satu orang ini bagi bumi. Dengan motivasi islami, kita harus lebih dari ini; dan berharap Allah, RasulNya, dan orang mukmin kelak memberitakan apa yang kita kerjakan itu di akhirat nanti.

4 thoughts on “Pamer Dunia Akhirat

  1. Kak Gibran,
    Saya lebih tertarik untuk mengomentari kalimat berikut:
    “Mereka kaget lagi, kali ini sambil terkagum. Saya merasa ganteng.”
    cet, kenapa sih cet -____-

Leave a Reply