Ekonomi Peradaban

Jujur saja, di World Economic Forum on East Asia ini saya tidak banyak dapat inspirasi. Insight mungkin beberapa, network banyak sekali, tapi minim inspirasi. Event ini hanya berisi para para petinggi dari berbagai sektor di berbagai negara untuk membahas hal-hal klise yang sudah kita tahu. Tapi, tentu inspirasi tetap ada, dan justru hadir bukan dari dialog formal.

Inspirasi pertama datang saat sarapan di dekat komunitas petani dengan pelaksana kegiatan ini, Vijay; kelahiran India dan tinggal di Geneva. Saya diskusi banyak tentang kultur, kebiasaan, serta pembangunan di India dan Indonesia, dan bagaimana kedua negara ini punya banyak kemiripan. Dia juga bilang kalau saya mirip Shahrukh Khan. Boong deng. Sampai di satu titik, kami bersepakat bahwa pembangunan ekonomi yang terjadi tidak didasari oleh landasan yang kuat, dan menuju ke arah yang salah. Penerjemahan pertumbuhan ekonomi mengakibatkan pembangunan bangsa kita sangat ironis dan artifisial.

Gedung pencakar bertambah, tapi lahan agrikultur berkurang. Pendapatan keluarga naik, tapi perceraian meningkat pesat. Orang semakin kaya, tapi juga ada yang semakin miskin. Dan mostly, GDP tinggi tapi index of happiness rendah. Orang berlomba ke kota, konsumsi meningkat pesat, dana besar dikorupsi; dan hal lain yang kita bisa lihat terjadi di Indonesia, terjadi juga di India, bahkan dalam satu sisi lebih akut. Pertumbuhan ekonomi terdefinisikan sebagai hal-hal material, necis, tapi kosong dasarnya. Kebutuhan dasar seperti pangan, keadilan, pemerataan, dan hubungan antar-manusia menjadi runtuh perlahan akibat perekonomian yang tamak. Ini salah arah.

Yang menarik, Vijay menggambarkan bagaimana kehidupan di Swiss sangat nyaman, adil, dan kaya. Orang Swiss tidak bermobil, hampir semua menggunakan transportasi publik yang reliable, bahkan orang kaya sekalipun. Ujung ke ujung negara, tidak sampai satu jam dengan transportasi publik. Sekolah hanya masuk 4 hari dalam seminggu, supaya anak bisa banyak merasakan pendidikan di rumah. Keluarga umumnya tidak double income, karena ibu fokus mendidik anak. Istirahat siang untuk karyawan 2 jam, agar saat makan siang si ayah bisa pulang ke rumah dulu untuk makan siang bersama. Eksterior setiap real estate diatur oleh pemerintah agar tampak sama. Ukuran rumah sama agar tidak ada kesenjangan. TV nyaris tidak laku, karena orang lebih senang menikmati alam atau bercengkarama dengan keluarga. Partisipasi politik tinggi dan transparan. Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah harus mendapat persetujuan citizen council (yang non-representatif tapi full musyawarah!). Dan banyak lagi.

Tapi, sadarkah kita bahwa nilai ini sangat Indonesia dan islami? Bagi Vijay, nilai ini pun India banget (India dan Indonesia mirip karena basis kulturnya dipengaruhi hindu dan islam). Swiss menerapkan ini dan berhasil menjadi salah satu negara paling tidak korup, kaya, dengan index kebahagiaan tinggi. Swiss berhasil menerapkan nilai yang sejak dulu tertanam di Asia dalam kesatuan sistem yang adil dan merata. Perekonomian stabil, keluarga kuat, sumber daya manusia kokoh, dan alam terjaga.

Masyarakat Indonesia, dan Asia pada umumnya, seringkali silau dengan apa yang dilakukan dan dibuat negara barat. Kita mati-matian membela demokrasi padahal kultur musyawarah sudah tertanam lebih dulu di kita. Kita melakukan konservasi sebagai bentuk respon dari kerusakan, padahal sejak dulu nilai menjaga alam sudah jadi budaya. Kita ramai-ramai konsumsi produk impor padahal sejak dulu bisa hidup dari sumber daya di sekitar kita. Kita adu gengsi pamer kemewahan, lalu bicara pemerataan, padahal sejak dulu kekayaan yang rata dan rendah hati sudah ada di hadits. Kesejahteraan dan kekuatan peradaban masyarakat kita ada di nilai yang sejak dulu sudah menjadi bagian, tapi kita anggap itu kuno dan tidak lagi relevan.

Bagi saya yang naif, kunci pertumbuhan ekonomi bukan pada metrik yang dibuat para pakar saja, tapi pada dampak yang diciptakan oleh proses ekonomi terhadap alam dan manusia. Saat dampaknya malah memundurkan peradaban, jangan bilang ekonomi tumbuh pesat. Perekonomian kita kuat, ketika dasar yang kita bangun berasal dari nilai masyarakat yang membahagiakan. Karena kita tidak sedang membangun negara dengan uang dan kekuasaan, tapi membangun peradaban dengan hati dan keadilan.

6 thoughts on “Ekonomi Peradaban

  1. kewrewn! itu vijay yang biasa jadi inspektur bukan ka?
    disni yang udah mulai nerapin kota macam itu Bandung ya ka, ridwan kamil bilang kalo ga ada halangan, bandung sehat lagi di tahun ke-3. partisipasi masyarakat bandung juga keliatan. tapi tapi, tapi kenapa susah ya ka untuk sebagian kota yang lain?

    • Iya ta, emang inspektur vijay.

      Yup, Bandung emang mau dibangun jadi kota yang livable dan lovable. Kenapa di yang lain susah? Karena walikotanya bukan kang emil. Hihi.

Leave a Reply