AEC 2015: Regional Overview

Salah satu misi pribadi saya ke Filipina kemarin adalah untuk melihat ASEAN Economic Community (AEC) 2015 dalam kacamata regional. Bagaimana persiapan masing-masing negara, perusahaan multinasional, investor, dan terutama, para startups dalam melihat AEC 2015 ini. Hasilnya, menarik.

Bagi yang belum tahu, AEC 2015 adalah event liberalisasi ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal (single market and production base). Manifestasinya dalam tiga hal: 1) free flow of goods/services, 2) free flow of investment, dan 3) free flow of skilled labor. Dengan kata lain, produk dan jasa, investasi, serta tenaga kerja terlatih akan bebas mengalir antar negara-negara ASEAN, melalui pembebasan tarif bea-cukai, kemudahan birokrasi, dan pembebasan visa kerja. Ini tantangan sekaligus peluang: kalau Anda pengusaha, berarti mendapatkan total 600juta potensi pasar, sekaligus kompetitor tambahan lintas-negara. Hal yang sama berlaku untuk self-employee dan karyawan. Tukang nasi uduk bisa bersaing sebelahan dengan tukang nasi lemak dari Malaysia. Engineer atau Financial Planner kita bisa bersaing memperebutkan posisi atau klien yang sama. Karena konteksnya 3 hal tadi, supaya sederhana, saya mencoba mencari jawaban dari ketiga pertanyaan ini: a) bagaimana UMKM mempersiapkan produk/servis untuk ekspansi lintas negara?, b) negara mana yang menjadi preferensi investasi?, c) bagaimana kualitas tenaga kerja terlatih di setiap negara?

Mulai dari pertanyaan pertama. Gimana sih kondisi UMKM masing-masing negara? Kondisi di Filipina, Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Malaysia dari observasi saya hampir sama. Infrastruktur, skala bisnis, investasi, dan dukungan pemerintahnya sama: biasa-biasa saja. Malaysia lebih baik karena iklim entrepreneurship dibangun secara sistemik oleh pemerintah, dengan adanya inkubator, accelarator, dan pendanaan yang dibuat langsung oleh pemerintahnya. Tapi, gerakan entrepreneurship dari akar rumput justru minim. Filipina dan Indonesia terbalik, dukungan pemerintah tidak optimal (Filipina sedikit lebih baik) tetapi iklim terbentuk justru dari para investor dan entrepreneur yang ada. Singapore tentunya yang paling menggeliat. Laos, Kamboja, dan Myanmar sedikit terbelakang karena masalah infrastruktur. Telekomunikasi, internet, dan smartphone belum banyak tersedia, sehingga iklim entrepreneurship hanya tumbuh di beberapa sektor saja.

Tapi, di semua negara, mayoritas UMKM memang tidak aware dengan adanya AEC 2015. Di Buku “AEC 2015: Work in Progress” dari Asian Development Bank memperlihatkan hasil survey bahwa secara menyeluruh, 55% bisnis tidak mengetahui adanya AEC 2015. Indonesia, Filipina, Singapura, dan Vietnam juga memperlihatkan secara berturut-turut bahwa 77%, 80%, 86%, dan 76% tidak sadar akan AEC 2015. Justru Laos, Kamboja, Myanmar, yang justru mayoritas pengusahanya sadar akan ini. Jadi, kalau Anda nggak aware? Santai, berarti Anda mainstream.

Di buku yang sama juga memperlihatkan hasil dimana mayoritas pebisnis memprioritaskan menggarap pasar domestik dibandingkan ekspansi ke negara ASEAN lain. Di survey tersebut, pebisnis juga ditanyakan preferensi target market: domestik, negara ASEAN lain, atau rest of the world (ROW). Hasilnya, 60% memilih pasar domestik sebagai prioritasnya, 16% memilih pasar negara ASEAN lain, dan 23% memilih ROW. Hal ini bisa memperlihatkan 2 kemungkinan: para pebisnis belum siap ekspansi, dan potensi market negara ASEAN lain tidak sebegitu menggoda. Tapi, kalau dilihat secara sektoral, pebisnis kuliner lebih aware dan memiliki preferensi ekspansi dibanding sektor lainnya (67%). Hal ini memang terlihat dari beberapa tahun belakangan ekspansi bisnis kuliner sangat agresif antar negara ASEAN

Berlanjut ke pertanyaan kedua, bagaimana dengan investasi? Saya mengobservasi ini dengan melayangkan pertanyaan ke para investor domestik maupun multinasional tentang kondisi market tiap negara secara makro dan rencana investasi mereka. Hasilnya sama, bahwa investor paling meminati Filipina sebagai negara tujuan investasi. Alasannya, marketnya sangat luas, middle income meningkat, konsumsi naik, pertumbuhan ekonomi sedang meroket, dan optimisme di perbaikan pemerintahan sedang tinggi. Presiden Benigno III Aquino, yang sangat excellent dalam komunikasi bahasa Inggris (dibanding presiden lain), memiliki kejelian untuk mampu menarik FDI dengan membangun lingkungan investasi yang baik. Filipina lebih baik dibanding Indonesia jika melihat kemudahan birokrasi, index korupsi, dan proteksi terhadap hak intelektual.

Kemudian, Myanmar menjadi salah satu tujuan investasi yang menggoda untuk sektor infrastruktur. Infrastruktur yang belum berkembang, populasi yang besar, dan lagi-lagi optimisme masyarakat menjadi penarik utama para investor. Bagaimana dengan Indonesia? Saya sempat berdiskusi dengan managing partner investor CIMB dan Axiata, yang berinvestasi di Indonesia di sektor perbankan dan telekomunikasi. Mereka bilang, pasar terbaik memang di Indonesia, karena secara demografis dan perilaku konsumtif menjadi salah satu yang tertinggi. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir pertembuhan ekonomi melambat, dan sering disebut sebagai bagian dari Fragile Five, negara yang fragile secara ekonomi. Tapi, saya sepakat dengan Pak CT yang mengatakan bahwa Indonesia adalah pasar utama bagi investor maupun pebisnis.

Lalu, menuju pertanyaan ketiga, bagaimana kualitas SDM di tiap negara? Ini juga menarik. Singapore tentunya memiliki SDM tingkat dunia untuk urusan service and hospitality. Di sektor medis, Thailand dan Singapore sudah jadi tujuan utama dunia karena kualitasnya yang mengagumkan. Filipina merupakan saingan terberat Indonesia untuk urusan ketenagakerjaan. Dengan upah minimum yang relatif sama, orang-orang Filipina lebih ramah dan lancar berbahasa Inggris dibandingkan orang Indonesia. Saya mengujinya dengan iseng pergi ke terminal semacam Pulogadung di Filipina, yaitu Guadalupe, lalu mengajak dialog dengan bahasa Inggris ke tukang pisang goreng, penjaga minimarket, teteh-teteh penjaga toko baju, dan ibu-ibu penumpang kereta. Hasilnya, semua bisa berbahasa Inggris. Hal ini yang menyebabkan investor lebih berminat ke Filipina. Di Hongkong pun, jumlah tenaga kerja dari Filipina lebih besar dibanding Indonesia, dan hal ini menyumbang 10% devisa negara. Thailand dan Vietnam lebih buruk jika berkaitan dengan english fluency. Tapi, Thailand mencoba memperbaiki itu dengan menganggarkan insentif 500juta baht untuk pendidikan bahasa Inggris di sekolah-sekolah.

Apa kesimpulannya? Dalam kacamata regional, AEC 2015 bukan event yang dinanti, disadari, apalagi dikhawatirkan oleh masyarakat ASEAN. Persiapan masing-masing negara juga kurang lebih sama, tidak ada yang ambisius. Tapi, mau tidak mau, ajang ini pasti datang untuk menantang kita dengan potensi pasar dan kompetisi yang lebih luas. Mempersiapkan diri, dengan menggali peluang ekspansi, meningkatkan kapasitas dan kemampuan berbahasa, tentu tidak ada salahnya. Yang pasti, konteks AEC 2015, yang kelak disusul dengan pasar bebas diikuti oleh para raksasa Cina, Jepang, Korea, Australia, dan New Zealand di dua tahun berikutnya, membutuhkan sosok kepemimpinan Indonesia yang terbuka pemahaman regional-internasional tapi tetap berorientasi pada proteksi dan pengokohan nasional.

Mengejar Kebahagiaan

Di GK Enchanted Farm, Bulacan, saya berkesempatan berdiskusi dengan salah satu penggeraknya, Dylan Wilk, seorang berkebangsaan Inggris yang kini tinggal di Filipina. Penampilannya sangat sederhana, rendah hati, dan penuh kepedulian. Saat Ia menceritakan masa lalunya, saya terngaga. Beneran nganga.

Dylan dulunya adalah seorang startup founder di era dotcom bloom, akhir tahun 90an, satu jaman dengan Larry Page atau Jeff Bezos. Dia seorang dropout yang memulai bisnis di usia 20 tahun, dan sukses. Bisnis game online market-nya merupakan salah satu perusahaan yang berhasil masuk ke bursa London Stock Exchange; yang membuatnya sangat kaya di usia muda. He was the 9th richest man under 30 in England. Profilnya macam Bill Gates dan Steve Jobs, impian setiap pengusaha muda.

Di usia semuda itu, Ia sudah memiliki apa yang kebanyakan anak muda cari: harta dan ketenaran. Garasinya dulu diisi oleh Porsche, BMW, Ferrari, you name it. Dia punya mansion, dan kalau malas kena macet, tinggal naik helikopter. Asik banget kan. Karena berasal dari keluarga miskin, mampu menikmati kemewahan semacam itu adalah privilage bagi Dylan, penuh kesenangan. Semua baik-baik saja, sampai satu hari yang tiada diduga…

Saat itu, tepat enam pekan setelah dia membeli Ferrari impian, dari dulu sudah didamba-dambakan. Di hari itu, enam pekan setelah beli Ferrari baru, ia baca berita kalau Ferrari meluncurkan model paling baru. Lebih bagus, lebih jadi dambaan. Barang yang dari dulu dia inginkan sekarang berubah jadi nggak menarik, hanya karena ada model baru yang lebih menarik. Lebih parahnya, kesenangan yang Ia dapatkan dari Ferrari itu malah jadi kekesalan dan berubah jadi keinginan yang lebih menenggelamkan. Di titik itu Ia merenung, karena merasa hampa. Ada yang salah dari dirinya, dia memutuskan untuk keliling dunia, mencari isi dari kekosongan diri.

Pergilah Ia ke Afrika, Amerika Selatan, hingga ke Asia. Sekembalinya dari pencarian diri, Ia masih belum mendapat jawaban. Justru Ia mendapatkan pencerahan setelah bertemu dengan koleganya orang Filipina yang ada di Inggris, dan dikenalkan dengan penggerak masyarakat, Tony Meloto, seorang social entrepreneur yang bermimpi mengentaskan kemiskinan di negaranya. Terbanglah Dylan ke Filipina, lalu Ia terkejut dengan apa yang dilihat. Kebanyakan orang di Filipina hidup di kemiskinan, tanpa rumah, dan di tengah sumber daya alam melimpah. Dylan makin tercekat ketika tahu bahwa satu BMW yang dimilikinya seharga 15 tempat tinggal baru bagi keluarga di miskin di Filipina; dan tiket pesawat keliling dunianya bisa membeli 10 rumah bagi mereka. Disitu dia tahu betapa piciknya dulu, sekaligus terbuka matanya tentang makna hidup yang ingin Ia padu.

Dia kembali lagi ke Inggris, kemudian merasa muak dan mual saat melihat isi garasi. Langsung lah dia menghubungi Tony Meloto, dan mengutarakan keinginan menjual BMWnya lalu mengirimkan uangnya untuk membangun rumah bagi rakyat miskin Filipina. Tony hanya tersenyum, lalu berkata “We don’t need your money, just come here and we build people’s life together“. Sekarang sudah bertahun-tahun sejak Ia meninggalkan kekayaannya disana, memutuskan untuk membangun komunitas di Filipina, menjadi menantu dari Tony, dan hidup bahagia. Kini gerakan yang diinisiasi olehnya dan Tony sudah membangun 1910 rumah gratis bagi rakyat miskin disana, memiliki 34 desa pertanian berdikari, dan menjalani bisnis kosmetik berbasis sosial yang memiliki 32 cabang di 4 negara. Total jutaan orang yang sudah dibebaskan dari kemiskinan. Besar sekali dampaknya. Dylan bilang, “I was vastly rich, but was not happy as I am right now“.

Di akhir dialog yang sangat menyentuh, Dylan menutupnya dengan kalimat yang lebih menyentuh: “Strive for happiness, not just pleasure“. Kejar kebahagiaan, jangan kesenangan. Basi memang, tapi kalimat itu hadir sebagai buah pengalaman pencarian diri yang luar biasa, lebih kaya makna.

Kita seringkali buram tentang apa yang dikejar, tak jarang kita berhasrat besar mengejar hal yang tidak mendasar. Dari dia saya belajar, bahwa sedini mungkin kita harus mengingatkan diri untuk tidak mengejar kesenangan belaka yang hanya akan menjadi dahaga yang tiada habisnya. Tantangan terbesar bagi kita adalah sejelas mungkin mendefinisikan diri, secerah mungkin mengetahui apa yang menjadi misi, dan setegas mungkin membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diingini. Di titik akhir dari itu, ada kebahagiaan yang bisa kita temukan, dari kemurnian niat mengejar manfaat yang bisa kita hasilkan. Lagi, semuanya sesederhana slogan ini: “be who you are, do what you love, and have what you need“. Mari mengejar kebahagiaan.

Cerdaslah Secara Finansial

Saya berkesempatan diskusi untuk memetakan masalah project Global Shaper di Davao City. Kelompok diskusinya menarik: satu dari Hongkong, satu dari Seoul, satu dari Tokyo, satu dari Manila, satu dari Davao, dan satu lagi dari Bandung (eike cyin). Total enam orang; tiga dari negara maju, tiga lagi negara berkembang. Isu yang ingin diselesaikan lebih menarik lagi: financial literacy. Davao ini kota di Filipin dengan populasi terbesar ketiga. Kalau saya dengar, karakteristiknya mirip Bandung.

Nah, saat diskusi dimulai dengan mengidentifikasi masalah finansial di filipin secara umum, orang-orang dari negara maju kaget dengan situasi yang ada. Saya dan rekan-rekan dari Filipin juga kaget karena mereka bisa kaget dengan kondisi yang menurut saya umum banget terjadi. Dan orang dari negara maju kembali kaget karena kami kaget melihat mereka kaget. Akhirnya kami kaget melihat mereka kaget karena kami kaget melihat mereka kaget. Lalu merekapun kembali kaget….ah, mari sudahi.

Intinya, ada beberapa hal yang mengejutkan mereka, dan kondisi ini sangat umum di Indonesia:

1. Beban finansial anak terhadap orang tua. Di Indonesia dan Filipina, ini sangat umum. Orang tua mengharapkan anak memenuhi kebutuhannya di hari tua, yang membuat beban finansial generasi muda tinggi. Saat teman dari Tokyo tanya tentang apa umumnya rencana pensiun orang disini, teman dari Filipin menjawab: “have a successful children“. Di negara maju tentu ini nggak terjadi. Hal ini diperparah dengan upah minimum yang lebih kecil. Kebutuhan di atas upah memaksa kita mencari uang masuk yang lain. Dan karena skill terbatas, kemampuan investasi minim, ujungnya satu-satunya jalan adalah berhutang. Yang menjadikan masalah lain yang mengejutkan:

2. Kebiasaan berhutang. Di Indonesia mungkin tidak seekstrem Filipina, karena bahkan di beberapa daerah ada warung retail yang memperbolehkan orang berhutang dengan gampang. Tapi kurang lebih sama; hutang membeli mobil dan motor, rumah, bahkan kartu kredit. Kepemilikan kartu kredit pun bisa didapatkan dengan sangat mudah, mendorong masyarakat untuk konsumtif karena merasa punya daya beli yang lebih besar, padahal semu. Di negara maju, orang malas mengajukan kartu kredit. Bahkan berhutang itu tabu, kecuali benar-benar butuh. Sampai-sampai, biasanya wanita muda minta tolong temannya yang kerja di bank untuk mengecek status keuangan pacarnya (ilegal sih). Saat ketahuan banyak hutang, didepak langsung. Kondisi ini juga memperlihatkan masalah lain yang berbeda di negara maju dan berkembang:

3. Konsumerisme. Udah kenal baik lah ya kalau di Indonesia kelas menengah sangat konsumtif. Ini juga terjadi di Filipina. Tingkat konsumtif yang didasari motivasi gengsi bahkan jadi lifestyle yang akut, sampai ada trend “shop & selfie“, belanja sambil dipamerin dengan selfie di sosmed. Di Hongkong, Jepang, dan Korea, justru hal ini tidak terjadi. Kalau ada orang yang beli barang mahal yang nggak butuh (luxury goods), dia akan dibilang bodoh dan nggak bijak, tertekan secara sosial. Mereka sangat bijak dalam spending money, yang kemudian terlihat jelas di poin keempat:

4. Alokasi belanja. Ini standar banget dalam financial planning, yang tentu di Indonesia dan Filipina belum banyak yang melakukan dengan disiplin. Di Korea, ini sudah jadi kebiasaan sejak dulu. Teman saya cerita kalau dari kecil, setiap awal bulan dia melihat ibunya memisahkan gaji yang didapat di beberapa amplop: pendidikan, mortgage, pengeluaran bulanan, tabungan, dan lain sebagainya. Dan itu sangat disiplin. Itulah kenapa di era IT, mint.com dan aplikasi sejenis sangat dimanfaatkan dengan baik. Ini sudah masuk ke dalam budaya sehari-hari.

Kesimpulan dari diskusi ini adalah rencana dibuatnya satu kampanye berjudul “Don’t marry a debtor“. Intinya adalah mengurangi hutang pribadi akibat konsumsi yang tidak penting dengan hukuman sosial paling kejam: jomblo seumur hidup. Ini bisa juga kalau dilakukan di Indonesia.

Tapi, secara umum, saya melihat bahwa financial intellegence dan financial literacy ini jadi berperan sangat penting untuk kehidupan bermasyarakat. Kita bukan bicara sekadar stabilitas finansial personal atau keluarga, tapi membangun kebiasaan masyarakat yang kelak bisa memperkuat dan memperbijak bangsa kita. Mari cerdas!

Pamer Dunia Akhirat

Di satu malam poolside party undangan CEO Standard Chattered, saya ngobrol santai dengan bapak CEO intellectual firm di Silicon Valley dan teteh-teteh owner startup di Perth. Kebanyakan saya diem dan pasang tampang mikir, karena mereka ngomongin mana yang lebih enak antara anggur merah dan anggur putih. Ya mana eike tahu. Satu-satunya hal yang saya tahu tentang anggur merah adalah bahwa itu belum seberapa jika dibandingkan dengan senyumanmu. Beres ngobrol itu, mereka ngobrol soal dating dan partying. Saya diem lagi, cuma ikut nyengir.

Saya baru ikut nimbrung setelah salah satu dari mereka nyadar kalau dari tadi saya cuma minum cola. Terus nanya, “So you don’t drink alcohol?“. Saya jawab, “No, never, not a sip“. Mereka kaget. Terus satu orang lain juga baru sadar kalau di beberapa party di night club dan salsa bar buat anak muda di malam-malam sebelumnya saya nggak pernah ikut, lalu nanya kenapa. Saya jawab kalau selepas acara terakhir, selalu langsung ke kamar buat skyping sama bini. Mereka kaget lagi, kali ini sambil terkagum. Saya merasa ganteng.

Nah, kalimat selanjutnya yang diucapkan bapak CEO IP firm mengejutkan, dia bilang: “I have a friend like you in US. He doesn’t smoke, no alcohol, never partying, and settle with one girl. Now he is very successful, like a Bill Gates to me. I hope you’ll become one“. Sekarang saya yang kaget, sambil mengamini. Ini orang yang ngomong adalah partner Samsung saat perang paten sama Apple kemarin, jadi yang diceritain ini pasti ngeri. Biar nggak penasaran, saya tanya pertanyaan sensitif, “What was his religion, if you don’t mind?“. Dia jawab, “He was more of an atheist, but he is Jewish, though“. Saya diam.

Menurut saya, kalimat di atas sangat masuk akal. Jika kita tidak menghabiskan waktu untuk mabuk dan berpesta dan setia dengan satu pasangan, maka waktu kita lebih banyak, otak kita lebih segar, kesehatan lebih terjaga, dan emosi pun lebih terbina. Dengan kata lain, lebih banyak energi untuk melakukan lebih. Jadi, sangat wajar orang itu bisa mencapai lebih dari orang lain. Saya pun pernah membaca kalau Bill Gates melakukan hal yang sama. Dan tentu kita tahu, ini sangat islami. Yang jadi bahan pemikiran saya adalah: jika muslim melakukan itu, lalu mengapa minim berita tentang pencapaiannya?

Diantara ratusan distinguished leaders di pelbagai sektor yang datang kemarin, saya nyaris tidak menemukan yang muslim kecuali dari Indonesia. Peraih nobel, seingat saya hanya enam yang muslim. Pencapaian secara individual dan jama’ah sangat minim. Perusahaan mendunia yang dibangun oleh muslim, nyaris tidak pernah terdengar. Kalau dengan logika yang tadi, kenapa ini bisa terjadi? Kan harusnya secara kolektif, kita lebih banyak energi. Karena jumlah muslim lebih sedikitkah? Ah, Yahudi jauh lebih sedikit. Karena kita diajarkan untuk menjadi biasa saja kah? Ah, dasar ajaran kita kan rahmat bagi semesta dan manfaat seluas-luasnya.

Dalam kegelisahan singkat di tengah obrolan tadi, saya tidak tahan untuk tidak bertanya: “That your friend in mind, why do you think he can achieve that?“. Jawaban dia nggak bisa lebih sempurna dari ini: “I don’t know, he just works very hard, with some sort of motivation like he want to impress the world“. Gila, mendengar itu saya hampir mengecup kening si Bapak, karena saya jadi bisa mengaitkannya dengan ayat ini:

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Kalau orang itu punya motivasi memperlihatkan sesuatu pada dunia, kita punya dasar motivasi untuk memperlihatkan sesuatu yang lebih jauh dari dunia; tidak hanya yang nyata, bahkan yang ghaib jua. Yang jadi masalah, menurut saya, motivasi ini tidak terekspresikan pada etos kerja pantang menyerah. Inginkah kita membuat manfaat seluasnya? Jika ingin, getarkan, dan kejar habis-habisan. Potensi pemahaman keislaman sudah saatnya menjadi aksi yang menyuburkan bumi; tidak lagi sekadar kesolehan yang kita sendiri menikmati.

Ehem. Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengingat lagi motivasi Bill Gates di awal memulai Microsoft, yang ia tuliskan di secarik kertas yang dilekat di meja kerjanya: “One PC, on every desk, in every home“. Bukan, bukan jadi terkaya. Motivasi dia lebih dalam dan naif. Utopia itu nyaris tercapai hampir 30 tahun kemudian, dimana hampir semua punya laptop dan PC, yang di dalamnya menggunakan software atau OS Microsoft. Dan sekarang dia nggak hanya jadi orang terkaya, tapi juga filantropis terbesar di era kita. Besar sekali manfaat satu orang ini bagi bumi. Dengan motivasi islami, kita harus lebih dari ini; dan berharap Allah, RasulNya, dan orang mukmin kelak memberitakan apa yang kita kerjakan itu di akhirat nanti.

Ekonomi Peradaban

Jujur saja, di World Economic Forum on East Asia ini saya tidak banyak dapat inspirasi. Insight mungkin beberapa, network banyak sekali, tapi minim inspirasi. Event ini hanya berisi para para petinggi dari berbagai sektor di berbagai negara untuk membahas hal-hal klise yang sudah kita tahu. Tapi, tentu inspirasi tetap ada, dan justru hadir bukan dari dialog formal.

Inspirasi pertama datang saat sarapan di dekat komunitas petani dengan pelaksana kegiatan ini, Vijay; kelahiran India dan tinggal di Geneva. Saya diskusi banyak tentang kultur, kebiasaan, serta pembangunan di India dan Indonesia, dan bagaimana kedua negara ini punya banyak kemiripan. Dia juga bilang kalau saya mirip Shahrukh Khan. Boong deng. Sampai di satu titik, kami bersepakat bahwa pembangunan ekonomi yang terjadi tidak didasari oleh landasan yang kuat, dan menuju ke arah yang salah. Penerjemahan pertumbuhan ekonomi mengakibatkan pembangunan bangsa kita sangat ironis dan artifisial.

Gedung pencakar bertambah, tapi lahan agrikultur berkurang. Pendapatan keluarga naik, tapi perceraian meningkat pesat. Orang semakin kaya, tapi juga ada yang semakin miskin. Dan mostly, GDP tinggi tapi index of happiness rendah. Orang berlomba ke kota, konsumsi meningkat pesat, dana besar dikorupsi; dan hal lain yang kita bisa lihat terjadi di Indonesia, terjadi juga di India, bahkan dalam satu sisi lebih akut. Pertumbuhan ekonomi terdefinisikan sebagai hal-hal material, necis, tapi kosong dasarnya. Kebutuhan dasar seperti pangan, keadilan, pemerataan, dan hubungan antar-manusia menjadi runtuh perlahan akibat perekonomian yang tamak. Ini salah arah.

Yang menarik, Vijay menggambarkan bagaimana kehidupan di Swiss sangat nyaman, adil, dan kaya. Orang Swiss tidak bermobil, hampir semua menggunakan transportasi publik yang reliable, bahkan orang kaya sekalipun. Ujung ke ujung negara, tidak sampai satu jam dengan transportasi publik. Sekolah hanya masuk 4 hari dalam seminggu, supaya anak bisa banyak merasakan pendidikan di rumah. Keluarga umumnya tidak double income, karena ibu fokus mendidik anak. Istirahat siang untuk karyawan 2 jam, agar saat makan siang si ayah bisa pulang ke rumah dulu untuk makan siang bersama. Eksterior setiap real estate diatur oleh pemerintah agar tampak sama. Ukuran rumah sama agar tidak ada kesenjangan. TV nyaris tidak laku, karena orang lebih senang menikmati alam atau bercengkarama dengan keluarga. Partisipasi politik tinggi dan transparan. Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah harus mendapat persetujuan citizen council (yang non-representatif tapi full musyawarah!). Dan banyak lagi.

Tapi, sadarkah kita bahwa nilai ini sangat Indonesia dan islami? Bagi Vijay, nilai ini pun India banget (India dan Indonesia mirip karena basis kulturnya dipengaruhi hindu dan islam). Swiss menerapkan ini dan berhasil menjadi salah satu negara paling tidak korup, kaya, dengan index kebahagiaan tinggi. Swiss berhasil menerapkan nilai yang sejak dulu tertanam di Asia dalam kesatuan sistem yang adil dan merata. Perekonomian stabil, keluarga kuat, sumber daya manusia kokoh, dan alam terjaga.

Masyarakat Indonesia, dan Asia pada umumnya, seringkali silau dengan apa yang dilakukan dan dibuat negara barat. Kita mati-matian membela demokrasi padahal kultur musyawarah sudah tertanam lebih dulu di kita. Kita melakukan konservasi sebagai bentuk respon dari kerusakan, padahal sejak dulu nilai menjaga alam sudah jadi budaya. Kita ramai-ramai konsumsi produk impor padahal sejak dulu bisa hidup dari sumber daya di sekitar kita. Kita adu gengsi pamer kemewahan, lalu bicara pemerataan, padahal sejak dulu kekayaan yang rata dan rendah hati sudah ada di hadits. Kesejahteraan dan kekuatan peradaban masyarakat kita ada di nilai yang sejak dulu sudah menjadi bagian, tapi kita anggap itu kuno dan tidak lagi relevan.

Bagi saya yang naif, kunci pertumbuhan ekonomi bukan pada metrik yang dibuat para pakar saja, tapi pada dampak yang diciptakan oleh proses ekonomi terhadap alam dan manusia. Saat dampaknya malah memundurkan peradaban, jangan bilang ekonomi tumbuh pesat. Perekonomian kita kuat, ketika dasar yang kita bangun berasal dari nilai masyarakat yang membahagiakan. Karena kita tidak sedang membangun negara dengan uang dan kekuasaan, tapi membangun peradaban dengan hati dan keadilan.

Self-fulfillment

Beberapa tahun yang lalu saya pernah ikut mentoring bisnis hadiah kompetisi, dan saat itu sedang diminta untuk menuliskan visi hidup. Mentor saya saat itu protes, karena visi hidup yang saya tulis lebih abstrak dari cita-cita anak SD yang “bermanfaat bagi bangsa dan negara”. Saya menulis: “Bahkan bumi pun akan bersyukur bahwa seorang Gibran pernah terlahir“. Sok puitis, abstrak tingkat dewa. Si mentor pun menasehati bahwa visi harus konkret; berapa perusahaan yang dipunya, berapa asetnya, berapa mobilnya, kalau bisa ada merk dan warnanya. Lah, saya malah heran. Hal konkret begini malah lebih absurd untuk dijadikan visi. Nggak puitis pula.

Tiga tahun setelahnya, saya ketemu dengan pemilik salah satu perusahaan nasional, yang jadi mentor bisnis beneran. Saat itu saya tanya, apa dulu visi hidupnya. Beliau menjawab, “Agar SAYA bisa memberi, sebelum menerima”. Karena saya penasaran ada penegasan di kata ‘SAYA’, saya tanya lagi, “Maksudnya mementingkan orang lain di atas kepentingan sendiri?”. Beliau malah senyum, “Bukan, ini justru kepentingan saya. Dengan ini, saya tenang”. Saya tercenung.

Sebagian orang merasa bahwa tujuan hidup itu harus bersifat material. Sebagian lagi merasa bahwa tujuan dari keberadaan manusia itu sifatnya sosial. Bagi saya, itu tidak sepenuhnya benar. Tujuan hidup seharusnya berada pada tingkatan paling real dalam eksistensi manusia, yaitu individual. Karena kekuatan terbesar selalu hadir dari dalam diri, dimulai dan diakhiri oleh diri. Ketika Bill Gates, salah seorang filantropis terbesar di era modern ditanya tentang mengapa Ia melakukan kegiatan amalnya atau bahkan bisnisnya, Dia menjawab: “I just want to make the world a better place”. Abstrak, klise, sederhana, puitis, a la kontestan Miss Universe. Tapi di saat itu saya tercengang, because HE DID make the world a better place.

Sungguh, sekumpulan manfaat, perbaikan sosial, atau multiplikasi kekayaan hanyalah dampak sekaligus alat dari tujuan individual yang kokoh dan termaknai. Sejarah membuktikan itu. Dalam konteks entrepreneurship, penempatannya pun sama sederhananya. Sesederhana jawaban Eduardo Saverin, co-founder Facebook saat ditanya alasan keluar Facebook dan pindah ke Singapore: “I don’t want to make another Facebook, I just want to make sure that my life is fulfilling”. Atau juga sesederhana jawaban senior saya saat ditanya mengapa memilih jadi pengusaha, “Agar saya punya banyak waktu dan energi yang luang untuk diinfakkan di jalan dakwah”. Abstrak, puitis, tapi bermakna luar biasa.

Ingin memulai bisnis? Jangan dulu tanyakan bagaimana caranya. Tapi tanyakan pada nurani, dan pastikan bahwa alasannya demi memuaskan hati. Make sure that this is about self-fulfillment.