Hiduplah di Dunia Nyata

Suatu saat saya mendengar ada anak SMA bilang ke temannya “Aduh, smartphone gue rusak, nggak bisa hidup nih gue!”. Terlepas dari tendensi hiperbolik yang ada di kalimat itu, saya jadi berpikir: sebegitukah ketergantungan kita terhadap smartphone? Sebegitukah ketergantungan kita terhadap teknologi dunia maya? Setelah saya pikir agak lama, nampaknya iya.

Di jalan tadi, saya melihat ada gadis muda dibonceng motor sambil mengeluarkan smartphone lalu mengambil selfie, mungkin untuk update Twitter sambil pasang status “dibonceng motor sama pacar, senangnyaa”. Di cafe kemarin ada orang yang mengambil foto sebelum makan, kelihatannya untuk update Instagram dan memasang hashtag aneh seperti warna taplak mejanya. Beberapa bulan lalu saat travelling, teman saya bergerutu waktu HP-nya mati, karena jadi tidak bisa check-in di Path. Bahkan ada kenalan yang di tengah ibadah umroh mengambil foto hanya untuk update real-time di Facebook. Atau tempo hari saat saya membantu orang kecelakaan motor, ada orang di sebelah saya justru menyiapkan HP dan memotret, hanya untuk update Twitter. Dunia maya menguasai kita; menggerogoti dunia nyata.

Teknologi di dunia maya ibarat morphine, jika dalam dosis yang tepat bisa sangat membantu, tetapi dalam porsi yang berlebihan dapat membunuh. Banyak sekali manusia yang sudah menganggap ini sebagai candu; tidak bisa hidup jika sehari tanpanya. Hasil survey Marketingcharts, orang Indonesia berada di peringkat pertama (bersama dengan Arab Saudi) dalam penggunaan media sosial, yaitu 5,1 jam per hari. Bahkan, sepertiga pemilik akun social network Indonesia menggunakan minimal 6 jam setiap harinya. Berarti seperempat dari waktu harian digunakan untuk membuka social network. Jika 8 jam digunakan untuk tidur, maka hanya 10 jam waktu produktif, belum dikurangi waktu makan, main, rekreasi, dan santai-santai. Waktu kita yang singkat di kehidupan yang fana, malah semakin habis oleh aktivitas lebih fana di dunia maya. Mending jika urusannya hanya produktivitas, jika ibadah umroh berkurang khidmatnya atau empati sosial hilang hanya karena keinginan kita update foto di twitter, apa tidak berlebihan?

Dunia maya kini mendefinisikan kita. Selera musik kita bukan dilihat dari apa yang kita dengar, tapi dari apa yang kita ingin orang tahu, dengan kita bagikan di Path atau Last.fm. Ideologi bukan lagi apa yang kita percaya, tapi apa yang kita ingin orang baca dari apa yang kita bagi di Facebook atau Tumblr. Keimanan bukan lagi apa yang kita yakini dan lakukan, tapi apa yang kita ingin orang anggap dari yang kita tulis di Twitter atau Instagram. Kita kehilangan jatidiri hanya karena dunia maya membuka peluang membangun citra yang lebih baik dari kondisi sebenarnya di dunia nyata. Kita berhenti berusaha mengimprovisasi kualitas diri, hanya karena kita bisa memperbaiki apa yang orang lihat dengan memperbaharui status-status baik di dunia maya.

Apakah kita hidup di dunia maya? Mungkin saja iya. Jika iya, maka di saat itu juga kita sudah mati di dunia nyata. Karena kepedulian, jati diri, interaksi manis antar manusia, ibadah, dan karya; yang membuat kita hidup, justru tenggelam seiring berlebihnya kita menggunakan fitur-fitur dunia maya. Praktik manajemen kontemporer sudah memasukkan poin mengurangi aktivitas di dunia maya sebagai hal yang perlu dilakukan agar lebih maju dibanding 90% orang di generasi tersebut. Toh founder Facebook lebih banyak menghabiskan waktu untuk menganalisa bisnis, berbagi inspirasi, dan membaca dibandingkan membuka dan update akun Facebook-nya. Sekarang sudah saatnya kita kembali menyadari bahwa manusia yang harus kita pedulikan, kapasitas diri yang butuh kita tingkatkan, kerja yang perlu kita lakukan, dan hidup yang harus kita perjuangkan, memang ada di dunia nyata.

Leave a Reply