The Bigger and Better Ones

Siang ini saya lagi bengong, tiba-tiba sadar bahwa HP saya Samsung, tablet Samsung, monitor Samsung, TV kantor Samsung, TV kamar Samsung, tablet teman Samsung, dan tablet istri pun Samsung. Saat ke bagian bawah kantor, juga sadar bahwa dua komputer monitornya LG, HP teman LG. Saat keluar, mobil yang diparkir di depan Hyundai, di seberangnya Kia. Wah, saya dikelilingi produk dari Korea Selatan. Tentu saja juga produk AS dan Jepang (tapi kalau ini udah biasa).

Saya jadi penasaran gimana Korsel ini bisa maju, cari bacaan, dan langsung terkagum sama pola kebijakan yang diambil. Mungkin lain kali akan dielaborasi. Yang menarik, Korsel ini maju oleh chaebol, istilah untuk konglomerat disana. Sektor industri strategis berbasis teknologi mulai dari otomotif, telekomunikasi, IT, manufaktur, dikembangkan beriringan dengan sektor finance, bioteknologi, properti, chemicals, insurance, medical, alat berat, dan lain sebagainya. Para chaebol ini memegang hampir seluruh sub-sektor itu. Samsung group, misalnya, memiliki hampir seluruh sektor tadi, sama halnya dengan Hyundai Group, LG Group, SunKyun Group, ataupun Lotte Group. Korsel diubah oleh sekelompok kecil chaebol.

Hal yang sama juga ada di Jepang, dimana negara mereka dikendalikan dan diubah oleh sekelompok keiretsu, sebutan untuk konglomerat disana. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa Mitsubishi, Nikon, dan Bank of Tokyo dipegang oleh 1 kelompok perusahaan. Atau Fujifilm, Sony, Toshiba, Suntory ada di 1 kelompok kepemilikan. Atau Yamaha, Nissan, Canon, dan Hitachi. Atau Daihatsu, Suzuki, dan Toyota. Jepang diubah oleh sekelompok kecil keiretsu.

Dengan sektor industri yang begitu majunya, apakah Korsel dan Jepang bebas dari kemiskinan? Nyatanya tidak. Tingkat kemiskinan di Korsel 15%, di Jepang 15,7%. Besar juga. Saya coba cari di negara superpower AS, tingkat kemiskinan 16%. Lho, kalau negara maju sebesar itu, bagaimana Indonesia? Ternyata 11,37%! Wow, mengapa bisa lebih rendah? Saya cek daftar orang terkaya di Korsel: nomor 1-nya Lee Kun Hee, anak dari founder Samsung. Nomor 2 Chung Mong-Koo, anak dari founder Hyundai. Nomor 3 adalah anaknya si nomor 1. Dan nomor 4 adalah anaknya si nomor 2. Nomor 5 anaknya founder Lotte. Daftar ini berlanjut dengan pola yang sama, anak-anaknya para orang kaya. Hampir semua daftarnya berasal dari kekayaan yang diwariskan. Dikuasai keluarga chaebol. Basi? Memang. Toh 85% kekayaan di AS juga dikuasai oleh 15% penduduknya. Konglomerasi di Indonesia tidak seekstrem di negara tadi, karena itu lah, asumsi saya, kenapa tingkat kemiskinan lebih rendah.

Jadi ingat tadi diskusi sampai malam dengan Pak Guru Ichan tentang kekhawatiran kalau orang-orang yang didorong untuk menjadi kaya melalui banyak sharing ini akan terjerumus ke jurang keserakahan. Ketakutan bahwa kelak kita malah menimbun kekayaan, bukan mendistribusikannya. “Velocity itu kunci supaya kekayaan bisa menghasilkan kemakmuran”, katanya. Fitrah kita memang mencintai harta dan keluarga, sebagai kesenangan di dunia, karenanya kita cenderung mengumpulkan harta dan mewariskannya. Tapi menyadari bahwa misi kita di dunia melebihi itu adalah kunci: menempatkan amal shalih dan kebermanfaatan atas harta seluas-luasnya, tidak hanya untuk pribadi dan anak cucu kita.

Bisakah kita mengubah dunia, atau setidaknya Indonesia? Bisa, para chaebol di Korsel dan keiretsu membuktikannya. Di film dokumenter iGenius, kita diperlihatkan bagaimana kehidupan kita banyak dipengaruhi oleh hidup seorang manusia: Steve Jobs. Jadi, ya memang bisa. Tapi, peradaban sudah bosan dikhianati oleh para orang kaya yang senang sendiri, menyisakan kesengsaraan dan kemiskinan di sekitarnya tanpa peduli, sementara mereka menikmati jauh melebihi apa yang mereka mampu ingini. Peradaban merindukan Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan baru. Peradaban butuh orang-orang besar yang lebih baik. Let us be the bigger and  better ones.

Leave a Reply