Menggeser Visi Pengusaha

Di majalah Inc. bulan ini ada isu yang menarik, tentang trend entrepreneur AS di era sekarang. Di tahun 70an, entrepreneur disana dianggap eksentrik dan pecundang. Jadi, saat mahasiswa lulus dan jadi entrepreneur, orang tuanya akan malu untuk menyebut profesi anaknya. Barulah di tahun 80an, era “Triumphs of the Nerds”, era Jobs dan Gates, seorang entrepreneur akan dianggap keren. Di era ini, jumlah tambahan lapangan kerja yang dibuka oleh entrepreneur muda ini luar biasa. Apple, contohnya, di usianya yang ke 10 sudah memiliki 4000 pegawai lebih.

Di AS sana, seorang pengusaha veteran bilang kalau lingkungan bisnis sekarang sedang ada di puncaknya. Semua orang berebut untuk membuat startups, dan proses memulai bisnis sangat dimudahkan. Logikanya, lapangan pekerjaan yang dibuat akan jauh lebih banyak dibanding sebelumnya, kan? Nyatanya, tidak. Kenapa? Ternyata visi entrepreneurship berubah.

Dulu, di era entrepreneur masih langka, orang-orang yang maju hanyalah yang ingin menjadi besar. Kita mendengar bagaimana Steve Jobs atau Bill Gates dulu menyampaikan visinya yang romantis: mengubah dunia, merevolusi peradaban. Berbeda dengan entrepreneurship di masa sekarang yang berisi para pemuda yang sekadar ingin bebas waktu, merasa cukup saat dirinya bebas finansial. Pergeseran paradigma ini yang berdampak pada minimnya kesempatan kerja yang dibuka. “Their goal is to be independent, rather than building something big“, kata Norm Brodsky.

Fenomena ini sedang terjadi di AS, bagaimana di Indonesia? Mungkin, kurang lebih sama, karena memang trend menjadi pengusaha sedang naik daun. Sebagai entrepreneur, saya sering merefleksi diri, cukupkah visi berbisnis saya jika hanya menjadi bebas waktu dan keuangan diri sendiri? Nampaknya, tidak cukup, apalagi jika memegang kredo “sebaik manusia, adalah yang paling besar manfaatnya”. Karena itu, saya ingin menjadi besar; agar manfaat pun bisa lebih besar. Dan beruntunglah orang-orang yang beriman, karena nilai dari besarnya visi ini tidak dibatasi, melebihi seisi bumi; menembus hidup dan mati:

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisaa : 134)

Leave a Reply