2013, The End of An Era

Kebanyakan melakukan evaluasi dan membuat resolusi di akhir tahun. Saya pun demikian, tapi lebih dikarenakan faktor hari kelahiran saya di akhir tahun. Tahun 2013 adalah tahun yang kaya momentum, dari perjalanan intelektual hingga masa-masa emosional. Tahun ini sangat menarik.

Hidup memang misterius. Di akhir tahun lalu, saya mengevaluasi diri dengan tulisan yang sangat mendalam, dikarenakan kegagalan demi kegagalan yang terjadi di tahun itu. Saya kehilangan tujuan dan kepercayaan diri. Di tahun ini, kebalikan yang terjadi, segala puji bagi Allah. Saya diberikan pencapaian demi pencapaian yang sangat disyukuri. Saya tidak berkelut dengan kemana akan melangkah; saya sudah siap melangkah lebih jauh dari manusia lainnya, ke arah yang sudah lugas tergambar di kepala.

Usia 23, di tahun 2013 kemarin, menjadi masa yang sangat berharga, dimana janji perbaikan yang saya lantangkan pada diri sendiri bisa terlunasi, bahkan membuahkan hasil. Di tahun ini saya mendapatkan 3 penghargaan prestisius skala nasional, saya membuat perusahaan formal, memperbaiki bisnis yang hancur, lebih matang secara intelektual dan visi, dan menikahi wanita pujaan. This is one of the best year, so far. Alhamdulillah.

Tahun ini saya belajar tentang makna kesederhanaan, tentang kebahagiaan, rasa syukur, mimpi besar, empati, dan perjuangan, dengan porsi yang lebih besar dari sebelumnya. Saya merasa idealisme tidak hanya lagi di teori, tetapi sudah ke ranah strategi. Sebagai seorang pribadi, saya merasa lebih matang. Alhamdulillah.

Tahun ini adalah akhir dari era. Kawan-kawan yang biasanya bermain PES hingga pagi satu persatu mulai pergi, mengejar mimpinya masing-masing di tahun ini. Era lajang saya pun berakhir, menuju era cinta nyata dan tanggung jawab. Era saya berbisnis asal-asalan juga berakhir, menuju era berbisnis formal dan terukur. This is the end of an era.

Apa yang akan terjadi di tahun selanjutnya? Saya tidak tahu; tapi saya tahu akan lakukan apa di usia 24 nanti, saya tahu harus mengejar apa dan ke arah mana. Membayangkannya saja jantung saya terpacu keras. This is exciting. Let’s bring the world a new era.

The Bigger and Better Ones

Siang ini saya lagi bengong, tiba-tiba sadar bahwa HP saya Samsung, tablet Samsung, monitor Samsung, TV kantor Samsung, TV kamar Samsung, tablet teman Samsung, dan tablet istri pun Samsung. Saat ke bagian bawah kantor, juga sadar bahwa dua komputer monitornya LG, HP teman LG. Saat keluar, mobil yang diparkir di depan Hyundai, di seberangnya Kia. Wah, saya dikelilingi produk dari Korea Selatan. Tentu saja juga produk AS dan Jepang (tapi kalau ini udah biasa).

Saya jadi penasaran gimana Korsel ini bisa maju, cari bacaan, dan langsung terkagum sama pola kebijakan yang diambil. Mungkin lain kali akan dielaborasi. Yang menarik, Korsel ini maju oleh chaebol, istilah untuk konglomerat disana. Sektor industri strategis berbasis teknologi mulai dari otomotif, telekomunikasi, IT, manufaktur, dikembangkan beriringan dengan sektor finance, bioteknologi, properti, chemicals, insurance, medical, alat berat, dan lain sebagainya. Para chaebol ini memegang hampir seluruh sub-sektor itu. Samsung group, misalnya, memiliki hampir seluruh sektor tadi, sama halnya dengan Hyundai Group, LG Group, SunKyun Group, ataupun Lotte Group. Korsel diubah oleh sekelompok kecil chaebol.

Hal yang sama juga ada di Jepang, dimana negara mereka dikendalikan dan diubah oleh sekelompok keiretsu, sebutan untuk konglomerat disana. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa Mitsubishi, Nikon, dan Bank of Tokyo dipegang oleh 1 kelompok perusahaan. Atau Fujifilm, Sony, Toshiba, Suntory ada di 1 kelompok kepemilikan. Atau Yamaha, Nissan, Canon, dan Hitachi. Atau Daihatsu, Suzuki, dan Toyota. Jepang diubah oleh sekelompok kecil keiretsu.

Dengan sektor industri yang begitu majunya, apakah Korsel dan Jepang bebas dari kemiskinan? Nyatanya tidak. Tingkat kemiskinan di Korsel 15%, di Jepang 15,7%. Besar juga. Saya coba cari di negara superpower AS, tingkat kemiskinan 16%. Lho, kalau negara maju sebesar itu, bagaimana Indonesia? Ternyata 11,37%! Wow, mengapa bisa lebih rendah? Saya cek daftar orang terkaya di Korsel: nomor 1-nya Lee Kun Hee, anak dari founder Samsung. Nomor 2 Chung Mong-Koo, anak dari founder Hyundai. Nomor 3 adalah anaknya si nomor 1. Dan nomor 4 adalah anaknya si nomor 2. Nomor 5 anaknya founder Lotte. Daftar ini berlanjut dengan pola yang sama, anak-anaknya para orang kaya. Hampir semua daftarnya berasal dari kekayaan yang diwariskan. Dikuasai keluarga chaebol. Basi? Memang. Toh 85% kekayaan di AS juga dikuasai oleh 15% penduduknya. Konglomerasi di Indonesia tidak seekstrem di negara tadi, karena itu lah, asumsi saya, kenapa tingkat kemiskinan lebih rendah.

Jadi ingat tadi diskusi sampai malam dengan Pak Guru Ichan tentang kekhawatiran kalau orang-orang yang didorong untuk menjadi kaya melalui banyak sharing ini akan terjerumus ke jurang keserakahan. Ketakutan bahwa kelak kita malah menimbun kekayaan, bukan mendistribusikannya. “Velocity itu kunci supaya kekayaan bisa menghasilkan kemakmuran”, katanya. Fitrah kita memang mencintai harta dan keluarga, sebagai kesenangan di dunia, karenanya kita cenderung mengumpulkan harta dan mewariskannya. Tapi menyadari bahwa misi kita di dunia melebihi itu adalah kunci: menempatkan amal shalih dan kebermanfaatan atas harta seluas-luasnya, tidak hanya untuk pribadi dan anak cucu kita.

Bisakah kita mengubah dunia, atau setidaknya Indonesia? Bisa, para chaebol di Korsel dan keiretsu membuktikannya. Di film dokumenter iGenius, kita diperlihatkan bagaimana kehidupan kita banyak dipengaruhi oleh hidup seorang manusia: Steve Jobs. Jadi, ya memang bisa. Tapi, peradaban sudah bosan dikhianati oleh para orang kaya yang senang sendiri, menyisakan kesengsaraan dan kemiskinan di sekitarnya tanpa peduli, sementara mereka menikmati jauh melebihi apa yang mereka mampu ingini. Peradaban merindukan Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan baru. Peradaban butuh orang-orang besar yang lebih baik. Let us be the bigger and  better ones.

Menggeser Visi Pengusaha

Di majalah Inc. bulan ini ada isu yang menarik, tentang trend entrepreneur AS di era sekarang. Di tahun 70an, entrepreneur disana dianggap eksentrik dan pecundang. Jadi, saat mahasiswa lulus dan jadi entrepreneur, orang tuanya akan malu untuk menyebut profesi anaknya. Barulah di tahun 80an, era “Triumphs of the Nerds”, era Jobs dan Gates, seorang entrepreneur akan dianggap keren. Di era ini, jumlah tambahan lapangan kerja yang dibuka oleh entrepreneur muda ini luar biasa. Apple, contohnya, di usianya yang ke 10 sudah memiliki 4000 pegawai lebih.

Di AS sana, seorang pengusaha veteran bilang kalau lingkungan bisnis sekarang sedang ada di puncaknya. Semua orang berebut untuk membuat startups, dan proses memulai bisnis sangat dimudahkan. Logikanya, lapangan pekerjaan yang dibuat akan jauh lebih banyak dibanding sebelumnya, kan? Nyatanya, tidak. Kenapa? Ternyata visi entrepreneurship berubah.

Dulu, di era entrepreneur masih langka, orang-orang yang maju hanyalah yang ingin menjadi besar. Kita mendengar bagaimana Steve Jobs atau Bill Gates dulu menyampaikan visinya yang romantis: mengubah dunia, merevolusi peradaban. Berbeda dengan entrepreneurship di masa sekarang yang berisi para pemuda yang sekadar ingin bebas waktu, merasa cukup saat dirinya bebas finansial. Pergeseran paradigma ini yang berdampak pada minimnya kesempatan kerja yang dibuka. “Their goal is to be independent, rather than building something big“, kata Norm Brodsky.

Fenomena ini sedang terjadi di AS, bagaimana di Indonesia? Mungkin, kurang lebih sama, karena memang trend menjadi pengusaha sedang naik daun. Sebagai entrepreneur, saya sering merefleksi diri, cukupkah visi berbisnis saya jika hanya menjadi bebas waktu dan keuangan diri sendiri? Nampaknya, tidak cukup, apalagi jika memegang kredo “sebaik manusia, adalah yang paling besar manfaatnya”. Karena itu, saya ingin menjadi besar; agar manfaat pun bisa lebih besar. Dan beruntunglah orang-orang yang beriman, karena nilai dari besarnya visi ini tidak dibatasi, melebihi seisi bumi; menembus hidup dan mati:

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisaa : 134)