Melangitkan Diri

Beberapa pekan terakhir menjadi momen-momen yang sarat dengan hal spiritual bagi saya. Selain karena bulan Ramadhan yang memancarkan aura relijius, beberapa diantaranya juga disebabkan oleh pengalaman spiritual yang dialami oleh beberapa kawan. Ada yang menempuh perjalanan spiritual di umrah dan menggarisbawahi berbagai hikmah. Ada juga yang menempuh Ramadhan dengan jiwa yang baru sembari mengoreksi kesalahan diri. Yang jelas, hal-hal bermakna spiritual yang dibagi oleh kawan-kawan saya –yang biasanya jarang, atau bisa dikatakan tidak pernah membahas hal tersebut-, membuat saya banyak merenungi tentang Allah, melebihi biasanya.

Pertanyaan yang paling awal muncul adalah, dimanakah Allah? Ah, namun ini terlalu sederhana dan dengan mudah dijawab oleh Al-Qur’an: “Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (QS Qaaf: 16). Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa secara pengetahuan dan pengawasan, Allah sangatlah dekat dengan kita. “Jika hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang aku”, firman Allah di Al-Baqarah 186, “sesungguhnya Aku dekat”. Allah sudah menjanjikan kita, bahwa penglihatan, pendengaran, pengetahuan, kekuasaan, dan kehendak-Nya amatlah dekat dengan kita. Tapi, dimanakah kita? Dimana kita menempatkan Allah dalam diri kita?

Pertanyaan ini sering sekali muncul di pikiran saya. Dimana tepatnya saya menempatkan Allah dalam aktivitas? Jika Allah berfirman bahwa Ia dekat, maka bisakah kita berkata bahwa kita dekat dengan-Nya? Saya ragu seraya malu. Rasa-rasanya, kehidupan terlalu diisi dengan ihwal duniawi. Tidakkah Anda merasa begitu? Visi kehidupan kita yang paling mendasar kadang tidak jauh ke titik hingga tiba masa segalanya akan tiada. Kita terlalu banyak terekspos oleh permasalahan fisik di depan mata hingga kita, lagi-lagi, melupakan hal besar yang tiada wujudnya. Sudah cukupkah kita meletakkan niat “karena Allah semata” dalam setiap aktivitas, baik ritual dan bukan, hingga ridho dan barakah-Nya menjadi tujuan yang utama? Atau kita justru tak tahu diri melupakan kadar ilahi dalam setiap langkah yang dijalani? Saya merasa belum cukup dekat, jauh dari dekat.

Hal-hal duniawi kadang memang melenakan dan menjadi ujian. Saking melenakannya, kadang kita menggadaikan niat ilahi atau sunnah mengikuti nabi demi mendapatkan keinginan duniawi. Sholat dhuha dan qiyamul lail, ditujukan agar kita dilimpahkan harta dan bisnis kita diuntungkan, alih-alih menjadi kesempatan kita mendekatkan diri kepada Allah. Sedekah, bukannya diniati mematuhi firman Allah di al-Qur’an, tetapi justru hanya menjadi alat agar dilipatkan segala rizki. Menikah, bukannya demi memenuhi separuh agama, menjauhi laranganNya, dan mengikuti sunnah Rasullullah, justru sekedar menjadi cara agar rezeki menjadi terbuka. Terlepas dari efek langsung atau tidak langsung dari ibadah adalah kelapangan rezeki dan dilimpahkannya harta atau kesejahteraan keluarga, tetapi persepsi ini menjadikan ibadah kita transaksional. Ibadah kita berhenti di titik mengharap harta, tahta, atau keluarga. Bertambahnya intensitas amalan hanya bentuk harapan agar ditambahnya kenikmatan dunia, tidak lebih. Benarkah cara seperti ini? Cukupkah persepsi ini? Sesuaikah pola pikir ini?

“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu perjuangkan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (Al-Anfal : 24). Ayat ini menghancurkan kedangkalan persepsi di atas. Tidak, sungguh, tidak cukup ibadah kita hanya menjadi pancing untuk meraih daging-daging lezat yang bisa kita nikmati di dunia, sungguh tidak cukup. Karena di titik itu, kita menempatkan harta, keluarga, dan dunia, di atas Allah dan RasulNya. Padahal kecintaan dan penghambaan harusnya menjadi hal yang paling mendasar, dan hikmah –balasan dan fadhilah dunia- hanya sekadar efek samping dari ketulusan kita beribadah. Bukankah demikian?

Penempatan niat dan tujuan utama merupakan area utama ibadah kita dicatat dan prosesnya kita maknai. Kita harus menujukan segala aktivitas, baik ibadah ritual atau bukan, untuk tujuan yang jauh lebih besar dibandingkan apa-apa yang bisa kita dapatkan di dunia, agar keabsahan ibadah dan pemaknaan kita juga lebih besar. Kita seharusnya belajar untuk menempatkan cinta, penghambaan, dan kesyukuran dalam lokomotif utama aktivitas-aktivitas kita. Tidak mudah memang, tapi hal yang tidak bisa instan bukan berarti dilupakan sedari awal, apalagi untuk esensi semacam ini. Seharusnya, semakin hari, kita harus bisa memperbesar tujuan dan niat agar tidak hanya sekedar urusan bumi. Sseharusnya, secara bertahap, kita harus mencoba terus menerus melangitkan diri; mendekatkan diri pada ilahi.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply