Tangisan Istimewa

Saya merindukan tangis. Tentunya bukan tangis ABG yang bermasalah dengan pacarnya. Bukan juga tangis para gadis saat nonton film india. Bukan tangis para fans fanatik saat menonton konser artis korea. Bukan tangis anak yang kesal karena tidak dibelikan gadget terbaru oleh orang tua. Tentu, bukan tangis yang lemah; tapi yang menguatkan.

Tangisan-tangisan bisa datang dengan penuh makna. Ada masanya tangisan malu datang karena ingat begitu banyak dosa. Ada juga tangisan haru karena terlintas dahsyatnya pengorbanan orang tua. Ada tangisan syukur atas begitu besarnya karunia. Ada juga tangisan iba atas permasalahan sosial di sekitarnya. Tangisan-tangisan datang karena sebab yang istimewa, hingga mampu menguatkan jiwa.

Lagi, saya rindu tangis yang menguatkan. Tangis yang dimiliki seorang Muhammad di sujudnya atas kesyukuran. Tangis yang dimiliki Umar bin Khattab karena memikirkan umat yang ada di bawah kepemimpinan. Atau tangis imam saat I’tikaf yang menggugurkan dosa dan kesalahan. Sudah lama saya tidak mendapatkan tangis itu.

Saya terakhir menangis di awal tahun 2012, saat mengalami kerugian di 1 project bisnis. Tangis yang tidak terlalu istimewa, tapi di waktunya sangat dibutuhkan. Itu hanya di 1 momen, tidak pernah lagi sebelum dan setelahnya. Bahkan, sudah 5 tahun saya lewati tanpa tangis saat sholat di bulan Ramadhan.

Saya tetap mengharapkan bisa menangis untuk hal yang bermakna. Tidak membatu hingga tak bisa meneteskan air mata, juga tidak keliru hingga menangisi segala hal yang tidak ada artinya. Tapi, melebihi itu semua, saya ingin selalu bisa memiliki hati yang lembut, kokoh, dan dewasa: mampu menangisi dosa diri dan problematika sosial, lalu berjuang lugas memperbaikinya sebagai makhluk berakal.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

One thought on “Tangisan Istimewa

Leave a Reply