Sudah Apa Kita?

Hari ini hasil quick count memastikan bahwa Bandung memiliki walikota baru yang menurut saya sangat luar biasa: Ridwan Kamil. Meskipun bukan warga Bandung yang menjadi konstituen, saya adalah masyarakat Bandung yang menikmati dan mencintai Bandung secara menyeluruh. Bagi saya, Bandung merupakan salah satu bagian dalam pendewasaan saya di kehidupan. Salah satu ruang pembelajaran yang menjadikan saya berkembang; karenanya saya peduli.

Melihat sosok Ridwan Kamil sama dengan memandang masa depan. Terlepas dari peranannya yang akan mengukir masa depan kota Bandung dengan cerah, Ridwan Kamil adalah sosok yang sejak dulu terbayang menjadi seperti apa saya kelak. He is what i’ve always wanted to become: entrepreneur, expert di salah satu bidang, pemberdaya komunitas, kreatif, muda, dan pelayan masyarakat. Tidak perlu rasanya saya sebut karya-karyanya, tapi satu hal ini sangat mengharukan: berani mengajukan diri melayani masyarakat Bandung. Dengan kemapanan, rekam jejak, dan mahakaryanya dalam mengarungi passion hidupnya, bagi saya dia bisa saja memilih untuk hidup bagi dirinya sendiri, dan itu bisa lebih dari cukup. Tapi, ia memilih untuk mengabdi. Orang-orang seperti Ridwan Kamil memang dilahirkan untuk peduli, untuk selalu berbuat lebih.

Tempo hari saya berdiskusi dengan pemilik Bober Cafe, Jodi Janitra. Muda, dan sangat bersahaja. Dari segi entrepreneurship, tidak perlu lagi ditanya. Kemahirannya mengelola dan mengembangkan bisnis terlihat dari merk-merk ternama di dunia kuliner. Visi dan rekam jejaknya dalam berbisnis menjadikan dia salah satu pengusaha muda kuliner yang saya hormati di kota Bandung. Tapi, pagi ini saya lebih kagum lagi ketika membaca brosur promo dari Bober Cafe. Bukan promo diskon atau gratisan untuk marketing, tetapi promo spaghetti gratis bagi para pemuda-mudi yang ikut serta memilih dalam pilwalkot Bandung. Pemilik bisnis ini rela mengurangi keuntungannya hanya untuk menumbuhkan kepedulian dan partisipasi anak muda terhadap nasib kotanya. Perlukah ia melakukan itu? Adakah benefit bagi dia? Saya rasa tidak. Tapi, lagi, orang-orang seperti ini memang dilahirkan untuk peduli, untuk selalu berbuat lebih.

Yang saya sebutkan tadi hanya sepenggal cerita diantara ribuan cerita lain yang saya temui. Ada seorang penyandang cacat yang menggunakan kursi roda tetapi mampu membangun bisnis e-commerce dengan jaringan global lalu memberdayakan para penyandang cacat lainnya untuk membina perusahaan bersama. Ada juga guru yang membuat yayasan pendidikan gratis bagi anak terbelakang dan membentuk mereka berprestasi hingga ke skala internasional. Dan cerita luar biasa lainnya. Menemui orang-orang seperti itu menjadikan saya merasa kerdil ketika hidup hanya memikirkan diri sendiri, sibuk dengan keinginan dan perasaan pribadi.

Seharusnya kita bisa belajar dari mereka, untuk perduli dan selalu berbuat lebih. Untuk menggunakan setiap tetes energi melakukan hal yang berguna, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi sebanyak mungkin manusia di sekitar kita. Untuk berbuat hal terbaik, ada atau tiada apresiasi, tanpa ekspektasi terhadap pamrih. Untuk membesarkan, dan menjadi besar. Jika pola pikir ini yang anak muda kembangkan, maka tidak ada lagi masanya tawuran, sia-sianya pacaran, lelah galau karena perasaan, atau bermain kesana-kemari tiada karuan. Jika para mudi dan muda selalu bertanya “Sudah apa kita?”, mereka pasti menemukan jawaban tentang agenda raksasa yang harus diselesaikan. Tumbuh sudah motivasi raksasa, untuk mengambil langkah raksasa sebagai manusia bermental raksasa. Dan, di titik itu; ya, di titik itu, kawan, mimpi bangsa kita tidak lagi jadi kerdil, tapi jauh meraksasa, jauh mengangkasa.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply