Dua Mata Sang Bagaimana Jika

Frasa “bagaimana jika” memiliki dua mata: satu masa sangat mematikan, satu masa sangat memajukan. Dua sisi ini bergantung dari persepsi dan penggunaan. Jika “bagaimana jika” digunakan dalam konteks masa lalu, ia akan menenggelamkan diri dalam harapan dan perandaian yang tiada putusnya. Tapi, jika “bagaimana jika” diletakkan dalam koridor masa depan, ia akan jadi penyongsong inovasi dan karya baru yang belum pernah ada.

Bagaimana jika dulu saya terlahir dari keluarga orang kaya? Bagaimana jika dulu saya bisa bertemu dengan dia lebih awal? Bagaimana jika kemarin saya tidak melakukan kesalahan itu? Bagaimana jika saya bekerja lebih keras waktu itu? Bagaimana jika waktu itu saya tidak mengambil pilihan itu? Setiap pertanyaan “bagaimana jika” yang disandingkan dengan keterangan waktu lampau, selalu menghasilkan lanjutan yang sama: “pasti hasilnya tidak akan seperti yang kualami saat ini”. Persepsi kelam “bagaimana jika” masa lalu adalah bentukan penyesalan-penyesalan serta pelimpahan kesalahan terhadap hal-hal yang telah terjadi. Sayangnya, setiap tuduhan kesalahan dan perandaian mengubah masa lalu hanya akan menghadapkan kita pada realita bahwa hal itu tidak ada gunanya. Masa kini tidak mampu diubah dengan mengandai-andai mengalami masa lalu yang lebih baik.

Bagaimana jika kelak ada kendaraan yang bisa memindahkan manusia melalui udara? Bagaimana jika nanti ada komputer yang bisa dimiliki oleh setiap orang? Bagaimana jika suatu saat ada telepon yang bisa dibawa kemana saja? Bagaimana jika manusia bisa menginjakkan kakinya di angkasa? Setiap pertanyaan bagaimana jika yang diiringi dengan masa depan, akan selalu menjadi pendorong untuk menghasilkan ide. “Bagaimana jika” yang menggarisbawahi sesuatu yang belum terjadi adalah sebuah penyulut lahirnya karya baru yang memberikan solusi bagi segala permasalahan. Pesawat udara, personal computer, handphone, televisi, dan berbagai teknologi revolusioner selalu terlahir dari keberanian mengungkapkan “bagaimana jika”, dan hal itu menjadi titik awal langkah besar menemukan dan merealisasikan ide segar di peradaban manusia.

“Bagaimana jika” adalah tentang keresahan terhadap status quo. Perbedaannya, saat “bagaimana jika” ditarik ke belakang, maka ia resah dengan status quo dan ingin mengulang masa lalu agar dapat merubahnya masa kini menjadi lebih baik; dan ini adalah mental orang-orang yang lemah. “Bagaimana jika” yang dilemparkan ke depan adalah upaya menghancurkan status quo yang melemahkan imajinasi diri. Ini dilakukan oleh orang yang bukan hanya ingin mengubah masa kini; tapi juga mencetak masa depan. Hanya orang-orang berani yang mampu melakukannya, yang telah selesai dengan masa lalu, berjuang dengan masa kini, dan bermimpi meraih masa depan yang baginya sudah terwujud di genggaman.

Jika muda-mudi lemah hanya sekadar berusaha move-on dengan mengulang-ulang “bagaimana jika” yang ada di masa lalu, maka Anda, saya, kita semua, sudah seharusnya lebih dari itu: dengan memberanikan dan menantang diri untuk mencetus “bagaimana jika” yang menjadi sulut ide karya raksasa yang kelak akan membakar dunia.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply