Memburu Eureka

Di abad XVI seorang lelaki berdiri dari bak pemandian umum dengan semangat, berlari penuh antusiasme tanpa mengenakan sehelai kain pun menuju tengah jalan Syracuse. Lelaki telanjang itu begitu bahagia sambil berteriak “Eureka! Eureka!”. “Aku telah menemukannya!”, katanya. Perilaku agak gila itu adalah awal ditemukannya salah satu hal paling mendasar dalam hukum fisika: tentang densitas. Dan dikemukakan oleh salah satu pemikir terbesar di zamannya: Archimedes. Hingga sekarang momen tersebut direkam dalam terminologi Eureka atau Eureka Effect sebagai kata yang menggambarkan detik kita menemukan solusi besar dari suatu permasalahan.

Pernahkah kita merasakan momen Eureka? Saat antusiasme, semangat, dan ledakan temuan ide dalam pikiran mengalahkan realita; menghempaskan kita dalam saat paling menyenangkan, bersejarah, dan revolusioner dalam kehidupan, pernahkah kita mengalaminya? Momen yang, menurut saya, dialami oleh setiap penemu dan pemecah masalah sejarah dengan ide-idenya. Momen yang dirasakan Einstein saat menemukan teori relativitas, dirasakan Darwin saat mencetus teori seleksi alam, dirasakan Steve Jobs dan Wozniak saat menciptakan personal computer apik; momen yang merubah kehidupan. Saya pernah merasakannya, tapi mungkin hanya separuh dari momen Eureka. Namun, apapun itu, sungguh, saya selalu ingin memburunya.

Bagi saya, Eureka bisa terjadi saat masalah, apapun itu, ditumpukkan penuh di dalam kepala hingga membuat penat. Saat kepenatan itu dibenturkan dengan perjuangan, wawasan, dan imajinasi tak berbatas, maka reaksinya menghasilkan ide yang akan meledakkan isi kepala; mengeluarkan antuasiasme, fascinating moment, yang membuat Anda berteriak, tersenyum, dan berlari kehilangan akal. Membayangkan saja saya merasa luar biasa. Sayangnya, peradaban mencatatkan bahwa Eureka bukan milik semua orang; ia hanya dimiliki segelintir manusia.

Eureka hanya milik orang-orang yang mencari solusi; kepunyaan orang-orang yang berpikir besar. Momen berharga ini bukan milik para muda-mudi yang dipusingkan dengan perilaku pacar atau kesal karena tidak bisa punya gadget baru. Eureka hanya milik orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri sehingga memutuskan untuk membuat hal yang besar dari dalam dirinya untuk segala yang ada di sekitarnya. Momen berharga ini adalah hadiah Tuhan untuk para petualang ruang imajinasi yang tak berbatas, bagi para penjelajah semesta yang luas.

Memburu Eureka adalah menjalani hidup dengan kepekaan terhadap masalah, melatih daya pikir untuk memberi solusi, membuka wawasan, berjalan di alam pikiran, sembari mematahkan belenggu persepsi dan realita. Bukan tiba-tiba Isaac Newton bisa menemukan momentum Eureka saat melihat Apel terjatuh. Bukan juga kebetulan Thomas Edison mendapatkan momentum Eurekanya saat percobaan kesekian ribu. Perlu ada proses, ketajaman persepsi, dan daya inovasi yang menembus ruang dan zaman. Momen ini tidak akan didapatkan si lemah yang telah terbebani oleh masalah yang sebesar biji zarah. Momen Eureka hanya milik para pemburunya yang akan mencetak sejarah.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

One thought on “Memburu Eureka

Leave a Reply