Interpretasi Emosi

Satu situasi bisa menumbuhkan seribu interpretasi. Apa yang saya lihat di hadapan saya? Pantai. Apa yang diinterpretasikan kepala saya? Banyak sekali: saya berpikir tentang belajar selancar, tentang garis pantai Indonesia, tentang impor garam, tentang rencana membuat alat otomatis untuk perikanan laut, tentang anugerah alam Indonesia, tentang moralitas, tentang rindu, tentang harapan, dan banyak lagi. Bagi saya, kerja otak berjalan begitu lateral.

Tapi, satu situasi hanya bisa menumbuhkan satu emosi. Apa yang saya lihat di hadapan saya? Pantai. Apa yang saya rasakan? Hanya satu, tentang hal-hal sendu. Dan ibarat tinta pena yang ditekan di satu titik: tulisannya tidak kemana-mana, tapi titiknya melebar dan mengelam. Berbeda dengan otak yang bekerja lateral, hati itu menelusup.

Merekam situasi dengan hati berarti merelakan diri kita tenggelam dalam satu emosi, menelusup dalam. Dan sama halnya seperti tenggelam dalam lautan, kita berada dalam gelombang emosi, mengikuti kemana arahnya pergi. Inilah penghayatan, satu hidup; satu detak nadi.

Menjadi bijak, menurut saya, adalah pandai menempatkan diri untuk berinterpretasi lateral dengan akal, atau mendalami dengan emosi. Beberapa situasi memang tepat untuk didalami, tapi beberapa situasi akan meracuni. Kegelisahan dan kesia-siaan berlebih ada ketika hati dan akal tidak ditempatkan pada tempat yang tepat.

Maka, saya berdoa: semoga akal ini bekerja menghasilkan solusi, dan hati ini menghayati prosesnya yang penuh arti. Semoga akal ini menemukan makna, dan hati ini tenggelam di dalamnya. Semoga.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply