Berbahagialah

Why can’t everyone just be happy? Mengapa sulit bagi orang-orang untuk hidup bahagia? Di sekitar saya, saya temukan orang-orang yang bercerai, selingkuh, mendendam, menelantarkan anak, melawan orang tua, mabuk-mabukan, hamil di luar nikah, dipenjara karena judi, dan perilaku lainnya yang semuanya mengakibatkan hidup yang jauh dari kebahagiaan. Setiap tindakan yang mereka lakukan menyakitkan diri dan sekitarnya. Di antara banyak pilihan lain, mengapa mereka memilih untuk hidup tidak bahagia?

Bagi saya, bahagia itu sederhana. Kita bisa temukan alasan untuk berbahagia dimana saja. Seorang tukang pulung yang saya temui bisa berbahagia karena hari itu ia dapat sampah banyak sehingga bisa membeli mobil-mobilan seharga sepuluh ribu untuk anaknya yang ulang tahun. Kebahagiaannya seharga sepuluh ribu rupiah, sangat mudah. Lalu, mengapa kita tidak mudah bahagia?

Bahagia akan sulit jika kita mempersulit. Dan permasalahan yang banyak dialami hanyalah karena kita mempersulit diri. Berbahagia adalah dengan menyederhanakan rasa dan menghayatinya. Berbahagia cukup dengan mensyukuri apa yang ada dan memperjuangkan apa yang bisa. Berbahagia adalah meletakkan alasan damai yang kita miliki di dalam hati.

Satu minggu di Bali ini saya mengalami naik turun emosi, seperti roller coaster. Siang bahagia, malamnya tidak. Tapi, untungnya saya kembali disadari: kita semua memiliki alasan untuk berbahagia. Semudah menekan tombol telepon dan mendengar suara ibunda, saya bisa berbahagia. Lalu, mengapa harus terfokus pada situasi yang membuat sesak hati?

Menempatkan emosi, akal, pilihan dalam porsi dan definisi yang tepat, menurut saya adalah kunci. Menyederhanakan persepsi dan ekspektasi juga lagi-lagi bisa sangat berarti. Dan tentu saja, akhirnya Allah juga lah yang meridhoi dan membolak-balikkan hati. Maka, saya pun berdoa: semoga kita semua kelak tidak akan menemukan alasan untuk tidak bahagia. Dan semoga Allah selalu menyediakan momen-momen dalam hidup untuk kita selalu berbahagia. Berbahagialah.

Last morning at Kuta, Bali. 290313.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Tentang Totem

Bagi yang pernah menonton film Inception pasti tahu apa itu totem. Ya, sebuah benda yang mengingatkan bahwa kita ada di dunia nyata, bukan mimpi. Benda yang tekstur, bentuk, dan rasanya spesifik hanya kita yang tahu pasti. Di dunia nyata, kita juga menerapkan konsep yang sama, The Totem.

Kita juga memiliki totem, suatu benda yang mengingatkan kita akan satu hal. Hal tersebut bisa jadi identitas diri, peristiwa, orang lain, atau mimpi. Pensiunan tentara tetap menyimpan seragamnya untuk mengingatkannya pada masa gagahnya dulu. Seorang wanita menyimpan cincin dari mantan kekasihnya untuk mengingatkan pada masa indahnya dulu. Seorang pemuda menyematkan logo Indonesia di dompetnya untuk mengingatkan pada nasionalisme yang pernah dia teriakkan dulu. Seorang pengusaha sukses menyimpan motor bututnya untuk mengingatkan pada masa sulitnya dulu. Setiap kita memiliki totem.

Konsep totem adalah menyisipkan makna, rasa, dan jiwa dalam benda yang representatif. Medali emas olimpiade seorang atlet nasional akan kembali menyajikan rasa bangga dan haru saat ia melihatnya kembali, kapanpun itu. Totem tidak hanya sekedar benda tanpa isi, ia menyimpan banyak arti.

Yang berbahaya adalah, banyak dari kita yang salah memilih totem dan memfungsikannya. Totem seharusnya menjadi inspirasi, motivasi, atau penjaga hati. Totem itu harus terkandung syukur dan kenikmatan, bukan iri hati dengan hari kemarin atau rindu berlebih dengan masa kejayaan. Totem bukan membuat kita tenggelam dalam lautan masa lalu, tapi justru menjadi pecut untuk lari di lahan pacu masa depan. Totem adalah pigura untuk potret kebahagiaan.

Semoga totem yang kita semua simpan selalu mengingatkan kita pada momen yang, kalau kata Kaka Slank, terlalu manis untuk dilupakan. Jika tidak, maka segera lah tanggalkan.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Memento

The beauty of a moment is that it’s fleeting. By its very nature, it slips through our fingers, making it much more precious. – Ted Mosby –

Saya orang yang sangat menghargai momen dan mencernanya dengan sangat melankolis. Berbagai peristiwa spesial dalam hidup, dengan orang-orang spesial: diri sendiri, orang tua, keluarga, kawan, teman dekat, selalu saya ingat dan tersimpan dalam satu album lukisan yang tidak akan pernah usang. Itu semua tidak hanya sekadar memori, tetapi jadi memento; kenang-kenangan kehidupan.

Hal yang menarik adalah, seperti kutipan dari film How I Met Your Mother di awal tulisan ini, suatu momen bisa indah bukan hanya karena pernah terjadi, tapi juga karena momen itu mungkin tidak akan terjadi lagi. Saat kita mencoba mengingat dan menggenggam erat kenangan, dan semakin kita menyadari bahwa itu tidak akan terulang, semakin berharga sebuah momen.

Kita semua pernah mengalami kejadian berharga sepanjang hidup di masa lalu, yang tak jarang kita jerat lekat ke masa kini. Tapi, bagaimanapun, secara alamiah momen itu akan digerus oleh waktu, lalu hilang. Cara terbaik menjadikannya indah adalah dengan menyadari 1 fakta menyakitkan: momen ini takkan terulang. And the memento will be so much precious.

Ubud, after sunrise. 28 April 13.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Ubud dalam Hangat

Seperti senja yang terlukis di langit Ubud, kau memberikan keindahan.

Seperti udara yang terhirup di lahan Ubud, kau menyisipkan ketenangan.

Seperti kekunang yang beterbang di sawah Ubud, kau menitikkan harapan.

Dan seperti momen manis yang terekam dalam nuansa Ubud, kita teguk kebahagiaan.

Indahnya, tenangnya, harapnya, dan bahagianya memori Ubud; akan selalu mewujudkan dirimu, dan selalu terpatri hangat, tanpa penyesalan.

27 April 2013. After sunset at Ubud, Bali.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Lagi

Kita bercerita, kita berharap.
Kita bertanya, kita menjawab.
Kita ingin, kita berdekap.

Lalu datang karma, dan tebu bergula pun menjadi tiada rasa.

Bukakan, sungguh, sekali lagi, duhai hati. Untuk kembali tak berharap jawab dalam dekap. Untuk tak peduli lagi mana manis dan mana nyeri. Untuk temukan lagi sang tulus yang kemarin sempat pergi.

27 April 2013. 02.05.
Poppies Lane, Kuta.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Interpretasi Emosi

Satu situasi bisa menumbuhkan seribu interpretasi. Apa yang saya lihat di hadapan saya? Pantai. Apa yang diinterpretasikan kepala saya? Banyak sekali: saya berpikir tentang belajar selancar, tentang garis pantai Indonesia, tentang impor garam, tentang rencana membuat alat otomatis untuk perikanan laut, tentang anugerah alam Indonesia, tentang moralitas, tentang rindu, tentang harapan, dan banyak lagi. Bagi saya, kerja otak berjalan begitu lateral.

Tapi, satu situasi hanya bisa menumbuhkan satu emosi. Apa yang saya lihat di hadapan saya? Pantai. Apa yang saya rasakan? Hanya satu, tentang hal-hal sendu. Dan ibarat tinta pena yang ditekan di satu titik: tulisannya tidak kemana-mana, tapi titiknya melebar dan mengelam. Berbeda dengan otak yang bekerja lateral, hati itu menelusup.

Merekam situasi dengan hati berarti merelakan diri kita tenggelam dalam satu emosi, menelusup dalam. Dan sama halnya seperti tenggelam dalam lautan, kita berada dalam gelombang emosi, mengikuti kemana arahnya pergi. Inilah penghayatan, satu hidup; satu detak nadi.

Menjadi bijak, menurut saya, adalah pandai menempatkan diri untuk berinterpretasi lateral dengan akal, atau mendalami dengan emosi. Beberapa situasi memang tepat untuk didalami, tapi beberapa situasi akan meracuni. Kegelisahan dan kesia-siaan berlebih ada ketika hati dan akal tidak ditempatkan pada tempat yang tepat.

Maka, saya berdoa: semoga akal ini bekerja menghasilkan solusi, dan hati ini menghayati prosesnya yang penuh arti. Semoga akal ini menemukan makna, dan hati ini tenggelam di dalamnya. Semoga.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow