Kota Hidup

Sejak dulu saya sering sekali jalan-jalan dari kota ke kota di Indonesia, menginap beberapa hari di kota baru, hanya untuk mengidentifikasi kota mana yang paling layak dan nyaman untuk dihidupi. Kriteria saya mudah saja, udaranya cukup sejuk, lalu lintas lancar, penduduknya bagus untuk menjadi pasar bisnis, biaya hidup tidak tinggi, akses ke berbagai kebutuhan mudah, dan saya punya satu hal di kota itu yang bisa mengingatkan saya untuk bersyukur.

Kota Jakarta dan sekitarnya, sebagai tempat saya lahir dan besar, tentu saja kota paling tidak nyaman, bagi saya, untuk ditinggali, diantara sedikit kota yang pernah saya datangi. Semua keburukan yang mungkin ada di satu kota, ada di Jakarta: semrawut, panas, macet, angka kriminal tinggi, persaingan bisnis ketat, dan index of happiness penduduk Jakarta yang sangat rendah. Hidup di kota yang seribut dan serumit Jakarta nampaknya akan mengurangi saya dalam menikmati kehidupan.

Kota besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga pernah saya datangi; Surabaya, Semarang, Malang. Karakteristiknya hampir mirip; akses cukup mudah, jalanan cukup tidak macet, udara cukup panas, persaingan bisnis cukup terbuka, dan kotanya cukup rapi. Surabaya, saya tidak berminat tinggal disana. Selain karena panasnya bukan main, kota ini terlalu “besar” untuk menjadi tempat tinggal; cocoknya menjadi tempat bisnis. Semarang dan Malang agak lumayan, kotanya rapih dan kaya akan sejarah-budaya, akses sangat lengkap, biaya masih murah. Kota ini cukup nyaman untuk menjadi tempat hidup. Lalu, kota kecil di Jawa lainnya sangat misterius. Kediri, misalnya, adalah kota yang sangat sepi. Siangnya saja seperti suasana di video game silent hill; sangat mati dan tidak bergairah.

Di luar pulau Jawa, belum banyak kota yang saya datangi, paling beberapa kota di Bali, Madura, Lampung, dan Palembang. Bali, ah, memang surganya keindahan. Semua jenis tipe pemandangan alam ada dan mudah diakses. Peluang bisnis mengakses pasar internasional juga pusatnya di sini Beberapa kota pun ada yang seksi karena dibalut kesunyian dan mahakarya Tuhan. Tapi, sayangnya, saya tidak berminat untuk hidup di kota yang sulit mencari masjid dan makanan halal. Lampung dan Palembang kota yang biasa saja, dengan fasilitas yang biasa saja dan akses yang biasa saja. Dengan karakter seperti ini, saya lebih memilih tinggal di kota di pulau Jawa.

Saya belum pernah mendatangi semua kota di Indonesia, karena tidak ada uang, tidak ada waktu, dan saya bukan tukang sensus penduduk nasional. Tapi, dari semua kota yang pernah saya datangi, Bandung dan Yogyakarta adalah kota terbaik untuk ditinggali. Yogyakarta, kota indah, kreatif, lengkap, terpelajar, dan nyaman; sangat asik untuk ditinggali. Penduduknya adalah orang-orang terpelajar yang bersahaja dan menikmati hidupnya. Kota dengan index of happiness tertinggi di Indonesia ini menampilkan tata kota dan unsur budaya yang tidak tergantikan. Sayangnya, Yogyakarta udaranya panas.

Bandung, kota yang saya tinggali sekarang, ah, memang paling lengkap dan tiada dua. Malamnya sejuk, siang bermatahari. Pemudanya kreatif, diisi oleh pendatang para pelajar terbaik di Indonesia. Fasilitas kota lengkap, biaya hidup cukup terjangkau, peluang bisnis terbuka lebar, and simply beautiful. Saya cukup menghabiskan waktu 1 jam untuk ke gunung, dan 2 jam untuk menuju ke ibukota. Sumber daya agrikultur dan akuakultur mengelilingi Bandung dari Lembang hingga Ciparay. Pusat industri ada di Rancaekek dan Dayeuh Kolot. Kulinernya terbaik se-Indonesia. Di dalamnya ada mall besar yang premium serta mall city walk yang unik. Akses angkot mudah, banyak, tapi tidak semrawut. Terlepas dari buruknya pemerintahan Dada Rosada, Bandung ini tempat yang, sejauh ini, paling menyenangkan untuk menghabiskan hidup.

Dua hari ini saya di Tasikmalaya, berkeliling kota dan melihat karakteristik manusianya sebagai bentuk survey target pasar. Orang-orang Tasikmalaya, mungkin sama dengan penduduk asli non-kota besar di Jawa, adalah orang-orang yang hidup di zona nyamannya; tinggal seumur hidup di lingkungannya. Kebanyakan mereka hanya melihat dunia sejauh mereka melihat kotanya; sangat terbatas. Tentu saja semangat merantau tidak ada seperti penduduk Sumatera. Tapi, melihat hal ini kembali mengingatkan saya tentang mimpi-mimpi mengarungi hidup penuh petualangan. Akankah saya menjadi warga yang tinggal nyaman di suatu kota? Ataukah lebih baik tetap seperti biasa; menjadi pengembara yang selalu mencari keindahan kota, satu hingga satu?

Tapi, di ujung pertimbangan kota mana yang paling layak hidup, saya melupakan satu karakteristik: memiliki satu hal yang membuat saya selalu bersyukur. Di tempat saya sekarang, saya menyadari bahwa kriteria ini adalah kriteria yang konyol, karena ini bisa ditemukan dimana saja. Sungguh, jika saya harus hidup di pedalaman paling mengerikan di Sierra Leon sekalipun, saya akan tetap selalu bersyukur: karena ada Allah dan cinta di tempat itu. Maka rasa heran saya dengan kemampuan orang menerobos rutinitas kota Jakarta atau kota tanpa fasilitas di pedalaman Papua, pun hilang karenanya. Kelak, mungkin kita akan rela hidup di kota yang tidak terlalu layak hidup; saat kita menemukan alasan terbaik untuk memperjuangkan hidup. Kelak, mungkin kita tidak peduli jika harus menempuh ketidaknyamanan, karena kenyamanan itu bisa dinyalakan dalam hati oleh wajah-wajah yang membuat kita bersyukur karena memiliki kehidupan.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

One thought on “Kota Hidup

  1. mantep nih. membandingkan jakarta, balikpapan, palembang, yogyakarta, magelang, medan, dan bandung, saya lebih memilih bandung. sama seperti anda 😀

Leave a Reply