Miskin Ide, Miskin Postingan

Terakhir saya menulis di blog adalah tanggal 5 Maret, dan sekarang tanggal 22 Maret. 17 hari, atau hampir dua pekan efektif sudah saya tidak menulis. Ah, mari lupakan wacana one day one post, bulan Maret ini sangat jauh realisasi. Mari singkirkan dulu masalah komitmen dan konsistensi diri, itu sudah jelas terlihat dengan tidak konsistennya apa yang direncanakan dengan apa yang dilakukan. Mari sekarang fokus merefleksi; mengapa saya tidak menulis?

Setelah dipikir-pikir tentang alasan saya tidak menulis selama 2 pekan ini, saya bingung. Ya, memang kesibukan sedang sangat padat. Tapi, toh, tetap ada waktu untuk menulis jika memang niat. Tentu saya ingat juga tentang janji dan resolusi yang saya buat. Lalu, kenapa ujung-ujungnya menulis jadi tidak berhasrat? Apakah karena ide-ide sudah minggat? Atau karena kemampuan mencari inspirasi jadi melambat? Oh, kemanakah engkau pergi duhai semangat? (Paragraf ini berima luar biasa)

Namun, diujung saya jadi tahu kenapa saya tidak menulis; karena dua pekan ini saya tidak mengisi ulang ide. Ide-ide di bulan Januari-Februari adalah tentang passion, jati diri, dan kehidupan. Itu hasil dari membaca buku dan tulisan beberapa orang terkait tema yang sama, disebabkan oleh keinginan meresolusi awal tahun dengan sempurna. Tapi, bagaimanapun, ide luar biasa tentang pemaknaan hidup dan jati diri sudah habis. Padahal hal itu yang mengisi kepala serta bait dalam setiap artikel saya. Bodohnya, saya tidak mengisi ulang ide di kepala, sehingga tidak ada pula gagasan yang ingin dituangkan ke dalam tulisan.

Mengisi ulang ide merupakan hal paling penting dalam proses aktualisasi diri. Tidak ada guna sama sekali upaya aktualisasi diri jika mengandalkan satu ide yang sudah usang. Karena itu Buya Hamka pernah bilang “saya membaca untuk menulis”. Memperkaya ide serta mengekspos diri kita dengan ide baru merupakan hal yang menantang sekaligus terpenting untuk membesarkan kapasitas kepala kita. Ide merupakan sumber semangat dan komunikasi. Tanpa ide, tidak akan ada hasrat. Tanpa ide pula, komunikasi tidak mampu tercipta. Kematangan dan jumlah ide menentukan kesuksesan kita menjaga setiap semangat dan komunikasi.

Ya sudah, saya sudah sadar dimana kesalahannya. Tuan dan Puan, selamat malam. Semoga hidup kita sekaya, seluas, dan sejernih ide yang ada di kepala kita. Semoga Allah memberikan saya semangat membaca dan menulis besok dan seterusnya; untuk diri yang lebih baik.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

One thought on “Miskin Ide, Miskin Postingan

Leave a Reply