Menanggalkan Armor

Salah satu dialog paling mengesankan di film The Avengers, menurut saya, adalah satu pertanyaan dari Captain America kepada Tony Stark. “Big man in a suit of armor, take that away; what are you?”, tanya Captain America. Stark dengan mudahnya menjawab, “Uh…genius, billionaire, playboy, philantropist”. Simpel, mengena, dan benar. Armor Iron Man tidak menjadikan identitas seorang Stark hilang, atau bias. Dengan melepas Armor, Stark bisa dengan tegas mendefinisikan identitas dirinya. Lalu, mari berkaca, tanpa armor yang kita pamerkan, apakah kita?

Ya, kita juga mengenakan armor. Armor yang menjadi senjata atau perisai untuk merespon tantangan eksternal. Armor yang juga kita anggap sebagai identitas pintas melalui label citra yang terlekat padanya. Armor yang juga mengelompokkan kita dengan identitas simbolik kelompok tertentu. Armor yang, bahkan, menjadi identitas kita satu-satunya. Seorang alumni ITB mengenakan armor almamaternya untuk menampilkan bahwa ia seorang intelektual. Seorang muda mengenakan armor berupa jas dan dasi mahal serta mobil sport terbaru untuk menunjukkan bahwa ia eksekutif muda yang sukses. Mari lepaskan armor, menjadi apakah kita?

Harta yang kita punya, jabatan di kartu nama, almamater dari universitas ternama, tingginya nilai IPK, anak dari keluarga kaya, banyaknya jaringan dengan tokoh negara, bejibunnya follower di akun sosial media, mari tanggalkan itu semua: apakah kita? Seringkali, kita begitu dangkalnya menganggap identitas adalah apa yang bisa kita tampilkan secara kasat mata. Tapi, sungguh, relakah identitas diri kita sebagai manusia hanya diasosiasikan dari apa yang terlihat oleh mata?

Identitas adalah apa yang melekat kuat di kulit dan tulang; apa yang mendarah dan mendaging; apa yang orang selalu ingat, bukan hanya lihat. Cristiano Ronaldo tidak dimiliki oleh tim, armornya bukanlah jersey yang ia kenakan. Dimanapun ia, CR7 adalah pemain bola lengkap, pencetak gol handal, dengan wajah rupawan. Hal tersebut tidak berubah dan selalu melekat, kini atau nanti. Seorang konglomerat sangat kaya di era Orde Baru, ketika meninggal bukan diingat sebagai entrepreneur kaya manfaat, tapi seorang pebisnis yang besar karena dekat dengan penguasa, pencatut pajak, dan orang yang tamak. Identitas dibalik armor adalah akumulasi dari apa yang kita lakukan dengan tegas dan berulang, apa yang kita hasilkan dari setiap tindakan. Sekokoh apapun kepemimpinan seorang Adolf Hitler, ia akan selalu diingat sebagai pembunuh sadis. Dan sekejam apapun seorang Adolf Hitler, ia akan selalu diingat sebagai seorang pemimpin yang kuat. Identitas dibalik armor tidak pernah bias atau menghilangkan.

Mari dengan jujur tanggalkan armor, maka apakah kita? Sudah cukup banggakah kita dengan jatidiri kita apa adanya tanpa balutan hal-hal materi? Mampukah kita memperlihatkan diri kita dari apa-apa yang sudah dan akan selalu kita lakukan? Keberanian menunjukkan identitas dibalik armor adalah kualitas yang dirindukan. Lebih dari itu, memiliki diri yang terbaik karena aksi terbaik yang secara kontinu kita lakukan akan menjadi nama yang tertinggal oleh kita sebagai manusia, kini dan nanti.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply