A Tale of “Inkonsistensi”

Satu bayi terlahir dari pasangan si Niat dan si Lemah, di sebuah kota kecil bernama Diri. Kota Diri adalah kota paling bising di semesta raya, terlalu banyak bersuara antar tetangga. Di kota Diri ini, sang bayi terlahir sempurna, kuat, dan sehat, maka ia diberi nama yang indah: Inkonsistensi. Inkonsistensi dibesarkan dengan kasih dan sayang oleh si Niat dan si Lemah. Si Niat membelikannya susu nutrisi paling sehat di kota yang bermerk “Wacana”. Ibunya, si Lemah, selalu membopong-bopong dan membelai-belainya sambil memberi nasihat yang selalu terngiang di telinga Inkonsistensi: “Nak, besarlah, kuatlah, jangan kalah dengan apapun, kuasailah kota ini”.

Lewat sudah masa remaja, Inkonsistensi mulai berpegang pada prinsip yang selalu disenandungkan ibunya. Ia dikuasai ambisi, melebihi apapun, untuk menguasai kota Diri. Berbagai buku dan pengetahuan ia telan, tetangga-tetangganya ia observasi, bahkan kota sebelah pun ia amati. Dari proses belajarnya ia menyimpulkan: untuk menguasai satu kota, harus menguasai setiap aspek dan kebutuhan yang ada di kota tersebut. Ia susunlah strategi jangka panjang untuk merebut kota melalui distribusi produk dengan memanfaatkan persepsi yang positif dari setiap warga di kota Diri. Strateginya sederhana, dengan mengakuisisi merk ternama yang memberikan nutrisi bagi seisi kota: “Wacana”.

Setiap warga dari kota Diri yakin bahwa “Wacana” adalah merk ternama dari susu bernutrisi. Jika semakin banyak mengkonsumsi “Wacana”, maka semakin menyehatkan. Si Inkonsistensi pun secara perlahan menguasai perusahaan susu “Wacana” lalu mengubahnya menjadi perusahaan minuman keras. Warga kota Diri yang sudah terlanjur termakan oleh brand ini pun tetap mengkonsumsi “Wacana” tanpa melihat apa isinya. Seisi kota Diri menelan “Wacana” bulat-bulat tanpa pikir panjang; alih-alih menyehatkan, justru malah memabukkan dan menggerogoti isi badan.

Strategi Inkonsistensi tentu berhasil dengan sempurna. Kota Diri semua tunduk di bawah kakinya karena setiap warganya ketagihan menikmati “Wacana” yang tanpa nutrisi. Semakin terbelenggu warga kota Diri, semakin Inkonsistensi menguasai. Anak kebanggan si Niat dan si Lemah ini pun semakin mudah menguasai setiap lembaga resmi di kota Diri: mulai dari departemen Kontribusi, departemen Pencapaian, dan majelis Iman semuanya dibawah pengaruh dominan Inkonsistensi. Tujuan kota Diri yang tersadur dalam Panca-visi-Diri juga akhirnya kabur akibar pengaruh Inkonsistensi. Lambat tapi pasti, tanpa ada kesadaran warganya, kota Diri pun semakin lekat dengan citra sang Inkonsistensi.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply