Orang Tua Harta

Saya besar di keluarga menengah menjelang ke bawah. Kelompok masyarakat ini adalah strata yang terlalu berlebih jika disebut miskin, karena nyatanya masih mampu memenuhi kebutuhan primer, tapi juga jelas-jelas tidak kaya. Jika dalam konteks masuk kuliah, misalnya, strata ini tidak cukup miskin untuk mendapatkan beasiswa, tapi juga tidak cukup mampu untuk membayar uang muka 15 juta. Kondisi ini menuntut besarnya harga diri untuk tidak dianggap miskin, sekaligus kemampuan mengelola arus kas yang memang tipis. Dengan karakter seperti inilah saya dididik oleh orang tua.

Meskipun demikian, bisa dikatakan, karakter ini adalah karakter diri yang paling saya syukuri saat ini. Karena saya tidak dididik oleh uang (yang memang nyatanya tidak banyak), maka saya tidak merasa bahwa uang adalah segalanya. Karena saya tidak dididik untuk mudah terpenuhi kebutuhan (karena nyatanya memang tidak bisa), maka saya tidak merasa bahwa mencapai keinginan adalah hal yang sepele. Mental ini, yang diajarkan oleh orang tua saya, justru adalah hal yang tidak bisa diberikan oleh orang tua kaya tanpa perhatian yang holistik terhadap anaknya.

Banyak sekali, sangat banyak, orang tua yang mampu membeli ini-itu lalu mendidik anaknya dengan mental seperti itu. Ketika anaknya yang kelas 3 SD meminta iPad dan Blackberry, dengan mudahnya diberi. Ketika anaknya yang SMP meminta motor Ninja, dengan gampangnya dibeli. Ketika anaknya yang SMA meminta mobil matic sport, dengan enaknya dipenuhi. Setiap hal materi yang diminta oleh anak akan sangat mudah diberikan, tanpa ada perjuangan atau pertimbangan tentang kebutuhan. Banyak sekali orang tua yang mampu secara materi tapi justru mendidik anaknya dengan harta; melepas anak dalam ranah keinginan dan gengsi.

Menurut saya, cara mendidik seperti ini bukan cara yang terbaik. Kenapa? Pertama, karena akan membangun mental manusia yang terkekang oleh keinginan yang didasari oleh gengsi dan harta. Kedua, tentu saja membangun mental yang jauh dari perjuangan untuk mampu memenuhi keinginan. Ketiga, menggantungkan diri kepada hal material tanpa lekatan empati, kepedulian, dan kecerdasan. Orang-orang yang terdidik dengan harta, akan diperbudak harta. Orang-orang yang membiarkan setiap keinginan ditempuh tanpa dibenturkan dengan kebutuhan dan empati, maka akan hidup dikendarai oleh keinginan yang egois dan tanpa esensi.

Kesejahteraan sosial tak akan mampu dicapai tanpa adanya kesederhanaan sosial. Kesederhanaan sosial takkan bisa diwujud tanpa adanya kesederhanaan personal. Dan kesederhanaan personal tidak mungkin terbentuk tanpa adanya kekuatan untuk memilih antara keinginan dan kebutuhan, serta apresiasi tinggi terhadap makna dan perjuangan. Semua hal ada di dalam persepsi yang kelak berkembang menjadi aksi. Apa yang kita yakini akan didasari oleh apa yang kita pelajari. Dari cara mendidik yang harta-sentris, saya belajar bukan hanya bagaimana mendidik anak saya kelak, tapi juga mengekstrak satu hikmah penting tentang keinginan, proses, perjuangan, dan harta. Semoga Allah selalu memberkahi orang tua saya yang membekali anaknya tidak dengan harta materi, tapi kekayaan diri.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply