Sirkuit Kelebihbaikan

Enam hari kemarin saya absen menulis di blog. Alasannya sih bisa dicari-cari, terutama karena 4 hari saya sakit dan 2 hari lainnya saya sangat sibuk. Tapi, kalau dipikir-pikir, itu tidak juga bisa dijadikan alasan. Februari bisa dibilang banyak hal yang tidak sesuai dengan komitmen, salah satunya adalah menulis. Jika Januari berjalan dengan sangat memuaskan dengan prestasi yang bisa saya syukuri, Februari yang yang sudah hampir lewat setengah ini saya merasa berjalan di tempat, atau bahkan mundur sesekat-dua-sekat.

There’s no better day than a day that we can surely say, “Yes, I am a better person than yesterday”. Begitu tulis saya di twitter. Mengingat itu, saya jadi sering berkaca: “apakah saya lebih baik hari ini? Hal apakah yang saya lakukan melebihi kemarin?”. Sayangnya, jawaban dari pertanyaan ini tak jarang mengecewakan, progresifitas harian saya sangat rendah, jika dibilang tidak ada. Bukan menjadi beruntung karena lebih baik, saya justru celaka atau merugi karena banyak harinya justru sama saja atau ada satu dua dekadensi.

Menjadi lebih baik dari waktu ke waktu adalah tantangan terbesar dan terberat yang harus kita tempuh di kehidupan. Dalam segala aspek, menjaga trend positif untuk bertumbuh adalah hal yang tidak bisa ditoleransi untuk mewujudkan diri yang terbaik. Penurunan tentu saja memperburuk diri dan aksi, dan stagnansi menjadi bukti bahwa kita kehabisan spirit dan kreasi. Dalam soal ibadah ritual saja, selalu lebih baik menjadi sebuah keharusan; sholat semakin khusyuk, puasa sunnah semakin rajin, berdzikir semakin rutin. Hanya dengan inilah kita bisa menjadi hamba Allah yang terbaik, lain tidak. Kehidupan sosial, karir, bisnis, dan keluarga juga menuntut kelebihbaikan setiap harinya. Menjadi lebih baik bukanlah pilihan, tapi sebuah keharusan jika kita ingin menjadi diri yang terbaik.

Permasalahannya, untuk melakukan ini tidak semudah mengatakannya. Bagaimana menjaga trend positif diri saat secara alamiah kita memang hidup dalam instabilitas secara emosional dan spiritual? Bagaimana terus menerus lebih baik, sementara semangat dan pola pikir kita terkadang menurun? Sebagai manusia yang sangat sering menurun, saya sama sekali tidak tahu jawabannya. Yang pasti, saat saya merasa bahwa kehidupan memang harus lebih baik, maka saya akan berusaha untuk lebih baik. Penurunan hanya terjadi saat hal-hal yang membuat saya lebih baik saya lupakan.

Menempatkan ide yang tepat di dalam kepala adalah kunci pergerakan. Mustahil kita bergerak maju ketika ide-ide kemajuan tidak ada di kepala. Tidak mungkin kita beraksi raksasa ketika di kepala terisi oleh ide-ide kurcaci. Ide menjadi diri yang lebih baik harus selalu ada di kepala, di tempatkan tepat di depan kelopak mata. Sehingga, di detik otak kita terstimulasi untuk bertindak hal yang tidak berguna atau mata kita melihat hal menarik namun tidak mengembangkan kita, maka ide itu akan menampar keras dan menghadapkan kita kembali di koridor progresif. Menjadi lebih baik bukan bergantung pada dimana kita ada, tapi karena apa kita melangkah dan mata-angin mana yang menjadi tujuan kita berarah. Sebelum menjadi lebih baik, kita perlu tahu bahwa kitalah yang harus menjaga dan terjaga dalam sirkuit yang mengarah titik kelebihbaikan.

One Day One Post at http://gibranhuzaifah.wordpress.com

Follow twitter @gibranwow

Leave a Reply